Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 35


__ADS_3

Chapter 35: Money for Love


"Salahkah kalau aku mau dicintai?" -Luna-


"Dia bilang seperti itu?" El bertanya tak percaya.


"Iya, dia bilang dia butuh duit." Alex mengangkat bahunya. Memang seperti itu yang ia tahu. "Gue cuma bantuin dia aja," jawab Alex, lagi-lagi dengan santai.


El berpikir sejenak, dia benar-benar harus menanyakan hal ini pada Luna, tapi tidak sekarang.


"Kalau begitu, tolong terus bantu dia." El ingin Luna mendapatkan apa yang ia inginkan. Kalau ia ingin menyanyi, El akan membuat Luna bisa naik ke panggung. Apapun itu untuk gadisnya.


"Enggak perlu elo suruh, gue juga pasti bantuin Luna." Alex menatap El langsung sekarang, membuat yang ditatap merasakan kejanggalan.


"Jangan bilang..." El tidak ingin melanjutkan kalimatnya.


Alex tersenyum sinis. Dia tau apa yang mau diucapkan El, dan itu sama persis dengan apa yang ingin dia katakan. "Kenapa? Takut ya?" tanya Alex. "Takut karena gue lebih baik dari elo? Luna lebih cocok sama gue, kan?"


El menarik baju Alex kasar, membuat jarak diantara mereka hilang dalam sekejap. Ditatapnya Alex dengan mata penuh amarah. "Luna milik saya. Kemarin, hari ini, besok, selamanya."


Terdengar kekehan kecil dari mulut Alex. "Santai, om." Ucapan Alex entah mengapa terdengar menyebalkan di telinga El.


"Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja, kamu tidak akan selamat." Ancaman El malah membuat Alex terbahak.


"Kalau gue mau udah dari kemarin!" Alex meledek El telak. "Kita cuma berdua di sini selama ini, asal elo tau..." Tanpa takut, Alex balik menantang El. Diletakkannya kedua tangannya di atas tangan El kemudian dia mencengkramnya erat. Suasana berubah mencekam. Tidak ada suara, hanya deru nafas berisi amarah.


"Kalian ngapain?!" Luna yang baru saja membuka pintu kaget melihat El dan Alex yang sangat dekat sambil berpegangan tangan di depan dada. Ah, matanya tercemar.


"Lepas!" Luna menarik paksa genggaman Alex. Ditatapnya Alex tajam. "Elo mau rebut laki gue, hah?!"


Alex mengibaskan tangannya, berdecak kesal. Luna sudah gila. "Elo kebanyakan nonton film sensor ya? Otak elo miring kayaknya," sindir Alex.


"Diem Lo!" Luna menarik El ke belakang punggungnya. "Dia punya gue, elo cari aja yang lain!"


Alex memutar bola matanya jengah, ia memutuskan untuk duduk saja dan lanjut melihat video lagi.


Merasa keadaan sudah aman, Luna mengajak El duduk di kursi jauh dari Alex. Dia memberikan sebotol minuman pada El. "Nih, minum kak," ucapnya. "Kakak engga diapa-apain kan barusan?" tanya Luna.


El tersenyum kecut. Imajinasi istrinya luar biasa. Mungkin harusnya bukan menjadi penyanyi, tapi penulis saja. "Enggak apa-apa, sayang..." El menjawab sambil sengaja membelai kepala Luna, mencoba membuat sudut di sebelah sana cemburu. Namun, Alex tampak tidak perduli.


"Oh, bentar." Luna menghampiri Alex dan memberikan botol yang lain untuk temannya. "Nih," ucapnya.

__ADS_1


"Thanks." Alex menyambutnya.


"Gimana? Udah belum? Masih lama? Gue mau balik boleh?" Luna memberikan sederet pertanyaan, membuat Alex menatapnya kesal.


"Elo nanya apa ngerampok? Banyakan sekaligus?" Diteguknya minuman dari Luna.


"Sorry," jawab Luna. "Udah malem soalnya, gue laper. Mau balik."


"Ya udah. Besok aja kesini lagi, pagi ya." Alex menjawab sesuai keinginan Luna.


"Terus duit gue mana?" Luna menanyakan tujuan utamanya datang ke tempat ini.


"Ck!" Alex merogoh saku celananya. "Nih!" Diberikannya satu lembar uang berwarna merah di atas tangan Luna yang menadah.


"Kok cuma satu?" tanya Luna sedih. Dia berharap mendapatkan banyak lembaran. Seratus kalau perlu.


"Emang segitu!" jawab Alex. "Kurang?" tanyanya.


"Iya lah, gue pingin yang banyak!" Luna mendengus.


"Bisa...." ucap Alex. "Tapi live, elo sanggup?" tanyanya.


Luna terkejut sesaat. Live? Ditonton langsung banyak orang gitu maksudnya?


Tentu saja uang. Apapun untuk uang. Hahaha.


"Boleh," jawab Luna.


"Oke, besok malam. Nanti gue chat." Alex melihat ke belakang Luna, ada El. "Udah sana pergi. Tuh, laki elo," tunjuknya.


Luna menoleh dan memang benar ada El di sana. "Yuk, kak..." Ia melangkah lebih dulu keluar.


El terdiam sesaat sebelum menyusul Luna. Mulutnya belum mengucap apapun tapi Luna sudah menariknya.


"Kakak! Jangan dekat-dekat sama dia..." Ditariknya tangan El oleh Luna menuju ke pintu keluar. Alhasil, El cuma bisa memberikan kode ke Alex. Dia menunjuk kedua matanya dengan jari tengah dan telunjuk kemudian menunjuk Alex setelahnya, memberi tahu kalau ia akan selalu mengawasinya.


***


"Luna, kakak mau tanya sesuatu." El menaikkan selimut sampai ke leher Luna. Semenjak kejadian kado ulang tahun, Luna mulai terbiasa tidur di samping El.


"Apa kak?" tanya Luna.

__ADS_1


"Apa uang yang selama ini kakak kasih ke kamu kurang?" tanya El.


Luna menjadi salah tingkah, ia melarikan matanya ke segala arah. "Cu-cu-cukup, kok..." Dimainkannya kedua jarinya saat menjawab.


"Apa mau kakak tambah?" tanya El. El mentransfer sejumlah uang setiap bulannya ke rekening untuk Luna. Seingatnya, dia sudah memberikan kartu debitnya pada Luna.


"Jangan! Itu sudah cukup, kak!" Pekikan Luna membuat El tambah curiga.


"Lalu kenapa Alex bilang kalau kamu butuh uang? Untuk apa?" El belum mau berburuk sangka pada Luna. Tapi tampaknya, Luna kehabisan jawaban untuk menghindar.


"Apa kamu mau jujur?" El mencoba membujuk.


"Kakak jawab pertanyaan aku dulu," ucap Luna.


"Oke." El mengalah.


"Kenapa nama kakak Langit?" tanya Luna.


"Karena waktu melahirkan kakak, mami melihat langit malam yang cerah." jawab El. Itu yang maminya bilang.


"Kalau begitu, kak En dan kak An? Siapa nama lengkap mereka? Apa itu cuma nama panggilan seperti punya kakak?" tanya Luna lagi.


"En untuk Senja. Kak En lahir saat matahari terbenam. An untuk Awan. Kak An lahir saat cuaca cerah dengan awan putih seperti kapas yang melayang." El menjawab setiap pertanyaan Luna dengan sabar. Walaupun ia tau Luna cuma mengalihkan pembicaraan saja.


"Kenapa kakak dipanggil El? Bukan Lang, untuk Langit?" tanya Luna lagi.


"Entahlah, kamu bisa tanya sama mami." El mengelus pipi istrinya, membuat Luna memejamkan mata.


"Jadi, apa jawabannya? Jangan bilang kamu ngantuk sekarang..." El menagih jawaban pada Luna.


"Kakak sayang sama mami, kan?" Ditatapnya El lekat, membuat El yakin bahwa Luna memang ingin tau.


"Tentu saja. Kenapa kamu bertanya hal yang sudah jelas?" El mencubit pipi Luna gemas.


"Aku juga sayang sama Bunda," ucap Luna.


El sedang berusaha menarik benang merah antara jawaban Luna dengan hal yang ia tanyakan. "Maksud kamu apa sayang?" tanya El.


"Aku kasih kartu kakak ke Bunda," jawab Luna. Ia menarik nafas sebentar. "Karena aku sayang sama Bunda," sambungnya.


"Kamu bilang apa barusan Luna? Jelaskan." El meminta jawaban lebih detail. Dia memasang telinganya dengan baik kali ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2