
Luna tersadar beberapa menit kemudian. Dia melihat sepasang lengan yang memeluknya. Juga dada bidang seseorang yang baru saja ia bersandar di sana. Saat Luna bergerak menjauh dan mengangkat kepala, tampak sosok seorang pria tampan tersenyum padanya. Ditatapnya lelaki itu dengan mata bengkak dan nafas yang masih putus-putus karena sesenggukan. Luna belum bisa berpikir apapun saat ini, buktinya dia hanya mengabaikan orang-orang yang berkerumun mengelilinginya. Tidak merasa malu atau terganggu sama sekali.
"Hik... Hik..." Luna berusaha menghentikan tangisnya. Sayang sekali, masih belum bisa berhenti walaupun iya mencoba. Air matanya masih terus mengalir meski ia sudah berusaha keras untuk berhenti. Diusapnya sudut matanya beberapa kali untuk menyingkirkan air mata itu.
"Udah baikan?" tanyanya. Pria yang umurnya pasti lebih tua darinya itu, mengelus kepalanya lembut. Luna beringsut mundur. Dia tidak mengenal orang itu. Bertemu pun belom pernah sama sekali. Ditatapnya orang yang ada di hadapannya itu lekat-lekat, menyelidiki dengan seksama, berusaha mengumpulkan penilaian apakah ia baik atau tidak.
"Jangan takut, saya kerja disini, kok..." Si lelaki mencoba meyakinkan Luna bahwa ia bukan orang jahat. Luna tampak ragu, tapi hatinya mulai setuju untuk mempercayai orang ini. Dia tampak ramah dan pelukannya sangat hangat. Luna menyukainya, membuat dirinya tenang.
Kesadaran Luna mulai kembali perlahan. Ia melihat sekeliling, mencoba mengingat apa yang terjadi lalu memahami situasi saat ini. Ia sedang ada di kantor ayah, membuat masalah. Luar biasa. Dia pasti sudah gila menangis di kantor ayahnya. Gelar Ratu Drama sudah cocok ia sandang saat ini.
Melihat wajah Luna yang tampak linglung, si lelaki tersenyum kecil. Belum pernah dia melihat seorang gadis yang seperti ini. Cantik dan menggemaskan. Bahkan saat menangis pun wajahnya tetap terlihat imut, seperti anak kucing bermata besar.
"Kamu malu ya?" Pria itu ikut menatap sekeliling, menyadari keadaan di sekitar mereka yang semakin lama semakin ramai. Orang-orang mulai menonton dirinya dan si gadis polos. Tatapan mereka tampaknya membuat si gadis mulai cemas dan merasa takut. Dia memutuskan untuk melepaskan jasnya dan menutupi kepala si gadis berambut panjang itu.
"Yuk, ikut saya sebentar. Pasti kamu enggak mau dilihat orang, kan?" Diraihnya tangan Luna dan mereka berdiri. Luna menyambut tangan hangat itu, memimpinnya, mengeluarkannya dari kerumunan, dan membawa mereka menjauh dari sana. Suara-suara mulai memudar perlahan. Luna terus melangkah mengikuti pria ini. Itu lebih baik daripada tetap di sana dan menangis. Sangat tidak keren.
Seusai menaiki lift dan berjalan beberapa saat, mereka sampai di sebuah ruang kerja tertutup. Luna dipersilahkan untuk duduk di sebuah sofa panjang berwarna hitam yang ada di tengah ruangan. Dia melihat keseluruhan ruangan. Selain sofa tempatnya duduk ada beberapa lemari yang berjejer rapi di beberapa sudut. Lalu di depannya, Luna mendapati sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu dengan warna cokelat. Di belakang meja itu terdapat sebuah kursi yang tampak cukup nyaman untuk bekerja.
Belum lama mereka duduk, datang seorang laki-laki lain menghampiri mereka. Luna tertunduk sedikit dan tersenyum malu saat pria satunya lagi mulai berjalan mendekat. Wajahnya pasti sangat berantakan sekarang.
"Tolong buatkan teh panas ya," ucap si pria yang tadi menolongnya. Dia berbicara pada laki-laki lain yang berpakaian sama rapinya dengan dirinya. Pakaian kerja lengkap dengan jas dan dasi yang menggantung di leher mereka. Lelaki yang diajak bicara itu mengangguk mengerti, lalu segera beranjak keluar ruangan. Luna hanya berdua dengan pria itu, lagi.
Si pria sekarang duduk di samping Luna. "Kenapa menangis?" tanyanya. Dia menghapus sisa air mata Luna yang masih menempel dengan ibu jarinya, menyeka dengan sangat lembut dan hati-hati.
Luna terdiam. Otaknya belum bisa mencerna semuanya. Dan kepalanya sangat pusing. Pasti karena ia menangis terlalu heboh tadi. Sungguh memalukan.
"Pasti hari yang berat buat kamu," ucap si pria. Dia mengelus kepala Luna lagi. Tak lama, laki-laki yang tadi keluar ruangan masuk kembali sambil membawa segelas teh.
"Minum dulu..." disodorkannya segelas teh hangat kepada Luna. Aroma teh yang khas menghampiri hidung Luna. Ia mengambil gelas itu dengan sopan dan mulai meminumnya perlahan.
"Pak, maaf," ucap laki-laki yang sedari tadi menonton mereka Dia tiba-tiba berbicara dan berbisik. Pria itu terdiam kemudian beralih ke Luna.
"Istirahat lah sebentar. Habiskan teh kamu." ucapnya lembut. "Aku harus keluar sebentar, tunggu disini."
Luna mengangguk patuh dan pria itu pun pergi ke luar ruangan.
__ADS_1
Luna menyesap tehnya lagi. Hangat. Menenangkan. Diminum kembali teh manis itu seraya mencoba memutar otak menyusun ingatan yang terjadi padanya hari ini. Memori dari pagi saat ia bangun tidur hingga sekarang.
Gue berlebihan. Luna membatin kesal, kecewa pada dirinya sendiri. Ia mulai menggelengkan kepalanya.
Gue membuat drama yang menggelikan.
Gue terobsesi sama kisah cinta SMA.
Mata Luna mulai menerawang jauh, merutuki hal-hal yang ia lakukan seharian ini.
Mungkin gue harus berhenti baca novel dan berhenti berkhayal.
Luna mendesah panjang. Suara nafasnya terdengar keras di ruangan yang sepi ini. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara detik jam yang bergerak perlahan. Ia teringat ponselnya, ia segera mengambilnya dari dalam tas dan membukanya.
Jam 6 sore.
Ayah. 10 panggilan tak terjawab.
Pasti ayah khawatir.
✉️ Kamu dimana?
✉️ Cepat pulang.
✉️ Angkat telepon.
✉️ Cepat pulang dan angkat telepon.
✉️ Balas pesan kalau tidak mau Bunda hukum.
Maaf Bun, tadi ponsel aku di tas. Tidak kedengaran kalau ada telepon.
Aku pulang sekarang.
Maaf ya Bun...
__ADS_1
Luna memeriksa ponselnya lagi sebelum menyimpannya, memastikan tidak ada pesan lain. Dan memang tidak ada pesan dari siapapun, termasuk dari adik-adiknya.
CKREK!
Pintu dibuka dan pria itu masuk kembali. Mungkin karena sedari tadi Luna tidak memperhatikan, dia baru sadar kalau orang yang menolongnya selain tampan juga berbadan tinggi dan ideal.
"Udah baikan?" Pria itu duduk di sebelahnya lagi. Luna mengangguk pelan.
"Jadi, kenapa kamu menangis?" tanya pria itu.
Luna menggeleng. "Tidak apa-apa...."
"Oke, saya enggak akan maksa kalau kamu enggak mau bilang. Tapi saya mau tanya, kenapa kamu kesini?" Pria itu mempertanyakan seragam sekolah yang dipakai Luna. Anak sekolah memang seharusnya tidak berada di sini.
"Saya mau ketemu ayah saya, Om..." jawab Luna.
Mengernyit sebentar setelah kata om, pria itu melanjutkan pembicaraan. "Oh, begitu. Nama ayah kamu siapa?" tanyanya.
"Hendra, om," jawab Luna.
"Bagian apa ya?" dia bertanya lagi.
"Kalau tidak salah, bagian audit om." Luna menjawab ragu.
"Oh..." Pria itu manggut-manggut. "Nama kamu siapa?" Pria itu bertanya setenang mungkin sambil menatap Luna lembut, meyakinkan bahwa tidak ada maksud tersembunyi di balik pertanyaannya.
"Luna. Luna Putri Parmana." Luna ragu sebentar, sebelum kemudian membuka mulutnya lagi. "Om siapa?"
Pria itu mengulurkan tangannya. "Saya, El. Manager disini,"
DUK!
Segelas teh terlepas dari tangan Luna dan membasahi karpet di dekat kakinya.
Bersambung...
__ADS_1