Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 36


__ADS_3

Chapter 36: WELCOME


"Semua bisa dimaafkan setelah main..." -El-


"Apa kakak enggak akan marah kalau aku bilang?" Luna mulai ragu.


"..." El terlalu malas untuk menjawab. Sekarang saja dia sudah kesal.


"Kakak janji dulu kalau enggak akan marah," Luna mengacungkan jari kelingkingnya, mengajak El membuat pinky promise.


"Please...?" Rayuan Luna belum berhasil. "Please suamiku Langit yang paling tampan sedunia?" Dia mencobanya lagi. "Paling baik hati, paling perhatian, paling peka, paling dermawan, yang terbaik diantara yang paling baik..."


El tersenyum kecil. "Hm..." Ditautkannya jari kelingkingnya dengan milik Luna sambil memalingkan wajahnya agar ekspresi malu-malunya tak terlihat.


"Hehe..." Luna terkekeh senang, dilepaskannya jari mereka.


"Ehm!" El berdeham. "Jadi gimana?" tanyanya.


"Jadi, pas waktu itu...." Luna memasang tampang serius, El balik menatapnya tak kalah serius.


"Sekarang kamu sudah memiliki semua yang diinginkan perempuan, harta dan lelaki yang tampan." Bunda berbisik di telinga Luna pelan.


Luna memandang cincin yang melingkar di jari manisnya, sebuah lambang keajaiban bahkan untuk dirinya sendiri.


"Mungkin kamu tidak perlu keluarga lagi." Ditepuknya bahu Luna perlahan.


"Maksud Bunda? Bukannya selama ini Bunda yang usir Luna? Kenapa jadi Luna yang salah?" Luna tidak terima kalau dia selalu disalahkan.


"Kalau tidak seperti itu, kamu tidak akan bisa ada disini sekarang, kan?" tanya Bunda.


Luna menggigit bibir. Itu benar, tapi juga salah. Kenapa jadi dirinya yang terpojok disini?


"Kamu lebih suka keadaan yang sekarang, kan?"


Pertanyaan Bunda membuat Luna ingin berteriak dan memaki.


"Bunda juga senang, tapi akan lebih baik kalau kamu tahu diri dan tidak seperti kacang yang melupakan kulitnya..." ucap Bunda lalu tersenyum sesaat.


"Jangan lupa berbagi dengan adik-adikmu. Bunda akan senang sekali kalau kamu melakukannya..." Bunda pergi setelah mengucapkan hal itu, membuat perasaan Luna campur aduk.


"...tapi aku enggak punya sesuatu apapun untuk dibagi, jadi aku berikan kartu dari kakak. Apa ada banyak uang disana?" tanya Luna.


El melengos. Banyak sekali.

__ADS_1


Dia meraih ponselnya, membuka aplikasi mobile banking dan mengecek transaksi. Masih tersisa setengah dari sepuluh juta rupiah uang yang ia simpan disana. Sudah seperti ini tapi kenapa nenek sihir itu masih saja tidak mengijinkan istrinya bahkan untuk sekedar menginap.


El mengusap rambut Luna. "Luna, kamu jangan terlalu baik..."


"Hm?" Luna mengerutkan dahinya.


"Kakak tidak mau kamu diperlakukan seperti kain kotak cokelat bertuliskan WELCOME." Apa yang dilontarkan El sungguh penuh makna.


"Kamu bukan malaikat. Mungkin sedikit jahat tidak akan membuatmu masuk neraka." El membelai istrinya.


"Apa kakak marah?" tanya Luna. Dia memainkan jarinya di dada El, seperti menuliskan simbol-simbol abstrak.


El pura-pura berpikir. Ditariknya Luna lebih dekat dalam dekapannya. "Tergantung... Tergantung bagaimana kamu membalas yang ini..."


Luna belum sempat mundur, tau-tau bibir El sudah menyapa miliknya. Ia mendorong tubuh El tapi tidak bergeser sama sekali. Sampai beberapa menit kemudian El yang menggerakkan badannya sendiri, mengambil jarak hanya tiga senti.


"Kakak mau main," pinta El.


Luna masih ngos-ngosan karena perbuatan El barusan. "Main apa malam-malam begini, kak?" tanya Luna. Dia sudah mengantuk.


"Nama permainannya: Masuk dan Melayang!"


***


Luna mengerjapkan matanya. Badannya yang masih sakit karena kemping kemarin, sekarang bertambah sakit karena perbuatan El semalam. Apanya yang main? El hanya terus-terusan membuat jantung Luna meloncat karena sentuhan suaminya yang menggila.


Luna cemberut. Dia ingin marah tapi kemudian diurungkannya saat ia melihat wajah El. Goresan di pipi El karena ulahnya, jangan lupa beberapa helai rambut El yang terlepas karena dirinya juga. Tapi kalau dipikir lagi, itu bukan salahnya. Salah El sendiri yang tidak mau berhenti!


Terdengar helaan nafas panjang dari Luna, membuat El terkekeh pelan. Luna mengabaikannya, ia meraih ponsel di atas nakas. Pesan dari Alex.


✉️ Latihan jam 9. Acara jam 7 nanti malam.


Iya.


Luna masih punya cukup waktu. Ia berjalan perlahan ke kamar mandi untuk bersiap. El mengikutinya.


"Kakak, aku capek..." ucap Luna memelas. "Aku harus ke studio sekarang."


"Hahahaha..." El tidak bisa menahan tawanya melihat air muka Luna yang keruh. "Baiklah, kakak tidak akan mengganggumu hari ini. Tapi, Kris yang mengantar kamu. Nanti kakak datang ya. Kakak mau lihat," ucapnya.


"Hem," angguk Luna.


"Jangan lupa pesan kakak, jaga jarak aman." El melambai pada Luna yang menutup kamar mandi.

__ADS_1


El sangat berlebihan. Tapi Luna menyukainya. Dia suka diperhatikan.


"Aku berangkat ya, kak." Luna meletakkan tangan El di dahinya lalu berpamitan. Dia membalas senyum sesaat sebelum melangkah pergi.


Di perjalanan terjadi keheningan total, membuat Luna memilih untuk tidur. Daripada ia menyusahkan dirinya sendiri dengan mencoba berbicara pada Kris?


Luna terbangun saat Kris menggoyangkan tubuhnya. Sudah sampai rupanya. Dia melirik ponselnya. Jam sembilan lewat satu menit. Ah, tepat waktu.


"Hai," sapa Luna saat memasuki ruangan. Dia melihat Alex yang menatapnya sebal.


"Apa?" tanya Luna.


"Elo telat." Alex mencibir.


Dilihatnya layar ponsel miliknya, lalu Luna menunjukkannya pada Alex. "Baru jam sembilan lewat tiga menit," ucapnya.


"Kalau ada bom disini, elo udah mati." Alex masih saja darah tinggi.


"Ha-ha-ha!" Luna tertawa mengejek. "Elo berlebihan."


"Whatever! Nanti lagi kalau mau profesional datang sebelum waktu janjian." Alex mulai memberikan petuah.


"Gue kan masih amatir." Luna malah ngeyel.


"Apalagi masih amatir, Luna!" Dicubitnya kedua pipi Luna sampai mereka bisa mendengar suara batuk yang disengaja.


Kris melepaskan tangan Alex dari pipi Luna dan mendorongnya menjauh. "Tolong jaga jarak aman, setidaknya satu meter."


"What the--" Alex tidak melanjutkan kalimatnya. "Elo siapa?"


Kris tidak menjawab. Alex beralih ke Luna. "Dia siapa? Bodyguard?" tanya Alex.


"Hehe.." Luna tersenyum. "Suruhan laki gue," jawabnya.


"Halah!" Alex menggerutu tanpa suara.


"Ya udah, mulai aja yuk. Gue takut gue enggak bisa sesuai harapan elo nanti." Luna mengambil posisi untuk berlatih.


Mereka latihan selama lima jam berturut-turut. Waktu makan siang serta istirahat terasa bagaikan mimpi. Luna merebahkan dirinya di sofa pojok ruangan. Dia lelah, capek sampai rasanya ingin pingsan. Diedarkannya pandangan ke sekeliling, tidak ada Alex. Aman. Luna mau memejamkan matanya sebentar, lima menit saja tidak mengapa.


"Bangun!"


Tepukan di pundak Luna terpaksa membuatnya membuka mata. "Lima menit lagi, Lex. Gue masih ngantuk," ucap Luna. Nyawanya masih antara ada dan tiada.

__ADS_1


"Kepala elo lima menit! Udah dua jam elo tidur!" Teriakan Alex membuat Luna langsung melotot. "Siap-siap berangkat sekarang..."


Bersambung


__ADS_2