
Chapter 25: Kesedihan
"Kalau kesedihan bisa dibagi, berikan semuanya padaku..." -El-
El tak tahan melihat gadis kecilnya menangis. Suara isaknya terdengar pilu dan itu mengoyak hatinya. Juga menghancurkan perasaannya dan menggores harga dirinya. Sebagai seorang suami, ia merasa tidak mampu melindungi seseorang yang paling penting dalam hidupnya.
"Luna...." El mengelus kepala Luna selembut yang ia bisa, membelainya dengan sangat hati-hati seolah itu adalah hal yang paling rapuh di dunia.
"Maaf ya..." El menghela nafas panjang. "Harusnya kakak tidak pernah mengajak kamu kesana lagi..." ucapnya sendu.
Luna membuka kedua tangannya, menunjukkan wajahnya. Ia tidak perduli lagi dengan bagaimana El akan melihat mukanya yang pasti tidak cantik saat menangis. Matanya sudah berubah merah dan bengkak, hidungnya pun tak jauh berbeda. Pipinya sudah lengket karena aliran air mata yang tak berhenti sedari tadi.
"Hiks... enggak... apa... kak..." Suara Luna terputus-putus dengan suara isakan. Dia mengelap ujung matanya yang sudah menggenang lagi.
"Aku... yang... maksa..." Luna mengambil nafas sebentar. "Kakak tidak salah apapun..." Luna berusaha menghentikan tangisnya.
"Tak perlu menahannya. Menangislah lagi sampai kau puas sayang," ucap El sambil terus membelai Luna.
"Ta-ta-tapi... sebentar... lagi... kita... sampai..." Luna sudah hafal jalan menuju ke rumah El. "Aku... malu... sama... mami..." Luna mengucap lirih. Kemarin saat sakit, ia sudah begitu manja pada mami, apa sekarang ia harus bersikap cengeng juga? Luna merasa dirinya jauh dari kata dewasa.
El tersenyum mendengarnya. "Kalau malu, nanti saat kamu turun dari mobil, langsung lari ke kamar saja."
Sebenarnya El hanya bercanda, tapi ternyata Luna benar-benar melakukannya. Dia sampai tertinggal karena Luna berlari sangat cepat.
Pintu kamar terbuka, dan El mendapati Luna sudah duduk di sofa menyalakan televisi. Tadinya ia bingung kenapa Luna menyalakannya, tapi ternyata hanya untuk menutupi suara isakannya.
"Kak... maaf... aku masih ingin menangis..." ucap Luna. "Boleh..?" tanyanya.
El duduk di sebelah Luna lalu menjawab. "Boleh..."
Dipegangnya pinggang Luna dengan kedua tangannya, lalu ditariknya tubuh kecil Luna itu ke atas pangkuannya. "Kamu suka seperti ini, kan?" El mengingat bagaimana Luna bersikap manja pada mami kemarin, imut dan menggemaskan di saat yang sama.
Luna memeluk leher El erat. "Hmmm...." angguknya kemudian.
***
__ADS_1
El memutar pena di tangannya, tampak memikirkan sesuatu.
"Pak, saya ada di sini, loh..." ucapan Reza menyadarkan El. "Saya butuh perhatian dan tanda tangan bapak buat itu, tuh..." Reza menunjuk dokumen yang sedari tadi ada di hadapan El.
"Reza, apa kamu pernah punya pacar?" tanya El.
Ngapain nanya-nanya, bukannya cepat tanda tangan! Reza memaki kesal.
Gue gak ada waktu buat ngurusin kisah cinta elo yang absurd itu.
Reza memandang El malas. "Ya pernah lah, pak..." jawabnya. Dia memutuskan untuk menjawab El saja, agar dia mendapatkan jaminan tetap hidup sampai esok hari.
El manggut-manggut. "Kalau pacar kamu enggak anggap kamu pacar gimana?"
Apalagi ini, Tuhan... Dia lagi konsultasi cinta sama gue?!
"Enggak gimana-gimana, Pak. Tinggal saya putusin aja, cari pacar lain," jawab Reza. Hidup, kok ribet.
"Hmmm..." El berpikir lagi. "Kalau kamu masih sayang dan enggak bisa tinggalin dia gimana?" tanya El. Dia yakin Luna sangat menyayangi keluarganya dan tak mau berpisah tentu saja.
"Maaf, pak. Saya tidak mau menyiksa diri saya sendiri dengan sebuah kata bermakna ambigu yang disebut cinta." Jawaban Reza di luar perkiraan El.
Reza melotot sebal. "Maksud Bapak apa, sih. Bapak mau saya putus sama keluarga saya? Salah saya dimana, Pak??"
El melengos. Bukan jawaban yang ia inginkan. Dia memutuskan untuk mengikuti kemauan Reza dan segara menyelesaikan kertas-kertas dihadapannya. Reza segera pergi ke luar ruangan. Tapi saat ia keluar, Kris masuk ke dalam.
"Pak, saya sudah mencari tahu..."
El menunggu Kris melanjutkan kalimatnya. Kemarin ia sudah tidak tahan lagi melihat Luna yang terus menangis. Ia menangis semalaman! Ingin rasanya El menghancurkan rumah orang tua Luna kalau dia tidak ingat apa itu Etika dan Tata Krama.
Dia meminta Kris menyelidiki Bunda Luna. Kenapa sikapnya selalu seperti itu. Apakah Luna memang anak pungut? Atau ada yang salah dengan gadisnya itu sampai ia begitu membencinya.
"Nona Luna, bukan anak Pak Herman."
Tek!
__ADS_1
Bolpoin yang dipegang El patah menjadi dua dalam sekejap. Bukan anak kandung. Luna bukan anak kandung keluarga itu. Sekarang ia sudah mengerti masalahnya. Kalau begini, dia bisa tanpa merasa bersalah menghancurkan keluarga itu sepuasnya.
Tapi, Kris sepertinya belum selesai dengan laporannya. Dia menatap El sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya, mencari tau sudah semarah apa majikan di depannya itu.
"Ada lagi yang mau kau katakan?" tanya El.
"Nona Luna...." Kris berhenti sejenak.
"Katakan cepat!" El mulai tidak sabar.
"Nona Luna anak Ibu Dewi, ibunya."
"Apa maksudmu?" El menatap Kris dengan tatapan bingung. Ia tak mengerti. Jadi sebenarnya Luna anak kandung atau bukan? Yang mana yang benar?
"Jangan bercanda, Kris. Cepat jelaskan," ucap El tak sabar. Ia sudah berdiri dari kursinya.
"Ibu Dewi sudah mengandung sebelum menikah dengan Pak Herman," ucap Kris pelan.
"ARRGGGHHH!!" El berteriak tak percaya. Kedua tangannya sudah memegangi kepalanya dan mengacak rambutnya tak percaya.
Pantas saja. Pantas saja. PANTAS SAJA.
"Cari tau siapa ayah dari istriku, SECEPATNYA!!!" El berteriak berang. Kris segera undur diri dari hadapan El.
Sebuah kesalahan.
El akhirnya mengerti kenapa Bunda Luna selalu bersikap seperti itu. Luna adalah anak yang tidak ia harapkan. Kesalahan yang harusnya tidak dilahirkan ke dunia. Tapi ia terpaksa melahirkannya dan Luna tercatat sebagai anak dari Herman. Entah bagaimana El harus mengurus masalah ini. Dia tidak ingin Luna mengetahui kenyataan, tapi dia juga tidak ingin istrinya terus menderita meratapi sikap dari ibunya sendiri. Mana yang lebih baik? Kejujuran atau kebohongan?
El menghancurkan mejanya, membuat suara berisik sehingga Reza langsung berlari ke dalam ruangan. Sekali lagi, Reza melihat pemandangan seperti itu di hadapannya. Barang-barang yang hancur berserakan di lantai, kali ini lebih parah.
Ragu, Reza ingin bertanya ada apa. Tapi ia memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
"Saya mau pergi," El mengambil jasnya dan tasnya lalu melangkah ke luar ruangan tanpa menunggu jawaban.
Pergilah! Itu lebih baik daripada menghancurkan semuanya! Gue yang paling tersiksa disini!
__ADS_1
Reza mulai memunguti barang-barang yang berhamburan satu-persatu. Dia berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan meletakkan barang yang terbuat dari plastik berkualitas super untuk diletakkan di meja El, agar kejadian seperti ini tidak terulang di kemudian hari.
Bersambung