
Di ruangannya, El sedang mondar-mandir gelisah. Sudah beberapa kali dikelilinginya ruangan ini tanpa arah. El kesal karena hari ini sudah hari kedua sejak bertemu Luna, dan cewek itu belum menghubunginya.
Tau gitu minta nomor telepon, bukan kasih kartu nama!
El masih merutuki kebodohannya. Kalau saja ia minta nomor telepon, pasti mereka sudah ketemuan sekarang. Tidak perlu bertemu, sekedar telepon atau berkirim pesan saja mungkin sudah cukup untuk El.
Apa ke rumahnya aja saja? Tapi rumahnya yang sebelah mana? Harusnya kemarin anterin sampai depan pintu.
El mengutuk kebodohannya sekali lagi. Kenapa dia bisa begitu lamban? Mengejar sesuatu yang jelas di depan mata saja sudah keteteran. Ia tidak bisa berpikir jernih kalau berhadapan dengan gadis imut itu.
Apa ke sekolahnya saja? Pulang sekolah jam berapa, sih?
"Kamu lagi apa El?" tanya mami. Ia masuk tanpa mengetuk pintu dan berjalan melewati El kemudian duduk di sofa yang ada di tengah ruangan. Diperhatikannya anaknya yang sedang berjalan memutar. Olahraga, kah? batinnya
Tak berapa lama, El berhenti lalu berdiri tegap layaknya setrika listrik yang sudah menyelesaikan tugasnya. Mami masih mengamati anaknya tanpa berkomentar. El tampak berpikir keras. Entah apa yang ada di dalam kepalanya.
"Mam, El pergi dulu ya," pamit El. Ia mengambil tasnya buru-buru lalu melangkah cepat menuju pintu keluar.
"Mau kemana?" seru mami dengan suara setengah berteriak.
"Sekolah!" El menjawab tak kalah kencang. Ia sudah menghilang dari pandangan.
Tertinggallah mami sendirian di dalam ruangan. Ia menggumam pelan. El daftar sekolah lagi?
***
Mobil El berhasil sampai di sekolah Luna tanpa hambatan apapun, ia tinggal mengikuti petunjuk peta online saja. Sangat mudah. El membuka pintu kecil sedan hitam miliknya. Ia keluar dan menutup pintunya kembali. Beberapa orang tampak melirik penasaran ke arah El yang tampak berbeda, ia masih mengenakan jas dan setelan kerjanya lengkap.
El melangkah mendekati penjaga yang memakai seragam putih hitam. "Pak, kelas 12 udah pulang belum ya?" Ia bertanya pada penjaga sekolah yang ada di dalam pos dekat gerbang.
Si penjaga sempat heran sebentar. Ia memperhatikan El dari atas hingga ke bawah. "Belum pada pulang, Pak. Nanti setengah jam lagi," jawabnya setelah mengecek jam berwarna hitam yang menempel di pergelangan tangan.
"Bapak mau jemput?" tanyanya memastikan. El mengangguk cepat. Ia melihat tampilan El sekali lagi, tampak rapi dan berkelas. Sedikit tidak percaya kalau niat El hanya menjemput saja. Walaupun memang ada beberapa siswa di sekolah ini yang berasal dari keluarga kaya, tapi ia belum pernah melihat ada murid yang dijemput oleh orang macam El. Aura kemakmurannya tidak bisa diabaikan.
"Iya, pak," jawab El. Diliriknya mobilnya yang memakan badan jalan, sepertinya mengganggu orang yang lewat.
"Pak, saya parkir disini enggak apa-apa?" tanyanya. Dia menunjukkan mobilnya yang terparkir di sisi jalan, satu-satunya akses masuk dan keluar sekolah.
Si penjaga melongok ke luar gerbang dan mendapati mobil El yang memang mengganggu. "Dimasukin aja ke dalam, Pak, mobilnya," ucapnya. Pak Rohim pun membuka pintu lebar. El masuk kembali ke dalam mobil dan parkir di dalam sekolah dengan bantuan Pak Rohim.
__ADS_1
Baru 5 menit berlalu dan El sudah mengetuk setir mobilnya bosan. Tadinya ia ingin menunggu di dalam mobil saja. Tapi nyatanya hatinya sudah menjerit tak sabaran. Dia pun memutuskan untuk keluar mobil dan menghampiri pos penjaga lagi.
Astaga! Panas banget di luar!
El kaget dengan sengatan matahari yang terik. Ia tidak merasakannya tadi karena baru sebentar. Tapi sekarang, wajah dan kepalanya serasa meleleh. Ini karena dirinya yang sudah terbiasa dengan penyejuk udara. El akhirnya membuka jasnya dan melemparkannya asal ke kursi penumpang. Terlalu panas.
"Masih lama ya pak?" El bertanya pada Pak Rohim yang tadi membukakan gerbang untuknya. Di sebelahnya ada satu orang penjaga lagi. Pak Somat.
"Yah, bentar lagi lah, Pak." jawab Pak Rohim. "Bapak mau jemput siapa?" Ia balik bertanya.
Sejenak El ragu mau mengatakan nya atau tidak. Memang dia bakal hapal semua nama murid gitu? batin El.
"Luna," akhirnya El mengatakannya. Siapa tahu bapak ini kenal.
"Luna Putri kelas 12, Pak?" Pak Somat tiba-tiba ikut nimbrung.
"Iya." El mengangguk. "Bapak kenal?" tanyanya.
"Kenal dong, Pak. Siapa yang enggak kenal sama Neng Luna." Pak Somat nyeletuk santai, membuat El menaikkan alisnya sedikit. Penasaran.
"Oya, Pak, mau ngopi?" Pak Rohim menawarkan.
"Kenal, Pak. Dia kan wakil ketua OSIS tahun lalu." Pak Somat menjelaskan.
Wah, keren.
El memuji dalam hati. Padahal dia tidak tahu kalau Luna cuma ikutan agar dia dapat pacar. Eh, ternyata dia malah kepilih jadi wakil ketua, untung aja bukan ketuanya. 😂
"Oh, yang cantik itu?" Pak Rohim baru menyadari Luna mana yang dimaksud.
Cantik dan imut.
El menggulung lengan bajunya karena cuaca makin panas. Dia juga mengelap peluh yang mulai menetes di dahinya.
"Iya, yang cantik itu, yang rambutnya panjang." Pak Somat melanjutkan. "Tapi, bapak siapa ya? Om nya?"
Enak saja om-om!
"Bapak siapanya?" Pak Somat bertanya lagi karena El belum menjawab.
__ADS_1
"Ahahaha..." El tertawa canggung. "Bukan Pak, saya bukan om nya."
Aku siapa?
Aku siapa?
Aku ga punya status!
Pak Rohim dan Pak Somat saling memandang.
"Saya kakaknya..." El pasrah karena cuma itu satu-satunya statusnya.
"Oh, pantesan Bapak ganteng juga. Adiknya Neng Luna juga ganteng..." Pak Somat melanjutkan ngobrolnya tanpa curiga.
"Iya, yang suka naik motor bareng, kan? Si Arga namanya. Dia sering nongkrong di depan pos, nungguin kakaknya," sahut Pak Rohim.
Mereka melanjutkan gosip mereka, sampai akhirnya bel berbunyi. Tak lama, murid-murid keluar berhamburan.
El memfokuskan matanya mencari-cari sosok Luna.
Mana sih? Kok dari tadi belum keliatan juga? Udah pulang gitu?
El masih sibuk mencari-cari Luna dan tidak memperdulikan sekitarnya sudah dikerubungi siswi perempuan.
Pak Rohim dan Pak Somat melewati kerumunan dengan mudah. Mereka membantu mencari Luna. "Itu Luna, tuh," tunjuk Pak Rohim.
"Neng Luna!" Pak Somat berteriak memanggil Luna.
Luna menoleh dan menghampiri Pak Somat yang memanggilnya sambil membawa jus mangga yang lagi-lagi ditraktir Jessika tadi. "Kenapa Pak?" tanyanya tanpa curiga.
"Itu, Neng Luna udah dijemput dari tadi, tuh..." Pak Somat menunjuk ke kerumunan siswi yang makin ramai. Dahi Luna berkerut sebentar. Apakah Ayahnya menjemputnya? Kalau Bunda rasanya tidak mungkin.
El melewati kerumunan. "Luna!" Dia berteriak senang dan melambai ke arah Luna.
"KAK EL?!"
Jus Mangga jatuh tak berdaya.
Bersambung...
__ADS_1