
Chapter 48: Takdir
"Kadang tidak memerlukan waktu lama bagi hati yang luka untuk menemukan cinta selanjutnya..." -Luna-
Alex membuka pintu dalam sekali sentakan membuat Luna yang sedari tadi bersandar di pintu jatuh ke pelukannya.
"Hati-hati, kak..."
Luna sampai menganga mendengar ucapan Alex barusan.
"Kak, aku mau pergi. Rawatlah suami kakak itu..." Alex yang memegangi bahu Luna dengan kedua tangannya menjauhkan perempuan itu dari tubuhnya. Ditatapnya kedua mata Luna dengan tangan yang masih memegangi pundak cewek itu.
Alex menarik nafas panjang dengan wajah yang ia tundukkan ke bawah. Helaan nafas terdengar saat dirinya mengangkat wajah. Wajah tampannya tergores sedikit di bagian bibir akibat pukulan El yang cuma lolos sekali tadi.
"Aku sayang kakak..." Kecupan kecil hinggap di pipi kanan Luna. Sangat cepat hampir tak terasa, seperti hembusan angin.
Luna berdiri terpaku akibat perbuatan Alex. Sementara sang pelaku sudah jauh melangkah pergi. Butuh beberapa detik bagi Luna untuk menyadarkan dirinya. Perlahan, telapak tangannya naik dan menyentuh pipi itu.
Tadi dia bilang kakak, kan?
Sebuah senyum merekah di wajah manisnya. Pastilah Alex sudah menerimanya sebagai kakak. Sepertinya sekarang Luna bisa sedikit tenang karena adik barunya tidak seburuk yang ia kira. Tadinya ia pikir perlu ada kericuhan macam tawuran untuk bisa mendamaikan dua makhluk macam El dan Alex. Namun disadarinya Alex lebih dewasa dalam bertindak meskipun wajahnya sangar. Lihat saja tadi, goresan di bibirnya malah membuatnya semakin tampan. Ya, image bad boy begitu cocok untuk Alex. Bad boy yang berhati lembut.
Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Luna. Kris memberi kode pada Luna untuk segera masuk dan melihat keadaan El. Sudah bisa diduga, meja besar itu tidak lagi di tempatnya semula. Kursi-kursi sudah terjungkal di sana-sini. Ruangan ini baru saja dikunjungi angin topan.
Luna melangkahkan kakinya hati-hati melewati barang yang bertebaran. Ia berlutut di sebelah El yang terkapar lemas, terlentang dengan kedua tangan dilebarkan.
"Kak..." Disentuhnya lengan El sedikit, mencoba membangunkan cowok itu. Tidak ada respon. Dilihatnya dada El bergerak naik turun, pastinya ia masih hidup. Wajah El memang tampak babak belur, tapi sepertinya tidak separah itu. Entahlah, masalahnya Luna sendiri tidak tau seperti apa luka berkelahi itu harusnya.
"Kak..." Luna mengibaskan tangannya di depan wajah El. Dia takut kalau ia menggoyangkan tubuh El lebih keras lagi, nantinya cowok itu akan kesakitan.
"Kak..."
Hap!
Tangan Luna yang melambai di hadapan El bisa ditangkap lelaki itu dengan mudah sambil memejamkan mata. Dalam sekejap ditariknya tubuh mungil itu hingga terjatuh ke dada bidangnya. El sempat meringis sedikit, Luna bisa mendengarnya.
"Kakak apa-apaan, sih?! Pasti sakit, kan?" Luna mengangkat tubuhnya secepat yang ia bisa, tidak ingin membuat El kesakitan lebih lama.
"Tidak, kok..." bohongnya. "Rasanya seperti dicium kucing..." El terkekeh pelan. Dia mengurung Luna dengan kedua tangannya, tidak membiarkan wanita itu melepaskan diri.
"Kak... aku pegal..." Keluh Luna. Jangan bayangkan posenya. Luna yang sebelumnya berlutut di sebelah El, kini setengah menungging karena badannya didekap tiba-tiba. Kombinasi antara tak nyaman dan tak enak dilihat.
El mendengar protes dari Luna, tapi ia masih ingin seperti itu sebentar lagi saja. "Kak..." Luna merasa ini perlu segera berakhir, lututnya kram. "Kita lanjutin di rumah aja gimana?" tawarnya.
Seketika pelukan itu terlepas. "Karena kamu yang meminta..." El tersenyum lebar. "Aku akan menerimanya dengan senang hati." Luna bergidik ngeri. "Aku tidak sabar ingin mengetahui lanjutan apa yang kamu siapkan untukku di rumah, sayang..."
"Lanjut aku obati luka kakak terus kakak tidur.."
"Yah..." El mendesah kecewa. "Padahal aku kira ada servis plus-plus..." El mengaduh pelan saat Luna mencubit perutnya gemas.
"Sudahlah, Kak.. Ayo kita pulang."Luna membantu El bangun. Dia kewalahan dengan badan El yang jauh lebih besar dan tentu saja lebih berat darinya. Dia sampai terhuyung ke samping.
"Apa aku berat sayang?" tanya El basa-basi. Sebenarnya ia bisa saja meminta Kris untuk memapahnya. Tapi El lebih memilih bergelayut manja di tubuh istri kecilnya itu.
"Tidak apa... Aku masih kuat, kok..." Luna menyeret kakinya satu-persatu sampai mereka tiba di depan pintu. Baru segitu saja nafasnya sudah ngos-ngosan. El yang tadinya ingin menempel pada Luna sampai di mobil sampai merasa kasihan. Bisa-bisa saat mereka tiba di tempat parkir, badan Luna mengecil. Menjadi kuntet seketika karena beban tubuhnya.
"Kris..."
Dalam satu kata, Kris sudah memapah El dengan mudahnya. Mereka pun sudah berjalan cepat mendahului Luna menapaki lorong. Luna mendecak kesal melihat pemandangan di depannya.
Kenapa tidak dari tadi?
__ADS_1
***
Alex meneguk gelas ketiga yang ia pesan. Ia masih sadar dan bisa mendengar suara di sekelilingnya dengan jelas. Dentuman memekakkan telinga dan suara berisik orang-orang yang mengobrol. Dipandanginya gelas kosong yang sedang ia genggam. Isinya sudah habis, sepertinya ia harus memesan lagi.
Alex menoleh ke belakang, ke arah VJ yang sedang memutar musik dengan semangat di hadapan kelompok orang yang asyik berjoget. Apakah ia harus ikut kesana? Apa dengan begitu ia bisa terhibur?
Menggeleng pelan, Alex memilih untuk memesan segelas lagi. Minum di sini lebih baik, batinnya. Lebih tenang. Mulai merasa panas, Alex membuka jas ia kenakan, menyampirkannya asal di sandaran kursi yang ia duduki. Ia juga membuka tiga kancing teratas dari kemejanya, menampilkan dadanya yang bidang dan menggoda.
Mungkin untuk Alex, dia melakukan hal yang biasa saja. Minum dengan santai dengan baju acak-acakan. Tapi bagi kaum wanita, apa yang ia lakukan terlihat sangat seksi. Alex yang menggulung kedua lengan bajunya sampai ke siku itu benar-benar godaan.
Alex menyadari tatapan memuja dari beberapa wanita padanya. Ia harus akui, wajahnya dan tubuhnya bagaikan pahatan indah yang selalu diimpikan wanita. Tapi menurut Alex itu tidak berguna. Buktinya, ia tetap saja ditolak. Ia patah hati dan lagi-lagi malah berakhir di klub ini daripada merasa bosan.
"Kamu harus merapikan bajumu..." Seorang wanita dengan dress putih di atas paha tiba-tiba datang.
"Cuma boleh satu kancing atas yang terbuka..." Wanita itu dengan santainya duduk di pangkuan Alex dan meraih kemeja Alex, mengancingkan bajunya yang terbuka.
Sepertinya dia mabuk, batin Alex. Karena sudah biasa, ia membiarkannya saja. Pasti sebentar lagi teman wanita ini datang dan mencarinya.
"Kamu melanggar aturan..." Wanita itu memencet hidung Alex, membuat ia mengernyit bingung. Apa urusannya kalau dia melanggar aturan? Mereka bahkan tidak saling kenal. Lagipula memangnya di tempat seperti ini ada larangan semacam itu.
Setelah entah bicara apa, gumaman si wanita itu berhenti. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Alex kemudian tertidur di sana. Malah keenakan.
Alex berusaha memindahkan sang wanita ke kursi di sebelahnya. Tapi orang itu menempel erat bagai lintah. "Elo maunya apa sih?" sinis Alex. Dia mulai curiga kalau wanita ini cuma pura-pura saja.
"Mau sama kamu..." jawabnya dengan mata tertutup. Alex menyingkirkan rambut panjang yang mengganggu milik si wanita. Meneliti, apakah betul tidak sadar atau setengah sadar atau malah sadar sepenuhnya.
"Nama elo siapa emang?" tanyanya balik.
"Karin..."
Masih ingat nama rupanya.
"Rumah elo dimana?" tanya Alex lagi. Sepertinya ia harus memesan taksi untuk cewek ini. Tengah malam sudah lewat jauh. Dia juga sudah ingin pulang dan istirahat. Efek minuman yang diteguknya mulai terasa. Kesadarannya sendiri sudah di ambang batas.
Alex membayar minumannya dan berjalan keluar mencari kendaraan. Dengan sisa-sisa kesadarannya ia berhasil memesan taksi dan ikut masuk ke dalamnya. Sebentar saja, ia akan mengantar wanita itu kemudian kembali ke rumah.
Setelah beberapa saat tertidur di perjalanan, pengemudi membangunkan Alex. Ia mengatakan kalau mereka sudah sampai tujuan. Alex mengangguk meminta untuk menunggu sebentar.
"Hei, yang mana kamar elo?" Meski sudah mengguncangkan tubuh berkali-kali, wanita itu tidak sadar juga. Ia tertidur pulas. Lalu harus kemana dia membawanya? Apa ke pos satpam saja? Dasar merepotkan.
Alex mengaduk isi tas si wanita. Mencari kartu tanda pengenal. Karina Amelia. Wow, lebih tua tiga tahun darinya. Diliriknya sebentar wanita yang terlelap itu, rasanya umurnya salah. Yang tidur ini tampak seperti tante-tante, apakah karena dandanannya yang menor?
Dia mencari lagi, ada sebuah ponsel. Ditekannya tombol samping layar ponsel, terkunci, tentu saja. Setelah meletakkan jari si wanita di pemindai sidik jari, layar ponsel menyala terang. Sudah terbuka.
Dia membuka riwayat panggilan terakhir. Sepuluh panggilan tak terjawab dari 'Kakak'. Sepertinya orang ini yang harus ia hubungi. Nada tunggu terdengar di telinganya. Ia setia menanti karena tidak mungkin juga ia meninggalkan wanita ini di lobby, yang ada dirinya lah yang ditangkap polisi nantinya.
📞 Halo?
Sebuah suara wanita yang menyapanya.
📞 Halo? Apa kenal dengan yang bernama Karina Amelia?
📞 Itu adik saya. Ini ponselnya. Anda siapa?
Suara itu terdengar curiga.
📞 Karina tidur. Kita udah ada di parkiran apartemen Cloud. Dekat pos satpam. Jemput kesini.
Alex menutup telepon lalu menguap sesaat. Ah, melelahkan. Kenapa ia harus bersusah-payah mengantar orang yang bahkan tidak dikenalnya. Ini semua karena kakak barunya itu. Luna pasti akan menyuruhnya melakukan hal macam ini. Alex benar bucin sejati.
Tok tok tok...
__ADS_1
Terdengar ketukan di jendela mobil. Alex menurunkan kacanya dan baru sadar ternyata dia mengenali orang itu.
"Bu Regina?" tanyanya tak percaya. Guru di sekolahnya. CK, yang benar saja!
"Alex?" Dia tampak tak kalah kaget. Alex yang notabene biang rusuh di sekolah pastilah dikenal oleh semua guru, tidak terkecuali Bu Regina.
"Dih, adik ibu mabuk-mabukan ternyata..." ledeknya tak tau adat. "Padahal ibu selalu nasihati saya, nyatanya adik ibu lebih parah..." sindirnya.
Regina terdiam seribu bahasa. Alex benar, si adik durjana ini memang enggak punya akhlak.
"Ya udah, kamu bantuin bawa adik ibu masuk," perintahnya.
"Ih, ogah..." tolak Alex. Ini bukan sekolah, dia tidak harus menuruti Regina.
"Awas ya kamu ibu kasih nilai merah semua."
"Aku bongkar aib keluarga ibu..." Alex balik mengancam.
"Ibu panggil orang tua kamu."
"Aku sebarin foto adik ibu yang lagi teler."
Bocah lucknut, maki Regina.
"Alex...." Regina menahan emosinya.
"Iya, Bu Regina..." balas Alex santai.
"Kamu bantu ibu bawa adik ibu ke dalam. Nanti ibu kasih nilai tambahan buat kamu..."
Alex memajukan bibirnya. "Aku tidak perduli dengan nilai, ibu cantik.." ledeknya.
"Kamu enggak bisa bantuin saja?!!!" pekiknya kesal.
"Iya, Bu. Iya..." Alex membuka pintu dan menggendong Karina.
Mereka sampai di depan pintu. Regina membukanya. Alex bisa melihat tatanan ruangan yang rapi. Ciri khas guru ini.
"Masuk ke kamar..." Alex mengangguk dan membawa Karina ke dalam. Diletakkannya tubuh perempuan itu di atas kasur empuk di sana.
"Terima kasih ya..." ucap Regina di ambang pintu.
"Sama-sama Bu guru..." balas Alex. Ternyata menjadi orang baik, menarik juga.
***
Alex pulang pagi buta ke rumahnya lalu tertidur pulas. Pagi harinya ia kesiangan. Jam delapan ia baru berangkat ke sekolah. Ya, dia bisa masuk setelah jam istirahat pertama selesai, seperti biasa.
Alex memarkirkan motornya di luar sekolah pastinya. Tidak mungkin ia masuk tanpa dihujat kalau sambil membawa motor melewati gerbang.
Ia melangkah santai setelah melihat layar ponsel. Waktu istirahat masih tersisa 10 menit lagi. Ia masih bisa masuk.
Waktu berputar cepat saat di sekolah. Hal yang ia lakukan cuma berkeliling mencari Luna. Sampai pulang sekolah, Alex tidak melihat keberadaan Luna. Pasti sedang merawat suaminya. Dia iri. Andai ia bisa bertukar hidup dengan El.
Melangkah menuju gerbang sekolah, Alex menyadari kehadiran seseorang yang sepertinya sedang menatapnya.
"Hai..."
Apa Alex tidak salah lihat? Orang itu melambaikan tangannya. Bukan murid dan bukan guru. Dia menengok ke kanan kiri memastikan kalau benar dirinya yang disapa. Dan memang perempuan itu menyapanya.
Wanita itu mengambil langkah semakin mendekat ke Alex. "Aku Karina. Ikut aku makan di luar yuk, adik ganteng..."
__ADS_1
Bersambung