
Chapter 2: Melepaskan
"Pelajaran paling sulit dalam hidup adalah mengikhlaskan..." -Luna-
Luna merasakan sedikit nyeri di perutnya beberapa hari belakangan. Ia ingin mengatakannya pada El, tapi El sepertinya sangat sibuk akhir-akhir ini. Hampir setiap hari, suaminya itu pulang larut. Walaupun Luna sudah berniat menunggu, tetap saja dia kalah saing. Seolah ada lem super di antara dua kelopak matanya, Luna selalu saja ketiduran.
"Akh..." Luna melirih pelan. El yang tadinya terpejam damai di sebelah Luna, seketika membuka matanya.
"Kenapa?" tanyanya sambil mengerjapkan mata.
"Kenapa apanya?" Luna balik bertanya seolah tak tau, bagaikan tak terjadi apapun.
"Kakak dengar tadi, suaramu, kesakitan." El menatap Luna penuh selidik. Ia sengaja tidak mengalihkan pandangannya dari Luna, mencoba mencari pembenaran atas pernyataannya.
"Kakak salah dengar, barusan kan, kakak tidur. Pasti mimpi," elak Luna seraya membuang muka. Ia komat-kamit sendiri, tak karuan, mencoba memohon pada Tuhan agar El tidak menanyakannya lebih lagi.
"Hm.. Iyakah?" El menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kepalanya sedikit pening karena beberapa hari ini kurang tidur. Ia menargetkan untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum jadwal bulan madu bulan depan. Ya, sekitar 2 minggu lagi. Alasannya, tentu saja karena Reza hampir menangis saat ia meminta keberangkatan minggu depan. Sekretaris banyak gayanya itu memohon sampai membuat telinganya sakit. Alhasil, demi menjaga agar telinganya tidak berdengung, El mengiyakan. Ia bisa bersabar seminggu lagi, asalkan telinganya tidak rusak karena suara cempreng Reza.
"Iya!" Luna mengangguk pasti. Ia juga mengerjapkan matanya dua kali sambil menatap El lurus. Apalagi kalau bukan berusaha untuk meyakinkan kesayangannya itu.
"Sepertinya aku terlalu lelah..." El memejamkan matanya kembali. Ia menarik Luna dalam pelukannya, mendekatkan kepalanya ke dada Luna, mencari kenyamanan di sana.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah memeriksa kandungan? Kapan jadwal check-up?"
Bibir Luna bergetar sedikit. Ia tersenyum kecut sambil menengadah. Sebelah tangannya yang sebelumnya sibuk membelai surai hitam milik El tiba-tiba berhenti.
"Luna?" El merasa curiga. Ia mencium hal yang janggal. Ada yang disembunyikan oleh Luna. El mengurai pelukannya, ia menaikkan tubuhnya hingga tatapan mereka beradu.
"Kapan terakhir kali kamu ke dokter, sayang?" El sengaja menekan sedikit kata sayang dalam kalimatnya. Ia ingin Luna tau, kalau dirinya mencurigai sesuatu dan ingin Luna mengaku sebelum ia menangkap basah istri mungilnya.
"Em..." Luna melarikan matanya ke segala arah. Ciri khas saat seseorang mencari alasan, mencari pembenaran atas sesuatu yang sudah pasti tidak benar.
"Aku menunggu..."
Luna meragu, ia terlalu malu untuk mengucapkan hal ini. Tapi, baginya, memeriksa kandungan itu seperti siksaan batin. Selalu saja ada mata menuduh ke arahnya, seolah ia membawa aib. Pandangan menghakimi dari orang yang bahkan tak pernah ia kenal selama hidupnya. Berpasang-pasang mata mendelik padanya, menuduh ia berbuat kesalahan. Ingin rasanya ia berteriak kalau dirinya tidak melakukan tindakan kriminal apapun selain mengandung anak suaminya dan memeriksakannya, layaknya ibu yang lain.
"Luna sayang..." El mengecup kening Luna sekilas dan memberikan senyuman terbaiknya. "Katakan sekarang sebelum kakak bertanya pada--
"Bulan lalu!" Luna memejamkan matanya erat. Ia pasrah, kalaupun ia tidak mengatakannya sekarang, nantinya El akan tau dari laporan orang-orang suruhannya. Lebih baik mengaku daripada tertangkap basah.
"Astaga, sayang..." El menggeleng pelan. "Itu kan sudah lama sekali!" gerutunya tidak percaya.
Luna menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah. El yang melihatnya yakin bahwa masih ada hal lain yang belum Luna katakan. Ia menatap, menunggu. Ia yakin Luna tau arti pandangannya.
"Aku malu...."
"Malu?"
"Aku malu kalau harus kunjungan sendiri, mereka menatapku tak suka. Padahal aku sama sekali tidak pernah mengganggu mereka..." Luna berbicara sangat pelan, terlalu pelan sampai di akhir kalimatnya El merasa hampir tidak mendengar apapun. Tapi ia paham kemana percakapan ini berjalan.
"Dasar manusia!" El mulai menyumpah. "Makhluk sosial yang hobi mengurusi orang lain..."
Entah mengapa tapi Luna terkekeh geli. Ucapan dan ekspresi El sungguh tidak sejalan. El mengomel, tapi bibirnya yang mencebik itu, terlihat menggemaskan di mata Luna.
CUP.
Tanpa ia sadari, Luna telah membawa bibirnya sendiri menempel di milik El.
__ADS_1
"Ah..." Luna menggapai kesadarannya beberapa detik kemudian. Dilihatnya El sudah tersenyum miring.
"Wah, Luna-ku yang imut sudah mulai berani ya sekarang..." El tersenyum menggoda sembari menaik-turunkan alisnya. Luna cuma bisa tersipu. Ia menarik selimutnya meninggi hingga menutupi hidung, semata agar semburat merah yang ia yakin sudah muncul di pipinya itu tak dilihat oleh El.
"Tidak perlu malu sayang... Aku sudah melihat semuanya... Lagipula semuanya adalah milikku..." El beringsut, ia menggerakkan tubuhnya, sebelah kakinya sudah berpindah tempat. Tubuh tegap El sekarang sudah mengurung Luna sempurna. Pandangannya tak lepas dari mata Luna yang sekarang bergerak gelisah. Luna salah tingkah dengan posisi seperti ini. El tepat di atasnya, hampir menindih tubuhnya, menatapnya lekat sambil melemparkan senyum manis. Demi Tuhan, jantung Luna tidak kuat. Ia bisa mati muda kalau begini terus. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria setampan El? Semua yang ada di dalam diri El, hanyalah yang ia sukai.
"Kakak...." lirih Luna.
"Iya sayang~~~"
Luna meletakkan kedua tangannya tepat di depan dadanya, diantara dia dan El. "Bisa geser sebentar? Aku mau bangun..."
El memiringkan kepalanya tiga puluh derajat, seolah berpikir. "Kamu mau cium?"
Luna melotot. El tidak masuk akal. Jelas-jelas El mendengar apa yang ia ucapkan. Jarak mereka bahkan hanya terpaut lima senti.
"Aku tida---
"Baiklah kalau kau memaksa..." El melayangkan sebuah kecupan yang panjang dan lama. Tentu saja dengan ekstra juga.
***
"Pegang tanganku, tak perlu takut dan malu. Tidak ada kesalahan yang kamu lakukan." El meletakkan tangan Luna ke sisi lengannya. Mereka melangkah bersisian menuju ruangan dokter kandungan.
Tangan Luna bergerak tak nyaman, dan El bisa merasakannya. Ia berucap tenang. "Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak melakukan kejahatan apapun. Satu-satunya kejahatan yang kamu lakukan hanyalah mencuri hatiku."
"Pfft..." Luna tidak bisa menahan tawanya. Ia terkikik pelan. Gombalan El sukses membuatnya teralihkan. Luna terus tersenyum hingga dokter perempuan itu memeriksa kandungannya.
"Maaf, tapi sepertinya janin ibu tidak berkembang..."
Bagai dihantam badai tanpa peringatan, perasaan Luna terombang-ambing layaknya kapal di tengah laut lepas. Ia hilang arah. El segera meraih tangan Luna, menggenggamnya erat.
"Istri bapak mengalami kehamilan kosong, atau yang biasa orang kenal dengan hamil anggur. Tidak ada embrio di dalamnya, jadi sebaiknya segera dilakukan proses dilatasi dan kuretase."
El menghirup nafas banyak-banyak. Otaknya masih mencerna semua yang dikatakan dokter wanita bersanggul di depannya. Dokter yang terlihat cukup berumur itu balas menatap El dengan prihatin, seakan mengerti kesedihan dan rasa tidak percaya yang sedang El hadapi saat ini.
"Jadi..." El berusaha menyusun kata-katanya, "... jadi... jadi tidak ada calon anak saya, Bu dokter?"
"Maaf ya, Pak...." Dokter itu menepuk pundak El pelan. Bahu El meluruh setelahnya. Ia sedih bukan main mengetahui kalau selama ini yang dinantikannya tidak ada, belum nyata.
"Hiks..." El tersadarkan oleh isakan pelan yang berasal dari Luna. Ia terhenyak dan menyadari, bahwa bukan ialah satu-satunya orang yang bersedih di sini. Ada hati lain yang lebih kecewa dan lebih terluka dibanding dirinya. Hati sang calon ibu, Luna.
"Tidak apa, sayang..." El menghibur Luna sembari mengelus rambut panjang hitam milik Luna selembut yang ia bisa. "Masih ada aku..." Ia mengecup kening Luna perlahan lalu membiarkan tetes air mata milik perempuan itu berjatuhan satu-persatu. Luna butuh waktu dan ia pun sama.
KESEDIHAN
Hidup tenang bagai melodi dalam mimpi
Asa hilang tergerus waktu yang tak abadi
Kepekatan muncul seolah tak perduli
Menerjang, menghancurkan, serta menyakiti
Insan meratap dalam kelam
Memandang lekat lalu terdiam
__ADS_1
Menutup wajah muram
Berselimut duka keturunan Adam
Sang pencipta sedang berbaik hati
Memberikan rizqi yang tak terperi
Membolak-balikkan rasa dalam diri
Menyeruakkan ketidak adilan dalam elegi
Bukan hanya meratap
Ataupun sekedar menangis sekejap
Si pemilik kebahagiaan sedang berduka
Dengan kesedihan tiada tara
Ia mencoba tegar
Namun tetap bergetar
Rasa manusiawi jelas mengakar
Menggumam, mengumandangkan
Mengucapkan kesedihan
Berharap pedih segera menyelam perlahan
Dengan dirinya yang mencoba bertahan
***
Entah sudah berapa kali Luna menggenggam sekuat tenaga tangan El yang ada di sampingnya. Ini pertama kalinya untuk Luna, dan dia berharap tidak akan ada yang kedua kali.
"Tenang, sayang... Semua akan baik-baik saja... Kakak janji..." El memberikan kecupan putus-putus di kening Luna. Beberapa kali, hingga Luna menghela nafas panjang, saat itulah El berhenti, ia merasa Luna sudah jauh lebih tenang.
"Tidak bisakah kakak ikut masuk? Aku sangat takut..." Luna mengiba, memohon dengan mata berkaca-kaca. Namun, El cuma bisa membalasnya dengan senyuman peri.
Luna akhirnya pasrah. Menit selanjutnya ia sudah mengikuti segala arahan dokter akan proses yang ia jalani, proses menghilangkan janin yang sudah ia sayangi selama ini.
El menunggu di luar ruangan dengan hati cemas. Ingin rasanya ia mendobrak pintu berwarna putih gading di depannya itu. Kenapa lama sekali belahan hatinya di dalam sana? Apakah baik? Atau sangat baik? Dia tidak mau memasukkan kemungkinan selain yang dua itu.
Setelah dokter keluar ruangan dan mengatakan bahwa Luna baik-baik saja dan bisa pulang dalam beberapa jam ke depan, barulah El bisa mengurungkan niatnya untuk membakar rumah sakit ini. Sungguh detik dan menit yang berlalu barusan membuatnya tersiksa. Saat pintu terbuka, El langsung menghambur menghampiri Luna.
"Sayang..." ucapnya lembut. Ia membelai anak rambut Luna beberapa kali sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya sembari menatap Luna dalam. "Kamu yang terbaik, aku akan selalu menyayangi dirimu, apapun yang terjadi..."
Luna tersenyum tipis, ia masih merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya, terutama rahimnya. "Aku juga..."
El tau Luna sedang menahan sakitnya. "Tidak perlu dilanjutkan, istirahat saja. Lagipula aku tau apa yang akan kau ucapkan...."
"Hehehe..." Luna terkekeh geli. "Memangnya apa?" Dia menantang El, ingin mengetahui apakah yang ia pikirkan sama dengan yang El maksudkan?
"Aku juga... Aku juga mencintai kakak kemarin, hari ini, besok dan selamanya, tanpa syarat..."
__ADS_1
Bersambung