Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 24


__ADS_3

Chapter 24: Pulang?


"Tempat dimana ada aku, itulah rumahmu..." -El-


"Apa kamu mau pulang?"


Pertanyaan El membuat Luna tersentak sesaat, senyumnya langsung merekah.


"Apa aku boleh pulang? Apa aku boleh menginap?" tanya Luna bersemangat. Dia langsung duduk tegak di atas tempat tidur, menatap El penuh harap.


El pura-pura berpikir. Dia tentu saja tidak mau membiarkan Luna bersama Arga.


"Tiga hari?" Luna mulai menawar.


"Tiga jam..."


"Dua hari?"


"Dua jam..."


Luna melengos. Dia tidak menawar lagi dan memutuskan untuk memainkan ponselnya saja.


El yang baru saja selesai memasang dasinya, menghampiri Luna yang cemberut. Perlahan, El mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kalau kakak engga mau kasih aku izin, enggak usah tanya..." Luna mencibir, membuang muka dari El.


Tersenyum melihat istrinya yang menggembungkan pipinya, El mengecek suhu badan Luna. "Tunggu kakak pulang kerja, nanti kita kesana," ucap El.


"Beneran??" mata Luna sudah berbinar bahagia.


"Iya, tapi gak gratis..." El menunjuk bibirnya.


Luna memutar matanya kemudian melengos kesal. "Ya sudahlah kalau gak kesana juga gak---


Cup.


Sebuah kecupan sampai di bibir tipis Luna. Ia langsung menutupnya dengan kedua tangan.


"IH!" Luna berseru kesal.


"Istirahatlah di rumah. Ada mami di bawah. Jangan lupa siapkan pakaian kita untuk menginap. Nanti malam kita berangkat." El melambaikan tangannya. "Bye, sweetheart..."


Luna menatapi kepergian El, kemudian menggeliat senang setelah pintu kamar ditutup.


Berdiri di atas tempat tidur, Luna mulai tersenyum lebar. "AHHAHAHAHAHA!!!!" Dia tertawa kegirangan sambil berkacak pinggang memproklamirkan kebahagiaannya.


Karena terlalu khidmat tertawa, Luna tidak menyadari El yang kembali ke kamar mereka. "Ponsel kakak ke...ting...ga...lan...." El melotot tak percaya melihat gadis polosnya sedang berjoget di atas sana.


"Apa kamu perlu ke dokter sayang? Mau kakak antar?"


***


Luna sudah tak sabar menunggu El pulang. Tadi siang dia sudah membuat kue sebagai buah tangan. Mami mengajarinya cara membuatnya, seorang master sejati. Dia sudah berganti pakaian dan bersiap. Hari ini Luna memakai dress berwarna pink muda. Baju berlengan panjang itu menjuntai indah di tubuhnya sampai ke atas lutut. Puas mematut dirinya di depan cermin, Luna merasa dirinya sudah terlihat cukup cantik untuk menemui keluarganya nanti.


Sudah lama dia tidak pulang... Sebulan, kah? Terakhir memang mereka bertengkar, tapi ada yang bilang kalau darah lebih kental daripada air bukan?

__ADS_1


Tak berhenti tersenyum, dia membayangkan wajah Arya yang menggemaskan. Ah, apa dia perlu membeli cokelat? Dia masih punya sedikit uang dari Alex waktu itu. Kalau Arsya, Arka dan Arga apa ya? Apa harusnya dia membelikan es krim saja? Yang besar, agar mereka bisa makan bersama.


Bagaimana dengan Arga ya? Apa dia marah? Luna mulai khawatir memikirkannya. Dia tak mengerti jalan pikiran Arga yang semakin lama semakin aneh. Apakah adiknya itu sedang mengalami masa pubertas? Apa dia tidak bisa menahan nafsunya?


Luna menggelengkan kepalanya. "Gue harus bicara sama dia... Gak bisa begini terus..." ucap Luna.


Suasana hening saat Luna mulai berpikir, kemudian dia berdiri dan berlatih seolah Arga sedang berada di hadapannya.


"Arga, kita gak bisa begini terus, hubungan ini tidak bisa dilanjutkan---


Anzeyyy.. Ambigu banget, hubungan yang mana coba?!


"Arga, kakak tau kamu kesepian. Tapi bukan begini caranya---


Halah, gue kebanyakan nonton sinetron sama mami.


"Kakak gak mau kamu jadi adik durhaka. Nanti kamu ga bisa dikubur---


Astaga... Apa gue udah gila?


Luna menendang udara di sekitarnya tanpa arah. Melipat tangan, dia mulai berpikir lagi.


"Arga, kakak akan anggap semua tidak pernah terjadi. Kita bisa--


"Bisa apa?" El sudah berdecak kesal di depan pintu kamar yang terbuka.


"--bisa.... bisa.... makan cilok bareng?" Luna tidak bisa berpikir lurus. Dia sedang apa barusan?


El tersenyum kecil. "Bagaimana kalau begini: Kita bisa menjalani hidup masing-masing dan berhenti mengganggu istriku yang cantik?"


"Kakak sudah pulang...." Mengakhiri tawanya Luna meraih tangan El dan meletakkannya di keningnya.


"Kamu udah siap? Yuk, langsung berangkat," ajak El.


"Kakak udah makan?" tanya Luna. "Gak mau istirahat dulu?" lanjutnya lagi.


"Sudahlah... Ayo pergi, kamu pasti sudah menunggu lama..." El meraih bahu Luna dan mengajaknya turun.


Di supermarket bersejarah, Luna meminta El menepi karena ia ingin membeli es krim. Kris menepikan mobil dan El menemaninya masuk ke dalam.


"Aku bisa sendiri, kok," ucap Luna.


"Tidak apa. Kakak mau tau kau membeli apa." El memperhatikan Luna yang cuma mengambil sebuah kotak es krim berukuran sedang. "Hanya itu?" tanya El bingung.


"Memang mau apalagi?" Luna balik bertanya. Uangnya kan memang hanya cukup untuk membeli itu.


"Ambillah semua yang kamu mau sayang. Sekarang uang kakak sudah terlalu banyak..." El berucap bangga.


Luna mengerutkan alis. Dia sakit... Sindrom kesombongan stadium akhir.


Luna menggelengkan kepalanya, dan tetap hanya membeli sekotak es krim tadi. Memutuskan tak perduli, membiarkan hidung El terbang tinggi karena kehaluan yang haqiqi.


Tak berapa lama, mereka sampai di rumah orang tua Luna.


Pintu sudah diketuk dan Arsya yang membukanya.

__ADS_1


"Arsya!" Luna memekik senang dan memeluknya. Sudah lama ia tak melihat adiknya itu.


"Kakak!" Arya menyusul di belakang Arsya memeluknya. "Kakak kemana saja?" tanya Arya. Luna gantian memeluk adik kecilnya.


"Apa kamu kangen sama kakak?" tanya Luna. Arya mengangguk cepat.


El memberikan kotak kue dan plastik es krim pada Arsya.


"Sebentar, aku panggil yang lain kak..." Arsya masuk dan memanggil semuanya.


"Kakak!" seru Arka saat melihat Luna. "Kakak enggak tau betapa tersiksanya aku tanpa WiFi dari kakak?" Wajah Arka berubah memelas.


Luna mengelus kepala adiknya itu. "Makanya kamu jangan main game terus..."


Setelah Arka, Arga datang. Luna menahan nafas sebentar, mencoba mengeluarkan sebuah kata.


"Hai, kak." Arga menyapanya lebih dulu.


"Hai, Arga," balas Luna. Tapi keadaan menjadi canggung. Luna tak ingin menghampiri Arga dan Arga pun hanya diam.


"Luna..." Ayah datang bagai pahlawan yang mencairkan suasana. "Kamu sehat?" tanya Ayah.


"Iya, yah." Luna menyambut tangan Ayah dan Bundanya.


"Duduklah." Ayah mempersilahkan Luna dan El duduk. Arsya membawakan minuman untuk mereka.


"Ada apa kamu datang berkunjung Luna?" tanya Bunda.


"Ah, itu..." Luna jadi salah tingkah kalau langsung ditanya seperti itu. "Aku mau meng--


"Apa kamu mau mengambil barang-barang milikmu?" Bunda tidak menunggu sampai Luna selesai bicara.


Aku mau menginap disini...


Luna tersenyum pilu. "I-i-i-iya..." Dia menyerah. "Iya, Luna mau mengambil buku..."


"Mau Bunda ambilkan?" tanyanya seraya berdiri.


"Tak apa Bunda, Luna bisa ambil sendiri..." Luna melangkahkan kakinya yang berat ke depan pintu kamarnya kemudian membukanya.


Dia menatap kamar yang telah dihuninya selama 18 tahun terakhir. Masuk ke dalam, Luna mengelus tempat tidurnya pelan. Sudah berubah. Tidak ada boneka-boneka kecil yang tersimpan di sudut tempat tidur lagi. Lalu ia melangkah ke arah meja. Sudah tidak ada. Deretan buku pelajarannya dan peralatan sekolah yang biasanya berjejer rapi di sana. Luna membuka lemarinya. Sudah berbeda, isinya bukan pakaiannya lagi. Pakaian lelaki, entah milik siapa. Mungkin salah satu adiknya. Luna menatap beberapa kardus yang tertumpuk rapi di sebelah lemari itu. Ia membukanya pelan, itu dia barang-barang miliknya.


"Apa kamu sudah menemukannya? Ayo kita pulang." El sudah berdiri di depannya, menarik tangan Luna. "Biarkan Kris yang mengurusnya, ayo pergi."


El berpamitan kepada keluarga Luna dan meminta Kris memasukkan semua barang-barang Luna ke bagasi. Mobil melaju dan keadaan sunyi di dalamnya. Tatapan Luna kosong.


"Mulai sekarang...." El menggenggam tangan Luna, "...tempat dimana ada aku, itulah rumahmu..."


Pandangan Luna sudah tertutup genangan air mata.


"Aku lah Langit, rumah untuk mu Luna, bulanku yang paling aku sayangi..."


Luna menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan tangis dan isaknya disana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2