
Chapter 50: Antara Reina dan Arga
"Bersabarlah untuk hatiku yang masih meragu..." -Arga-
Arga terbangun di pagi hari dan meratapi ponselnya yang tidak menampilkan satu pun notifikasi. Padahal semalam dia sengaja bergadang dengan dalih bermain game hingga larut malam. Tapi sampai sekarang ia tidak mendapatkan satu balasan pun dari Reina. Dia mendadak menjadi gelisah. Sejak kapan pesan dari Reina menjadi candu untuknya?
Diseretnya langkah berat itu ke luar kamar. Mandi, sarapan, berangkat sekolah. Arga membatin singkat.
Arka dan Arsya yang melihat gumpalan awan hitam tak kasat mata di atas kepala Arga menatap kakak mereka curiga. Saling tatap, akhirnya Arka bertanya. "Habis bergadang, kak?"
Dengan tatapan kuyu Arga menjawab adiknya. "Biasa... Tugas negara..." jawabnya asal. Dia tidak mau mengaku kalau ini semua karena seorang Reina.
Arka tau kode Arga, kalau kakaknya ini main game. Sedangkan Arsya menyangka kalau Arga belajar untuk memajukan bangsa tercinta.
"Oh..." Arka yang menganggap ini tidak menarik, lanjut tidak perduli. Berbeda dengan Arsya yang bisa merasakan sesuatu yang aneh. Ada tempe di balik terigu, pasti ada sesuatu, batinnya.
"Lagi marahan dengan kak Reina, kah?" Arga melotot mengerikan.
"Ma... mana ada..." Arga menjawab pertanyaan Arsya canggung. Arka yang tadinya sudah ngeloyor pergi sampai mengambil langkah mundur ingin mengetahui kelanjutan gosip ini. "Kenapa gue harus perduli sama dia?" jawab Arga asal.
***
Bilangnya sih begitu, tapi nyatanya dari tadi Arga sudah stand by di kantin. Sengaja duduk di pojok terpencil yang tidak terlihat, mengawasi dalam diam.
"Tumben nongkrong di sini?" Iksan, salah satu teman sekelas Arga menyapanya.
"Laper..." jawab Arga singkat. Matanya tetap memicing ke segala arah, mencari keberadaan cewek itu, masih belum.
"Tungguin lah, gue jajan dulu..." Tepukan di pundak Arga menghilang setelah temannya itu ikut antri memesan bakso seperti yang disantap Arga.
Tak lama, Iksan kembali dengan semangkuk makanan dan segelas minuman. Arga sedikit bersyukur karena Iksan memberikan alasan bagi dirinya untuk tetap berada di sana tanpa ada seorang pun yang curiga.
"Eh, btw gue sering lihat elo belakangan. Elo nganterin pacar ke wilayah Kenanga?" Arga terkejut dalam diam. Itu adalah tempatnya konsultasi, dan Reina yang selalu bersamanya.
"Salah liat kali elo...." elaknya.
"Ya kali salah liat... Berapa kali gue rasa." Iksan menyeruput jus melonnya nikmat. "Ngaku aja kalau elo nganterin cewek elo... Tenang gue enggak bakal nikung..."
"Makan buruan kalau enggak gue tinggal, nih..." ancam Arga membuat mulut Iksan bungkam.
"Iya, dah. Gue salah lihat... Ampun bos..."
Arga menghela nafas karena untungnya Iksan bukan tipe pemaksa ataupun tukang kepo. Bisa berbeda keadaannya kalau orang yang melihatnya bukan Iksan. Ini bisa membuat rahasianya ketahuan. Ujung-ujungnya malah nanti dia mengaku pacaran dan dikeroyok pajak jadian. Ya tidak mungkin, kan, kalau dia jujur lalu mengaku dia sedang menjalani rehab.
"Udah nih, yuk balik..." Semangkuk bakso sudah tandas, begitu juga dengan segelas jus. Iksan baru saja mau bangkit saat Arga menahannya.
"Bentar. Sini dulu aja. Makanannya belum turun..." Arga masih belum melihat Reina. Dia masih penasaran. Bahkan dari tadi pun ia tidak melihat kakaknya Luna. Apa mereka memang sengaja tidak ke kantin?
"Cari siapa sih? Jelalatan aja tuh mata dari tadi..."
"Ngomong apa, dah! Ngaco! Ya udah, yuk balik..." ucap Arga seketika. Sangat jelas dia salah tingkah.
"Hahahaha..." Iksan tidak bisa menahan tawanya. "Enggak mau ngaku dia..." Iksan mengikuti langkah Arga yang ditariknya lebar-lebar.
Waktu pulang sekolah sudah lewat dan Arga masih setia duduk di ruang OSIS. Dia seperti biasa menunggu waktu di saat sekolah sudah sepi.
Menatap layar ponsel yang masih enggan menyala, Arga menekan sebuah tombol.
Masih belum dibalas, batinnya. Belum dibaca juga bahkan! Apa gue diblok?
Kalah dengan rasa penasaran yang sejak semalam sudah melanda dirinya, Arga mengirimkan pesan ke Arka.
Sama adik Reina gak?
Arga sudah merelakan sebagian gengsinya sekarang. Ia rela dibully dan diledek saat di rumah nanti. Biar sajalah, yang penting rasa ini terpuaskan.
✉️ Enggak lah! Udah jam berapa nih? Sekolah udah bubar dari tadi!
Arka ngegas. Padahal dia tanya baik-baik barusan. Adik lucknut memang. Sudahlah, dia tidak mau melanjutkan ini. Biar saja si Reina itu, dia tidak mau tau lagi.
Bohong besar jelas, beberapa menit kemudian saat ada bunyi notif masuk Arga langsung menyambar ponselnya.
✉️ Kalau cariin kak Reina, dia sakit. Enggak sekolah kata Rayya.
Oh, pantes...
__ADS_1
Dalam sekejap Arga sudah memakai tasnya dan berjalan pulang ke rumah. Tidak asyik konsultan tanpa Reina. Dia akan bolos rehab hari ini. Biar saja, kan tidak ada yang akan perduli dan mengocehinya lagi...
***
Hari lain berlalu, dan Arga semakin merasa aneh. Ada yang hilang, tapi dia juga tidak tau apa itu.
Dia memantau lagi, kali ini di kursi pojok kantin. Semua terlihat jelas dari sini. Dia tidak akan melewatkan Reina kecuali kalau gadis itu sebesar kelereng.
Sejak awal bel sampai akhir bel masuk istirahat, tidak ada hasil. Nihil. Mungkin ia harus mencoba lagi saat jam istirahat kedua dimulai.
Untung saja, Dewi Fortuna berpihak pada Arga. Dia melihat kakaknya bersama temannya yang lain bercengkrama di kantin sekolah. Semuanya lengkap kecuali Reina yang absen dari sana. Apa perempuan itu masih sakit?
Ingin rasanya ia mendekat ke kelompok itu dan menanyakan langsung pada Luna, tapi baru selangkah dia sudah berbalik arah. Malu, atau apalah nama perasaan yang menggerogotinya ini, dia tidak paham.
Meragu
Maksud hati ingin melangkah
Menunjukkan diri dengan pongah
Namun baru selangkah
Raga ini seketika terengah
Keputusan diambil
Karena perasaan mendalam yang terukir
Sungguh tidak adil
Ketika bukannya maju tapi malah menyingkir
Ada rasa yang tidak bisa diabaikan
Ketika logika meminta membiarkan
Hati ini malah meragu
Di saat mata sudah tertuju padamu
Sayangnya mulut masih setia bungkam
Percuma saja jari sudah menunjuk
Kalau tangan sembunyi meringkuk
Malu atau ragu
Aku meyakinkan hatiku
Mundur atau maju
Ku harus memilih satu
Enol besar. Dia tidak melakukan apapun. Bukannya berjalan mendekat, dia malah lari kembali. Sampai jam sekolah berakhir, Arga masih dalam status yang sama. Tidak tau keadaan Reina.
Diraihnya ponsel yang ia biarkan terabai di atas meja ruang OSIS. Setelah lama berpikir akhirnya Arga menemukan kata yang tepat untuk diketik. Jarinya menari di atas keyboard dengan lincah. Dengan ini pastinya tidak akan masalah...
Aku akan datang menjenguk Kakak yang sakit.
Pesan terkirim. Arga mengulum senyum, pastinya gadis di seberang sana sedang berbunga, menanti kedatangannya. Tapi tanpa diduga, pesan itu hanya terbaca, tanpa dibalas seperti tempo hari.
Apa coba maunya gadis ini?!
Arga gemas dengan tingkah Reina belakangan. Membuatnya kalang kabut karena tiba-tiba menghilang. Dia tidak tahan kalau begini terus.
SET.
Tas yang sedari tadi menatapnya membisu, sekarang sudah ada di tangannya. Dimana rumah si perempuan pembuat cemas itu? Dia akan mendatanginya.
Arga mengikuti layanan peta online yang membawa ia pada sebuah rumah di hadapannya. Bangunan yang pastinya lebih besar dari kediaman imut Arga.
"Hmm..." Arga mengelus dagunya bimbang. Bagaimana ini? Haruskan dia langsung bertamu? Atau mengabari lewat telepon terlebih dahulu.
Ah, perset*n...
__ADS_1
Bel berbunyi nyaring saat Arga menekan tombol yang ada di sebelah pagar rapat itu. Dia memencet tiga kali karena tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terdeteksi dari dalam rumah itu.
Mendecak kesal sambil menggoyangkan kakinya tak sabar, Arga mengutuk dalam hati. Apa pula ini yang sedang ia lakukan? Jauh sekali dia datang tapi malah berakhir semacam ini!
CKREK.
Wajah Arga yang kusut seketika bersinar cerah menyaingi mentari di pagi hari. Senyum lebar dilemparnya, menunggu sosok yang membukanya muncul.
"Sore..." Arga menyapa sopan, itu adalah Rayya adik Reina.
"Oh, kak Arga..." Rayya tampak senang dengan kehadiran Arga. Terlihat dari ekspresi sumringah yang ditunjukkannya dari tadi.
"Masuk, kak..." Ia menarik Arga mendekat dan menutup pintu cepat.
"Kakak pasti mau jenguk kan Reina, kan? Aku tau kalau pasti kakak yang akan datang. Tiba-tiba saja Arka meminta alamat rumah..." Benar kata Arka, Rayya ini tipe yang sangat supel. Dia bisa bicara panjang lebar tanpa beban pada orang yang tidak dekat sekalipun. Arga saja masih jaim menghadapinya.
Karena tidak mendengar sahutan dari Arga, Rayya melanjutkan bicaranya, dia mengajak Arga duduk di sofa ruang tamu. "Kak Reina masih sakit, sebentar aku panggil. Aku siapin minum dulu buat kakak, habis itu aku suruh dia kesini."
Arga tersentak. "Eh!"
"Iya, kenapa kak?" Rayya kaget Arga menarik tangannya mencegah dia pergi.
"Apa sakitnya parah? Kalau begitu biarkan dia istirahat saja..." Arga jadi merasa tidak enak. Niatnya mau menengok tapi malah menyusahkan yang sakit.
"Cuma flu aja sih, kak. Malas sekolah paling..." Jawab Rayya santai.
Malas atau menghindar? Arga membuat praduga di otaknya.
"Tidak ke dokter?" tanya Arga. Dia ingin memastikan kalau benar sakit Reina ringan.
"Buat apa?" Rayya terkekeh kecil. Dia cuma demam sedikit, seharian kemarin malah tidur saja. Hari ini juga sudah baikan, tapi mungkin sekarang tidur lagi..." Rayya bangkit lagi. "Bentar ya kak, aku ambilin minum. Tunggu..."
"Enggak usah, Ray. Gue sebentar aja. Kalau Reina lagi tidur gue balik aja enggak apa-apa..." Arga tidak ingin mengganggu istirahat Reina, dia sudah cukup puas dengan mengetahui kalau Reina tidak membalas pesannya karena benar sedang sakit dan tertidur seharian. Ada rasa lega yang membuncah di hatinya.
"Bener nih, kak?" Rayya menggoda Arga rupanya. Dia sengaja menarik turunkan alisnya, memancing Arga.
"Iya enggak apa..." Arga memakai tasnya lagi, bersiap untuk pulang.
"Serius kakak mau pulang?" Rayya bertanya heran. "Enggak mau lihat kak Reina dulu?" Ditariknya tas Arga itu hingga si pemilik kembali duduk di sofa.
"Ya udah, kakak ke kamarnya aja. Jenguk sebentar. Seenggaknya kakak udah lihat. Jadi enggak sia-sia juga sudah datang jauh kesini..."
Arga mengangguk setuju. Melihat Reina sebentar lalu langsung pulang itu ide yang cukup bagus untuknya.
"Yuk, kak..." Rayya memimpin Arga ke sebuah kamar. Adik Reina itu langsung saja membuka pintu tanpa mengetuk. Memang semua adik kelakuannya sebejat itu.
Arga disambut dengan kamar berwarna pink pastel yang lembut. Sebuah lemari putih yang sudah dihias sangat cantik dengan pernak-pernik dan juga rak buku serta meja belajar yang rapi. Beda level dengan Luna. Luna memang merapikan kamarnya, tapi dia tidak pernah menghiasnya sampai seperti ini. Kamar ini cewek banget.
"Kak..." panggil Rayya pelan. Dia menggoyangkan badan Reina yang berbaring.
"Eh, jangan!" Sekali lagi Arga menarik tangan Rayya, mencegahnya. Tapi sayang Reina sudah terbangun, bukan karena goncangan, tapi karena mendengar suara yang tak asing di telinganya.
Reina membalikkan badan dan kaget setengah mati melihat Arga yang ada di kamarnya. Entah mimpi apa dia semalam sampai Arga bisa muncul di sini.
"Arga..." Buru-buru ia merapikan rambutnya. Astaga, ini memalukan, pasti wajahnya sangat jelek dan rambutnya sudah semrawut.
"Aku ambil minum bentar deh, ngobrol lah..." Rayya sengaja kabur, dia tau kedua orang itu butuh tempat untuk bicara pribadi.
"Ada apa Arga?" tanyanya. "Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak apa kak..." Arga menggeleng. Harusnya kakak jaga kesehatan, jangan sampai sakit..." Dahi Reina sampai mengernyit mendengar jawaban Arga.
Apa dia sedang menarik sekarang? Reina memegangi kepalanya, dia bingung.
Arga mendekat ke arah Reina, ia menjauhkan tangan gadis itu dari wajahnya. Dipegangnya dahi Reina, meneliti suhu tubuh cewek itu.
Reina mengelak, menjauhkan tangan Arga darinya. "Kamu tidak usah perhatian. Nanti kalau aku berharap lagi, kamu juga yang repot, kan?" desis Reina.
Arga terdiam sebentar lalu bergerak lagi, mengelus kepala Reina. "Maaf kak..."
"Jangan... Memberi... Harapan..." Reina mengulang ucapannya.
Cup! Arga mengecup kening Reina sekilas. "Aku pulang kak..."
Bersambung
__ADS_1