Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 3


__ADS_3

Chapter 3: Fasilitas


"Uang memang tak bisa membeli cintamu untukku, tapi uang bisa membeli waktumu agar selalu mengingatku dan bersamaku."


-El-


"Jessika!!!" Luna memekik senang saat melihat Jessika membukakan pintu rumahnya.


"Maaf, Anda siapa ya? Saya ga kenal." Jessika menutup pintu.


"Jess...." Luna menarik pintu mencegah Jessika menutup pintunya. "Kok elo gitu sama gue??"


El hanya memantau kedua anak SMA yang sedang saling tarik-menarik pintu rumah di hadapannya. Lalu sesaat kemudian dia mulai senyum-senyum sendiri.


"Jessika, bisa saya masuk?"


Jessika terkesiap mendengar suara El yang penuh wibawa dan seketika langsung melepaskan gagang pintu yang ditahannya dari tadi.


El masuk setelah Luna menggeser badan Jessika ke sisi.


"Permisi..." Luna mengikuti El yang masuk lalu duduk dengan santai di sofa rumah Jessika. Jessika mau tak mau mengikuti mereka duduk.


"Ibu elo kemana Jess?" Luna mencoba bertanya basa-basi.


"Belum pulang. Ngapain elo tanya-tanya?" Jessika memajukan bibirnya.


"Utututu... Kenapa sih elo marah-marah gitu.... Cepet tua, nanti." ucap Luna sambil mencubit pipi Jessika, menggoyangkannya.


"Berisik Lo! Kesel gue kuatir sama elo. Gue pikir elo lagi galau, hilang entah kemana, ternyata malah asyik pacaran!" Jessika menatap El kemudian mendengus kesal.


"Hehe... Sorry sayang..." Luna memeluk Jessika mesra.


"Ga usah dekat-dekat! Geli gue!" Jessika mendorong muka Luna menjauh darinya. Luna cuma cengar-cengir. "Terus ngapain elo kesini lagi?"


"Hehe..." Luna tersenyum malu-malu. "Gue mau numpang di rumah elo..."


"WHAT?!" ucapan Jessika membuat El sampai terlonjak kaget. Luna mengusap punggung El sebentar, mengasihani El yang belum terbiasa dengan suara Jessika yang bisa menyakiti telinga.


"Kenapa?" Jessika bertanya penasaran.


"Kan gue diusir dari rumah..." Luna masih memasang senyumnya.


Jessika menatap El tajam seolah bertanya, apa gunanya El ada disana kalau Luna diusir.


"Luna mau tinggal disini." Raut wajah Jessika langsung berubah datar saat El mengucapkan alasannya.


"Iya, kan elo waktu itu nawarin. Elo bilang gue boleh tinggal disini kalau gue diusir." Luna bangun berdiri. "Gue ambil barang gue dulu di depan."


"Saya titip Luna, dia ga mau tinggal di tempat yang sudah saya sediakan." El mengeluarkan berlembar-lembar uang dari dompetnya, menaruhnya di atas meja dan mendekatkannya ke Jessika. "Saya harap kamu ga keberatan."


"Luna itu teman saya. Om ga perlu suap saya." Jessika melirik uang tebal itu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya sungguh berterima kasih." El menarik kembali uangnya perlahan.


"Eits, tunggu!" Jessika menahan uangnya. "Kalau om memaksa, saya terima."


Gela aja gue ga terima rejeki nomplok gini.


"Tapi saya menerima Luna disini bukan karena uang ini, ya." Jessika mengibaskan uang yang kini ada di tangannya. "Tapi karena Luna memang teman baik saya. Uang ini saya anggap hadiah dari om."


"Tentu saja." El tersenyum.


"Tapi berapa lama Luna akan tinggal disini?" Jessika memasukkan uangnya ke saku celana pendek yang ia kenakan.


"Tidak akan lama..."


El dan Jessika menghentikan pembicaraan mereka saat melihat Luna datang membawa dua buah tasnya, yang pernah ia bawa dulu saat tidak jadi menginap di rumah Jessika.


El tersenyum melihat Luna, ia kemudian berdiri dari sofa berwarna hitam itu. "Kakak pulang dulu ya..."


"Iya." Luna mengantar El ke depan pintu.


"Kamu hati-hati ya. Kalau ada sesuatu langsung hubungi kakak."


"Iya," Luna mengangguk mantap.


"Oh iya," El mengeluarkan dompetnya lagi. "Ini buat kamu jajan." Lima lembar uang sudah mendarat di tangan Luna. "Kamu ga punya uang kan?"


Luna menggigit bibirnya ragu.


Terima atau engga? Gue ga mau ngerepotin, tapi gue juga butuh. Butuh, pake banget.


Luna menyerah, harga dirinya kalah dengan lembaran uang itu. "Iya, kak. Terima kasih."


El mengelus kepala Luna. "Hati-hati ya disini. Dah..." Ucap El sambil melambaikan tangan.


"Dah, pacar..." Luna membalas lambaian El dan menunggu sampai mobil El menghilang dari pandangannya.


Luna menutup pintu dan berbalik. "Astaga!" Dia terkejut melihat Jessika yang berdiri di depannya.


"Adeuh, yang punya pacar." Jessika terus menggoda Luna sampai mereka masuk ke kamar.


"Jadi, elo udah jadian sama si om?" tanya Jessika sambil memainkan ponselnya, dia mengabari teman yang lain kalau Luna sedang ada di tempatnya. Tiara dan Reina langsung heboh minta Pajamas Party.


"Udah dong...." Luna tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya. Dia ikut naik ke atas ranjang Jessika.


"Gue ga kaget sih. Yang ada malah kelamaan! Greget gue liatnya."


"Eh, Jess. Bagi nomer telepon Elo. Gue ga hapal." Luna sudah siap mengetikkan nomor yang akan disebutkan Jessika.


Jessika menoleh dan mendapati Luna sedang memegang ponsel yang tak dikenalinya. "Tunggu dulu...." ucap Jessika yang langsung merebut ponsel Luna. "Jangan bilang kalau--


Luna mengangguk. "Kak El kasih ponsel lamanya buat gue pake..."

__ADS_1


"Ya ampun... gue ga nyangka elo sepintar itu." Jessika menutup mulutnya kaget.


"Maksud elo apa nih? Kok gue berasa ga seneng ya dengernya," ucap Luna.


"Elo ga paham? Gue sedang mengimplementasikan majas ironi," ucap Jessika.


Luna menempelkan tangannya di kening Jessika, "elo sakit?"


"Maksud gue, elo jangan terlalu pintar. Jelas-jelas itu ponsel baru, mana ada ponsel lama sekinclong itu. Lagian itu keluaran terbaru yang masih ada iklannya di TV."


"Masa sih?"


"Punya tv ga sih di rumah elo?" Jessika menyindirnya.


"Gue ga punya rumah, Jess."


Jessika yang tidak menyangka jawaban Luna langsung gelagapan dan mencari remote TV kamarnya. "Nih, elo tungguin. Nanti muncul iklannya." Dia mengembalikan ponsel Luna dan pura-pura memainkan ponselnya sendiri.


Luna menghela nafas kemudian mengambil ponsel yang dilemparkan Jessika. "Jadi nomor elo berapa?"


Setelah menyebutkan sederet angka, Luna mencoba membuat sambungan telepon. "Simpan nomor baru gue ya."


Sebuah pesan masuk.


✉️ Luna...


Iya, kak. Kakak sudah sampai rumah?


✉️ Sudah, sayang... Kamu besok sekolah?


Iya dong, kak. Kakak mau ajakin aku bolos lagi? 🤭


✉️ Kalau kamu mau.


Kakak gimana sih? Malah ngajak yang gak bener.... Aku kan harus sekolah.


✉️ Habis....


Habis apa?


✉️ Habis kamu akan ada di tempat yang kakak ga bisa ada disana. Kakak gak suka sekolah.


Senyum Luna makin melebar, membuat Jessika yang ada di sebelahnya menjadi waspada.


"AAAAAAAAAAAAA.......!!!!" Luna berteriak kegirangan. Dia berbaring di ranjang kemudian menendang tak beraturan, bergerak menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Kenapa Lo?"


Luna menoleh ke Jessika dan mendekatinya. "Jessika! Jadi ini rasanya punya pacar! Gue seneng banget!!!!" Luna memeluk Jessika erat.


"Lepassss!" Jessika mencoba membebaskan dirinya dari pelukan Luna, tapi Luna tak bergeming.

__ADS_1


"Lepas ga?! Mules gue liat muka elo. Gue mau pup."


Bersambung


__ADS_2