
"Pak El? Pak El kenapa disini?" Reza ternyata adalah kakak Reina.
"Kamu ngapain disini?" El paling malas kalau harus bertemu orang kantor saat tidak berada di kantor. Merepotkan.
"Saya temenin adik saya aja," Reza menunjuk Reina. "Bapak kenapa disini?"
"Saya temenin Luna," El mengangkat tangannya yang digenggam Luna.
Oh, ini yang namanya Luna. Yang membuat si bos sering menghilang setelah makan siang. Yang membuat tim kita harus rapat pagi-pagi. Yang buat pintu dibanting-banting....
El melihat sekeliling, akan merepotkan kalau mereka semua duduk disini. Terlalu besar, terlalu berisik.
"Lun, kita pindah aja yuk. Ke restoran yang dalam ruangan. Temen kamu terlalu banyak," El mulai menghitung, 10 orang, menjadi 12 termasuk dia dan Luna.
Luna berjinjit sedikit, berbisik. "Kalau di resto dalam mahal kak, mending disini aja."
Akhirnya El mengalah, ia mengambil kursi untuk Luna lalu menyuruhnya duduk. Setelahnya, dia menarik kursi untuk dirinya sendiri.
Sekarang Luna dan El sudah duduk berhadapan dengan adik-adiknya Luna. Suasana hening. Luna memberi kode ke Jessika.
"Eh, kita pesen makanan dulu, yuk." Jessika menarik Reina dan Tiara pergi. Dia sengaja meninggalkan Tyo untuk mengantisipasi keadaan. Dan untung saja selain itu masih ada dua cowok lagi, pacarnya Tiara dan kakaknya Reina. Ada adiknya Reina juga, setidaknya ada cukup orang untuk melerai kalau sampai mereka berkelahi.
__ADS_1
"Kakak pesenin makanan dulu." El baru akan berdiri sebelum tangannya ditarik oleh Luna.
"Kak, sini dulu. Sebentar," El kemudian duduk lagi. "Kak, adik-adik aku mau bicara sesuatu sama kakak."
El menaikkan alisnya bingung, "bicara apa?"
"Kita mau minta maaf sama om," Arsya yang memulai pembicaraan itu. Dia adalah orang yang paling merasa bersalah. "Maaf ya, udah rusakin mobil om." Arsya kemudian menyenggol lengan Arka yang duduk di sebelah kanannya.
"Iya, saya juga mau minta maaf sama om." Arka menatap El menyesal. "Kita ga akan gitu lagi." Sekarang giliran Arka yang menyenggol lengan Arga.
"Gue juga minta maaf, tapi elo emang nyebelin, sih." Arga masih ngeyel.
"Arga!" Luna menegur Arga tidak senang.
Nih anak niat ga sih minta maaf? Luna menatap Arga kesal.
Tak lama, El malah tertawa kecil. Lucu juga si Arga ini.
"Oke, gapapa. Asal kalian gak ulangi lagi." El tersenyum sesaat. "Dan,,, tenang aja, saya akan menjaga Luna dengan baik."
Oke, ini berjalan cukup lancar. Luna bersyukur dalam hati.
__ADS_1
"Saya pastikan, saya menjaganya lebih baik dari cara kalian." El menatap Arga dingin.
Duh, kak El kok malah mancing-mancing, sih!
"Kita lihat saja buktinya nanti," Arga membalas perkataan El tanpa bergeming. Luna menggenggam tangan El semakin erat, mencoba mencegah keadaan itu berlanjut.
"Ehm!" Arsya mencoba melunakkan suasana. Ada hal yang belum dia katakan. "Lalu, masalah kerusakan,, tolong biarkan kita yang menggantinya, jangan minta ke kak Luna."
"Saya tidak pernah minta Luna menggantinya."
"Terima kasih."
Keadaan hening sesaat, El kemudian melirik Luna. "Kakak haus, belikan minum, dong."
Luna ragu, apakah ia harus meninggalkan mereka. "Kakak ga akan ngapa-ngapain," El melanjutkan perkataannya.
"Iya, kak." Luna pun beranjak dari kursinya.
Setelah Luna pergi, El menaikkan kedua tangannya ke atas meja. Daritadi Luna terus-terusan memeganginya. Tapi, karena sekarang Luna sudah pergi, El bisa menopangkan dagunya, menatap adik Luna satu-persatu, mencoba mengintimidasi.
"Kalian tidak perlu ganti rugi," El menghentikan kalimatnya sejenak, memperhatikan ekspresi mereka yang terkejut, "...dengan satu syarat..." El tersenyum miring, "...panggil saya kakak ipar."
__ADS_1
Bersambung..