Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
30. Marah


__ADS_3

Pulang telat lagi, deh.


El baru saja keluar ruang rapat direksi. Rapat dengan agenda laporan bulanan selalu berjalan alot dan membosankan.


"Plastik apa, nih?" El menemukan bungkus plastik di mejanya.


El terkejut bukan main setelah melihat isi kantong plastik itu. Dia langsung berlari keluar.


"Siapa?" El langsung bertanya pada asistennya yang tempat duduknya ada tepat di depan ruang kerjanya.


"Siapa apanya, Pak?" Asisten El, Reza, malah bertanya balik.


"Siapa yang simpan bungkus plastik di meja saya?" El bertanya tidak sabar.


"Oh, itu, tadi ada titipan dari resepsionis ba---


El sudah menuju lift bahkan sebelum Reza menyelesaikan kalimatnya.


"Siapa yang tadi terima bungkus plastik putih buat saya?" El langsung memberondong dua resepsionis yang sedang berjaga dengan pertanyaan.


"Sa-saya, Pak." Chelsy mengangkat tangannya ragu.


"Dimana?"


"Maaf, Pak?" Chelsy tak mengerti kemana arah pembicaraan El.


El membuang nafas kasar. "Dimana orang yang kasih bungkus plastik tadi??"


"Ohh... Adik SMA yang tadi..."


"Iya, dimana dia??" El mencoba menahan emosinya.


"Sudah pergi dari tadi, Pak."


"Sejak kapan?"


"Kayaknya sekitar satu jam yang lalu..."

__ADS_1


El memukul meja kesal. "Kenapa kamu ga bilang ke saya dari tadi?!" ia membentak kasar, emosi yang ditahannya akhirnya keluar.


"Ma-maaf Pak, tadi saya sudah lapor ke sekretaris bapak, tapi katanya bapak sedang rapat..." Si resepsionis sudah mulai gelagapan. Dia menundukkan kepalanya karena takut dan shock.


Arggggghhhh...!!!!


"Oke." El mengepalkan tangannya, menahannya untuk melakukan sesuatu yang akan ia sesali nanti.


"Lain kali kalau Luna cari saya, langsung kabari saya, walau saya sedang rapat sekalipun!"


"I-i-i-iya Pak..."


"Kalau sampai terjadi lagi, kamu saya pecat!" El berlalu pergi.


"Huhu.. Serem banget, mbak..." Sang resepsionis, Chelsy, memegang lututnya lemas.


"Iya, baru pertama kali liat Pak El semarah itu." senior Chelsy mencoba menenangkan juniornya yang sudah terlihat ga karuan itu.


"Reza!" El berteriak memanggil Reza saat ia sudah berada di dekat ruangannya.


"Oh!" Reza menyadari hal yang ditanyakan El. "Tadi resepsionis memang cari Bapak, tapi dia ga kasih tau siapa yang cari Bapak. Jadi saya cuma bilang Bapak lagi rapat."


"Lain kali, kalau yang cari saya namanya Luna, langsung suruh tunggu di ruangan saya!"


"Iya, Pak." Reza mengangguk mengerti.


Kenapa dia marah-marah begitu, sih? Reza membatin bingung.


El masuk ke ruangannya dan menutup pintunya kasar. Sesaat kemudian, dia teringat ponselnya. El mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kemudian menyalakannya.


6 pesan.


5 panggilan tak terjawab.


El menggeram kesal kemudian mengecek pesan dari Luna.


✉️ Kak, kakak lagi sibuk?

__ADS_1


✉️ Kakak lagi marah sama aku? Kok ga dibalas?


✉️ Aku mau ngembaliin jas kakak. Kakak dimana sekarang?


✉️ Aku telepon kakak ga aktif, aku ke kantor kakak sekarang ya.


✉️ Kak, aku udah di lobby kantor.


✉️ Katanya kakak lagi rapat. Aku pulang ya. Jasnya udah aku titip ke resepsionis.


Kenapa ga gue aktifin dari tadi??


El mengutuk dirinya sendiri. Dia langsung memencet tombol untuk menelepon Luna. El menghela nafas lega setelah terdengar nada sambung.


📞 Halo, Luna?


📞 Halo, Kak El?


📞 Luna, maaf tadi kakak lagi rapat, padahal kamu udah datang ke kantor.


📞 Iya, ga apa, kak. Aku juga harusnya kabarin kakak dulu.


📞 Lain kali, kamu langsung ke ruangan kakak aja, ada di lantai delapan.


📞 Iya, kak. Maaf kak, aku tutup dulu ya, aku masih di jalan.


📞 Kamu dimana? Kakak kesana sekarang.


📞 Eh, engga usah, kak. Aku sebentar lagi sampai di depan komplek rumah aku. Udah dulu ya kak. Dah...


Bersambung...


EPILOG


"Si Bos kenapa banting-banting pintu?" salah seorang tim pemasaran bertanya pada Reza.


"Tau, lagi soleh..."

__ADS_1


__ADS_2