Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
38. Kencan (7)


__ADS_3

Clik.


Luna membuka matanya. Dia melihat keadaan sekitar.


"Kamu udah bangun Luna?" Mami mengelus kepala Luna.


"Ma-ma-maaf Bu," Luna langsung bangkit dari tidurnya. Dia tidak menyangka kalau dia bisa tertidur di pangkuan orang yang baru dia temui pertama kali.


Tadinya Luna pikir itu adalah satu-satunya hal tidak biasa yang terjadi padanya hari ini. Tapi ternyata tidak.


"Kak El..." Luna melihat El yang terlelap dengan posisi duduk sambil memangku kakinya.


Kenapa gue malah ketiduran sih??


Luna memaki dalam hati. Udah ketiduran, posenya ga karuan lagi. Sungguh memalukan.


Luna mengangkat tangan El perlahan agar bisa menurunkan kakinya tanpa membangunkan El. Tapi tiba-tiba mami malah berteriak-


"EL!"


"Ya mi?" El langsung bangun membuka matanya. Dia melihat Luna yang sedang memindahkan tangannya.


Luna tersenyum. "Hehe.. Maaf kak, kaki aku ga sopan." Luna menurunkan kakinya.


"Bangun, El. Kamu berliur, tuh."


"Hah?!" El yang masih mengumpulkan nyawanya langsung mengusap ujung bibirnya. "Mami bohong, ah!" El langsung sadar dia ditipu.


Mami tertawa geli.


Gue ga pernah ketawa kayak gitu sama Bunda. Kapan ya gue bisa kayak gitu... Gue bahkan ga inget kapan terakhir kali kita ketawa bareng..


"Luna!" El membuyarkan lamunannya. "Kamu kenapa?" El menyadari Luna yang tertunduk sedih.


"Ga papa, kak..."


Gapapa, gapapa, tapi muka merana gitu. El


Mami tampak terdiam sejenak sebelum memutuskan beranjak karena melihat kecanggungan antara El dan Luna. "Mami ke toilet dulu--


YES!


--jangan macem-macem El, mami bisa liat dari CCTV."


Nooooo.....

__ADS_1


"Iya, kan El udah pernah bilang nanti melakukannya di depan mami." El cuma nyengir.


Setelah mami tidak terlihat lagi, El beralih ke Luna.


"Bener gapapa?"


"Iya," Luna meyakinkan.


"Butuh sendok gak?"


"Hehe.. Enggak perlu, kak." Luna menahan senyum. "Ada kakak udah cukup, kok."


Ada kakak udah cukup...


Ada kakak udah cukup...


Ada kakak....


Kata-kata itu terdengar berulang di telinga El bagaikan suara musik termerdu yang pernah ada.


El memeluk Luna seerat yang ia bisa, menyalurkan rasa senangnya yang meluap.


Akhirnya hari ini datang juga...


"Terima kasih sudah membiarkan kakak mengganggu kamu selama ini..


Kakak tunggu kamu balas gangguin, ya!"


Luna tertawa. "Iya kak... Hehe..."


"EHM!" mami muncul di depan mereka. "Baru mami tinggal pergi sebentar, udah peluk-pelukan aja!"


"Maaf, Bu." Luna tertunduk antara takut dan malu.


Mami menjauhkan Luna dan El lalu duduk di antara mereka.


"Kenapa peluk-pelukan?" mami bertanya ke El. "Kalian pacaran?" mami beralih ke Luna.


"Mami!" El berseru malu.


Kenapa nanya nya frontal banget, sih..


"Engga kok, Bu. Saya udah anggap kak El seperti kakak saya sendiri..." Luna menjawab gelagapan.


Mami tertawa ke arah El.

__ADS_1


Puas! Puas, mami!


El mengutuk dalam hati.


Mami akhirnya bisa berhenti tertawa. Lama-kelamaan dia kasihan juga melihat bibir El yang terus manyun.


"Luna, bantuin mami bikin makan malam, yuk." Mami akhirnya memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.


"Iya, Bu."


"Kamu bisa masak?"


"Bisa, sedikit..."


"Ya udah, yuk bantuin mami di dapur." Mami menggandeng Luna ke dapur. El otomatis mengikuti.


Luna dan mami masuk ke bagian counter dapur, sedangkan El duduk di pojokan.


"Kenapa kak El duduk di sana?" Luna bertanya bingung.


"Dia cuma ganggu, ga bisa bantuin. Biarin aja dia duduk di sana,"


Luna menahan senyum, kemudian dia sibuk membantu mami.


Setelah selesai memasak, mereka makan malam dengan tenang.


Karena hari sudah mulai gelap, El akan mengantar Luna pulang.


"Tas sama baju kamu masih basah, Lun. Nanti aja Kakak kasih ke kamu." Luna mengangguk.


"Ini ponsel sama dompet kamu, untung ga apa.." El menyodorkan ponsel dan dompet Luna yang sedikit basah.


"Sama tempat makan kamu," El menyerahkan Goody bag berlogo perusahaan warna hijau pada Luna.


"Makasih kak, maaf aku ngerepotin terus."


"Kamu serius mau kasih Luna kantong begitu, El?" mami protes saat melihat Luna memakai Goody bag dari El. Sungguh membuat dia sakit mata. Warnanya terlalu bertabrakan dengan baju yang Luna pakai.


"Tunggu sebentar." Mami menuju kamarnya kemudian kembali dengan sebuah tas berwarna senada dengan baju Luna.



"Sini, coba." Mami merebut Goody bag Luna dan mengeluarkan ponsel dan dompet lalu memasukkannya ke dalam tas yang dibawanya. Meninggalkan kotak makan Luna dipegang El.


Mami menyampirkan tas itu di bahu Luna. "That's better..." mami tersenyum puas.

__ADS_1


"Ga sekalian sepatunya mi?" El mulai nawar.


Bersambung...


__ADS_2