Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 3. Chapter 3


__ADS_3

Chapter 3: Bimbang


"Ada saatnya kamu berhenti di persimpangan, genggamlah tanganku. Karena kemanapun kamu berjalan, aku disampingmu.." -El-


"Pergilah ke Sydney..."


Ucapan El yang tiba-tiba membuat Luna tersedak. Momen makan malam itu berubah menjadi aneh setelahnya. Arsya yang ada di sebelah Luna mengelus punggung kakaknya lembut setelah menyodorkan gelas air padanya.


"Ehm.." Luna berdeham mengontrol batuknya dan juga keterkejutannya.


"Aku akan menyiapkan segalanya, kamu tidak perlu khawatir..." Sungguh, Luna tidak suka senyum yang diberikan El. Dia bisa melihat banyak makna di sana.


"Tapi aku tidak bilang kalau aku mau kuliah di sana..." Keukeuh Luna. Sudah beberapa hari El membahas ini, dan Luna selalu mengalihkan pembicaraan. Tapi sekarang, El benar-benar membuatnya terpaksa menjawab karena melayangkannya di depan semua anggota keluarga.


"Kalau kakak tidak mau, tidak mungkin kakak mendaftar," sinis Arga. Lelaki ini sama terlukanya dengan El, sama tidak relanya. Tapi, kalau itu yang Luna mau, ia bisa menerimanya.


"Sudah kubilang aku hanya mencoba saja," erang Luna frustasi.


"Tidak apa kak. Aku bangga punya kakak yang belajar di luar negeri," timpal Arka.


"Tapi aku tidak---


Ucapan Luna menggantung saat ia melihat semua tatapan mata lurus ke arahnya. Ia merasa tidak perlu melanjutkan ini. Tidak akan ada yang percaya padanya.


"Terserah!" Luna meletakkan sendok di tangannya kasar. Ia kehilangan selera makannya.


"Kenapa kalian begitu ingin mengusirku?" Luna merutuk kesal. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu tanpa ragu melangkah keluar ruang makan.


"Apa kakak tidak mau mengejarnya?" Tanya Arsya pada El yang tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan melakukan sesuatu.


"Sepertinya Luna butuh waktu sendiri," jawab El tenang. Ia tidak ingin membuat Luna bertambah kesal. Jujur saja, El sedikit lelah belakangan ini. Pekerjaan yang tak ada habisnya membuatnya sesak. Sedikit banyak itu berpengaruh kepada emosinya. Seperti saat ini, El merasa mungkin ia dan Luna bisa saja bertengkar jika ia memaksakan dirinya untuk berbicara pada Luna.


"Lanjutkanlah makan kalian..." El tersenyum tipis lalu ikut meninggalkan ruang makan.


Sementara itu, di halaman rumah, Luna sedang menendang asal batu yang ada di rerumputan di sana. Ia menggerutu, mulutnya komat-kamit mengeluarkan segala isi hatinya.


Belakangan ini El berubah. Semenjak kegugurannya, sikap El menjadi dingin terhadapnya. Dia semakin sibuk dengan pekerjaan, dan hampir tidak ada waktu untuk berbincang dengannya. Luna ingin mengikuti egonya dan berteriak pada El kalau ia juga ingin diperhatikan. Akan tetapi, lidahnya selalu kelu setiap kali melihat adik-adiknya, merasakan bagaimana El sudah sangat bertanggung jawab menjaga dan merawat mereka semua.

__ADS_1


"Kesal!" Luna berjongkok sambil mencabut rumput liar di hadapannya. Ia tidak tau lagi harus bagaimana mengurangi rasa tidak nyaman di hatinya. Saat itulah sebuah panggilan masuk ke ponselnya, membuat benda pipih itu mengeluarkan cahaya kelap-kelip beberapa kali.


"Iya, halo?" Luna memasang senyum terpaksa di wajahnya. Ia tau, sang penelepon tidak dapat melihatnya. Tapi entah bagaimana ia merasa perlu melakukan itu mengingat siapa yang baru saja melakukan panggilan.


"Iya, mami. Luna kesana sekarang..." Mencebikkan bibirnya, Luna meminta Kai, mengantarnya.


"Apa Nona sudah bilang ke Pak El?" Kai mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi seniornya, siapa lagi kalau bukan Kris.


"Kalau kamu tidak mau, aku naik ojek saja!" Luna mengancam sambil cemberut, membuat Kai terkejut.


"Silahkan masuk, Nona..." Kai membukakan pintu mobil. Luna menatapnya malas. Dia sudah tidak mood untuk naik mobil lagi.


"Masuklah Nona, atau saya yang akan dihukum nanti kalau Nona nekat naik ojeg di malam hari seperti ini," lanjutnya lagi.


"Arghhh!!!" Luna menghentakkan kakinya kasar. Terpaksa, ia masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan, Luna hanya melamun sambil sesekali menghela nafas panjang. Dia menatap kosong jalan yang sedari tadi ia lewati.


Sampai akhirnya, mereka tiba di rumah itu. Rumah orang tua El, tempat pertama kali mereka tinggal sebelum El membeli sebuah rumah besar dengan banyak kamar untuk dia dan adik-adiknya. Rumah besar yang sangat berbeda dengan rumah kecil milik ayah dan bundanya dulu. Rasa sedih dan kesepian mulai merambat di hati Luna saat kata ayah dan bunda melintas di benaknya.


"Mami kangen sama kamu. Akhir pekan begini, kenapa kalian tidak berkunjung? Kalau mami enggak telepon, kamu juga pasti tidak akan datang... Tapi, kenapa kamu sendiri, dimana El?"


Pertanyaan mami terhenti seketika saat Luna menghambur dalam pelukannya. "Mami..." lirihnya pelan.


"Iya, Luna..." Mami mengelus kepala Luna pelan, menyusuri rambut lurus Luna, lalu mengecup sedikit pucuk kepala Luna.


"Huhu.. Hiks..." Ternyata tidak bisa. Luna tidak bisa lagi menahan tangisnya.


"Kita duduk dulu yuk, sayang. Biar kamu nyaman..."


Luna tidak menggubris perkataan mami, ia hanya membiarkan mami menyeret langkahnya.


Tanpa Luna sadari, ia sudah duduk di atas sofa dengan mami yang duduk di sebelahnya, memeluknya semakin erat. "Ada apa sayang?" tanyanya lembut.


Luna menengadahkan kepalanya, ia menatap mami dengan air mata yang mengalir. Dari dulu, ia memang tidak sempat merasakan sosok ibu. Bunda memang sempat bersikap manis padanya, walau hanya sesaat. Tapi, saat ini, Luna merasa ia butuh tempat yang nyaman, untuk bersandar.


"Mami..." Luna merajuk manja. Ia membenamkan kepalanya lagi di dada wanita itu, sambil berusaha menghentikan tangisnya.

__ADS_1


"Iya, sayang... Kenapa? Apa El jahat kepadamu? Biar mami cubit dia nanti..." Gurauan mami membuat Luna terkekeh sesaat dalam tangisnya.


"Iya mi, kak El nakal," sungut Luna. Ia menjauhkan badannya dan mulai bercerita.


"Aku tidak mau kuliah. Aku ingin bekerja saja. Tidak bisa kah?" Tanyanya dengan mata penuh pengharapan.


"Sayang sekali kalau seperti itu, Luna. Kamu anak yang pintar, kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik kalau kamu kuliah dulu..." Mami dengan sabar menjelaskan, sambil sesekali menepuk telapak tangan Luna yang ada dalam genggamannya.


"Tapi lebih baik mencari uang daripada menghamburkannya. Aku merasa tidak adil pada kak El yang sudah bekerja keras, sementara aku hanya belajar saja tanpa bisa membantu apapun..." Sebenarnya, Luna merasa ia seperti parasit di keluarga El. Dia beserta adik-adiknya hanya menumpang hidup tanpa melakukan apapun sebagai balasannya.


"Kalau aku kuliah, apalagi di luar negeri, itu pasti menghabiskan lebih banyak uang," lirih Luna. Mami mengangguk mengerti, sambil tetap mendengarkan ucapan Luna.


"Luna, mami mau tanya sesuatu. Kamu jawab ya..." Mami mengusap air mata Luna yang masih sedikit mengalir di pipi putih gadis itu. Luna mengangguk sekilas.


"Kalau misalnya, adik kecilmu, Arya, bilang kalau dia gak mau sekolah karena mau bantu kamu cari uang, bagaimana perasaan kamu?"


Luna membulatkan matanya. "Tentu saja aku akan larang dia. Dia kan masih kecil, kenapa harus bekerja? Biar aku saja!"


"Nah, itulah yang El rasakan." Mami memberikan senyumannya pada Luna, membuat Luna terdiam. "Dia sayang kamu. Dia ingin yang terbaik untukmu. Dia ingin kamu melakukan apa yang kamu inginkan, menikmati hidupmu sebagaimana seharusnya..."


Luna termangu, mami ada benarnya. Jika bertukar peran, Luna yakin, dirinya pun akan melakukan hal yang sama seperti yang El lakukan.


"Tapi, mi," Luna masih tidak menyerah untuk menyangkal. "Luna enggak mau kuliah di Sydney. Kenapa kak El selalu meminta Luna untuk belajar di sana?"


"Dia tau isi hatimu..." Mami menepuk pundak Luna pelan. "Kamu pasti tertarik belajar di sana, kan?" Mami menatap langsung manik mata Luna. "Kamu jangan bohong. Jangan mengingkari perasaanmu. Jangan menutupinya dan jujur pada dirimu sendiri..."


Luna memainkan jari-jarinya. "Iya, mi..." jawabnya pelan. "Waktu itu saat berkunjung ke pameran pendidikan, Luna mengkhayalkan hal itu. Pasti menyenangkan kalau bisa kuliah di sana..."


"Lalu apa masalahnya?"


"Luna lupa, kalau Luna punya empat adik. Luna enggak mungkin meninggalkan mereka." Luna menggigit bibirnya. "Dan juga..."


"Dan juga apa?"


"Dan juga, Luna enggak siap kalau harus berjauhan dari kak El..."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2