
Malam itu, El sampai di rumah dengan perasaan tidak enak.
"Hai, mi." El menyapa mami yang seperti biasa, sedang nonton drama malam.
"Baru pulang El?" mami mengusap kepala El sebentar, "kamu udah makan?"
"Nanti aja mi, El belum laper." El merebahkan kepalanya di pangkuan maminya.
"Kenapa kamu? Tumben?" mami mengelus kepala El lagi. "Waktu masih kecil sih gapapa, tapi kepala kamu sekarang berat banget, El..."
"Mami kok jahat?" El merajuk manja.
Mami tertawa kecil, lalu melanjutkan menonton TV.
"Mi..." panggil El kemudian.
"Hm?"
"Dulu kenapa mami bisa suka sama papi?"
"Mmmm.. Kenapa ya?" mami diam sebentar, membiarkan El menunggu. "Karena mami pikir, papi adalah orang yang baik."
"Udah, itu aja?" El penasaran. "Baik doang?"
"Baik, terus ganteng, terus kaya..." mami melanjutkan sambil tersenyum sendiri.
"Ah, mami mah..." El kecewa mendengar jawaban mami yang tidak serius. "Aku serius, mam..."
__ADS_1
"Mami jawab serius, El." Mami melanjutkan jawabannya. "Mami pikir papi orang yang baik. Dia sayang sama mami, juga keluarga mami."
"Ga seperti laki-laki, perempuan banyak berpikir sebelum memutuskan sesuatu." Mami menghela nafas sebentar. "Apa benar dia sayang sama saya? Akan selalu ada buat saya? Tidak pernah meninggalkan saya?" mami terdiam sambil terus mengelus kepala El.
"Dulu mami pernah berpikir seperti itu. Dan seiring berjalannya waktu, papi kamu bisa membuktikan semuanya..." mami mengakhiri ceritanya dengan cubitan kecil di hidung El.
"Memang kenapa? Tumben kamu tanya-tanya."
El menenggelamkan kepalanya di perut mami. "El lagi bingung, mi."
"Bingung apa?" Mami menghadapkan kepala El ke atas, sehingga ia bisa melihat jelas wajah El. Terpancar rasa kecewa dari sana.
"El suka sama cewek, tapi kayaknya dia ga suka sama El." El mengingat kejadian setelah dia mengantar Luna pulang.
"Pasti yang namanya Luna." Mami mencubit hidung mancung El lagi.
"Kok mami tau?"
"El baru inget, karena mami cerita."
"Dasar!" Mami mengacak rambut El. "Terus kenapa? Luna ga suka sama kamu? Dia bilang begitu?"
"Engga sih, mi. Tadi dia cuma bilang 'Kak El ga perlu jemput aku terus, aku bisa pulang sendiri, kok...'" El menirukan gaya Luna sore tadi.
"Jadi selama ini, kalau kamu bilang ke sekolah, itu kamu ke sekolah Luna?" El cuma nyengir.
"El pingin bareng Luna terus. Tapi dia ga pingin..."
__ADS_1
Tumben, kamu ingin melakukan sesuatu, El. Sampai ngotot pula.
"Kamu harus sabar. Itu artinya, Luna belum merasakan seperti yang kamu rasakan sekarang."
Mami melanjutkan bicara, "Kamu jangan terlalu maksa dia, kasih dia waktu untuk terbiasa sama kehadiran kamu."
"Jangan terlalu buru-buru, El. Bukannya kamu paling jago melakukan itu?"
"Ngelakuin apa mi?"
"'Kenapa harus kerjain sekarang, kalau bisa dikerjain besok?'" Sekarang gantian mami yang menirukan gaya El.
"Mami mah..." El tersipu. Lalu melanjutkan bicaranya, "tapi El ga sabar mi."
"Sabar lah, Nak.. Napsu banget sih, kamu..."
"Hehe..." El nyengir kuda. "Mami ga tau, sih. Kalau bisa mah, El udah bawa dia pulang terus kekepin seharian."
"Bawa dia pulang buat main kesini boleh,, tapi kalau kekepin seharian jangan ya. Kamu harus anterin anak orang pulang."
"Iya mi, El bakal sabar menanti." El bangun dan duduk di samping mami. "Makasih ya, mam." El mengecup pipi mami kemudiannya berlalu ke kamar nya.
Bersambung...
EPILOG
Sabar El, sabar!
__ADS_1
El menepuk tangannya sendiri yang sudah gatal dari tadi ingin mengirim pesan ke Luna.
Sabarrrrrrrrrrrrr......!!!!!!