
Chapter 63: Akhir
"Akan berakhir jika kamu sudah merasa begitu..." -Luna-
"Bunda..." Arsya yang pertama kali menghampiri Dewi.
"Arsya..." Dewi hampir saja menangis saat anaknya itu menyalami tangannya. Ada rasa haru yang menyeruak di dadanya. Rasa bahagia tapi juga dengan kesedihan menyelubunginya. Dia mengelus kepala Arsya sayang, anaknya yang paling berhati lembut. Anaknya yang paling peka dan selalu perhatian.
"Bunda kemana saja? Kenapa tidak pulang?" Pertanyaan Arsya membuat tenggorokan Dewi tercekat.
"Emm..." Dewi menarik nafas dan menghelanya beberapa kali. Setelah semenit berlalu ia masih melakukan hal yang sama, sampai akhirnya Luna menarik Bunda Dewi mendekat ke tempat Arya.
"Sudahlah, Sya... Yang penting kan Bunda sudah di sini..." Luna menengahi.
Sesaat Dewi bersyukur. Entahlah, ia merasa bodoh. Ia tak tau melihat kemana dirinya selama ini, kemana hati kecilnya dan kemana akal sehatnya. Luna adalah gadis yang semanis dan sebaik itu, padahal tidak ada cinta dan sayang yang pernah ia berikan untuk anak itu. Untuk pertama kalinya, ia memberikan senyumnya yang paling tulus yang pernah ia tujukan untuk Luna selama 18 tahun ini. Sesaat, ia mengelus kepala Luna. Hanya sedetik. Sedetik, yang untuk Luna, sangat berharga. Sedetik yang membuat dirinya akhirnya nyata di hadapan Bunda. Sedetik yang membuat ia merasa disayangi. Sedetik yang membuat dirinya akhirnya merasa kalau ia adalah bagian dari keluarga, kalau darah yang mengalir di dalam tubuh mereka adalah sama. Sedetik yang memberikan dirinya pengakuan kalau mereka adalah ibu dan anak.
Semua mata melihat Dewi dan Luna. Entah apa yang dipikirkan kepala yang lain, tapi, bagi Arga, ini adalah hal yang tidak biasa. Arga berjalan mendekat. Ia merasa, Bunda sudah membuka hati untuk kakaknya. Dan ia merasa, kalau dirinya pun bisa melakukan hal yang sama untuk Bunda. Bunda memang melakukan kesalahan, tapi bagaimanapun, mereka membutuhkan Bunda, dan ia yakin Bunda pun merasakan hal yang sama. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, dan karena alasan itulah kata 'maaf' tercipta.
"Bunda..." Arga memberi salam. Dewi merasa hatinya yang selama ini penuh sesak dengan rasa rindu, meledak seketika. Ia membiarkan rasa rindu itu meluap. Dikecupnya kening Arga, buah hati pertamanya dengan Hendra. Dipeluknya sesaat sebelum ia mengelus kepalanya pelan dan melepaskan Arga dari dekapan.
Kehangatan yang diberikan Dewi, membuat Arga kehilangan kebencian. Memang, rasa kecewa itu ada, tapi lebih dari itu, ia bisa merasakan sayang yang melimpah.
Sebenarnya, selama ini, Arga dan Arka tau dimana Bunda berada. Bahkan, Arga merasa kalau Ayah pun tahu akan hal ini. Pernah suatu waktu, ia ingin bertanya kepada ayahnya, apakah mereka harus meminta Bunda kembali. Tapi, suara Arga seolah hilang, saat ia melihat Ayah mulai menyingkirkan foto pernikahan mereka. Arka menarik Arga menjauh, merasa mereka harusnya tidak menyaksikan momen itu dari balik pintu secara diam-diam. Ayah memerlukan waktu untuk sendiri, dan mereka tidak merasa perlu untuk ikut campur dalam hal itu.
"Apa kamu menjaga adikmu dengan baik?" Dewi bertanya parau. Air sudah menggenang di pelupuk mata sayu milik wanita itu, mati-matian ia berusaha menahan rasa yang mencekiknya. "Maaf, Bunda sudah menyusahkanmu..." Diusapnya lagi kepala Arga. Baginya, tidak cukup sekali, dia sudah menahan rindu begitu lama.
Arga tersenyum pilu. "Tidak sebaik Bunda menjaga kami..." jawabnya pelan. Dewi menoleh ke arah Arya, tapi sebelum kesana, ia melihat Arka yang beberapa kali meliriknya. Anak itu memang selalu terlihat tidak perduli, tapi dia sebenarnya sama perhatiannya seperti Arsya.
"Arka..." Dewi mengecup pelan pipi kanan putra keduanya. Wajah Arka langsung bersemu merah. Ia tidak menyangka Bundanya akan melakukan itu.
"Bu-bu-bunda..." Arka tersipu malu sambil mengusap pipinya. "Aku bukan anak kecil lagi..." Arka memutuskan menyerah untuk bersikap pura-pura cuek lalu menyusul menyalami Dewi.
"Apa kamu terus bermain game seharian? Berhentilah sejenak, kasihan matamu..." Mendengar nasihat Bunda, Arka menyimpan ponsel yang sedari tadi digenggamnya ke dalam saku. Bagi Arka, Bunda adalah sosok cerewet yang selalu saja menasihatinya untuk menyimpan ponsel. Tapi, ia lebih memilih dimarahi Bunda dibandingkan kakaknya yang gila itu. Arga sedikit kurang ajar saat memerintah, bukan karena apa, tapi karena hal itu terkadang diiringi dengan kontak fisik seperti cubitan gemas yang membuat Arka bergidik geli. Mengerikan. Ia merasa Bunda lebih baik.
"Jangan main terus ya, sesekali belajarlah..." Dewi mengusap kepala Arka sambil menatapnya dalam. "Bunda tau kamu anak baik, maka Bunda harap kamu bisa pintar juga..." Dewi memasang senyum yang tidak bisa disanggah Arka, dia hanya sanggup mengangguk patuh.
Setelah selesai dengan putra keduanya, Dewi berjalan mendekat ke arah Arya. Ayah Hendra refleks mundur selangkah saat Bunda Dewi menghampiri. Tidak kentara, tapi terasa. Hati Dewi mencelos sesaat, tapi ia menutupinya dengan senyum tipis.
__ADS_1
Perlahan, Dewi melarikan tangannya di kening Arya, mengelus kepala putra bungsunya. Arya yang sebelumnya tidur lelap, terbangun seketika, kemudian tersenyum lebar mendapati Bundanya sudah ada di hadapannya.
"Bunda..." Keluhnya. Arya memajukan bibirnya, cemberut kesal sambil merajuk manja. "Bunda kemana saja? Kenapa lama sekali pulangnya?"
Dewi terus membelai kepala Arya seraya menatapnya lembut. "Tidak kemana-mana... Bunda selalu di hati Arya..."
"Cinta Bunda memang selalu di sana. Tapi Arya juga rindu dipeluk Bunda..."
Dewi memalingkan wajahnya sesaat, berusaha agar Arya tidak melihat air matanya yang menetes. Ia kecolongan, sebutir air mata telah turun di luar kuasanya. Setelah selesai menyeka secepat kilat, Dewi kembali menatap Arya dengan lembut. "Maaf, kalau Bunda kerjanya lama..." Dia mengelus kepala Arya lagi, berusaha menenangkan.
"Lama sekali..."
"Maaf sayang..." Dewi mengecup kening Arya lembut. "Tapi sekarang kan Bunda sudah di sini, jadi kamu harus cepat sembuh ya... Jangan sakit lagi... Anak Bunda harus kuat..."
Arya mengangguk semangat. "Iya, Bun... Arya janji cepat sembuh, nanti kita pulang sama-sama, ya! Bunda buatin nasi goreng kesukaan Arya ya..." Arya berucap dengan mata berbinar, membuat hati Dewi mencelos. Ia menggigit bibirnya kencang sebelum berucap.
"Iya, cepat sembuh ya sayang... Nanti Bunda buatin di rumah ya..." Ucapan Bunda membuat Arya tenang. Dan tak lama, ia pun terlelap kembali.
Dewi membalikkan tubuhnya, sisa seorang lagi yang belum ia sapa. Ayah. Dewi menghirup nafas banyak sebelum akhirnya bisa menatap langsung dua bola mata teduh itu. Sosok lelaki yang menjadi teman hidupnya sejauh ini. Benar-benar TEMANnya, yang selalu ada di saat ia senang atau sedih, menggenggam tangannya saat sulit dan memberikan bahunya saat ia lelah. Orang yang mencintainya tanpa syarat ataupun tanpa alasan.
"Pulanglah..."
Dewi tidak mempercayai apa yang ia dengar. Satu kata itu saja yang keluar dari pria yang tidak bergeming sama sekali di depannya.
Pulang...
Dewi mengambil satu langkah mundur. Ia mengangguk pelan tanpa sedikitpun berniat mengangkat wajahnya. Nyatanya kehadirannya di sini bukan bagian dari harapan belahan hatinya.
"Tunggu!" Luna menarik tangan Bundanya sebelum wanita itu melangkah lebih jauh lagi. "Maksud Ayah pulang ke rumah, kan?" Luna bertanya memastikan. "Benar kan, Yah?" Luna bertanya sekali lagi, dengan nada lebih tinggi, mengharapkan jawaban ataupun sekedar anggukan tak mengapa.
Dewi menguatkan hatinya. Mengepalkan tangannya seerat yang ia bisa lalu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke sang lelaki, menunggu jawaban. Hasil yang ia dapatkan nyatanya hanyalah sosok itu yang menatap lurus ke depan, bukan ke arahnya. Diam, tak bergerak ataupun bersuara. Waktu berlalu tanpa ada yang mau mengalah untuk mengeluarkan egonya, entah dalam bentuk suara ataupun tindakan. Yang ada hanya keheningan sempurna.
Luna menatap Ayah dan Bunda bergantian. Ia kehabisan kata. "Haha.. Pasti begitu, Bunda..." Luna memaksakan senyumnya. Ia tidak bisa begitu saja melihat Bundanya merana, pula ia tidak bisa memaksa Ayahnya untuk menjawab.
"Ayo, Luna antar Bunda ambil barang-barang Bunda, kita ke rumah sama-sama..." Ia tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi Luna pikir mungkin Ayah dan Bunda masih membutuhkan waktu untuk bisa duduk bersama lalu berbicara dari hati ke hati. Yang jelas, sekarang bukanlah waktunya.
Luna menggandeng Bunda, setengah menarik tangan yang belum pernah ia genggam seerat itu sebelumnya. "Aku antar Bunda. Nanti Ayah dan Bunda bisa bicara lagi baik-baik di rumah..." Luna meyakinkan Bunda.
__ADS_1
Dewi tersenyum tipis melihat Luna berusaha segigih itu. Ia menarik Luna ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening Luna sesaat. Sekali lagi, Luna merasa kalau hari ini adalah mimpi. Kasih sayang yang ia damba, akhirnya ia dapatkan di saat ini.
"Makasih sayang..." Luna meleleh mendengar ucapan sayang Bunda untuk pertama kalinya. Bukannya ia tidak sayang kak El, tapi ini adalah kemewahan yang bahkan ia tak berani memimpikannya. "Terima kasih banyak..." Dewi mengelus kepala Luna lalu tersenyum padanya. "Yuk, kita pulang..." Dewi melepaskan pelukannya lalu menggandeng Luna berjalan bersisian.
Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk sampai ke rumah kontrakan Dewi. Saat hendak membuka pintu, Dewi tampak mengingat sesuatu.
"Oh, iya... Bisa kamu belikan makanan untuk adik-adik kamu? Bunda tidak mau datang dengan tangan kosong..." Dewi merogoh sakunya lalu memberikan Luna beberapa lembar uang. "Belikan Bunda makanan juga, Bunda lapar." Luna mengangguk mengerti. "Kamu boleh beli es krim kalau mau," ucapnya sambil tersenyum.
"Siap, Bun..."
"Hati-hati ya..." Bunda melambaikan tangan pada Luna yang berjalan menjauh.
Dewi membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam dan mengunci pintunya. Dia terduduk di belakang pintu, kemudian menangis sejadinya.
Dengan air mata yang masih mengalir menutupi pandangannya, Dewi mengacak barang-barangnya, mengambil sebuah kertas dan pulpen dari sana. Dia bergeser ke tempat tidurnya, ada yang harus ia lakukan sebelum mulai menulis.
"Ash...." Dewi meringis kecil setelah membuat tanda di pergelangan tangannya. Darah segar mengalir dari sana. Tanpa memperdulikan cairan hangat berwarna merah itu, Dewi mengambil pena dan mulai menulis.
Untuk orang yang kusayangi selalu,
Luna, terima kasih karena tidak pernah mengeluh...
Arga, terima kasih untuk selalu menjaga adik-adikmu...
Arka, terima kasih untuk semua tawa yang kamu tunjukkan...
Arsya, terima kasih untuk rasa perhatian yang selalu ada...
Arya, terima kasih untuk menjadi anak baik dan pengertian...
Ayah, terima kasih telah menjadi cinta sejatiku...
Teruslah seperti itu...
Maafkan Bunda yang cuma bisa menemani kalian sampai hari ini... Bunda sayang kalian...
Bersambung...
__ADS_1