
"Kak, kesana yuk. Kita beli bakso bakar!" Luna menunjuk kerumunan ramai.
"Lagi?" El sudah kekenyangan. Beda dengan Luna yang cuma membeli dan mencoba sedikit, El harus bertanggung jawab menghabiskan sisanya.
Memang, kalau El dan Luna sudah bersama, sifat mereka seakan tertukar. Luna, si sulung yang biasanya kalem dan bertanggung jawab menjadi seenaknya. Sebaliknya, El si bungsu yang biasanya manja dan malasnya minta ampun menjadi tiba-tiba berwibawa dan perhatian.
"Ini yang terakhir, ya." El sedikit mengancam Luna. Perutnya sudah terlalu penuh.
"Iya..." Luna patuh akhirnya. Tadinya dia mau kalap menghabiskan semua uangnya saat itu juga, tapi karena El sudah mengancam, Luna mengurungkan niatnya.
Setelah Luna membeli jajanan terakhirnya, mereka duduk di pinggir trotoar lagi.
"Nih, kak. Cobain," Luna menyodorkan tusuk bakso nya.
El menyambutnya dengan membuka mulut. "Pedes!"
Buru-buru dia mengambil botol air mineral yang dipegang Luna dan meminumnya cepat-cepat. Sekarang mereka sudah tidak canggung lagi makan dan minum dari tempat yang sama. El tidak keberatan dan tampaknya Luna tidak begitu perduli.
"Burb...." El bersendawa keras.
"Hmph.." Luna menahan tawanya.
"Kakak mau ke toilet dulu." El langsung berdiri karena malu dan bergegas mencari toilet terdekat.
__ADS_1
Luna menahan tawanya melihat tingkah lucu El.
Saat keluar toilet, tiba-tiba hujan turun dengan deras. El celingukan mencari Luna ke segala arah.
"Kak!" Luna muncul tiba-tiba di hadapan El dan langsung menutupi El dengan kemeja yang diikatkan nya di pinggang sedari tadi.
"Tiba-tiba hujan..." Luna berjinjit mencoba menutupi kepala dan badan El dari hujan. "Kakak bawa mobil kan? Mobil kakak dimana? Apa mau berteduh dulu?"
El hanya diam, dia memperhatikan baju putih Luna yang sudah menerawang karena basah oleh air hujan.
"Kita ke mobil aja."
Gue ga rela kalau orang lain lihat.
El mengambil alih kemeja yang digunakan Luna untuk menutupi kepala mereka. Menunjuk arah tempat ia memarkirkan mobilnya.
BRUKK!!!
Suara dentuman terdengar, dan saat El menoleh, Luna sudah terjerembab di jalan kasar beraspal.
El bergegas menghampiri Luna dan membantunya duduk. "Kamu gapapa?"
"Sakit kak..." Luna melihat celananya yang sudah sobek dan lututnya yang mengeluarkan darah. Begitu juga telapak tangan dan dahinya yang tergores aspal jalan.
__ADS_1
El menutupi kepala Luna dengan kemeja yang dipegangnya. Lalu dia mengangkat tubuh mungil Luna dengan kedua lengannya.
"Jangan nangis ya, malu..." El berbisik di telinga Luna. Luna sudah terisak.
"Untung aja mobilnya udah dekat, kamu berat banget..." isakan yang tadinya keluar terganti dengan tawa yang ditahan.
"Kakak jahat..." Luna merajuk manja.
"Turun dulu," El menurunkan Luna di sisi pintu mobil kemudian membukanya.
"Masuk," El membantu Luna duduk kemudian mengambil jalan memutar untuk masuk ke kursi kemudi.
"Udah, jangan nangis..." El mengusap pipi Luna, mencoba menghapus air yang menetes di pipinya. Dia tidak peduli apakah itu betulan air mata atau cuma air hujan.
Dan Luna malah terisak makin keras. "Emang sakit banget ya?" El mengusap kepala Luna lembut.
"Malu... Huhuhu..."
El menahan tawanya kemudian melajukan mobil.
Setelah rasa sakit nya mulai berkurang, Luna penasaran dengan tujuan mereka, "Kita mau kemana, kak?" Dia wajib bertanya karena dia belum bisa pulang ke rumah sekarang. Ini bahkan masih tengah hari.
"Kamu harus obati luka kamu, sama ganti baju. Kita ke rumah kakak dulu, dekat kok, dari sini.."
__ADS_1
APAAA??
Bersambung...