
El datang tepat waktu. Luna segera pergi meninggalkan Alex yang masih terdiam. Dia tidak perduli, menurutnya, baik Alex ataupun Angel sama-sama aneh dan gila. Atau hanya dia yang berpikiran seperti itu?
"Kak," Luna memutuskan untuk bertanya pada El.
"Ya, Luna sayang?"
Luna mengerutkan dahinya. Baru kali ini El memanggilnya sayang. Tapi raut muka El sama sekali tidak berubah. Dia jadi bingung, apakah ini benar-benar mau panggil sayang atau basa-basi saja?
"Kenapa panggil sayang?"
"Kenapa panggil kakak?"
Lah, dia malah ngeles.
"Kenapa kakak tadi panggil aku sayang?"
"Kenapa barusan kamu panggil kakak?"
Terus aja begini sampai lebaran monyet.
Luna memutuskan menyerah duluan. "Kakak punya pacar?"
"Enggak." El terdiam, berbagai macam pertanyaan mampir di benaknya.
Kenapa Luna tanya begitu? Jangan bilang kalau dia mau nembak gue? Sekarang? Sekarang banget?
"Kakak sekarang lagi ga punya pacar," El menekankan suaranya pada kata 'ga punya' dan 'pacar'.
"Kalau begitu, aku mau nanya sesuatu."
Jantung El berdegup kencang, di wajahnya mulai terbentuk senyum yang semakin lama semakin mengembang.
"Tanya aja,"
Gue pasti jawab iya!
"Tapi kakak jangan ngerem mendadak, ya. Aku belum mau mati. Atau kakak berhenti sebentar dulu, deh."
"Gapapa kok, tanya aja sekarang." El mulai tidak sabar.
"Kakak ga mau berhenti buat makan dulu? Kakak ga lapar?"
"Enggak."
Aduh, cepetan tanya aja. Gue udah siap jawab iya, nih.
"Kakak bener ga punya pacar?"
"Iya..." El mulai gemas.
__ADS_1
"Tapi pasti pernah punya pacar dong...?"
"Iya."
Lama banget sih pertanyaan intro-nya? Ga bisa langsung ke inti aja?
Luna terdiam sebentar, kemudian menarik nafas panjang. Dia mengatur nafasnya pelan-pelan, bersikap seolah akan mengatakan sesuatu yang sangat penting.
El sudah bersiap.
"Kakak pernah ML sama pacar?" Luna bertanya dalam satu tarikan nafas.
"Iya." El menjawab cepat.
Eh, tunggu. Dia tanya apa barusan?
***
Akhirnya Luna dan El duduk berhadapan di sebuah restoran terdekat yang El temui di perjalanan. Restoran cepat saji saat Luna membuat kehebohan. Dan mereka duduk di tempat yang sama seperti saat itu, di pojokan.
El menarik nafas, "Tadi kamu tanya apa?"
Luna melahap kentang goreng di hadapannya, melirik ke kanan dan kiri, mencoba menghindari tatapan El.
Ya, setelah bertanya hal seperti itu di mobil, El langsung terdiam seribu bahasa dan tiba-tiba memarkirkan mobilnya. Dan terdamparlah dia disini. Luna bingung kalau El sudah diam begitu. Tidak seperti El yang seringkali seolah bisa membaca pikiran Luna, bagi Luna membaca pikiran El itu hampir mustahil. Beberapa kali dia mencoba, yang terbaca paling banter cuma, 'error, please try again.'
"Tadi kamu tanya apa?" El mengulang pertanyaannya lagi. Sebelumnya dia cukup kecewa karena dia pikir Luna akan 'nembak' dia.
Dan, saat ini, ketika El mengira bahwa Luna akan memintanya jadi pacarnya, ternyata dia malah menanyakan hal lain. Luna malah bertanya hal yang lebih aneh. Dan hal itu, dia tidak terlalu menyukainya.
"Engga jadi, kak." Luna langsung ciut.
"Kamu tanya apa tadi Luna?" El memaksakan senyumnya. Dia tau Luna sedikit takut sekarang.
"Kakak tadi salah jawab, bisa kamu tanya lagi?" El mengelus kepala Luna pelan, mencoba meyakinkan Luna agar Luna tidak perlu takut lagi padanya.
Ragu sejenak, akhirnya Luna bertanya lagi. "Kakak punya pacar?"
"Enggak, kakak ga punya pacar sekarang." El mengelus pipi Luna. Kan kakak lagi nunggu kamu.
"Kakak pernah punya pacar kan?" Luna melanjutkan pertanyaannya.
"Engga juga."
Luna menautkan alisnya bingung. Apa maksudnya dengan enggak juga?
El yang melihat kebingungan Luna melanjutkan jawabannya. "Mereka sendiri yang bilang kakak pacar mereka, tapi kakak ga pernah merasa begitu."
"Aku ga ngerti, kak." Otak Luna memang terlalu dangkal untuk urusan seperti ini. Maklum, jumlah pengalamannya enol.
__ADS_1
"Mereka menyatakan cinta, tapi sebenarnya kakak ga pernah balas. Setelah itu mereka bersikap seolah-olah kakak adalah pacar mereka."
"Ohhh..." Luna membulatkan bibirnya. Jangan-jangan Alex juga mengalami yang seperti ini?
"Kakak pernah ML sama mereka?"
El menghela nafas panjang, dia mengelus kepala Luna. Ternyata Luna tidak sepolos itu. Tapi, kenapa dia tertarik sama hal kayak gitu, coba?
"Enggak Luna." El tersenyum sebentar. "Itu harusnya dilakukan setelah pernikahan."
Luna menjentikkan jarinya. "Tuh, kan. Aku pikir juga begitu." Luna kemudian sibuk dengan pikirannya sendiri.
Berarti gue normal. Memang harusnya seperti itu. Memang orang kebanyakan pasti berpikir begitu. Benar, bukan gue yang aneh. Tapi mereka berdua yang aneh, Si Alex dan Angel itu.
"Kenapa kamu tanya itu?" El mencicipi makanan di depannya. "Jangan bilang kamu mau coba kayak gitu."
"Enggak lah." El menghela nafas lega. "Kakak ingat cerita aku kemarin? Yang aku gap teman sekolah aku waktu lagi gituan. Cowoknya bilang si cewek bukan pacarnya. Si cewek bilang dia cowoknya. Ceweknya jadi gangguin aku terus karena cemburu, padahal aku ga pernah godain cowok itu. Lihat nih, siku aku, lutut aku sama betis aku gara-gara dia. Dia juga pernah siram aku pakai--
Luna langsung berhenti nyerocos karena El berpindah duduk ke sebelahnya. El melihat dari dekat sikunya yang ditempel plester, juga memeriksa luka di kakinya. "Dia siram kamu pakai apa?"
"Ha?" Luna mencoba mengingat di bagian apa tadi dia berhenti bicara.
"Dia siram kamu pakai apa Luna?"
"Es jeruk," Luna menjawab singkat. Dia tidak mengerti kenapa bagian itu penting.
"Siapa namanya?"
"Nama siapa?"
"Yang siram kamu,"
"Oh itu..." Luna berhenti sejenak. "Angel, katanya keponakan kepala sekolah."
El meraih ponselnya di saku, mengetikkan sesuatu sebentar kemudian beralih lagi ke Luna. "Lain kali hati-hati, ya."
Luna mengangguk. "Tenang aja, kak."
"Masih sakit?" El menunjuk luka Luna.
"Engga kok, lukanya cuma kecil aja. Kakak mau lihat?" Luna yang mau membuka plester dan menunjukkan lukanya dicegah El.
"Jangan dibuka." El memperbaiki plester itu kemudian mengecup lukanya pelan. "Cepat sembuh ya..."
Bersambung...
EPILOG
Isi pesan El:
__ADS_1
Kak En, aku ga suka Angel keponakan kepala sekolah yang gangguin Luna.
✉️ Oke adikku sayang. Kakak urus ya... ❤️