
Chapter 15: Akad
"Kejutan darimu sungguh tak bisa diprediksi, aku menyerah." -Luna-
Luna memandang pantulan dirinya di cermin. Dilihatnya perempuan di hadapannya sudah menggunakan sebuah kebaya putih berlengan panjang dan rok lipit di atas lutut dengan motif batik berwarna cokelat. Wajahnya sudah dirias make-up tipis dan rambutnya sudah digelung rapi dengan sebuah tiara berwarna perak gemerlap di atas kepalanya.
Gue kan cuma bercanda, ya Tuhan...
Luna menyumpahi mulutnya yang asal bicara pada El tentang pernikahan. Dia tidak mengira bahwa El benar-benar akan melakukannya. Dan lagi, kenapa semuanya sudah siap? Bagaimana bisa secepat itu? How???
Luna masih ingat apa yang terjadi semalam. Ia berbicara sebentar dengan Ayah dan Bunda karena canggung. Walaupun Arka, Arsya dan Arya bersikap seperti biasa, tapi Luna tidak bisa menghadapi Arga seperti sebelumnya. Waktu yang seperti itu tidak akan berulang.
Luna juga sempat menyapa keluarga El dan beberapa kali digoda oleh kak An dan kak En. Setelah itu, ia makan sampai puas dan mengobrol banyak dengan teman-temannya sampai pesta berakhir. Semuanya tampak normal, tapi kenapa saat dia bangun dari tidurnya semua berubah menjadi seperti ini??
"Sudah selesai, nona..." ucap si rambut pendek, membuyarkan lamunan Luna. "Silahkan sepatunya," dia meletakkan sepasang sepatu berwarna putih di hadapan Luna.
"Cantik," ucap Luna. Ia meraih salah satu sepatu itu dan menatapnya kagum. Sepatu bermodel kitten heels berwarna putih dengan hiasan lace bermotif bunga di sepanjang sisi sepatu itu. Di atas bunga ada sebaran mutiara, membuat sepatu itu tidak hanya cantik, tapi juga mewah.
Luna menatap kedua perias itu. "Apakah sepatu ini mahal?" tanyanya.
Keduanya tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Luna. Untuk mereka, tentu saja sepatu itu sangat mahal, tapi mungkin tidak untuk El.
Luna yang tidak mendengar jawaban akhirnya bicara pada dirinya sendiri. "Sayang sekali kalau semahal itu hanya untuk diinjak." Luna menggeleng sedih. "Kalau untuk membeli kue, pasti banyak sekali..." Yang ada di otak Luna setelah uang hanyalah makanan.
Gue masih ga percaya. Menikah? Secepat ini? Mimpi apa gue semalam?
Luna mengingat-ingat apa yang dia impikan semalam, tapi nyatanya dia cuma mimpi makan. Apa makan pisang adalah sebuah pertanda? Sungguh tidak membantu.
"Nona, sudah ditunggu..." ucap si pengawal. Dia sudah berdiri di samping Luna dengan 3 orang lainnya. Luna segera memakai sepatunya. Pas, sangat sesuai dengan ukurannya. Begitu juga dengan baju dan apa pun yang ia pakai sejak kemarin. Semuanya sempurna.
Luna kembali berjalan menyusuri lorong hotel. Iya, semalam ia menginap di hotel itu. Mungkin keluarganya juga, kak El, dan keluarga kak El.
Melihat sekeliling, Luna melalui jalan yang sama menuju ruang pesta semalam. Mereka melangkah masuk dan mendapati ruangan itu sudah didekorasi ulang dengan warna perak. Tidak ada alat musik, tidak ada balon dan tidak ada meja-meja. Hanya tersisa beberapa kursi berlapis kain putih yang berjejer membentuk huruf U. Kursi-kursi itu menghadap ke sebuah meja. Meja itulah panggung utamanya. Pada meja tersebut diletakkan tiga kursi, satu kursi berhadapan dengan dua kursi lainnya.
Terus melangkah, Luna memperhatikan keluarganya dan keluarga El yang sudah ada disana. Bahkan semua kursi sudah terisi, kecuali satu kursi yang dia yakin adalah untuknya.
"Hhhh...." Luna menghela nafas, mencoba meyakinkan dirinya pada kenyataan di depan mata. Dia duduk di sebelah El.
__ADS_1
El menatap Luna. "Apa kamu lelah?" tanyanya.
Luna menggeleng. "Tidak," jawabnya. Ia membuka mulutnya ragu. "Apa kakak yakin mau menikah sekarang?" tanya Luna. Akhirnya pertanyaan yang mencekiknya keluar juga.
"Penghulunya sudah datang, Luna." El tidak menjawab pertanyaannya. Dia hanya memberi isyarat pada Luna dengan melirik ke seorang bapak berumur yang ada di depan mereka. Luna mengerti itu, sekarang sudah terlalu terlambat untuk mundur ataupun menoleh ke belakang.
Glek.
Luna menelan ludah, tangannya mulai bergerak cemas. Dia tidak percaya kelakarnya bisa menjadi sedahsyat ini. Ingatkan dia untuk menjaga mulutnya yang berbahaya itu.
"Tenang saja," El menggenggam tangan Luna yang sudah sedingin es. "Cukup pegang tangan kakak dan semuanya akan baik-baik saja." El memberikan senyumnya pada Luna yang sedari tadi tampak sangat tegang. Luna bisa merasakan tangannya mulai hangat di dalam genggaman El. Ia pun membalas senyum tunangannya itu.
Acara sudah dimulai, Luna berusaha fokus mendengarkan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia tidak menoleh ke kanan kiri, ia hanya melihat ke depan, menatap lurus.
"Saya, Pangeran Langit Rahardja---
Luna tersentak saat El mengucapkan namanya, kenapa berbeda?
Walaupun sangat penasaran, Luna menutup mulutnya rapat.
"Nama kakak...?" tanya Luna akhirnya.
Berpaling ke Luna, El menjawab tenang. "Iya, El itu nama panggilan kakak. Nama kakak Pangeran Langit."
Dimana gue pernah dengar nama itu?
Bagaimanapun, Luna merasa nama itu tidak asing. "Jangan menatap seperti itu," ucap El. "Tutup matamu sekarang..." El mengelus pipi Luna lalu mempertipis jarak antara wajah mereka.
Sedetik sebelum Luna menutup mata, bibirnya sudah dilanda rasa hangat. El mengecupnya dengan lembut, membuat Luna nyaman dan terbuai. Dia sengaja melakukannya dengan perlahan, agar orang itu melihat dengan jelas, bahwa Luna adalah miliknya. Hanya miliknya.
Ah, balas dendam itu indah...
***
"Diamlah," En yang duduk di sebelah Arga memegangi tangannya. Arga tidak bisa bergerak sama sekali walaupun En hanya menggunakan satu tangannya.
Arga sudah ingin menghajar El di detik pertama saat orang itu menyentuh pipi Luna. Sungguh menjijikkan. Bagaimana bisa ia melakukan itu di depan semua orang?!
__ADS_1
"Dia suaminya, dia boleh melakukan apa pun," jawab En setengah berbisik seolah mengetahui apa yang ditanyakan Arga dalam hati kecilnya.
"Lepaskan," ucap Arga dengan suara tertahan.
"Kau mau melakukan apa?" tanya En. "Aku sudah berbaik hati mencegahmu, kau tak tau apa yang akan dilakukan pengawal itu kalau kau berulah. Akan lebih parah daripada yang kau bayangkan."
Melihat Arga yang masih mengepalkan tangannya kuat, En mencoba bicara lagi. "Sudahlah, menyerah saja."
Arga menatap En. "Tidak akan..."
"Hhh..." En menghela nafas panjang. "Kau membuat ini jadi sulit." En melepaskan tangannya dari Arga. Dan saat itu juga Arga langsung menerjang El.
Tapi tentu saja seperti yang En bilang, Arga membuatnya menjadi semakin sulit untuk dirinya sendiri.
Para pengawal itu menangkap Arga bahkan sebelum ia bisa menyentuh sehelai rambut El. Ayah dan Bunda berdiri, memandang tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Arga.
"Kenapa kamu menyerang saya?" tanya El. Dia sengaja bertingkah seolah tak tau apa pun.
"Kakak kenapa?" tanya Arka dan Arsya yang sekarang sudah berdiri di sisi Arga. Bunda dan Ayah menyusul di belakang mereka.
"Kenapa kakak marah sama kakak ipar?" tanya Arsya. Dia dan Arka berdiri menengahi Arga dan El.
"Lepas!" teriak Arga. Tapi para pengawal itu tidak bergeming. "Lepas, gue ga akan melakukan apa pun."
El memberikan kode agar mereka melepaskan Arga dan berdiri menjauh. Arga tersenyum sinis, ia berjalan mendekati El hingga posisinya sekarang berada diantara Arka dan Arsya dengan El yang ada di hadapannya.
"Elo, boleh senang sekarang. Tapi itu ga akan lama," bisik Arga.
Arga menatap Luna sekarang. "Pangeran Langit, heh?" cibir Arga. Dia maju selangkah ke arah Luna. Luna beringsut ke punggung El, memegangi ujung baju El gemetar.
Arga melongokkan kepalanya melihat Luna, sengaja berbicara sedikit keras. "Pangeran Langit itu, Pangeran yang turun dari langit?" tanya Arga. "Pangeran Langit dan Luna Putri? Lucu sekali..." ucap Arga yang diiringi tawa kesal.
Luna terkesiap. Pangeran.... yang turun dari langit...?
"Gue gak percaya kebetulan!" Arga berbalik dan melangkah pergi.
Bersambung
__ADS_1