
Luna tersentak dengan teriakan bunda yang tiba-tiba. Dia langsung keluar kamar.
"Kamu habis berantem sama siapa?!" Bunda masih memekik marah.
Luna melihat Arga di depan Bunda. Mukanya sudah ga karuan. Memar sana-sini dan ujung bibirnya tampak sobek.
"Arka, Arsya, kalian tau kan?" Bunda meminta jawaban, tapi Arka dan Arsya hanya saling menatap.
"Mereka ga tau, Bun. Tadi Arga ketemu orang nyebelin di jalan, jadi berantem." Arga menatap Luna.
Tunggu. Kenapa dia natap gue begitu? Jangan bilang----
Luna langsung menghilang ke kamarnya. Dia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan.
Kak El, lagi sibuk?
✉️ Enggak, Lun.
Kakak lagi dimana?
✉️ Di kamar.
Bener lagi ga ngapa-ngapain?
✉️ Iya. Lagi senggang. Kenapa?
Luna menekan tombol video call.
Dia harus ngangkat telepon gue, kalau dugaan gue bener, Arga berantem sama kak El.
Panggilan gagal.
Ck, ah! Ga diangkat lagi.
Luna mengirimkan pesan.
__ADS_1
Kak, kenapa ga diangkat? Katanya lagi di rumah dan senggang. Kakak ga mau angkat telepon aku?
Dibaca. Luna langsung menekan tombol video call lagi.
Kak El ga bisa ngeles sekarang, gue lebih pintar dalam hal beginian.
Panggilan tidak dijawab lagi. Luna menekan tombol telepon lagi dan lagi.
***
"Mi!" El berlari menghampiri mami secepat yang ia bisa.
"Apa El?" El mengecilkan volume TV dan menunjukkan ponselnya ke mami.
"Mi, tolong angkat, mi. Bilang aja El lagi ke kamar mandi, gitu."
Mami mengambil ponsel El dan menjawab teleponnya. "Hai, Luna." Mami melambaikan tangannya ke kamera.
"Halo, Bu." Luna tampak terkejut. Dia tidak menyangka mami El yang akan menjawabnya. "Maaf Bu, kak El nya ada?"
Luna menutup mulutnya. Dugaannya benar. Dia bisa melihat wajah El yang tak jauh berbeda dengan wajah Arga. "Maaf Bu, bisa kasih teleponnya ke kak El?'
"Oke." Mami menyerahkan ponselnya ke El yang mematung. "Jujur aja, kan El ganteng..." mami langsung pergi ke kamarnya.
"Hai, Luna." El mencoba tersenyum.
"Kak El kenapa muka kakak begitu? Kakak berantem sama adik aku, kan? Kakak berantem sama Arga?" El cuma bisa mengalihkan matanya mencoba memandang apa pun yang bisa ia pandang.
"...."
Setelah menunggu beberapa lama dan El masih tidak mau menjawab.
"Kakak mau jawab atau aku tutup teleponnya?" Luna mencoba menahan amarahnya.
"Iya, Lun."
__ADS_1
Air mata Luna langsung menetes.
Tuh kan...
"Maaf ya, kak..." Luna langsung menangis deras dan sesenggukan. "Aku minta maaf karena adik aku..."
"Gapapa, Luna..." El mencoba menenangkan Luna. "Bukan salah kamu."
"Ta-ta-tapi itu adik aku..." Luna masih menutup mulutnya. "Mereka keterlaluan. Aku seharusnya bisa cegah mereka ngelakuin itu. Ga seharusnya kayak gitu. Kalau aja aku bisa jadi kakak yang lebih baik, mereka pasti--
"Hentikan, Luna!" El sudah mengetahui kemana arah pembicaraan ini. "Kamu ga perlu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan adik kamu! Mereka sudah besar, mereka bisa tanggung jawab sendiri!"
Luna menutup teleponnya.
"Lun, Luna..."
Ah, kenapa malah ditutup sih!!!!
El kembali ke kamarnya dan mencoba mengirimkan pesan.
Luna, maaf.
✉️ Aku yang salah kak, maaf.
El mencoba menelepon Luna lagi. Tidak diangkat. Dia mencoba lagi dan lagi, dan semuanya ditolak.
Luna, angkat telepon kakak ya, please..
El menunggu balasan.
✉️ Maaf kak.
Jangan minta maaf terus!
Bersambung...
__ADS_1