
Chapter 41: Pasangan
"Pasangan berarti dua hati yang saling tertaut..." -Luna-
"Lah, si Luna kemana?" Tyo bertanya heran saat mereka melangkah keluar bioskop. Mereka masuk ke dalam bertujuh, saat keluar tinggal berlima.
"Alex juga ikutan hilang. Mereka barengan gitu?" sambung Jessika.
"Mereka kemana, Rei?" tanya Jessika. Reina-lah yang yang duduk paling dekat dengan dua bocah itu, seingat Jessika.
"Gue tidur tadi... Ahhahahahaha..." Reina tertawa geli. "Sorry," ucapnya.
"Film horor gitu elo bisa tidur..." Tyo memutar matanya. Cewek aneh.
Mending gue tidur daripada liatin kalian pacaran, ya. Reina memaki dalam hati. Pedih hati gue...
"Terus si Luna kemana ini?! Si Alex juga enggak keliatan?" Tanya Jessika, kembali ke sumber masalah.
"Waw, jangan-jangan mereka mojok," celetuk Tiara.
"Ngaco!" Jessika mendorong wajah Tiara kesal. "Elo mau digilas sama si Om?" ancamnya.
"Eh, jangan dong. Gue diem. Gue anak manis. Gue cinta damai." Tiara nyengir lebar, menaikkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Telepon buru, ay. Kalau engga ada kabar, pulang yuk." Tyo menggandeng lengan Jessika menyuruhnya duduk. Mereka sudah mendapatkan kursi kosong. Jessika, Tiara dan Reina duduk di sana.
📞 Elo dimana?
Jessika langsung bertanya tanpa intro. Dia tidak perlu menggunakan kata halo untuk Luna.
📞 Sorry, gue balik duluan. Kak El datang.
📞 Heleh, Bucin! Elo tinggalin kita demi dia?!
📞 Si Kambing, denger dulu!
📞 Apaan?! Bagian mana lagi yang belum jelas, hah?!
📞 Kak El datang terus berantem sama Alex.
📞 Berantem kenapa coba?
Mulai lagi si Drama Queen ini, batinnya.
📞 Alex ada?
Luna tidak ingin menjawab pertanyaan Jessika. Dia lebih khawatir dengan temannya itu. Walaupun nyebelin, dia yang sudah membantu Luna saat dia miskin.
📞 Kagak ada Alex. Bukannya sama elo?
📞 Tolong cariin dia ya, entar kabarin gu---
__ADS_1
Tut. Telepon terputus.
Jessika memaki kesal.
"Dimana Luna?" tanya Tyo.
"Dia dijemput sama si Om. Kita disuruh cari Alex." Jessika memajukan bibirnya cemberut.
"Ja elah!" Tiara mendecak kesal. Diikuti helaan nafas panjang dari semua orang di sana.
"Kamu ada nomor Alex, ay?" tanya Jessika pada Tyo.
"Mana ada? Aku enggak simpan nomor mantan teman. Tidak ada manfaatnya," jawab Tyo sinis.
"Yang lain ada yang punya, enggak?" Jessika memandang berkeliling. Berharap ada yang memberikan jawaban pada pertanyaannya. Tapi semua orang menggeleng.
"Jadi gimana?" tanya Tiara. Ia menggerakkan kakinya kesal.
"Balik aja, lah. Dia udah gede, ini. Pasti tau jalan pulang..." Jessika bangkit dari kursi. "Sambil kita keliling, kalau ada syukur kalau enggak ada ya udah gimana lagi..."
"Yuk..." Reina ikut berdiri dan berjalan di samping Jessika, mengekor menuju pintu keluar bersama teman-temannya yang lain.
Setelah dua puluh menit mereka memutari gedung bertingkat ini, kaca transparan pembatas otomatis sudah menanti di depan mereka.
"Kita udah kelilingi nih, mal. Kagak ada muka Alex dimana pun," keluh Tiara. Kakinya sudah terasa pegal.
"Iya, nih. Gue juga capek." Jessika menyahut. "Pulang aja, yuk..."
Tiara orang yang paling bahagia mendengar ajakan itu. "Kuy!" Ia langsung menggandeng Sandi. Jessika sampai tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka Tiara segitu kebeletnya ingin pulang.
"Bah, gercep amat dia!" Jessika menggerutu pelan sambil melihat sosok Sandi dan Tiara sampai menghilang di kejauhan.
"Elo mau balik gak?" tanya Jessika pada Reina.
"Iya lah, gue mau balik. Ogah gue tinggal di sini." Reina menaikkan bahunya tak suka.
"Dijemput apa gimana?" tanya Tyo.
"Gue minta jemput Arga," jawab Reina.
"Ya udah, kita tungguin. Cari tempat duduk, yuk." Jessika sudah menarik tangan Reina, tapi Reina menahannya.
"Enggak usah, kalian duluan aja. Bentar lagi juga nyampe," tolak Reina.
"Bener, nih...?" tanya Jessika menyelidik.
"Iya, ya udah. Pergi sana." Reina mendorong Tyo dan Jessika bersamaan. Mereka lalu mengangguk dan melambai padanya, ikut menghilang dari pandangan.
Reina duduk di kursi dekat eskalator. Sudah hampir dua jam dia di sana. Dipandanginya layar ponsel itu lesu. Sudah selama ini dan Arga belum juga menunjukkan batang hidungnya. Harusnya dia pulang saja tadi bersama teman-temannya yang lain. Bukannya sok-sokan menunggu.
Reina menetapkan hatinya untuk menekan tombol telepon. Ini sudah terlalu lama. Ponsel sudah menempel di telinga Reina. Terdengar nada sambung yang lama, sampai panggilan terputus tanpa jawaban. Reina mencoba menelepon lagi. Dia menunggu nada sambung tapi sayang masih tidak diangkat. Sampai percobaan yang kelima, muncul sebuah suara.
__ADS_1
📞 Halo, Arga?
📞 Iya kakak?
Tunggu dulu, kenapa Arga jadi bersikap selembut ini. Ada yang tidak beres dengannya.
📞 Kamu dimana?
📞 Hm? Di hatimu kak...
📞 Arga share lokasi kamu ya. Kakak tunggu.
📞 Siap, kakak cantik.
Reina menatap ponselnya tanpa berkedip. Ia menunggu. Kalau sampai lima menit belum ada pesan, dia akan menelepon lagi.
Senyumnya mengembang saat melihat notifikasi pesan masuk di ponselnya. Segera ia meraih tasnya dan melangkah pergi mencari kendaraan untuk sampai ke tempat yang diberitahukan Arga.
Reina terkejut saat ia sampai di sebuah warung jauh dalam gang terpencil. Tempat yang tampak mencurigakan dan berbahaya. Jalan sekitar sangat sepi, tapi dia yakin kalau ini tempatnya. Dia menghubungi Arga sekali lagi, langsung diangkat.
📞 Halo, Arga kamu dimana?
📞 Halo?
Reina mendapati suara asing di telinganya.
📞 Ini siapa? Dimana Arga?
📞 Ada, lagi terbang dia. Elo dimana?
📞 Gue di luar.
📞 Ya udah, jemput temen elo, nih. Gue mau pergi. Masuk aja, bilang ke tempat Kai.
Reina melotot kaget. Siapa itu? Batinnya. Tapi siapapun Kai, dia harus masuk.
Sesaat setelah dia masuk ke dalam, beberapa orang pria menatapnya, mengikuti arah kakinya melangkah.
Takuttttttt...!!!!!
Reina mati-matian menyembunyikan rasa takutnya. Ia berjalan sampai menemukan orang yang sepertinya adalah pemilik tempat itu kemudian menanyakan keberadaan Kai.
Setelah mendapatkan petunjuk dia sampai ke depan sebuah kamar, diketuknya pintu itu pelan.
"Teman Arga?" tanya cowok yang membukakan pintu. Reina mengangguk. Sepertinya cowok biasa. Dia menghela nafas lega.
"Gue mau pergi. Lama banget dia sadarnya. Gue ada urusan penting. Nanti elo titip aja kuncinya di orang warung depan." Pria itu pergi tanpa ragu, meninggalkan tempatnya begitu saja tanpa curiga. Reina sampai bingung dibuatnya.
Reina mencari sosok Arga. Dilihatnya Arga yang duduk sambil memejamkan mata. Reina tidak mengerti apa yang terjadi, Arga tampak sadar tapi juga tidak. Mabuk kah? Dia belum pernah melihat orang mabuk. Tapi tidak ada satu pun botol minuman di sini.
"Arga?" Reina menggoyangkan badan Arga. "Pulang yuk, bisa bangun enggak?"
__ADS_1
Arga membuka matanya sedikit. "Kak!" pekiknya senang. Arga langsung menciumi wajah Reina tanpa henti. "Aku tau kakak pasti lebih pilih aku daripada om sombong itu..."
Bersambung