
"Hai, Luna!" Alex tiba-tiba muncul di depan meja Luna saat jam pergantian pelajaran.
"Ngapain Lo?" Luna menjawab ketus.
"Mau nengokin aja." Alex berucap manis.
"Gue ga sakit, sana pergi." Luna mengusir Alex sambil mengibaskan tangannya.
"Elo ga ada kerjaan, ya! Udah ada guru, tuh!" Alex yang mendengar Jessika ikut nimbrung bicara, langsung menatapnya tajam.
*****... Serem banget...
"Pergi sana. Balik ke kelas elo!" Luna membentak yang kemudian disambut dengan senyum ganteng milik Alex.
Apa-apaan Tuh! Beda banget mukanya pas liat gue!
Jessika terus mengomel dalam hati. Luna memang lebih cantik, lebih imut, lebih manis, tapi baru kali ini ada orang yang sikapnya berubah sedrastis itu.
"Hai, Luna!" Alex menyapa lagi saat Jessika dan Luna izin ke toilet. Ternyata Alex pergi saat ada guru aja, sekarang dia sudah muncul lagi.
Ni anak ga masuk kelas apa gimana?
"Pulang bareng yuk, nanti." Alex mengikuti Luna dan Jessika sampai ke depan pintu toilet.
"Gak!" Luna membanting pintu.
"Kok sombong banget, sih?" Alex mengekor lagi saat Luna dan Jessika sudah keluar dari toilet.
"...." Luna mengacuhkannya dan terus berjalan masuk ke kelasnya.
"Hai, Luna!" Alex menyapa lagi saat bel istirahat siang berbunyi.
ASTAGA!!!!
Luna sudah mulai nyebut-nyebut dalam hati.
"Elo mau ke kantin ga? Bareng yuk! Nanti gue traktir, deh..." Alex duduk di kursi di depan Luna. Biasanya Tiara dan Reina yang mejeng disitu. Sekarang mereka malah tersisih dan cuma menatap iba dari sisi meja Luna.
Luna mengacuhkan Alex kemudian menarik tangan Reina, "yuk." Mereka berempat pun pergi ke kantin, dengan Alex masih mengikuti.
"Tadi gue tanya, elo ga jawab. Ternyata malah ke kantin juga." Alex mencibir.
Luna kemudian duduk di meja panjang kantin. Alex langsung duduk di hadapannya. Dia tersenyum lebar. Tapi Luna tidak begitu.
Luna menganggap Alex tak kasat mata, tidak terlihat dan tidak terdengar. Pokoknya saat ini, tidak ada makhluk apa pun di depan Luna, selain angin yang berhembus.
"Lun," Alex mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Luna. "Kok, elo cuekin gue terus, sih!" Alex cemberut lucu. Cewek-cewek yang dari tadi hanya berniat lewat, terpesona dengan ekspresi manja Alex yang tidak pernah ditunjukkannya pada siapapun. Mereka langsung berjalan dengan gerakan super lambat. Sambil sesekali menoleh dan mencuri pandang.
"Elo mau makan apa? Biar gue yang pesenin." Alex masih tersenyum manis di depan Luna.
Luna mengabaikannya dan menitip pesanan kepada Tiara, seperti Jessika dan Reina.
Alex mengiba pada Luna. "Kok elo gitu, sih. Kan gue udah nawarin dari tadi."
Luna mengambil earphone dan menyumpal telinganya.
Dia lebih berisik daripada Jessika!
"Nanti pulang bareng, yuk." Alex masih tak menyerah. Sementara Jessika dan Reina hanya diam menonton saja. Alex memang bersikap manis pada Luna, tapi hanya pada Luna. Saat itu bukan Luna, mukanya langsung berubah menyeramkan. Jadi, demi keamanan bersama, lebih baik mereka tidak ikut campur.
"Lunaaaa..." Alex memanggil-manggil Luna.
"Kenapa elo?" Tyo muncul dari belakang Alex. "Elo kesambet?"
"Yo," Luna tersenyum senang saat melihat Tyo datang. "Tolong urus mantan temen elo nih, dia gangguin gue terus. Sakit kuping gue dengernya. Dia lebih bawel dari Jessika."
__ADS_1
"Elo ngapain?" Tyo mengerutkan dahinya melihat Alex. "Elo gangguin Luna?"
"Diem ya, mantan teman. Gue ga gangguin cewek elo, jadi ga usah ikut campur!"
Sakit nih orang.
"Elo gangguin temen gue!" Tyo mendecak kesal.
"Elo mau ngajak berantem?" Alex sudah berdiri, mensejajarkan dirinya dengan Tyo.
"Alex!" Luna berteriak kesal. "Ga pakai berantem bisa gak?!"
"Oke. Anything for you..." Alex duduk manis kembali. Tyo melongo melihat perubahan sikap Alex.
Luna menyerah, dia memakai earphone lagi. Tak lama, pesanan datang dan Luna segera menikmati makanannya.
"Lun," Alex memanggilnya lagi. Luna mendengarnya, tapi dia tidak menggubris.
"Lunaaaa~" Alex merengek manja, mencoba menarik perhatian Luna. Bakso di mulut Tyo sampai keluar lagi dan jatuh tepat ke mangkuknya.
"Jorok!" Jessika memekik terkena cipratan kuah bakso. "Mingkem, Ay!" Dia menutup mulut Tyo yang menganga.
"Lex, elo mabok?" Tyo mengerjap tak percaya.
"Minta nomor elo dong, Lun." Alex mengambil ponsel Luna yang tergeletak di meja.
PLAK!
Luna memukul tangan Alex yang hendak meraih ponselnya. "Jangan coba-coba sentuh barang gue!" Luna menatap tak senang.
"Oke, tapi nanti balik bareng gue, ya!"
Emoh.
"Gaaakkkk!!" Luna mendorong muka Alex menjauh. "Jangan deket-deket! Gue tonjok lagi, nih!" Luna sudah mengepalkan tangannya.
Alex tersenyum senang. "Boleh, elo mau yang kiri atau yang kanan?" Alex menunjukkan pipi kiri dan kanannya.
"Arggggghhhh!" Luna mengerang frustasi. Dia menjambak rambutnya kesal.
"Sabar, Lun." Jessika menepuk bahunya pelan.
Gue ga bisa diginiin.
"Gue lapor guru lagi, ya."
"Elo mau laporin apa? Gue sama sekali ga berantem." Alex tersenyum licik.
Sial.
Luna memutar otaknya. Apalagi alasan yang bisa membuat Alex menyingkir dari hadapannya.
"Balik kelas, yuk...." Luna akhirnya memohon pada Jessika dan teman-temannya untuk segera menyelesaikan makanan mereka dan pergi dari sana.
"Alex, ngapain kamu disini?" Angel datang menghampiri Alex. Luna hampir menangis kegirangan.
"Cepet bawa cowok elo dari sini! Yang jauh!" Luna akhirnya bisa bebas juga dari makhluk aneh ini.
"Elo godain cowok gue?!" Angel malah murka ke Luna.
"Maaf ya. Gue ga pernah godain cowok elo. Gue kan barusan nyuruh elo bawa dia pergi ya. Cepet bawa dia pergi," Luna gemas pada Angel yang bukannya cepat membawa cowoknya pergi malah menatap dia terus-terusan.
PYAS!
Angel menyiram Luna dengan air jeruk milik Jessika yang ada di mejanya.
__ADS_1
Melihat itu, Alex langsung menarik Angel pergi.
"Lun, elo gapapa?" Jessika menyingkap rambut Luna yang basah dengan hati-hati, mencoba melihat wajah Luna yang tak berani ia tebak sudah seperti apa.
"Aaaaaaaaaa!" Luna berteriak kesal. Dia langsung berdiri dan berjalan pergi. Jessika dan yang lain langsung menyusulnya.
Mereka saat ini sudah ada di toilet perempuan. Tyo sudah kembali ke kelasnya. Dan Tiara baru saja kembali dari kelas setelah mengambil tissu miliknya. Mereka membantu Luna mengeringkan rambut dan membersihkan bajunya.
"Elo mau pakai cardigan gue?" Jessika membawanya karena ia selalu pulang pergi dengan Tyo naik motor.
"Engga usah." Luna menggeleng. "Nanti malah ribet ditanyain guru. Lagian ini cuma kelihatan sedikit, kok." Luna menunjuk seragamnya di bagian bahu yang terdapat noda berwarna kuning.
"Ya udah, tutupin pakai rambut elo aja." Reina menyampirkan rambut Luna ke sebelah kanan, ke tempat noda tersebut berada.
"Udah gapapa santai aja. Palingan juga kalau ditanya guru, gue tinggal bilang ketumpahan minuman." Mereka mengangguk setuju.
Setelah beberapa jam belajar, akhirnya sekolah selesai. Luna bersyukur karena ia tidak melihat batang hidung Alex lagi. Luna mengecek ponselnya.
✉️ Kakak udah di parkiran.
Iya, kak.
Luna tersenyum sesaat. "Gue duluan ya, udah ditungguin. Bye..."
"Sama siapa? Si om?" Jessika buru-buru bertanya. Luna cuma mengangguk dan langsung pergi.
Tapi sialnya, ternyata dia bertemu Alex lagi.
"Lun, pulang bareng yuk!" Alex mencegat Luna di tempat parkir.
"Engga! Urusin aja cewek elo. Gue udah dijemput. Bay!" Luna melihat mobil El yang terparkir lalu langsung masuk ke dalamnya.
"Hai, kak." Luna menyapa El yang hari ini terlihat tampan memakai kemeja warna abu-abu tua.
"Hai, Luna." El mengelus kepala Luna sesaat yang membuat Luna tersenyum senang, tapi senyumnya segera hilang saat melihat Alex berdiri tepat di depannya.
Kampret.
Luna meletakkan tasnya di jok mobil lalu segera membuka pintu keluar.
"Elo ngapain disini?!" Luna memekik kesal. "Gue mau balik, cepet minggir!"
"Enggak! Elo pulang bareng gue dulu!"
"Pulang bareng cewek elo sana!" Luna berteriak frustasi. Alex tidak bergeming. "Pergi gak," Luna melepaskan sebelah sepatunya.
Alex mundur, tidak menyangka Luna berniat melemparkan sepatunya. "Pergi gak, gue sambit, nih." Luna sudah mengambil ancang-ancang.
"Lempar aja, gue gak takut." Alex malah berniat menangkap sepatu Luna.
PLAK!
Sebuah sepatu mendarat di badan Alex, mengotori bajunya.
Beneran dilempar! Alex tertawa geli.
Dia menjauh memungut sepatu Luna. Luna langsung kabur masuk ke dalam mobil El.
"Kak, jalan kak. Buruan!" Luna menggoyangkan badan El tak sabar.
"Luna, sepatu elo!" Alex berteriak saat mobil El sudah berjalan. Dia mengejar mobil El.
Luna membuka jendela mobil. "Pergi sana! Ga usah kembaliin! Ambil aja dua-duanya, nih!" Luna melemparkan sebelah sepatunya lagi, membuat Alex memungutnya dan mobil El berhasil menjauh.
Bersambung...
__ADS_1