
Luna bingung saat El menggendongnya, tapi dia tidak protes dan malah melingkarkan tangannya di leher El.
El menurunkan Luna lalu membukakan pintu mobil. "Masuk."
Luna seperti tersihir dengan kata-kata El, dia langsung masuk dan duduk manis di sana. Tangannya memegang erat tali tas selempangnya yang juga berwarna hitam. Luna tampak cemas menghadapi apa yang akan terjadi nanti, kalau sekarang saja El sudah emosi begini, apalagi nanti!
El masuk ke kursi kemudi di sebelahnya lalu duduk diam disana. Luna mulai was-was dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Apa dia akan diceramahi?
Terdengar helaan nafas kemudian El menyalakan mesin mobilnya dan mereka melaju pergi.
***
Hari masih terlalu pagi saat mereka tiba di mall. Beberapa toko bahkan belum dibuka. Luna akhirnya mengajak El makan es krim dulu di restoran cepat saji yang ada di lantai dasar.
El ikut mengantri di samping Luna, tidak membiarkan dia sendirian.
"Kakak duduk aja, gapapa, nanti aku yang bayar." El tidak menjawab tapi hanya balas menatap Luna. Luna langsung ciut.
Luna memesan satu es krim vanila yang disiram saus cokelat lengkap dengan wafel. Dia bingung harus memesan untuk El atau tidak. Dari tadi El cuma bilang satu kata, 'hem'. Entah itu termasuk kata atau bukan.
"Kakak mau?" Luna memotong sedikit wafel dan menyisipkan es krim di atasnya lalu menawarkannya ke El.
El menyambut garpu plastik itu.
"Enak kan?" Luna mengharapkan jawaban. El cuma mengangguk pelan. "Senyum dong!"
El akhirnya ikut tersenyum melihat Luna yang tersenyum lebar. "Manis, kayak kamu."
__ADS_1
Wajah Luna langsung bersemu merah.
Setelah mereka menghabiskan es krim itu, El menarik Luna masuk ke dalam sebuah toko baju ternama yang tampak mahal. Langkah mereka terhenti di depan etalase topi. El mengambil sebuah topi hitam dan memakaikannya ke Luna. Dia beralih ke etalase kacamata hitam di sebelahnya dan memakaikannya juga ke Luna. Setelahnya, dia mengambil syal berwarna putih kemudian melingkarkannya di leher Luna. "Tutupi wajahmu, kamu terlalu cantik. Nanti banyak yang gangguin kamu."
Entah kenapa Luna merasa senang. Dia mengambil topi hitam yang sama kemudian memakaikannya ke El, begitu juga dengan kaca mata hitam dan syal putihnya. "Kakak juga ganteng banget hari ini. Nanti banyak yang lihatin."
Mereka kemudian memandang penampilan mereka di cermin, lalu terpingkal sendiri. Tampilan mereka seperti penjahat tapi juga berlebihan, sebut saja mereka penjahat yang norak.
"Aneh banget, kak." Luna meletakkan kembali semua barang di tempatnya semula, begitu juga dengan El. "Aku punya cara yang lebih bagus." Luna menggenggam tangan El kemudian mengangkatnya, menunjukkan pada El. "Gini aja gimana?"
El tersenyum senang. "Oke, boleh juga."
Luna dan El kemudian berkeliling keluar masuk toko, saat El bertanya apa Luna mau membeli sesuatu, Luna cuma menjawab sambil berbisik. "Engga, aku cuma mau lihat aja, kak," sambil tersenyum lebar.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka sudah diikuti oleh lima orang. Jessika, Tyo, Arga, Arka dan Arsya. Bagaimana bisa mereka tidak sadar kalau diikuti? Tentu saja tidak, kan dunia milik mereka saja.
Arga mengeluarkan lembar kertas yang ditulis Arsya tadi malam, hasil rapat PPL mereka. Kertas yang berisikan kriteria lelaki baik. Arga masih mengingat isi kertas tersebut tanpa melihatnya.
Kriteria pacar untuk kak Luna:
dari Arsya:
Penyayang
Lembut
Seagama
__ADS_1
dari Arka:
Ganteng
Kaya
Tidak pelit
(menurut Arka percuma kalau kaya tapi pelit)
dari Arga:
Jujur
Setia
Bisa menyayangi kak Luna lebih dari kita
Apa om bisa penuhin semua kriteria itu?
__ADS_1
Bersambung..