Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
36. Kencan (5)


__ADS_3

"Kak El," Luna berseru senang saat melihat El muncul.


El menghampiri Luna dengan dua potong handuk di tangannya. Satu handuk dia gunakan untuk menutup kepala Luna dan satunya lagi dipakaikan di bahu Luna.


"Siapa dia, El?" mami menunjuk Luna.


"Mami, ini Luna."


Setelah tau itu adalah ibunya El, Luna langsung bangkit dan menyalami mami. Karena sedikit oleng, El membantunya.


"Nama saya Luna Putri, Bu." Luna menunduk malu dan tegang. " Maaf, saya tiba-tiba datang..."


"Mami El langsung tersenyum mengerti. "Oooohhhhh,,, ini yang namanya Luna..." Mami langsung duduk di sebelah Luna.


"Mami nanti aja tanyanya. Biarin Luna mandi dulu, dia kedinginan. Lukanya juga belum diobatin." El menunjuk lutut dan dahi Luna.


"Oh iya, iya." Mami baru saja sadar akan luka-luka Luna. Dia pun menahan keinginannya untuk bertanya lebih lanjut.


"Lun, mandi dulu ya." El berlutut dan mencoba membuka sepatu Luna.


"Eh, eh, ga usah, kak." Luna sangat malu, apalagi dilihat oleh maminya El.


"Udahhh.. Udah dibuka ini." El selesai melepas sepatu Luna, lalu berdiri lagi.


"Yuk, kakak anterin ke kamar mandi." El membantu Luna berdiri. "Nanti kakak kasih kamu baju ganti yang lain."


"Iya, kak. Makasih." Luna berpegangan pada El dan mulai berjalan. "Kakak juga mandi. Nanti kakak sakit. Kakak harus kerja besok, kan? Kalau ga masuk, nanti kakak dihukum loh..."


Emang anak sekolahan... Aku sih bebas bebas mau masuk atau engga**.


"Iyaaaa... Hati-hati ya, bisa sendiri kan?" Luna mengangguk.

__ADS_1


Setelah Luna masuk ke kamar mandi, El langsung menghampiri maminya. "Mami, pinjem baju dong... Buat Luna..." El tersenyum merayu. "Yang bagus ya mi..."


"He emmmm...." Mami segera menuju kamarnya, lalu El juga masuk ke kamarnya sendiri untuk mandi dan mengganti baju.


Entah bagaimana El membersihkan diri, tapi dia sudah selesai dan menunggu bahkan sebelum Luna keluar dari kamar mandi.


Luna keluar dengan dress selutut berwarna pastel.



Cantik...


El terkesima saat melihat Luna mengenakan dress yang dipilihkan mami. El beralih ke mami dan menunjukkan jempol.


"Bajunya cocok buat kamu, sayang.." ucap mami sambil menggandeng tangan Luna.


"Makasih, Bu..."


"Kakak obati luka kamu." El menunjukkan obat, kapas, serta plester di tangannya. El berlutut lagi.


"Engga usah, kak. Sini aku aja," Luna malu karena diawasi mami El terus.


"Udah diem..." El sudah mengoleskan obat ke lutut Luna, membuat ia meringis perih. Setelahnya El menempelkan plester.


"Sabar yaaa..." El beralih ke luka di telapak tangan Luna. Dia mengoleskan obat lagi dan menempel plester.


"Oke, yang terakhir." El beralih ke luka di dahi Luna. "Jangan melototin, tutup mata." Luna langsung memejamkan matanya.


Yang ini cuma luka gores kecil.


El mengobati luka Luna dan sesaat memandang wajah cantik di depannya.

__ADS_1


"EHM!!" Mami sengaja berdeham keras.


Luna yang kaget langsung membuka matanya.


"Udah selesai." El menyimpan obatnya dan duduk di sebelah kiri Luna.


"El, kamu ambilin minuman sama camilan buat Luna di dapur, sana." Mami sengaja mengusir El. Dia ingin menginterogasi Luna.


"Kenapa ga suruh--"


"Cepet, El..." El mengalah dan melangkah pergi.


Luna mendapat firasat tidak enak saat mami El berpindah duduk mendekatinya.


"Luna, kamu masih sekolah?"


"Iya Bu," Luna menjawab sopan.


"Kamu kelas berapa?"


"Kelas 12."


"Umur kamu berapa?"


"Delapan belas.."


"Oh, ga terlalu jauh sama El ya, umur El masih dua puluh lima..."


Serius?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2