
Chapter 62: Ruined
"This is me, now... RUINED..."
Dewi menatap jalan raya di bawahnya dalam hening. Dia meletakkan kedua tangannya di pembatas besi itu, lalu menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Semua permasalahan ini terasa menghimpitnya lalu menindihnya hingga ia tidak sanggup untuk bangkit.
Pertama keluarganya, dan sekarang pekerjaannya. Sejak berita perselingkuhan tentang dirinya tersebar, semua orang seolah merasa punya hak untuk ikut berkomentar, memberikan nasihat dan menghakimi bahkan tak segan untuk menggunjing dan menghujat secara terang-terangan. Teman yang tadinya dekat, sekarang menghilang tanpa jejak. Tak perduli dengan apa yang terjadi, bertingkah seolah lupa kalau mereka pernah mengenal seseorang yang bernama Dewi.
Semudah itu hati seseorang berubah, dalam sedetik saja kawan bisa berubah jadi lawan, dan sayangnya, kali ini, lawan tetaplah lawan. Dewi merasa dirinya tidak memiliki pegangan ataupun tempat bersandar di saat ia sedang jatuh.
"Ayah..." Akhirnya satu panggilan itu yang terucap dari bibirnya. Dewi melarikan jarinya, menyusuri pembatas dingin yang sekarang menjadi tempatnya bertopang, membelai batang besi itu, seolah benda yang ada di dalam genggaman tangannya itu adalah suaminya, orang yang ternyata sepenting itu dalam hidupnya.
Selingkuh...
Wanita tak tau diri...
P*lacur....
Suami sebaik itu masih saja kurang...
Kasihan anaknya punya ibu murahan seperti dia....
Keluarganya pasti malu, memang dasar aib...
Mulai dari sindiran yang berbisik hingga ujaran terang-terangan terus berputar berulang dalam benak Dewi, membuatnya muak. Ingin ia menghapuskannya andai saja bisa.
Dewi menyandarkan dagunya di benda keras itu, membiarkan badannya bertopang seluruhnya di pinggir jembatan. Ia melirik ke arah pergelangan tangannya yang tanpa sengaja mengintip saat lengannya bergerak. Ada plester penutup luka disana, ukuran besar.
"Hhh..." Setelah menghela nafas panjang, wanita itu menarik plester itu kasar lalu membuangnya sembarangan. Ada sebuah luka besar yang menganga di sana yang balas menatapnya. Bekas sayatan dari sebuah cutter yang ia miliki di tempat kerjanya. Ada kalanya ia tidak tahan mendengar semua gunjingan itu, rasanya lebih baik mati. Tepat saat itu, otaknya memerintahkannya untuk melakukan sesuatu, apapun yang bisa meringankan sakit di hatinya. Apa saja yang bisa mengalihkannya, apa saja boleh.
Sayangnya, ini seperti candu....
Dewi menarik lengan bajunya hingga ke siku, menampilkan banyak bekas luka di sana. Ketenangan sesaat yang ia rasakan saat membuat luka lain di tubuhnya nyatanya sangat menghibur. Membuat dirinya lega dan merasa sanggup untuk bertahan setidaknya satu hari lagi. Begitu seterusnya, sampai ia tidak sadar sudah sebanyak itu garis yang ia buat di tangannya.
Dewi menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya dalam lekukan tangannya yang ada di atas penopang besi.
Wanita yang tidak bisa mengurus suami dan anak... Gagal...
Setelah bertahun-tahun, dan ia hanya melakukan kesalahan sekali, tapi seperti ini yang terima. Keteguhan hatinya selama belasan tahun terakhir layaknya debu yang diterbangkan angin, terbang bersih tanpa sisa...
Dewi memejamkan matanya, menyelami hatinya, sebenarnya apa yang membuatnya bertahan untuk hidup sampai saat ini...
KOYAK
Sakit....
mungkin kata yang selalu aku rasakan...
__ADS_1
Perih...
bisa saja lebih dari itu asa yang tertanam...
Remuk...
pecah dan hancur menjadi serpihan...
Cahaya sudah lama pergi,
di sini hanya ada kelam...
Manis itu tidak abadi,
hanya pahit yang setia mendekam...
Koyak, itulah yang terjadi...
Lebur, sampai tak bisa diperbaiki...
Rusak, tidak akan pernah utuh kembali...
Aku berusaha mencari apa yang berharga yang masih bisa kumiliki,
Mengais ke setiap tepi berusaha menggapai angan yang tak bisa aku kuasai...
Sepertinya memang sudah tidak ada lagi...
Dewi melonggarkan tali tasnya, membiarkan benda itu terjatuh sendirinya ke bawah, tepat di sebelah kakinya. Dia menatap lurus ke jalan, melihat beberapa kendaraan berlalu-lalang tanpa ragu. Mungkin ini akan sedikit sakit, batinnya. Tapi pastinya tidak separah yang sedang ia rasakan saat ini.
Pastinya kamu pernah menonton berita di televisi, yang menceritakan tentang bagaimana seseorang sampai mengakhiri hidupnya hanya karena frustasi. Konyol, pikirmu, sambil tertawa geli. Tapi ternyata tidak saat kamu mengalaminya sendiri. Lihatlah aku sekarang, kakiku sudah memanjat pembatas ini tanpa ragu. Jalan di bawah sana seolah adalah surga di mataku, menjanjikan kenyamanan.
Tak!
Sepatu yang dipakai Dewi berbunyi saat ia menaiki pembatas itu. Orang-orang di sekitar yang sebelumnya hanya berjalan lurus, satu-persatu mulai menoleh, menatap ingin tau, sambil berpikir dan menunggu, mengamati dalam diam, ragu untuk maju apalagi bertindak.
"Setelah ini pasti aku akan tenang..." Dewi berbisik pada dirinya sendiri.
Dewi memejamkan matanya tidak perduli dengan keadaan sekitar. Dunia ini jahat kepadanya, mungkin saja dunia yang lain bisa lebih ramah. Selamat tinggal kenangan manis...
BRAK!
Suara gaduh terdengar, disusul dengan bising. Dewi yang sebelumnya merasa kalau tubuhnya sudah melayang, sekarang malah terkekang. Tangannya ditarik paksa oleh seseorang dan badannya membentur besi penopang dengan keras.
Ditatapnya lelaki yang menarik tangannya, sama sekali bukan orang yang ia kenal. "LEPASKAN!! SIAPA KAU??"
Tapi sepertinya usaha Dewi sia-sia, lelaki itu sangat kuat, dia tidak bisa melepaskan tangannya. Dan sekarang bertambah sulit karena beberapa orang muncul dan menarik dirinya naik.
__ADS_1
"Siapa kalian?" Dewi melangkah mundur, tapi tangannya sudah terlanjur dicekal erat oleh orang yang menolongnya barusan. Kalau dilihat lagi, orang ini sepertinya tidak asing...
"Ibu sebaiknya jangan melakukan hal itu..." Lelaki itu menatap Dewi tajam, membuat wanita itu mengkerut dengan kedua bola mata cokelat yang memancarkan kilatan amarah.
Dewi terdiam sejenak, menyadari, beberapa orang berpakaian rapi mengelilinginya, sepertinya teman lelaki ini. Kalau benar begitu, tampaknya rencananya harus tertunda.
"Siapa kamu?" Meskipun sudah bertanya berkali-kali, tapi orang di hadapannya itu enggan menjawab. "Lepaskan atau saya akan teriak..."
"Saya Kris, asisten Pak El." Mendengar sebuah nama itu, Dewi terdiam. Sekarang ia mengingat semuanya. Lelaki ini adalah orang yang bersama menantunya di hari itu, hari dimana semuanya berubah menjadi abu.
"Ikutlah bersama kami..." Dewi menunduk dan menurut mengikuti. Tidak ada gunanya ia membuat drama, apalagi setelah ia tau siapa orang yang ada di depannya.
Kris mengajak Dewi menepi, lalu menuruni tangga sambil menghindari tatapan orang-orang. Sebenarnya ia mau langsung membawa Dewi pergi, tapi sepertinya hal itu akan terlalu menarik perhatian.
"Silahkan duduk dulu, Bu..." Mereka menemukan supermarket di pinggir jalan yang menyediakan kursi dan meja di terasnya, lalu duduk di sana. Kris memperhatikan setiap orang yang lewat, beberapa dari mereka masih berbisik, tampaknya berita percobaan bunuh diri barusan belum reda. Ia masih harus menunggu sejenak baru bisa membawa Dewi pergi tanpa dicurigai.
Setelah sebelumnya meminta rekannya membelikan minuman, Kris memberikannya pada Dewi. "Silahkan diminum, Bu. Setelah ini kita bisa pergi." Dewi mengambil botol yang disodorkan Kris, membuka tutupnya lalu meneguk isinya perlahan. Manis, teh dengan madu.
Dewi menghela nafas panjang, sekarang dia terjebak bersama pria ini, entah sampai kapan. Parahnya dia tidak bisa marah, protes bahkan membuat permintaan, dia terlalu ragu jika orang itu akan mendengarkannya.
"Bunda!" Seruan seorang gadis membuyarkan lamunan Dewi. Ia menoleh dan mendapati Luna turun dari mobil dan berlari ke arahnya.
Sebuah perasaan hangat menjalar di tubuh Dewi saat gadis itu memeluknya. "Untunglah Bunda baik-baik saja..." Dewi bisa mendengar nada khawatir dan isakan di sana. Ia biasanya akan merasa kesal setiap kali ada di dekat Luna, tapi untuk saat ini, mungkin, bisa jadi, menjadi kesempatan yang terakhir, Dewi membiarkan putrinya itu mendekapnya sebentar lagi.
"Bunda kemana saja? Arya sakit. Dia di rumah sakit sekarang. Dia panggil Bunda terus-terusan." Luna berbicara tanpa henti, tanpa jeda titik ataupun koma. Dia terlalu bersemangat bercerita sampai melupakan El yang mengekornya sedari tadi. Luna baru berhenti saat ia melihat Bundanya menatap ke belakang, saat ia menoleh ada El di sana.
"Sore, Bunda..." El memberi salam sopan yang dibalas oleh senyum tipis oleh Dewi. Dipandangnya menantunya itu sesaat, lelaki tampan dan mapan. Sepertinya ada sedikit keberuntungan dalam diri Luna, dan untuk saat ini ia berharap tulus agar Luna bisa hidup dengan baik, tidak seperti dirinya.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan di mobil saja. Kita bisa langsung berangkat ke rumah sakit..." Ucapan El disambut dengan anggukan antusias dari Luna. Tanpa ragu, ia menarik tangan Dewi menuju ke dalam mobil, masuk dan duduk bersebelahan, tidak ingin terpisah.
Jujur saja, sepanjang jalan tadi Luna sudah berpikir yang terburuk di antara yang paling buruk. Dia merengek sepanjang perjalanan. Bahkan ia harusnya bersyukur karena El hanya diam dan setia mendengarkan keluh kesahnya padahal ia yakin kalau lelaki itu pun sama paniknya dengan dirinya. El menenangkannya, dan ia memang butuh itu.
Luna mengelus tangan Bunda yang ada di genggamannya. Untuk pertama kali, sepanjang umurnya, sejauh yang ia ingat, ini adalah hari pertama saat ia dan Bunda sedekat ini. Ingin rasanya ia bersandar dan bermanja-manja lebih lama dan lebih dekat, tapi masih ada rasa sungkan, dan lagipula sekarang bukan saat yang tepat.
"Bunda kemana saja selama ini? Kenapa pergi dari rumah?" Luna yang diburu rasa penasaran, bertanya pada Bunda. Lebih baik bertanya langsung daripada otaknya dipenuhi oleh praduga yang dibisikkan oleh setan.
Dewi memandang Luna, ingin marah tapi tak kuasa. Ia hanya bisa diam menanggapi kepolosan Luna. Lagipula tidak ada gunanya untuk marah sekarang. Saat ini, semua sudah terasa serba salah. Dirinya dan hidupnya.
"Ada kok..."
Betapa bahagianya Luna mendengar Bunda menyahut dengan senyuman. Ia sudah tidak sabar ingin mempertemukan Bunda dengan adik-adiknya.
Perjalanan berlangsung sekejap mata, Luna menarik tangan bundanya menuju ke ruang rawat Arya. Ia ingin Bunda segera bertemu dengan adiknya.
"Sya..."
Luna membuka pintu lalu mendapati semua adiknya sudah berkumpul, dan ada seorang lagi di sana. Ayah...
__ADS_1
Bersambung