Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 61


__ADS_3

Maafkan aku yang menghilang.. 🥺


Minta maaf yang sebesar-besarnya...


Banyak kesibukan membuat aku drop.. 🤧


Untuk episode kali ini semoga kalian suka.. ❤️❤️❤️


Salam sayang,


dewiluna


Chapter 61: Ingin Mengakhiri


"Seberat apapun masalah yang kamu alami, lari bukanlah jawaban..." -El-


BRAK!


El membuka pintu ruang rawat dengan kasar. Dia masuk dengan langkah-langkah besar. Suara helaan nafas lega terdengar saat ia melihat Luna duduk di atas kursi, memandangnya dengan tatapan bingung. Beberapa menit yang lalu jantungnya nyaris copot saat melihat notifikasi di layar ponselnya, menunjukkan kalau ada pembayaran atas nama rumah sakit. Panik bukan kepalang, El menyambar tas kerjanya dan lari keluar, menyusul, dan sampailah ia di sini.


"Luna... Syukurlah..."


"Kakak... Kok bisa tau aku di---


Ucapan Luna dipotong begitu dengan pelukan erat dari El. Sepanjang jalan tadi otaknya sudah membuatnya membayangkan hal paling buruk dari yang terburuk. Sakit parah? Ditabrak? Tiba-tiba pingsan? Semua yang terlintas di pikirannya sama sekali tidak membantu.


"Apa yang terjadi?" El melepaskan pelukannya dan menatap Luna lekat, menunggu jawaban.


"Anu.. itu..." Luna mengalihkan pandangannya ke sisi kiri dan kanan. "Itu..." Luna menunjuk ke arah tempat tidur dimana adiknya terbaring. "Arya sakit," ucapnya pelan.


El berbalik seketika dan baru menyadari keadaan sekitarnya. Sedari tadi ia hanya fokus pada Luna, tidak memperhatikan apapun selain gadisnya itu. Di atas ranjang, di bawah selimut, ada seorang anak yang terbaring lemah dengan selang yang menghiasi tangannya. Wajah anak laki-laki terlihat sedih, dengan sisa air mata di sudut kelopak matanya.


Berbalik sempurna, El mendekat ke Arya. Dia menatapnya sesaat sebelum mengelus kepala Arya pelan. "Ada apa?"


Arsya dan Luna saling menatap, saling menunggu, meminta tanpa kata agar salah satu dari mereka mengalah dan bercerita pada El.


"Katakan saja..." El gemas kepada kakak beradik yang terus-menerus saling memandang, bukannya menjawab pertanyaannya.


"Kalian berdua yang menjawab," perintahnya. "Bicaralah..."


Luna menghela nafas panjang dan Arsya menelan ludah susah payah. Mereka saling tatap lagi.


"Astaga, katakan saja!" El untuk pertama kalinya merasa segemas ini. Tidak taukah mereka kalau ia sudah penasaran?


"Arya sakit, kak..." Luna menjawab ragu.


"Iya, aku sudah tau..." El mendengus kesal.


"Aku bisa melihatnya..." Ia memutar bola matanya jengah. Yang ingin ia tau bukan hal ini. Oh, ayolah, yang benar saja.


"Hm..." Luna memainkan jarinya. "Arya sakit dan sepertinya ia butuh Bunda..." Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menatap Arsya, seolah menyuruh adiknya itu melanjutkan kalimatnya.


Arsya yang canggung, menyambung ucapan Luna dengan terbata. "A... A... Arya sakit..."


Sudah tau...


"Dia sakit..."


Aku bisa melihatnya...


"Dia sakit tifus..."


Astaga... kenapa berputar terus?!


"Dimana Bundamu?" El yang lelah tersesat dalam ucapan Arsya yang terus berputar sedari tadi, memilih untuk bertanya langsung. Bisa sampai tahun baru nanti kalau ia menunggu Arsya bicara.

__ADS_1


Kedua bersaudara itu saling menatap lagi. El sudah menghela nafas kasar. Luna yang mendengarnya, merasa ia harus mengucapkannya segera, sebelum El kehilangan kesabaran.


"Bunda pergi dari rumah, tak tau kemana..."


"Hah?" El sedikit kaget mendengar itu. Pergi dari rumah dan meninggalkan anaknya dalam keadaan seperti ini? Apa dia sudah gila?


"Semenjak dari rumah Alex, Bunda keluar rumah..." Arsya berhenti sesaat, ia meneliti wajah El, menerka apakah kakak iparnya ini akan merasa marah atau bersalah. Tapi, ia tidak bisa membacanya. Poker face El terlalu sulit diterka.


Pergi sebelum tau kalau anaknya sakit sepertinya El masih bisa menerima itu.


"Kamu tidak bisa menghubunginya?" tanya El. Arsya menjawabnya dengan gelengan.


"Apa ayahmu tidak berusaha mencarinya?" Ia bertanya sekali lagi.


Arsya terlihat serba salah sebelum menjawab. Ia meragu sesaat sebelum membuka mulut. "Ayah tidak melakukan apapun... Tidak bilang apapun..." Luna dan El terdiam mendengar jawaban Arsya. Di dalam otak mereka, sedang terkumpul seribu pertanyaan untuk cowok itu. Salah satunya adalah kenapa?


Arsya menggeleng pelan, yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang terlintas dalam benak pasangan itu. Luna dan El mengangguk, seolah mengerti kalau masalah ini memanglah bukan kapasitas Arsya sebagai anak, apalagi dia masih di bawah umur.


"Kami bingung... Tidak tau harus apa...." Arsya menghela nafas sesaat. "Tapi kurasa kak Arga dan kak Arka mencari Bunda, walaupun mereka tidak mengatakan apapun..."


"Aku cuma bisa bantu menjaga Arya..." Arsya memandang adiknya dengan tatapan sedih. Tugasnya memang hanya menjaga Arya saja, dan untuk hal itupun dia gagal.


El dan Luna saling pandang untuk kesekian kali. Rasa khawatir terpancar dari wajah Luna. Dia tak tega pada Arsya yang sudah berusaha, tapi dia juga sama tak teganya pada Arya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama ini? Apa adik-adiknya hidup dengan baik? Tanpa Bunda?


Luna menghela nafas perlahan, kemudian menarik nafas panjang. Dia mengulanginya sampai tiga kali. Dia akan bertanya lebih banyak.


"Lalu, waktu kamu sekolah, Arya sama siapa?" El mendahuluinya bertanya.


Baru satu pertanyaan dan sepertinya hati Luna tergores saat El mengucapkannya. Luna berpikir dalam diam, tanpa ibu, adiknya pasti terlantar. Apalagi Arya masih kecil. Ia masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang.


"Sama tetangga, kak. Menunggu di sana sampai kita pulang. Terkadang kalau dia sudah bosan, Arya pulang ke rumah terus menunggu sendirian. Dia bilang lebih suka seperti itu, dia bisa bebas menonton TV."


Dalam sedetik Luna mengalihkan pandangannya dari Arsya, mencoba menahan air mata yang mau menetes dari pelupuk matanya.


Luna sudah tau, kalau adik bungsunya itu memang anak yang paling pengertian. Dia anak yang tenang dan jarang merengek. Tapi tetap saja, dia kan masih anak-anak. Sikapnya terlalu dewasa untuk umurnya. Anak tujuh tahun menjaga rumah sendirian, itu pastinya bukanlah hal yang disarankan untuk dilakukan, sepintar apapun anak itu. Mereka masih butuh diasuh dan dibimbing, bukan belajar mandiri yang berlebihan seperti ini.


Arsya mengangguk. "Iya..."


Luna menggigit bibir, menutup mulutnya rapat. Dia tidak boleh menangis, lihat saja adiknya malah lebih tegar dari dirinya.


"Lalu siapa yang mengantar Arya sekolah?" El merasa kalau harusnya ia lebih perhatian pada adik-adik Luna. Kemarin ia cuma menyelesaikan masalah antar orang dewasa. Ia melupakan dampak yang terjadi pada anak-anak ini. Harusnya ia lebih peka.


"Ayah, kak..." jawab Arsya.


"Lalu siapa yang menjemput?"


"Dia pulang sendiri, kak..."


Pulang sendiri?! Anak sekecil ini apa tidak takut tersesat atau diculik?!


"Naik apa?"


"Jalan kaki, kak..." El hampir pingsan mendengar jawaban itu. Anak kecil, pulang sendiri, jalan kaki... Sepanjang jalan sendirian?! Dia mengurut dahinya yang tiba-tiba terasa pusing.


Ini tidak bisa lebih buruk lagi...


"Apa kamu yang memasak?" El melanjutkan pertanyaannya. Ia ingin tau, sampai ke hal yang paling sepele sekalipun.


"Tidak, kak... Ayah membelikan makan malam waktu pulang kerja..." Dahi El berkerut. Jawaban yang membuat kepalanya pening.


"Sarapan bagaimana?" Lanjutnya.


"Seringkali telat bangun, jadi tidak sarapan..." Arsya mengelus dagunya mencoba mengingat.


"Makan siang?" tanya El lagi.

__ADS_1


"Kita dikasih uang jajan, jadi makan siang di sekolah...."


Sekarang Luna mengerti kenapa adiknya bisa sampai seperti ini. "Kak, bisa tolong cari tau dimana Bunda?"


El mengangguk mengerti, dia segera menyuruh Kris untuk melakukan hal itu. Lelaki yang hari ini berpakaian hitam dari atas sampai ke bawah, cuma mengangguk sekali lalu pergi tanpa kata. Entah sejak kapan Kris ada di sana, Luna tidak sadar. Memang dasar Kris hantu.


El mengelus Luna perlahan. "Tenang saja, Bundamu pasti akan ditemukan..."


"Terima kasih, kak..."


"Sama-sama sayang..." El mengecup puncak kepala Luna. Arsya yang menyaksikan itu malah terlihat malu sendiri.


El sadar akan tindakan salah tingkah Arya, ia tersenyum sesaat sebelum akhirnya berucap. "Setelah ini, kamu tinggal saja di rumah bersama kami..."


Wajah Arsya bersinar cerah. "Benarkah, kak?" Ia bertanya tak percaya.


"Tentu saja benar..." El mengacak rambut Arsya sayang. "Akan selalu ada tempat untuk keluarga..."


Arsya menyambut senyum El yang hangat dengan anggukan bersemangat. "Makasih, kak..."


"Ya, sama-sama..." Sekarang ia beralih ke Luna. "Em... Sayang, aku agak lapar. Ayo kita beli makanan..."


"Hmph... Dasar..." Luna cemberut tapi tetap bangun dari duduknya dan berjalan ke pintu.


"Apa kamu mau titip sesuatu, Sya?" Melihat Arsya yang menggeleng, El segera menyusul Luna yang sudah berdiri di ambang pintu.


***


Belum sempurna El meletakkan bokongnya di atas kursi kantin rumah sakit, ponsel miliknya berbunyi.


📞 Ya, bagaimana?


📞 Kesana sekarang...


Luna kaget bukan main saat El memegang tangannya tiba-tiba dan menarik tangannya begitu saja, padahal dia sedang antri untuk membeli makanan. Hanya tinggal seorang lagi, lalu tibalah gilirannya. Tapi di saat sepenting itu, El malah menariknya keluar barisan.


"Ada apa sih, kak?" Luna bertanya kesal sambil mengikuti langkah El, setengah berlari.


"Cepatlah, kita tidak ada waktu..." El menarik tangan Luna untuk mempercepat langkah mereka. Suara derap langkah yang nyaring menghiasi lorong rumah sakit yang sepi itu.


"Kenapa sih, kak? Ada apa?" Luna terus saja mengoceh sepanjang jalan. Jelas dia penasaran karena ini pertama kali El menariknya seperti itu, lebih tepatnya seperti menyeret.


Dengan langkah terseok, akhirnya mereka tiba di lobby. Mobil El datang tak lama kemudian, mereka segera masuk dan duduk di dalamnya.


"Kita mau kemana, kak? Apa mau makan di luar? Harusnya kita ajak Arsya tadi..."


El tidak menggubris pertanyaan Luna. Di otaknya saat ini terngiang suara dari sang penelepon barusan.


"Kak, ada apa? Kenapa kayak ketakutan gitu?"


"Bundamu..." El ragu menjawab. Wajahnya terlihat sedih dan serba salah.


Tapi sayangnya Luna tidak fokus pada apa ekspresi wajah El. Dia cuma menggaris bawahi kata 'Bunda'. Wajah Luna berseri seketika. "Bunda sudah ketemu?" Luna bertepuk tangan senang di kursi penumpang yang ia duduki di sebelah El.


"Iya..."


"Dimana?" tanya Luna bersemangat. Ia sudah tidak sabar ingin mempertemukan Bunda dengan Arya. Arya pasti sangat senang kalau ketika bangun nanti ada Bunda di hadapannya.


"Di jembatan penyebrangan..."


"Ouh... oke..."


"Aku belum selesai Luna..." El mengalihkan wajah Luna ke arahnya.


"Bundamu, di jembatan penyebrangan, mau mencoba bunuh diri..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2