
Chapter 52: Kejutan Buruk
"Hasrat itu ada untuk disalurkan kepada satu orang yang tepat..." -El-
Luna berlari cepat menuju lift di dalam kantor kak El. Dia ngerem mendadak saat hampir menabrak seseorang yang baru saja melangkah keluar dari dalam kotak besi itu. Segera saja dia masuk untuk bisa naik ke lantai atas. Peluh mengalir sedikit di keningnya. Tapi seolah tak memperdulikannya, ia terus bergerak tak sabaran. Bersiap seolah pintu otomatis lift yang terbuka adalah aba-aba dimulainya lomba lari.
SAT.
Luna menggerakkan kakinya secepat yang ia bisa. Tinggal lurus saja dan dia akan sampai di ruangan El. Reza yang melihat Luna mendekat segera bangkit dari mejanya dan menghalangi cewek itu.
"Kemana Lun?" Dia merentangkan tangannya menghalangi Luna masuk ke dalam.
"Aku mau masuk, kak. Ada hal penting yang mau aku kasih tau ke kak El," desak Luna.
"Jangan sekarang, Lun. Masih ada tamu di dalam." Luna merengut kesal.
"Masa aku juga enggak boleh masuk, kak?" rengeknya. "Ini penting banget. Ponsel kak El juga mati, makanya aku kesini."
"Ada rapat penting. Mungkin ponselnya dimatikan..." hibur Reza. Tapi Luna sama sekali tidak terhibur.
"Luna.... Jangan berbuat hal yang memalukan..." Reza berusaha memperingati teman adiknya ini. Dia meringis terkekeh pelan saat melihat Luna sengaja menendang-nendang sepatunya. Seolah mengungkapkan kekesalannya karena tidak diizinkan.
"Sabar ya..." bujuk Reza. "Kakak belikan es krim dulu mau?"
"Aku tidak mau es krim. Ini sangat penting, kak! Ini menyangkut keluargaku! Kalau sampai terjadi apa-apa, kakak yang tanggung jawab!" ancamnya.
"Loh.... kok jadi aku yang tanggung jawab?" tanyanya heran.
"Iya, terus siapa lagi? Kan kakak yang enggak bolehin aku masuk?!"
"Duduk sini dulu, duduk..." Reza menarik Luna duduk di kursinya. "Tunggu di sini sepuluh menit, kalau sampai waktunya habis belum ada yang keluar dari dalam nanti kakak telepon..." Reza menunjuk telepon putih internal kantor yang ada di hadapan Luna.
Cewek itu mendecak kesal tapi ia tetap mematuhi Reza. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku pesenin kue ya..." rayu Reza. Dia meraih gagang telepon yang ada di hadapan Luna, lalu memencet sebuah tombol angka. Luna tidak tau angka yang mana, tubuh Reza menghalangi pandangannya.
"Bawakan makanan dan minuman, ya." Sudah, hanya begitu saja. Beberapa saat kemudian apa yang dipesan sudah ada di hadapan Luna.
"Makanlah dulu..."
Luna memberengut. Ini benar-benar bukan masalah sepele. Dia tidak punya waktu untuk ngemil saat ini.
"Sudah, makanlah saja...." Reza memekik setengah putus asa. Dia tidak bisa membiarkan Luna masuk ke dalam, tapi juga tidak bisa membuat Luna marah. Bisa ditelan hidup-hidup dia oleh El nanti.
Luna menghela nafas. Dia mengambil sepotong kue lalu memakannya. Setelah itu meneguk sedikit teh panas itu. Enak sekali. Tadinya niat mencicipi, tapi ternyata dia melahapnya sampai habis.
Reza yang melihat itu mengulum senyum. Setidaknya untuk beberapa menit ke depan ia masih bisa mengendalikan Luna, batinnya. Setelah ini ia akan mengajak Luna bicara sambil mengulur waktu.
"Kak~~~" Luna memanggil dengan nada mengancam. Dia tetap mengawasi menit yang berlalu melalui ponsel yang sudah ia genggam sedari tadi. Walaupun Reza mengajaknya berbicara panjang lebar, Luna tetap fokus pada tujuannya. Tidak teralihkan.
"Sudah sepuluh menit..."
Reza menelan ludah. Habis sudah hidupnya. Perlahan dia mengambil telepon itu. Tepat pada saat dia akan menekan tombol, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Terlihat seorang wanita muda yang sangat cantik dengan rambut panjang dan dress berwarna putih yang memiliki belahan dada rendah. Luna sampai melotot saat perempuan itu keluar dari ruangan suaminya seorang diri. Apa saja yang mereka lakukan berdua di dalam sana?!
BRAK!
Luna mendorong pintunya keras sampai mengangetkan El. "Luna...?" tanyanya heran. "Kenapa kamu ada di sini?"
__ADS_1
"Apa yang baru saja kakak lakukan dengan wanita itu?" tanyanya kesal. Luna melangkah maju mendekat ke El. "Aku melihatnya!" Luna menarik nafas dan menatap El tajam. Dia berkacak pinggang di depan El. "Dia cantik. Dia seksi. Dan dia PEREMPUAN."
Cemburu rupanya...
El mengecup bibir Luna tanpa peringatan membuat Luna refleks dan mendorongnya menjauh. "Hanya teman kerja saja, sweetie..."
"Bohonggggg..." rajuknya. "Kenapa cuma berdua saja?" Luna menghentakkan kaki marah, ciri khasnya.
"Lalu harus dengan siapa lagi, princess...?" El menarik Luna ke dalam pelukannya. Luna mengelak tapi El tentu saja tetap berhasil mendekapnya.
"Sama kak Reza? Sama Pak Kris?" ucapnya marah.
"Mereka ada pekerjaan masing-masing, sayang..." El memeluk Luna semakin erat, karena gadis itu terus saja bergerak seolah ingin lepas tapi tidak berusaha sekeras itu.
"Jangan marah ya..." bujuknya. El mencium puncak kepala Luna, membenamkan kepalanya di sana.
"Setelah ini, kakak akan memastikan kalau akan selalu ada orang ketiga saat bekerja." Ditatapnya Luna serius, meyakinkan dengan sepenuh hati.
"Nanti kalau kamu sudah lulus, kamu bisa menjadi sekretaris kakak kalau kamu mau..." El memandang Luna seolah menginginkan jawaban, tapi Luna malah menggigit bibir sama sekali tidak berniat mengiyakan. El yang mengerti kalau Luna masih bingung akan masa depannya, memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan saja.
"Jadi, ada apa kamu sampai jauh-jauh ke sini?" tanyanya. "Rindu dengan kakak?"
"AH!" Luna tersentak kaget. Dia lupa dengan tujuan utamanya datang tadi. Dia menarik lengan El menuju pintu keluar. "Kakak harus ikut aku sekarang..."
"Kemana?" El mengikuti langkah Luna yang setengah berlari.
***
Luna dan El sedang berada di perjalanan. Karena penasaran, El bertanya pada Luna kemana mereka akan pergi.
"Ke rumah Alex, kak." Jawaban Luna membuat El bingung.
"Karena Alex bilang di sana ada Bunda..." jawabnya.
"Kenapa Bundamu ada di rumah Alex?" Pikiran El belum sinkron dengan petunjuk yang diberikan oleh Luna.
"Alex bilang pas dia pulang dia lihat Papa dan Bunda lagi anu..." Luna menjawab dengan sangat pelan tapi penuh amarah.
"Anu....?" El mengerutkan dahinya. "Anu? Apa itu?" tanyanya.
"Ih..." Luna menggeram kesal. "Kok tidak mengerti, sih?!" Dia mendekatkan wajahnya ke El. "Anu ya seperti ini!"
El tersenyum simpul saat bibir Luna menempel di bibirnya selama beberapa detik.
Anu ternyata itu...
"Masa Bunda dan Papa melakukan itu? Bagaimana dengan Ayah?" Luna memekik kesal.
El mengelus dagunya mencoba berpikir. "Kalau kita kesana sekarang apa mereka masih di sana atau sudah pergi?" tanya El.
"Alex cuma minta aku kesana dengan kakak... Itu saja..." El terhenyak sedikit. Anak itu meminta dirinya ikut serta. Sebenarnya apa yang terjadi?
Setelah lebih dari 30 menit berkendara, mereka tiba di sebuah rumah megah berpagar dengan cat berwarna putih terang. Luna masuk ke dalam rumah dengan diantarkan seorang penjaga rumah. El yang masih menyerap informasi mengenai keadaan saat ini untuk sementara hanya mengekor Luna.
"Lex...." nafas Luna terengah saat ia tiba di ruang tamu dan benar melihat ibunya sedang duduk di sana. Di sebelah Bunda ada Papa. Luna menatap mereka bergantian, sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Kak... Kesini..." Alex menepuk sofa di sebelahnya, mengajak Luna duduk di sana. Yang tentu saja tidak akan pernah terjadi dalam mimpi Alex sekalipun, karena dirinya lah yang akan duduk di sebelah bocah nakal itu.
__ADS_1
"Ada apa, Lex?" Luna masih sedikit terengah. Dia duduk di samping El yang ada di antara dirinya dan Alex.
"Itulah apa yang sedang aku tanyakan pada mereka sejak sejam yang lalu..." sinis Alex.
Luna menatap Bunda yang tertunduk, tidak ada niatan sama sekali untuk menjawab. Sementara papa hanya melontarkan senyum tipis.
"Karena memang tidak terjadi apapun..." kilah papa.
"Aku tidak sebodoh dulu. Aku punya bukti..." Alex mengacungkan ponselnya. "Karena itu kalian tidak bisa pergi sebelum menjelaskan..."
Wajah papa dan bunda seketika pucat pasi. El yang melihat perubahan itu meminta Alex menunjukkan bukti padanya, hanya padanya. "Perlihatkan padaku..."
Alex mengangguk kemudian menyalakan ponselnya dan memberikannya pada El. Itu pulalah alasan ia meminta Luna agar datang bersama El. Masalah ini bukanlah hal yang bisa diselesaikan dengan jalan pikiran bocah macam Alex dan Luna. Mereka bisa saja pintar tapi belum tentu bijak.
El menutup mata Luna dengan sebelah tangannya tanpa usaha yang berarti. Sementara tangannya yang lain sibuk memegang ponsel yang milik Alex. Seperti yang ia duga, di hadapannya terputar adegan yang tak pantas ditonton oleh anak di bawah umur.
"Kamu sudah berita tau siapa saja?" tanya El. Ia melepaskan Luna yang sedari tadi mencakar tangannya. Luna cemberut kesal karena El seolah tidak merasa sakit sama sekali. Seenaknya dia menutupi wajah Luna. Dia kan juga ingin melihatnya!
"Adik yang lain..." jawabnya. Alex sudah menghubungi Tyo agar memberitahukan adik Luna yang lain. Iya, dia masih menyimpan nomor teman lamanya itu.
El mengangguk mengerti kemudian menekan beberapa tombol di ponsel Alex. Ia memasukkan nomornya kemudian mengirimkan bukti itu kesana. El mengambil ponselnya sendiri dari saku celana kemudian menyalakannya. Banyak pesan dan telepon masuk dari Luna, membuatnya tersenyum sedikit lalu mencubit pipi Luna gemas. Ternyata dari tadi si imut itu mencarinya sampai putus asa. 30 pesan dan 10 panggilan tak terjawab.
"Aku kirim pesan." El selesai menelepon dengan satu kalimat. Setelahnya jarinya dengan lincah mengetik dia atas layar ponsel. Luna dan Alex hanya bisa menatap dan menerka apa yang baru saja El lakukan.
Pasti telepon si Kris! Pakai senyum-senyum segala lagi! Luna menggeram dalam hati.
Telepon si bodyguard, minta bekingan. Alex menyindir tanpa suara.
Ya, kedua orang itu benar. El menghubungi Kris untuk mengurus hal yang ia pinta dalam waktu setengah jam. Kalau lewat dari itu, siap-siap saja ada yang melayang ke arahnya.
"Kakak telepon Pak Kris pakai senyum segala...!"
El terkekeh kecil mendapati sesi cemburu Luna yang tampaknya belum tamat. Masih ada episode lanjutan. Dia mengelus kepala Luna pelan. "Nanti saja cemburunya, sayang.... Di rumah, oke?"
Luna merengut sebentar lalu mengangguk pelan. "Jadi, bisa kamu ceritakan padaku?" El beralih ke Alex. Pertama ia ingin mendapatkan gambaran versi Alex.
"Hari ini aku pulang ke rumah mau ambil pakaian." Alex ingin mengambil beberapa baju untuk kencan dengan pacar barunya. Karin, mengajak ia keluar hari Minggu nanti. Itulah alasannya datang kesini hari ini.
"Jadi biasanya kamu tinggal dimana?" tanya Luna. "Kamu tidak pulang ke rumah?" Dasar anak bandel.
"Di studio." Alex menghela nafas pelan. "Lanjut enggak?"
"Maaf..." Luna nyengir merasa bersalah sudah menyela Alex.
"Aku kira rumah sepi seperti biasa. Ini masih sore. Harusnya enggak ada orang. Tapi pas aku masuk banyak suara mengerikan..." Alex menatap papa tajam.
"Ada seekor burung peot yang keluar dari sangkar. Sepertinya lupa kalau dia sudah uzur." Alex sengaja meledek seperti ini. Tapi dia yakin El mengerti apa yang ia maksud. Tak masalah dengan Luna, dia paham atau tidak sepertinya tak terlalu berpengaruh.
"Kejadian ini sudah pernah aku alami. Jadi aku membiarkan saja si burung beraksi." Tatapan penuh arti ia lemparkan ke papa sekali lagi. "Jadi aku diam dan merekam. Mengumpulkan bukti nyata agar aku bisa dipercaya. Pengalaman memang guru yang terbaik."
Alex mengangkat bahunya. "Ya, setelah itu aku hubungi kakak dan adik yang lain..."
"Aku mengancam mereka sedikit. Kalau mereka angkat kaki sebelum kalian datang. Aku akan upload video ini. Toh, aku cuma rugi sedikit. Mereka yang paling tersiksa nantinya."
Papa tersenyum kecut. Dia harusnya tidak ceroboh dengan membiarkan Alex bebas. Anak ini bisa menjadi musuhnya kapan saja. Walaupun darah yang sama mengalir di tubuh mereka, dendam pengkhianatan yang dimiliki Alex bisa membuatnya gelap mata.
Daniel tidak mau mengakuinya. Tapi dia memang bukanlah pria yang baik. Dia sudah mencoba, tapi tidak bisa. Baginya seorang wanita saja tidak akan cukup. Dan Alex adalah orang yang mengetahui segala kebusukannya.
__ADS_1
Semuanya semakin memburuk saat mama Alex jatuh sakit. Istrinya yang tidak bisa lagi melayaninya, memberikan ia alasan untuk mencicipi banyak wanita. Perseteruan semakin menjadi saat mama Alex tiada. Dengan kekayaan yang diwariskan oleh mama, Alex membuat pekerjaan untuknya sendiri. Dia tidak lagi pulang ke rumah. Baginya, definisi rumah hanyalah tempat untuk menyimpan barang. Bagaikan gudang. Bangunan dengan kasih sayang itu sudah lama sirna.
Bersambung