Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 31


__ADS_3

Chapter 31: Dicuekin


"Saat rasa spesial berubah jadi original." -Luna-


"Lun, bangun..."


Luna memicingkan matanya, mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk.


"Bangun, Lun. Kita sarapan," ucap Reina.


Sarapan? Gue ketiduran?!


Reina keluar tenda duluan, sementara Luna masih meneliti keadaan di sekitarnya. Masih sama seperti semalam. Tidak ada yang tampak berubah sama sekali. Dimana kak El tidur?


Di luar tenda, Jessika memberikan Luna sepiring makanan kemudian duduk di sebelahnya. "Elo tumben bangun siang?" tanyanya.


"Sorry," jawab Luna sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Siapa yang masak barusan?" tanya Luna. Matanya menangkap sosok Arga dan Reina, kemudian berkeliling lagi mencari keberadaan El. Dapat. Ada di sebelah tenda mereka, ternyata. Duduk di atas batang kayu dengan Reza, sepertinya sedang membicarakan pekerjaan.


"Yang pasti bukan gue. Si supir kayaknya," jawab Jessika mengangkat bahu. Dia menyadari apa yang Luna lakukan. Mata Jessika kemudian melihat ke arah yang dituju temannya. "Kenapa? Elo lagi marahan?" tanyanya.


"Menurut elo, kak El marah sama gue?" Luna malahan bertanya balik.


"Mungkin?" Jessika memberikan jawaban ambigu, membuat Luna memutar bola matanya kesal. "Biasanya kan dia nempeelllll terus sama elo. Gue masih penasaran sampai sekarang, elo pakai pelet apaan."


"Gue kagak pakai begituan," ucap Luna sinis.


"Iya, gue tau." Jessika tampak berpikir sesaat. "Apa sekarang pesona elo udah turun? Makanya si om udah enggak mau dekat sama elo lagi?"


Luna membulatkan matanya. Dia tidak pernah memikirkan itu. "Jess," Luna memegang tangan sahabatnya. "Emang pesona gue apaan?" tanyanya.


Jessika menghela nafas sangat panjang. "Kebeg*an elo," jawabnya santai. Luna menatap Jessika tidak senang, tapi yang ditatap tampak tidak ambil pusing, malahan melanjutkan kalimatnya. "Kadarnya sangat tinggi, sampai gue ga bisa paham kenapa masih ada cowok kayak dia yang suka sama elo."


Dicubitnya lengan Jessika sampai temannya memekik. "Mulut elo jahat, sih!" seru Luna.


"Gue ngomong kenyataan!" protes Jessika sambil mengusap kulitnya yang kemerahan. "Elo dari kemarin deketin Argaaaaaaa terus. Gue aja sebel liatnya, apalagi pacar elo!" Jessika balas menjambak rambut Luna. "Berdoa aja dia ga minta cerai."

__ADS_1


PLAK!


Luna terlalu emosi sampai ia melayangkan tangannya ke pipi Jessika. Kesadarannya kembali beberapa detik kemudian, tetapi orang-orang di sekitarnya sudah memandang mereka penasaran.


"So-sorry, Jess." Luna meraih tangan Jessika. "Gue ga maksud--


Jessika menepis tangan Luna marah dan langsung pergi. Luna meletakkan piringnya yang masih terisi setengah dan berlari mengejar Jessika.


"Jess, gue enggak sengaja." Digoyangkan lengan sahabatnya itu sambil memohon. "Maaf, gue salah," ucap Luna.


"Lun, khilaf boleh, beg* jangan." Jessika melepaskan tangan Luna darinya dengan kasar.


Jessika menatap mata Luna yang sudah berkaca-kaca. "Gue ngomong jujur biar elo sadar. Kita udah temenan lama, gue sayang sama elo. Gue ga mau elo salah ambil langkah. Mulut gue boleh jahat, tapi hati gue enggak."


Luna memeluk Jessika. "Maafin gue, ya..." ucapnya.


"Hem..." Jessika malas menjawab.


"Gue juga sayang sama elo," tambah Luna. Jessika memberikan satu tepukan di punggung Luna.


Air mata Luna tak jadi menetes.


"Kalau gue boleh saran, yang tadi itu kurang dramatis. Harusnya kalian larinya agak jauh. Terus ada adegan teriak-teriak gitu, pasti lebih rame." Tyo masih mengunyah. Tidak terganggu dengan dua perempuan di hadapannya yang kesal setengah mati dengan ucapannya.


DUK!


Luna menendang tepat di tulang kering Tyo, membuatnya mengaduh dan mengelus pelan kakinya, terduduk di atas rumput. "Tega elo, Lun. Sakit, tau!" pekiknya.


"Kamu bilang apa barusan, ay?" Jessika sudah meletakkan tangannya di atas kepala Tyo, mulai menarik rambutnya perlahan. "Bisa diulang?" Ditariknya rambut pacarnya itu semakin kencang.


"Gue bilang apa tadi? Kita lagi ngapain sih? Ini dimana? Nama gue siapa?"


***


Luna sadar sekarang, El lebih penting daripada Arga. Siapa yang memberinya tempat tinggal? El. Siapa yang memberinya makanan? El. Siapa orang yang paling penting? El. Karena tanpa dirinya, Luna mungkin sudah mengambang di sungai atau berakhir di tempat penampungan sampah terdekat. Bukan sampah, bukan. Dia tentu saja manusia. Ah, andai manusia bisa didaur ulang.

__ADS_1


Sekarang perhatian Luna terbagi. Tiga detik menatap Arga, satu detik menatap El. Tunggu, sepertinya ini masih salah. Bagaimana kalau tiga detik menatap Arga dan tiga detik menatap El? Nah, ini lebih adil.


DUK!


Tersandung, Luna hampir saja terjatuh. "Ish, siapa sih taruh barang sembarangan?" Dia mendecak kesal.


"Ck! Itu kayu dari kemaren di situ, mata elo aja yang dari tadi jelalatan!" Tiara meledeknya sambil lalu. Luna cuma bisa cemberut menanggapinya, tidak bisa menyangkal.


Luna melanjutkan kesibukannya memasukkan piring yang sudah dicuci ke dalam kotak. Sementara yang lain membongkar tenda dan merapikan barang-barang. Setelah ini perjalanan pulang akan ditempuh dengan melalui kebun teh, jalur yang berbeda saat mereka datang.


Ditatapnya El lagi untuk kesekian kali, tapi El tidak balas menatapnya. Luna mendengus kasar. Ingin menghampiri, tapi El tampak di sibuk dengan tab-nya. Dan juga sekarang ada dua orang pengawal di kanan kiri El, membuat Luna semakin enggan mendekat. Entah sejak kapan para pengawal itu datang, hanya Tuhan dan jempol kaki mereka yang tau.


Perjalanan panjang dimulai dan mata Luna panas melihat rentetan pasangan di depannya. Jessika, Reina dan Tiara bergandengan dengan pacar masing-masing. Luna menatap tangannya hampa. Dia menoleh ke belakang, El masih cuek dan tidak terlihat tanda-tanda kalau ia akan datang mendekatinya. Dibalikkannya badannya, Luna berjalan ke belakang menuju ke El. El berjalan di paling belakang dengan para pengawalnya, bersama Reza juga.


"Kak," panggilnya. Luna menunggu sampai lima detik dan tidak ada jawaban. Padahal dia yakin kalau El pasti mendengarnya. Tidak masuk akal kalau tidak mendengar, jarak mereka cuma dua jengkal tangan.


"Kak..." Luna memanggil lagi, dengan nada memelas. El masih tidak meresponnya.


BRUK!


Sengaja, Luna menjatuhkan dirinya mencari perhatian. Namun sayang, El terus berjalan. Reza yang menghampirinya. "Elo enggak apa-apa? Elo bisa bangun sendiri, kan? Gue masih mau hidup soalnya."


Perkataan Reza yang tak masuk akal yang didapatnya.


"Ahhhhh.....!" Luna memekik, menggerakkan kakinya ke segala arah, duduk merajuk seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.


Meskipun sudah seperti itu, tetap tidak ada yang berhenti, menoleh pun tidak. Luna terpaksa berdiri sendiri, dia nekat mengambil arah yang berlawanan. Mungkin kalau dia tersesat El akan mencarinya. Sayangnya, baru beberapa langkah, dua orang pengawal sudah mencegatnya.


"Nona, Anda menempuh arah yang salah," ucap salah satu dari pengawal berseragam itu. Luna menatap dari atas hingga ke bawah, melihat tampilan dua orang pengawal yang memakai celana kargo berwarna cokelat muda dengan jaket berwarna merah, sangat mencolok.


Luna tersenyum sinis. "Memangnya siapa kalian, mau mengatur hidupku?!" ujarnya marah.


Mendengar jawaban Luna, mereka saling mengangguk satu sama lain. Setelahnya lengan Luna sudah diapit dan badannya sudah terseret.


"Ah! Kalian jahat!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2