
Chapter 23: Kehangatan
"Satu hal yang tak bisa kuberikan. Kasih sayang orang tua." -El-
Luna membuka matanya dan mendapati dirinya sudah ada di atas tempat tidur, di kamar yang ia kenal. Kamar kak El, atau apakah bisa ia menyebutnya kamarnya sekarang?
Termenung, bayangan kejadian barusan melintas di kepalanya, dengan sangat jelas. Ya, mahkota berharganya telah diambil, namun ia bersyukur yang melakukannya adalah El. Kalau sebentar saja El terlambat datang, entah apa yang akan terjadi antara dirinya dan Arga.
B*go banget sih elo...
Luna mengutuk dirinya yang jatuh dua kali di tempat yang sama. Harusnya ia tahu, untuk tidak hanya berdua dengan Arga, tapi malah ia sendiri yang menghampirinya! Kepanikannya membuatnya tak bisa berpikir, dia terlalu takut sesuatu terjadi pada adiknya sampai lupa akan yang namanya waspada.
Ga bisa ya, sedikit lebih pintar dari keledai, Luna?!
Luna mengetuk kepalanya, meyakinkan bahwa masih ada isi di dalam sana.
"Jangan pukul kepalamu sendiri." El menangkap tangan Luna sampai ia terhenti. Luna yang tak menyadari keberadaan El di sebelahnya tampak terkejut. "Kakak sudah disini dari tadi, kamu saja yang melamun," ucap El, memberikan Luna jawaban bahkan sebelum bertanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya El. "Maaf kakak melakukannya tanpa izinmu," sambungnya.
Luna menjadi salah tingkah mendengar perkataan El. Sejak kapan dia menjadi se-agresif itu? Apa kadar hormonnya meningkat?
"A-a-aku baik..." ucap Luna. Karena kak El menanyakannya, dia baru sadar akan rasa sakit dan perih di pangkal pahanya. Wajah Luna berubah merah. "Aku mau mandi." Luna langsung menyibak selimutnya cepat, turun dari tempat tidur.
BRUK!
Malu bangeetttt...
Luna mengusap kepalanya yang terbentur nakas saat jatuh barusan. Ini juga sudah kedua kalinya dia jatuh dari ranjang. Apa dia memang secerdas itu?
"Kemarilah," ucap El yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Luna. Dia mengangkat tubuh Luna dengan kedua tangannya dan membiarkan Luna memeluk lehernya agar tidak jatuh, walaupun hampir mustahil ia membuat istrinya terjatuh.
Luna diam seribu bahasa sambil menyembunyikan semburat merah yang mulai muncul di telinga putihnya. El mengantarnya sampai ke depan pintu kamar mandi, kemudian menurunkannya. "Terima kasih," kata Luna.
"Apa mau kakak bantu?" tanya El. Dia sebenarnya khawatir pada Luna. Tentu saja karena itu adalah yang pertama untuk Luna, bahkan untuknya juga. Dia yakin Luna pasti merasa sakit. El sempat melihat darah yang mengalir saat melakukannya, tapi saat itu ia sudah terlanjur diselubungi amarah. Harusnya ia melakukannya lebih lembut lagi. Atau mungkin tidak melakukannya sama sekali.
"Emm... aku bisa sendiri." Luna menutup pintunya cepat.
***
"Luna?" El mulai mengetuk pintu kamar mandi cemas. Sudah hampir sejam dan Luna belum keluar juga dari sana. Dia mulai memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi.
"Luna??" El berteriak lebih keras karena tidak mendengar jawaban. "Aku akan dobrak kalau kamu tidak menjawab," teriaknya.
"Sebentar kak!"
__ADS_1
Akhirnya terdengar sahutan dari dalam dan El bisa menghela nafas lega. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. "Kenapa kamu lama sekali?" tanya El.
"Maaf, kak. Apa kakak mau ke kamar mandi?" ucap Luna.
El menggeleng. "Tidak," ucapnya. "Apa kau butuh sesuatu? Apa kau mau makan? Mau kue? Atau susu cokelat? Apa jus mangga saja?"
Luna heran mendengar rentetan pertanyaan El. "Tidak," Luna tersenyum kecil. "Aku mau belajar saja."
"Kenapa?! Bukannya ujian sudah selesai?" tanya El. Seminggu kemarin Luna sudah belajar terus-terusan, apa belum cukup?
"Masih ada ujian masuk perguruan tinggi," jawab Luna. Dia ingin setidaknya mendapat tempat di perguruan tinggi negeri yang biayanya lebih ramah padanya, atau mungkin ia bisa mencoba mendapatkan beasiswa. Tadinya ia ingin langsung bekerja saja, tapi mungkin itu akan membuat keluarga El malu kalau ternyata menantunya cuma lulusan SMA.
El menghela nafas panjang, mencoba mengerti. "Baiklah, kakak tidak akan mengganggumu." El mengusap kepala Luna pelan dan pergi kekuar kamar. Ia sudah bisa tenang karena Luna baik-baik saja, sekarang ia perlu mengurus beberapa hal yang ia tinggalkan tadi. Reza dan Kris sudah menunggunya.
Tapi saat malam tiba, Luna merasa tidak enak dan air matanya mulai menetes. Ia keluar kamar dan mencari El, tapi tidak menemukannya. Ia cuma melihat mami yang sedang menonton TV.
"Mami..." panggil Luna lirih. Air matanya sudah mengalir deras.
Mami berdiri menghampirinya. "Kenapa sayang?" tanyanya. Mami membelai kepala Luna dan bisa merasakan suhu badan Luna yang berbeda darinya. "Kamu panas," ucapnya.
Luna memeluk mami. "Pusing... Perut Luna sakit..." rengeknya.
"Kamu sudah makan?" tanya mami. Luna menggeleng. "Makanlah dulu, mami siapin ya..."
Setelah makan Luna tetap bergelayut manja ke mami, tidak ingin melepaskannya sama sekali. "Apa kamu mau ke dokter?" tanya mami.
Luna menggeleng.
📞 El... Pulang...
📞 El tau mami kangen, tapi El sedang sibuk sekali sekarang mi.
📞 Kamu bicara apa?
Mami mulai merasa anaknya sudah bertingkah tak masuk akal.
📞 Nanti saja, mi. El sedang mengurus sesuatu. Ini karena mami memberikan banyak pekerjaan dan tidak membantu El sama sekali. Mami pasti lagi nonton TV sekarang, kan? Ya, kan?
Mami tersenyum sejenak karena El benar, sekarang hidupnya bisa lebih santai karena El sudah mengambil alih tugasnya.
📞 Ehm...
Mami mengontrol senyumnya.
📞 Kenapa mi?
__ADS_1
📞 Pulanglah sekarang, lanjutkan nanti. Istrimu sakit.
📞 APA?! Kenapa mami ga bilang dari tadi??
📞 Ini mami mau bi-
Terputus. Astaga, kenapa dia menjadi tidak sopan begitu.
El datang dalam waktu 15 menit, secepat itu. Dia melihat Luna yang sedang memeluk mami erat di sofa ruang TV.
"Kamu ga apa sayang?" tanya El. "Mau ke dokter sekarang?" El menarik tangan Luna untuk berpindah ke pelukannya, tapi Luna tidak mau.
"Kemarilah," ucap El gemas karena Luna cuma menatapnya saja tanpa ada keinginan untuk mendekatinya.
Luna menggeleng. "Aku mau sama mami," ucapnya. Ia berpindah duduk ke pangkuan mami dan memeluk mami lagi, membenamkan kepalanya di dada mami. Ia merasa lebih baik di sana.
El merasa kesal karena ia sudah secepat mungkin datang tapi malah seperti ini keadaannya. "Istirahatlah ke kamar. Kalau kamu tidak mau ke dokter, kamu harus tidur!" ucap El.
"Aku mau tidur sama mami," balas Luna.
El memutar bola matanya sebal. "Luna, turunlah. Ikut ke kamar sama kakak..." El menatap Luna, memastikan bahwa ia serius.
"Huwaaa..." Luna malah menangis manja. Ia sedang tidak mau bersama El, ia ingin bersama mami.
Mami membelai kepala Luna lembut. "Tidur ya, mami temani kamu di kamar." Mami mencoba membujuk Luna. Luna akhirnya mengangguk menurut.
Sampai di atas tempat tidur, Luna masih tidak mau melepaskan mami. "Mami jangan tinggalin Luna," ucapnya.
"Iya, sayang..."
"Temenin Luna tidur..."
"Iya, sayang..."
"Elus kepala Luna..."
"Iya, sayang... Sudah, tutup mata kamu," ucap mami pelan.
Setelah Luna tidur, mami menghampiri El yang sudah menatapnya dengan pandangan cemburu sedari tadi.
"Kenapa? Ngiri ya?" tanya mami meledek.
"Engga, El nganan aja..." jawabnya malas.
Mami terkikik geli. "Mungkin Luna rindu ibunya..."
__ADS_1
Pernyataan mami membuat El terdiam tak bergerak.
Bersambung