Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 13


__ADS_3

Chapter 13: Perasaan


"Kau tidak bisa memilih akan jatuh cinta dengan siapa, tapi kau bisa memilih akan melanjutkannya atau tidak." -Luna-


Dua hari yang lalu...


"Kak Arga kemana?" tanya Arsya yang baru saja masuk ke kamar setelah menyelesaikan urusannya di toilet. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi hanya ada Arka di dalam kamar.


Arka menoleh sebentar dari ponselnya. "Paling di kamar kak Luna lagi," jawab Arka.


"Ngintip, ah." Arsya mengendap-endap ke kamar Luna dan mengintip dari balik pintu.


"Kalian gak usah ngintip-ngintip!" seruan Arga mengagetkan Arsya.


Kalian?


Ternyata Arka ada di belakangnya. "Kakak mau tidur disini lagi?" tanya Arka.


Sejak kapan dia disana?


"Berisik, tidur sana," jawab Arga. Dia menutup pintu rapat dan menguncinya, tidak membiarkan adik-adiknya masuk.


Arga membaringkan tubuhnya di ranjang Luna. Dia membenamkan wajahnya ke bantal, menghirup banyak-banyak aroma kakaknya yang tersisa disana. Ah, mungkin dia memang sudah gila tapi dia sangat menyukai bau ini.


Arga mengelus sebuah boneka sapi kecil berwarna putih yang ada di sampingnya. Boneka milik Luna darinya, hadiah pertama dan satu-satunya karena ulang tahun Luna memang tidak pernah dirayakan. Entahlah jika dirayakan sebelum dia lahir, tapi setelah dia bisa mengingat, Luna dan pesta, tidak pernah terjadi.


Arga mencium sapi itu dengan penuh rasa rindu. Dia terus membelai boneka itu dengan pikiran yang sudah melayang jauh ke masa kecil mereka.


"Kakak ga dapat es krim?" Arga kecil bertanya pada Luna yang sedang menggandengnya. Bunda berjalan di depan mereka, menggendong Arsya dengan sebelah tangannya dan menuntun Arka di tangan satunya lagi.


"Kenapa tadi ga minta sama Bunda?" tanya Arga yang masih penasaran.


"Kakak kan sudah besar, kakak ga suka es krim," jawab Luna sambil tersenyum.


Arga mengangguk. "Kalau cokelat suka?" tanyanya.


Luna terdiam.


"Teman sekolah aku suka kasih aku cokelat. Nanti aku kasih kakak," ucap Arga. "Teman perempuan aku suka memberikan banyak makanan."

__ADS_1


"Wah, adik kakak banyak yang suka ya..." Luna tersenyum lalu mengelus kepala Arga. "Tapi itu kan dikasih buat Arga, jadi Arga yang harus habisin. Kalau enggak, nanti dia sedih."


"Kenapa?" tanya Arga tak mengerti.


"Karena Arga spesial buat dia. Kakak ga mau ambil hadiah yang dikasih ke orang spesial dengan sepenuh hati," jawab Luna.


"Ya sudah, nanti kalau aku sudah besar aku akan kasih kakak cokelat yang banyak, spesial dari aku," ucap Arga tersenyum menunjukkan giginya yang berderet rapi.


"Wah, terima kasih..." ucap Luna. "Tapi kamu ga usah kasih kakak, simpanlah buatmu. Nanti juga ada yang kasih kakak..."


"Siapa?" tanya Arga.


"Pangeran yang---


Arga lupa bagian itu. Pangeran yang seperti apa? Tapi walaupun ia lupa, ia selalu berusaha menjadi seperti pangeran yang Luna inginkan. Lihatlah sekarang, dia sudah sesempurna ini, tampan dan begitu disukai.


Arga bangun dan terduduk di tepi tempat tidur. Setelahnya ia lalu berjalan ke meja belajar dan melihat buku Luna satu persatu. Arga menatap kosong tulisan Luna yang tersusun rapi di dalam buku catatannya, menyentuhnya pelan, meraba lembaran kertas tak rata yang telah ditulis Luna. Dulu Luna yang mengajari menulis, menggambar, sampai naik sepeda. Jangan tanya apa yang dilakukan Bunda, beliau sibuk dengan dua adiknya yang lebih kecil.


Setelah puas di meja belajar Luna, Arga membuka lemari pakaian Luna dan mengambil sebuah baju disana. Dia kembali ke tempat tidur dan berbaring dengan baju itu menutupi wajahnya.


Apakah ia salah kalau ingin memiliki Luna untuk dirinya? Sejak Arga tau apa itu menyayangi, bayangan Luna lah yang selalu muncul di benaknya. Ini mungkin salah, tapi ini kenyataan.


Saat akan terbawa ke alam mimpi, Arga mendengar suara dari luar kamar. Dia melirik layar ponselnya, jam 1 dini hari.


Arga bisa mendengar suara Bunda samar-samar. Ia berjalan ke arah pintu, menajamkan telinganya. Tapi karena suara yang terdengar sangat pelan, Arga mencoba membuka pintu perlahan tanpa membuat suara. Ia ingin mendengar lebih jelas dan lebih banyak.


"Kalau Ayah dipecat bagaimana?" Bunda membuat suara tertahan. "Kita masih punya empat anak lain, lepaskan saja yang satu itu."


Arga tau yang dimaksud Bunda, pasti itu adalah Luna.


"Apa maksud Bunda lepaskan? Bunda sama sekali tidak sayang Luna?" tanya Ayah.


"Di umur Ayah yang sekarang, tidak mungkin mendapat pekerjaan!" Bunda mulai tidak sabar. "Ayah mau kita mati kelaparan?"


"Tidak akan sampai seperti itu," ucap Ayah mencoba menenangkan Bunda.


"Ayah tidak dengar apa yang dibilang perempuan itu? Kita tidak akan menang melawan orang seperti mereka!" suara Bunda terdengar semakin keras, dia sudah terbawa emosi. "Berhentilah mengkhawatirkannya! Dia bahkan bukan anakmu!"


Ucapan Bunda membuat Arga membuka pintunya lebar-lebar. "Apa yang barusan Bunda bilang?"

__ADS_1


***


"Pak," Kris menghampiri El yang masih sibuk mengecek surat elektronik di kursi meja kerjanya. Jam 9 pagi, waktu untuk Kris melapor pada Arga setiap harinya.


"Kenapa? Katakan saja..." El masih mengetikkan beberapa kata di tab yang ia pegang.


Kris terdiam. El meliriknya sejenak, melihat bahwa Kris menatap Reza tak nyaman.


"Abaikan saja dia," ucap El santai. Reza yang tau bahwa yang dimaksud adalah dirinya melengos kesal.


"Bapak yakin?" tanya Kris. El mengangguk cepat.


"Saya sudah menemukan pelakunya. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Kris pelan.


El tampak kesal. "Kenapa kau tanya lagi? Bukannya aku sudah pernah bilang?! Kau mau aku mengulangnya?!!"


Kris terdiam sejenak.


"Buat dia menyesal, patahkan kaki dan tangannya agar dia jera. Apapun, asal dia jangan sampai mati karena dia harus minta maaf," ucap El. Suasana hatinya sedang buruk karena ia harus kerja terus-terusan tanpa istirahat, dan tidak bertemu dengan Luna membuatnya jadi temperamen.


Reza bergidik mendengarnya. Sebenarnya apa yang terjadi. Apa yang dilakukan orang itu sampai El berkata demikian. Reza mulai takut karena ia sering mengancam El. Ternyata bosnya itu sangat mengerikan.


"Tapi Pak," Kris masih menyelanya. "Bapak perlu tau siapa orangnya," ucapnya pelan.


"Siapa sih?!" El mendecak kesal. "Apa dia orang yang sepenting itu sampai aku harus tau namanya!" serunya.


El meletakkan tabnya tidak senang. Sekarang ia menatap Kris lekat. "Ya sudah, cepat bilang siapa," ucap El. Dia berusaha waras karena ini masih pagi, apalagi ada Reza disana.


"Arga..." jawab Kris.


BRAK!


Tab yang ada di atas meja sudah hancur berkeping-keping, tangan El sudah mengeluarkan darah.


Reza langsung terlonjak kaget. Dia berusaha mendekati El. "Sabar, Pak..." ucapnya.


El menatapnya tajam. "Kenapa harus sabar?" suaranya sudah sedingin es sekarang.


"Mu-mungkin ada alasan atau hal yang belum bapak ketahui?" Reza berusaha meyakinkan El, walaupun ia tidak tau masalah sebenarnya.

__ADS_1


El tertawa sinis. "KATAKAN PADAKU, APA KAU PERNAH BERNIAT MEMPERKOSA ADIKMU SENDIRI?!"


Bersambung


__ADS_2