
Chapter 12: Perjuangan
"Karena itu adalah kamu, maka aku berjuang..." -El-
"Pak, ini harus dicek." Reza memberikan sebuah tab kepada El.
"Tidak bisakah nanti saja? Saya capek sekali," El mendesah lelah.
"Maaf, Pak. Mereka menunggu jawaban bapak," jawab Reza.
"Tidak bisa kau saja yang jawab?" tanya El.
Reza mendecak kesal. "Pak, saya bahkan bukan jurusan sekretaris. Bapak harusnya bersyukur saya bisa melakukan ini."
"Gak sopan sekali kamu," El mencengkram wajah Reza.
"Bapak jangan macam-macam deh, nanti saya laporin Luna, nih," ancam Reza. "Saya kasih tau biar dia kabur karena tau bapak galak." Reza menepis tangan El.
"AH!" El berteriak kesal lalu mengambil tab itu. "Harus jawab semua?" El melihat ada 58 surat elektronik yang masuk.
Reza mengangguk.
Banyak sekali!
El menghela nafas berat. "Tapi habis ini saya mau istirahat ya, saya belum tidur dari kemarin," ucap El.
"Iya, Pak. Setelah ini, bapak boleh bobo ganteng, nanti saya bangunin kalau pestanya sudah mau mulai." Reza mengacungkan kedua jempolnya.
El tersenyum senang. "Oke..."
***
Luna tidak tau apa yang terjadi, tapi dia merasa bahwa dirinya seperti telah melakukan spa, massage, lulur, dan perawatan menyeluruh untuk badan dan wajahnya. Sekarang dia merasa tubuhnya sangat bersih, ringan dan harum.
Tapi satu hal yang masih membuatnya penasaran, kemana kak El?
__ADS_1
"Mbak, masih lama?" Luna mulai lelah walaupun dia tidak melakukan apapun.
"Sebentar lagi," jawab si rambut pendek.
Sebentar, sebentar, ini sudah tiga jam!
Luna merengut kesal, dan kedua perempuan itu tampak panik melihatnya tak senang.
"Nona mau istirahat dulu? Saya siapkan kue dan cokelat panas." Si rambut panjang membujuk Luna dengan cara yang paling ia suka.
"Baiklah," Luna mulai tersenyum sedikit. "Saya mau cheesecake satu," sambungnya.
"Cuma satu potong saja nona?" tanyanya.
"Apa maksudnya? Kenapa cuma satu potong, saya mau satu loyang." Jawaban Luna membuat mereka terkejut sejenak walaupun akhirnya tetap mengangguk.
Luna sudah menghabiskan cokelatnya dan sekotak kue-nya juga sudah tandas. Sekarang dia sudah tersenyum bahagia.
Setelah suasana hati Luna membaik, kedua perempuan itu merias wajah Luna dan menata rambutnya. Luna merasa mengantuk saat mereka melakukannya. Karena itu sangat lama.
Luna memperhatikan gaun itu dengan seksama. Gaun pesta selutut berlengan panjang. Bagian bawah gaun bergelombang indah dan bagian atasnya memiliki model kerah tinggi berbentuk bulat. Luna menyentuh gaun itu, lembut. Bahannya terbuat dari beludru tebal yang tampak hangat. El pasti tidak mau Luna kedinginan.
Luna memakai gaun itu. Gaun bertabur mutiara tersebut sangat indah setelah dipakai. Luna kagum melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tampak sangat cantik, lebih dari biasanya.
"Ini sepatunya nona..." Si rambut panjang meletakkan sebuah sepatu berhak sedang dengan model peep toe. Luna memakainya, sangat pas di kakinya. Bagaimana bisa El mengetahui tentang dirinya sampai sedetail ini? Sekarang dirinya tampak seperti seorang pacar yang sama sekali tidak perhatian.
"Sudah selesai. Nona boleh istirahat sebentar. Nanti akan diantar ke ruang pesta." Mereka merapikan peralatan kecantikan itu ke dalam koper dan kotak-kotak yang mereka bawa.
"Oh, terima kasih." Luna senang akhirnya ia bisa merebahkan dirinya sebentar.
"Nona,"
Luna terbangun karena seseorang menggerakkan badannya. Dia terpaksa membuka matanya. Padahal dia merasa baru tidur 5 menit, kenapa sudah harus bangun lagi.
Luna terduduk mengumpulkan nyawanya. "Kenapa?" ucap Luna merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Kami akan mengantar nona ke ruang pesta," ucap seorang pria di hadapan Luna. Tampaknya mereka orang yang menjemput Luna tadi pagi.
Luna meregangkan badannya dan berdiri tegak, dia menghampiri gelas air yang ada di meja lalu meminumnya. "Ayo," ucap Luna.
Luna melangkah keluar pintu mengikuti dua orang itu, dan setelah keluar dari pintu, ada dua orang lagi yang mengikuti di belakangnya. Baju mereka sama seperti kedua orang yang ada di depan Luna.
Luna menghentikan langkahnya. "Kalian siapa?" Dia menengok ke belakang. Entah sudah berapa kali ia menanyakan itu hari ini.
"Tak apa, nona. Mereka juga diminta Pak El mengawal nona hari ini," ucap pria di depan.
Hah yang benar saja?! Mengawal apa? Bahkan tidak ada seorang pun disini.
Walaupun merasa tidak masuk akal, Luna tetap berjalan, mereka menaiki lift kemudian tiba di sebuah ballroom megah berwarna pink. Terdapat banyak hiasan tertempel di dinding dan beberapa balon berbentuk hati.
Apa ini pesta ulang tahun?
Beberapa orang dengan kamera di tangan mulai mendekatinya. Sang pengawal mulai beraksi menjauhkan mereka, bahkan ada beberapa orang lagi yang datang dan berdiri di sekeliling Luna.
Ada apa sih ini sebenarnya? Gue kok lama-lama merasa seperti artis? Gue kena prank apa gimana?
Saat melangkahkan kaki memasuki ruangan itu, lampu-lampu langsung meredup seketika. Sebuah lampu sorot mengarah ke Luna. Luna kebingungan, dia menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari tahu ada apa. Tapi jangankan jawaban, ruangan ini malah menjadi sangat hening, hanya terdengar bunyi jepretan kamera dan sinar flash yang menerpanya dari tadi.
"Silahkan jalan terus, nona," si pengawal depan bicara lagi.
Masih bingung, Luna memutuskan untuk menurut saja, dia terus maju sampai pengawal di depannya berhenti dan bergeser, membukakan jalannya. Luna menatap ke depan, dia melihat punggung seorang pria. Pria itu memakai kemeja putih panjang dan celana panjang berwarna abu-abu, dan dia terlihat seperti.... kak El?
"Kak El?" Luna bertanya ragu.
Pria itu tersenyum dan berbalik. "Hai, sweetheart..."
Luna menutup mulutnya tak percaya, itu benar-benar El. Luna tersenyum senang.
El mendekat ke arah Luna dengan sebuah balon di tangannya. Ia tersenyum lebar lalu mengulurkan tangannya, menunjukkan sebuah cincin di ujung tali balon berbentuk hati itu.
"Will you marry me?"
__ADS_1
Bersambung