Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 5


__ADS_3

Chapter 5: Alasan


"Cinta boleh membuatmu senang, tapi jangan membuatmu buta."


-Luna-


"Mpphh...!!!!!"


Bibir Luna tertutup rapat oleh bibir Arga. Luna menggerakkan badannya ke segala arah mencoba lepas dari adiknya yang menurutnya sudah gila itu.


DUAK!


Luna berhasil menendang Arga dengan lututnya sampai dia mundur sedikit. Luna langsung berbalik dan mencoba membuka kunci pintu. Salah! Ini sungguh salah! Harusnya dia tidak pernah mau bicara dalam ruang tertutup seperti ini! Walau itu dengan adiknya sekalipun!


Luna berhasil membuka pintunya dan segera berlari secepat yang ia bisa.


Sayang tangan Arga yang panjang bisa meraih kemeja seragamnya, menariknya dengan keras sampai salah satu kancing bajunya lepas dan terdengar suara sobekan disana.


Luna panik dan melihat sekeliling. Kenapa tidak ada seorang pun! Saat putus asa, dia melihat seseorang.


"Alex!" Luna berteriak sekuat tenaga. Teriakan Luna menggema di lorong yang sunyi itu. Masa bodoh kalau Alex cowok orang! Perduli setan kalau dia pacar Angel! Yang penting sekarang untuknya adalah pertolongan. Ruang OSIS terletak di ujung lorong sepi yang lumayan terpencil, jauh dari ruang kelas, hanya dikelilingi ruang-ruang laboratorium komputer yang sepi.


Alex menoleh dan langsung berlari ke arah Luna. Dia langsung mencengkram kuat pergelangan tangan Arga sampai Arga melepaskan genggamannya dari Luna.


Luna langsung berlindung di belakang Alex, nafasnya sudah terengah-engah.


Alex terus mencengkram Arga dengan kuat sampai Arga meringis kesakitan.


"Alex, udah." Luna memegang lengan Alex, dia tentu saja tidak ingin Arga terluka. Mendengar permintaan Luna, Alex melonggarkan tangannya sedikit.


"Elo ngapain?" tanya Alex dengan tatapan membunuh.


"Bukan urusan elo." Arga menepis tangan Alex. "Minggir, gue mau ngomong sama kak Luna."


"Dia gak mau ngomong sama elo." Alex menyembunyikan Luna dibalik badannya yang menjulang tinggi, menghalangi Luna dengan sempurna.


"Minggir!" Arga berteriak marah. Dia sudah seperti orang kesetanan. Luna sampai meringkuk ketakutan dengan hanya mendengar suaranya saja.


Tapi tidak dengan Alex baginya gertakan seperti itu bukan apa-apa. "Elo berisik. Elo mau orang-orang datang? Gue sih ga keberatan."

__ADS_1


Arga tidak menggubris peringatan Alex dan malah melayangkan tinjunya ke wajah Alex. Alex menangkapnya dengan mudah.


"Elo bukan level gue," ucap Alex memegang kepalan tangan Arga kuat. "Mending elo pergi sekarang atau gue bikin elo sekarat." Alex mendengus sombong. "Gue sih mau aja, tapi gue ga mau liat kakak elo ini nangisin elo di rumah sakit nanti."


Luna langsung berpindah ke depan Alex, melebarkan kedua tangannya, mencoba menghalangi Alex menyakiti adiknya. "Berhenti," ucapnya.


Selalu saja melindungi adiknya. Alex mendecak kesal.


Alex mendorong Luna ke sisi lalu memukul Arga telak, tepat di ulu hatinya. Arga langsung terduduk kesakitan.


"Arga!" Luna memekik kaget melihat adiknya yang tumbang seketika. Ia mengulurkan tangannya.


"Jangan!" ucapan Alex membuat tangan Luna terhenti. "Elo mau kayak tadi?" Alex sebenarnya tidak mau mengingatkan, tapi Luna tidak boleh berbuat lebih jauh lagi.


Pertanyaan Alex membuat otak Luna langsung menampilkan saat-saat ketakutannya. Ia langsung menarik tangannya dan berjalan mundur, menjauh.


"Ayo, pergi." Alex menarik tangan Luna menjauh, kemudian berjalan menuruni tangga.


***


Arga terduduk lemas meratapi kepergian Luna dan Alex. Dia merasa bodoh telah melakukan hal itu pada kakaknya. Apa dia baru saja menyakitinya?


"Arghhhh.....!!" Arga meneriakkan kegusarannya sambil memukul lantai di bawahnya.


Arga menjadi gelap mata saat mendengar percakapan orang tuanya tadi pagi.


Saat itu...


Seseorang mengetuk pintu rumah keluarganya pagi-pagi. Semua orang di dalam rumah kebetulan sudah bangun. Bunda yang sedang kewalahan menyiapkan sarapan, meminta Arga membukakan pintu.


"Permisi..." Seorang wanita berpakaian serba hitam tampak di depan Arga. Wanita itu kemudian membuka kacamata hitamnya. Dia menatap Arga sekilas. "Hai, orang tuamu ada?"


Arga melihat wanita di depannya dengan seksama, dari atas hingga bawah, kemudian ke atas lagi. Dia yakin tidak pernah melihat wanita ini, tapi entah kenapa wajahnya terasa tak asing.


Wanita itu menjetikkan jarinya di depan Arga, menyadarkannya. Arga terkesiap sebentar kemudian mengangguk.


"Ayah, Bunda, ada tamu." Arga berteriak ke dalam rumah. Ayah dan Bundanya langsung menuju ruang tamu setelah mendengarkan teriakan Arga.


"Siapa ya?" Bunda muncul lebih dulu kemudian disusul oleh Ayah.

__ADS_1


"Boleh saya duduk?" tanya sang wanita menunjuk sofa di sebelahnya.


"Iya silahkan," jawab Ayah seraya mengangguk.


Baik Ayah maupun Bunda merasa tidak mengenal orang di hadapan mereka. Tapi atas dasar norma kesopanan, mereka mempersilahkan wanita itu duduk.


"Perkenalkan saya, En." En mengulurkan tangannya untuk menjabat kedua orang tua Luna. Ayah dan Bunda tampak ragu. Mereka tetap tidak mengenal orang itu. "Saya En Rahardja, kakak El dan adik An."


Sekarang semua jelas. Ayah dan Bunda akhirnya menyambut tangan yang terulur itu.


Sebenarnya En agak sibuk untuk mengurus hal macam ini, tapi demi adiknya tersayang, dia rela melakukannya. Dia masih berpikir balasan apa yang ia akan minta pada El setelah tugasnya selesai.


"Ada apa ya?" Bunda bertanya penasaran.


En tersenyum, tapi rasanya malah terintimidasi. "Saya mau memberitahukan kalau hari Sabtu ini akan ada pesta pertunangan untuk El dan Luna. Kalian harus datang."


"APA?!" Ayah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pertunangan? Sejak kapan? Dan kenapa?


"Apa perlu saya ulang?" ucap En sambil tetap tersenyum. Walaupun En yakin kedua orang di depannya ini sudah mendengar apa yang ia katakan, ia cuma ingin memastikan mereka mengerti maksudnya dengan benar.


"Tidak perlu. Saya mendengarnya," ucap Ayah sambil mengangkat sebelah tangannya. "Tapi kenapa pertunangan? Kami tidak pernah mengijinkan Luna bertunangan."


Ayah tidak bisa menerima ini. Dia cuma punya satu putri. Putri yang baru keluar dari rumahnya sudah membuat dirinya cukup terpukul. Dan sekarang? Pertunangan untuk putrinya? Yang benar saja!


En bisa membaca pikiran Ayah, ia mulai tertawa kecil. "Oh, kalian akan mengijinkannya...." En mengeluarkan sebuah kartu undangan mewah berwarna biru gelap dengan tulisan berwarna perak. Malah bukan seperti kartu, benda itu sangat tebal dan terlihat mahal dengan pita perak bergaris emas yang menghiasnya.


"...karena kalian tidak punya pilihan! Silahkan datang sukarela kalau tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi...." En tersenyum lagi. Senyum yang membuat bulu kuduk merinding.


"Kalian pasti tidak mau dijemput paksa dan membuat keributan disini kan?" En menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut. "Atau kalian benar-benar mau mencoba melakukannya?" ucap En sambil menatap Ayah dan Bunda bergantian.


"Tapi saran saya sebaiknya jangan...." ucap En beranjak dari kursi. "Akan sangat menyakiti kalian. Dan saya juga tidak mau repot." En sudah berdiri tegak sekarang. "Bersikap baiklah, saya lebih suka yang seperti itu."


Melambaikan tangannya En pamit dan pergi menghilang di balik pintu.


Sekarang semua mata tertuju pada sebuah kotak segiempat di atas meja. Mengambilnya dengan satu tangan,, Ayah kemudian membuka undangan itu perlahan, tertulis jelas nama putrinya di sana.


El Rahardja & Luna Putri


Saturday, xx - xx - 2020

__ADS_1


07.00 p.m.


Bersambung


__ADS_2