Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 3. Chapter 5


__ADS_3

Chapter 5: Kerumunan orang iri


"Sahabatmu adalah orang yang tertawa paling keras saat kau terjatuh..." -Luna-


"Mau makan apa kita?" tanya Luna ke arah teman-temannya. Oh, ia sungguh sangat senang hari ini. Satu hari penuh, hanya melakukan aktivitas menyenangkan. Kalau dulu, mungkin ia tidak pernah bermimpi untuk bisa jalan-jalan dengan uang unlimited, tapi sekarang ia sudah bisa menerima kenyataan yang seperti mimpi itu.


"Restoran paling mahal di sini apa?" tanya Reina polos.


"Mantep enggak tuh, restoran paling mahal.. Bukan main..." Tiara tertawa sampai perutnya sakit. Untuk sekali ini, Reina bertindak tidak biasa.


"Sushi, sushi!" pekik Jessika keras, membuat Luna menutup telinganya. Ia tidak ingin telinganya sakit.


"Tidyack!" bantah Tiara tak kalah keras. "Sushi itu enggak enak. Bikin gatal di tenggorokan. Mahal pula, porsinya pun sedikit. Cuma sesuap doang."


"Elah, kalau mau banyak sama kenyang, ke warteg aja!" balas Jessika tak mau kalah.


"Dah lah, pusing gue denger kalian!" Luna beralih ke Reina, yang walaupun sudah menjadi lebih bar-bar, tetapi masih tetap menjadi yang paling kalem di antara mereka semua. "Elo mau apa, Rei?" Luna menatap Reina menunggu jawaban.


Reina mengusap dagunya sesaat, tampak berpikir. Jujur saja, ia sendiri belum pernah mampir ke mall ini. Sepertinya tempat ini masuk ke dalam jajaran elit pusat perbelanjaan. Dia bisa saja sebenarnya main-main ke sini, tapi kalau ada yang murah kenapa harus yang mahal, ya kan?


"Coba keliling aja dulu yuk, atau liat map-nya dulu. Gue belum pernah ke sini." Reina berkeliling mencari petunjuk yang ia maksud.


Dengan bantuan Kai, tak sampai lima menit, mereka sudah bisa melihat daftar store yang ada di dalam mall berlantai tiga ini.


"Hmm.. Gue pingin masakan Jepang, dong!" Jessika masih belum menyerah. Ia menunjuk-nunjuk nama restoran yang ada di map yang terukir indah di depannya. Map mall ini berbentuk sebuah tugu dari marmer berwarna hitam setinggi dada orang dewasa. Dan mereka berempat, berkerumun mengelilinginya sambil berteriak dan memekik layaknya orang norak pada umumnya.

__ADS_1


"Gue mau nyoba cita rasa Korea, deh..." ujar Tiara sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jari di depan mulutnya, membentuk ungkapan enak.


"Gue mau coba yang All You Can Eat, jadi kita bisa makan puas di sana," mata Reina masih menjelajahi ukiran berwarna emas di hadapannya, mencari tempat yang sesuai untuk mereka. Selama beberapa detik setelahnya, terdengar hanya keheningan yang membuat Reina curiga. Ia pun akhirnya menoleh melihat teman-temannya.


"Terbaik...!" seru Luna, Jessika dan Tiara hampir bersamaan sambil menepuk-nepuk pundak Reina senang. Dasar memang tukang makan mereka semua.


Sementara, tak jauh dari mereka, tampak Kai yang sesekali secara diam-diam mengambil foto-foto mereka dan tersenyum sendiri. Ia sedang mengirim laporan kepada atasannya. Entah kenapa setiap ia melakukan itu, ia kadang suka kagum sendiri dengan istri bos besarnya itu, tidak cantik, tidak anggun, tapi sangat hidup. Pasti akan selalu menyenangkan untuk bisa bersamanya setiap hari.


"Ya udah, yuk, kita langsung." Jessika tanpa ragu menggaet lengan Luna di sebelah kanan dan lengan Tiara di sebelah kiri. "Elo jalan duluan, Rei. Gue percaya kalau misalnya elo yang membimbing kita, enggak kayak dua bocah ini."


"Elah. Awas elo ya, telepon-telepon gue lagi, gue reject!!!" gerutu Tiara kesal.


"Biar aja, enggak gue bayarin dia nanti..." susul Luna kalem.


"IHHHHHH....!!!! GELI BANGET TAU ENGGAK???!!!"


***


"Ambil aja semuanya, ambil..." bisik Jessika di telinga Reina. Mereka sedang memilih daging untuk dipanggang di meja mereka. Sebuah restoran korea All You Can Eat sudah dipilih, dan sekarang, mereka sedang sibuk memilih makanan.


Tangan Jessika sudah penuh dengan berbagai jenis makanan yang akan masuk ke dalam hot pot mereka. Sementara di tangan Tiara penuh dengan bungkus Ramyeon. Dia sangat antusias ingin mencoba semua rasa yang tersedia. Luna sendiri sibuk membawa saus yang akan mereka pakai nanti. Sedangkan Reina, menghabiskan waktu paling banyak memilih daging. Sampai sekarang, ia belum selesai. Alhasil, terpaksa Jessika ikutan nimbrung sambil membisikkan kalimat-kalimat godaan ke telinga gadis itu. Tapi yang ada, Reina bukannya tergoda, malahan geli yang ia rasa.


"Iya-iya..." Reina menyerah dengan gelitikan di telinganya. Ia akhirnya mengambil masing-masing satu jenis, dan membiarkan Tiara dan Luna membantunya. Bahkan Kai juga ikut membawa tumpukan piring, karena mereka mengambil begitu banyak!


Tadinya, Luna setengah memaksa saat mengajak Kai untuk makan bersama mereka. Beberapa kali pria itu menolak, sampai akhirnya ia menyerah saat bilang kalau mereka belum pernah ke tempat semacam ini sebelumnya, dan membutuhkan bantuan seorang master. Dan sepertinya, itu adalah keputusan terbaik, karena hampir saja Jessika memanggang bakso ikan yang harusnya masuk ke dalam hot pot.

__ADS_1


"Gue baru tau kalau daging rasanya seenak ini..." kedua bola mata Tiara berbinar saat menyantap beberapa potong daging yang dipanggang sempurna oleh Kai.


Percayalah, saat lelaki berjas hitam itu tengah memasak, aroma daging sudah membuat keempat perempuan yang menonton hampir meneteskan liur. Jessika malah mendadak menjadi pendiam karena mulutnya sibuk mengunyah, sementara Luna dan Reina sibuk memuji dalam hati, tidak ingin mempermalukan diri mereka lebih jauh lagi. Semua itu karena beberapa menit lalu, mereka memekik kegirangan saat mencoba daging panggang untuk pertama kalinya. Memalukan memang, tapi yang namanya pengalaman pertama kali pasti seperti itu. Menyenangkan, memalukan tapi tak pernah terlupakan.


***


"G*la, perut gue rasanya mau meledak..." Jessika berjalan pelan. Langkahnya tertatih layaknya wanita hamil dengan perut yang membesar, tapi kali ini bukan karena janin, melainkan karena makanan. Luar biasa.


"Sama..." Luna menyusul berjalan pelan di belakang Jessika. "Pelan-pelan aja deh, tokonya udah dekat." Mereka semua mengangguk setuju.


Setibanya di sebuah toko yang direkomendasikan Kai, mereka duduk manis di sebuah sofa panjang. Mereka bahkan tidak tau ada dimana sekarang, itu semua karena mereka sudah begitu kekenyangan sampai-sampai tidak bisa berpikir lagi.


"Bawakan beberapa coat untuk ukuran nona ini..." Kai berucap sopan saat meminta pegawai di sana memberikan baju terbaik mereka.


Luna menurut saat diminta mencoba beberapa baju, teman-temannya sesekali mengangguk saat mereka melihat setelan yang cocok di badan Luna. Sampai saat satu baju itu dipakai oleh Luna, semua mata langsung tertuju padanya.


"Beli itu, Lun!" pekik Jessika seketika. Ia tidak bisa menahannya lagi. Coat berwarna pink lembut dengan panjang sepaha yang dikenakan Luna sangat cantik.


"Iya, itu bagus banget..." ujar Reina menyusul. "Terlihat manis..." Luna sampai tersipu mendengarnya. Ia mengamati kembali coat yang sederhana itu, bahannya halus dan sangat hangat, desainnya juga tidak berlebihan. Tidak ada rumbai-rumbai atau bunga-bunga, hanya beberapa kancing besar berwarna senada di bagian depan coat, membuatnya terkesan elegan dan manis di saat yang sama.


Melihat senyum mengembang di bibir Luna, Kai mengerti. Segera ia meminta pegawai itu untuk mengemasnya, kemudian dengan sopan, Kai meminta Luna memberikan kartu El agar dia bisa membantu proses pembayaran. Luna mengangguk saja, lalu menyerahkannya semuanya pada Kai.


Tapi, satu hal yang Luna tidak tau, kalau Kai membelikan semua setelan yang Luna sukai. Ia diberikan tugas oleh El, untuk membelikan barang, yang saat Luna mencobanya, membuat perempuan itu tersenyum. Kai yakin setelah ini, bagasi mobil yang mereka kendarai tidak akan cukup menampung semua belanjaan itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2