
Chapter 1: Keseharian
"Nantinya, hal sesederhana seperti bangun pagi di sebelahmu, bisa jadi yang terindah..." -El-
El menatap Luna yang masih bernafas teratur di sebelahnya. Gadis itu masih terpejam dalam damai. Dia mengamati wajah cantik Luna, perlahan mendekat kemudian mengecup kening itu dengan hati-hati.
"I love you..." ucap El pelan. "Aku akan selalu menyayangimu..."
Setelah puas menatap, El bangkit dari kasur dan berjalan pelan menuju meja yang ada di sudut kamar mereka. Dia menarik laci meja itu hingga membuat suara berderit perlahan. Diambilnya buku panduan yang ada di sana, dia meneliti satu-persatu dari dalam daftar. Alex sudah mengatakan semuanya. Dia yang mengajak Luna untuk mendaftar. Ia ingin mengambil studi musik di sana. Saat dirinya menawarkan pada Luna untuk mengambil jurusan yang sama, Luna tidak menjawab. Tapi, ketika Alex melihatnya, mata Luna hanya tertuju ke satu arah, hal yang menarik perhatiannya.
El menyusuri jarinya perlahan di atas buku tebal bersampul merah itu. Jarinya berhenti pada penjelasan Jurusan Psychology untuk Undergraduate Courses, Studi Strata 1 jurusan Psikologi. El menarik nafas dalam diam, lalu ia mulai membacanya perlahan. 4 years full time, empat tahun penuh masa belajar. Ini tidak masuk akal, bagaimana bisa dia bertahan selama empat tahun tanpa Luna? Sehari saja sudah rindu. Apalagi sekarang, Luna sedang mengandung anak mereka. Apa yang harus ia lakukan? Membiarkan Luna pergi atau memintanya tetap berada di sisinya?
Tapi kan, Luna sudah bilang tidak mau pergi, dia cuma asal ikut saja.
Bodoh, pasti dia bilang begitu karena tidak mau merepotkan.
Tidak, dia pasti jujur.
Mana mungkin, kau hanya mau memikirkan hal yang kau inginkan.
"CK!" El berdecak kesal, memaki pikirannya sendiri yang saling mengadu argumen. Dia mendudukkan dirinya di atas sofa, memijit keningnya dengan perlahan. Membingungkan. Dia mencoba berpikir sekali lagi. Apa yang paling penting untuk Luna?
Masa depannya.
Dia tidak mau tali pernikahan yang ia ikatkan pada Luna menjadi beban untuk orang yang ia sayangi. Sejak awal, ia menikahi Luna karena ia tidak mau ada yang merebut Luna darinya. Tidak rela meski hanya dalam mimpi, dalam lamunan juga tidak boleh. Sebesar itu rasa sayang yang ia miliki. Dan sekarang apa ia harus merelakan pasangan kecilnya itu?
El menyalakan ponsel yang sedari tadi ada di genggamannya. Dia membaca berulang kali pesan dari Alex.
Aku akan mengambil studi pendidikan musik. Kak El bisa mempercayakan Kak Luna kepadaku.
Tawaran menggiurkan.
Pikiran El sudah melayang jauh. Dulu, ia tidak akan percaya kalau Alex menawarkan hal semacam ini, tapi sekarang? Akan sejuta kali lebih baik membiarkan Alex ada di dekat Luna daripada orang lain yang dia tidak tau asal-usulnya.
Sudahlah, kuliah di Indonesia kan bisa? Ada begitu banyak kampus bergengsi dengan kualitas terbaik yang tak kalah dengan universitas luar negeri. Apa mungkin Luna ingin mencoba melihat negara lain? Kalau mau ke luar negeri kan bisa hanya sekedar jalan-jalan, tidak perlu menuntut ilmu di sana. Hati El mulai mencari-cari alasan untuk menolak.
"Tidak..." El menggelengkan kepalanya perlahan. Dia sudah tau apa yang sebenarnya diinginkan oleh Luna.
Tap. Tap. Tap.
Dengan langkah pelan, El berniat untuk keluar kamar, menelepon Kris dan menyiapkan semuanya untuk Luna, tapi saat ia membuka pintu, Luna terbangun.
__ADS_1
"Kakak mau kemana?" tanya Luna sambil mengucek kedua matanya.
El berbalik arah dan menghampiri Luna. "Maaf aku membangunkanmu..." Setelah membelai kepala Luna perlahan, El mulai mencari alasan. "Aku hanya sedikit lapar..."
"Ah..." Luna menyibakkan selimutnya cepat lalu menurunkan kakinya ke lantai. "Aku akan siapin sarapan buat kakak..."
Jam 3 pagi sekarang, alhasil El merasa bersalah karena membuat Luna terbangun. Dengan langkah terhuyung, Luna berjalan menuju dapur.
Luna menyadari El yang melangkah mengikuti di belakangnya. Sambil menguap, Luna membuka kulkas dan mengambil sayur serta telur. Karena masih mengantuk, ia membasahi mukanya sedikit agar matanya bisa terbuka sedikit lebih lebar.
Tak. Tak. Tak.
El menikmati suara ketukan pisau yang dibuat Luna. Semakin hari, Luna semakin lihai saja menggunakan peralatan dapur itu. Bagaimana tidak, semenjak adik-adiknya tinggal bersama mereka, dia tidak pernah absen membuatkan makanan.
"Hoahm.." Ternyata Luna masih sengantuk itu, meskipun ia sudah mencuci mukanya. El jadi semakin merasa bersalah.
"Biar aku yang lanjutkan..." Diambilnya spatula dari tangan Luna, lalu ia berusaha mengaduk nasi yang ada di atas wajan. Luna tertawa geli melihat gerakan El yang kaku. Bukannya mengaduk, El malah terlihat seperti sedang membuat isi wajan meleber kemana-mana. Isinya berjatuhan ke segala arah.
"Aku saja, kak..." Luna hendak mengambil kembali spatula itu tapi El mencegahnya.
"Biarkan aku saja. Aku mau mencoba," ucapnya ngotot.
Luna terkekeh kecil. Tadinya ia mau membiarkan El terus berusaha, tapi sepertinya tidak bisa. Tidak, karena sekarang hampir separuh dari isi wajan itu berhamburan.
"Perlahan saja, kak... Tidak usah menggunakan tenaga terlalu banyak... Kakak kan sedang mengaduk nasi, bukan semen... Hehehehe..."
El jadi malu sendiri mendengarnya, tapi dia sungguh suka momen ini. Menghabiskan waktu berdua, bisa sedekat ini melakukan hal sehari-hari.
Cup.
El tidak tahan melihat pipi menggemaskan istrinya yang begitu dekat. Tidak apa kan kalau ia mengungkapkan sedikit rasa cinta?
"Kakak..." Luna mengusap pipinya yang memerah karena malu.
Diberikan tatapan seperti itu, El menjadi lemah. Ia menyerah dengan spatula itu. Sekarang tangannya sudah melingkari pinggang Luna, membuat tubuh mereka tanpa jarak. Luna yang belum sempat merespon hanya mengernyit saat El menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil di setiap sudut wajahnya. Saat Luna mencoba melepaskan dirinya dari pelukan El, El malah semakin mengeratkannya.
"Kak... Nasi..." Luna berusaha memberikan kode agar El berhenti, tapi yang dilakukan El malah memberikannya hadiah. Apalagi kalau bukan kecupan sayang yang panjang dan lama. El menikmatinya, wangi vanila untuk hari ini dengan sedikit rasa manis stroberi. Luna menyerah dalam perangkap hangat yang diberikan El, perlahan ia membalas ungkapan cinta El. Sebuah ciuman lembut yang mereka nikmati bersama, membuat kedua hati itu hanyut dalam buai asmara yang menyelimuti keduanya, sampai....
"AAAAAAA.... GOSONG..." Bi Ijah, pembantu mereka di rumah berteriak saat melihat asap mengepul dari arah kompor.
****
__ADS_1
"Sepertinya aku butuh bulan madu..." El mengusap pelan dagunya.
"Hmm? Maksud bapak?" Reza berjalan mendekat ke meja El sambil membawa tumpukan dokumen yang harus diperiksa.
"Aku belum pernah bulan madu dengan Luna..." El menatap Reza, meminta persetujuan dari sekretaris itu.
"Buat apa? Luna kan sudah hamil..." jawabnya enteng.
El mengernyitkan dahi sedikit sebelum ia menjentikkan jarinya. "Kris," panggilnya pelan.
Kris yang sedari tadi hanya menyimak, menjawab El dengan anggukan. "Ya, Pak..."
"Sepertinya daftar pelamar sekretaris yang kemarin kau email padaku akan kuperiksa malam ini. Aku berharap ada salah satu yang kompeten di antara mereka..."
"P-P-Pak!" Reza panik. "Saya agak pusing tadi..." Setelah memukul-mukul kepalanya sendiri beberapa kali, Reza menatap El dengan pandangan mengiba.
"Tentu saja bulan madu itu penting... Bapak mau kemana? Setau saya, Korea Selatan itu tempat tujuan yang paling diminati... Reina saja tak henti-hentinya bicara itu sampai telinga saya gatal mendengarnya..."
El tertarik. "Apa Luna mengatakan kalau dia mau kesana?"
"Tidak juga, sih... Tapi, seumuran mereka memang sangat menyukainya, Pak. Apa saya perlu menelepon adik saya untuk memastikan?" Reza mengeluarkan ponsel miliknya dari saku. Layarnya sudah menyala, dan ia siap menekan tombol.
El mengangguk. Melihat persetujuan itu, Reza segera menekan tombol panggil dan dalam beberapa detik, sebuah suara sudah menyahut.
"Apa kak?" Terdengar suara dari seberang. Reza mangaktifkan tombol speaker lalu bertanya.
"Apa Luna suka Korea Selatan?"
"Iya, dong. Kan ada---
Tut. Panggilan diputuskan.
"Betul kan, Pak?" Reza nyengir. Ia tidak perduli jika di rumah nanti adiknya akan memaki karena ia memutuskan telepon begitu saja, yang penting sekarang adalah menyenangkan hati El.
Reza menatap El sekarang, sembari memohon dalam hati. Dan sedetik kemudian, senyum El terbit.
"Reza, kosongkan jadwalku. Aku mau bulan madu ke Korea minggu depan..."
asw....
Reza membuang muka sambil mengutuk.
__ADS_1
BERSAMBUNG