
Luna duduk di kursi dekat eskalator, "Capek, kak."
"Iya, sama. Kakak juga capek lihat kamu muter-muter aja tanpa beli apa pun."
Luna tertawa geli mendengar keluhan El. "Ga harus beli kan, lihat aja dulu. Nanti kalau punya uang baru dibeli."
Luna lalu mengecek ponselnya. Ada pesan dari Reina dan Tiara, mereka sudah ada di tempat janjian. Setelahnya Luna mengirim pesan kepada Jessika, menanyakan dimana keberadaannya dan adik-adiknya.
✉️ Otw, lantai atas. Bentar lagi sampai.
Oke, bentar lagi gue kesana. Siapin.
Luna menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Kemudian berdoa dalam hati semoga hari ini tidak terjadi keributan, atau paling tidak, tidak ada yang terluka.
"Kak,"
"Apa Luna?" El menoleh sambil tersenyum. Dia tampak senang.
"Ada teman-teman aku disini. Kita bareng mereka, yuk." El terkejut sebentar. Dia pikir hari ini akan menjadi kencannya hanya berdua saja dengan Luna, tapi ternyata tidak begitu.
"Kakak ga suka?" Luna tampak kecewa.
"Engga. Ga apa, kok." El mengelus kepala Luna pelan.
"Ada juga yang aku mau kasih tau ke kakak..." El semakin penasaran dengan maksud Luna. Tapi sebelum El sempat bertanya, Luna sudah mengajaknya berdiri menuju tempat mereka janjian.
__ADS_1
***
"Jessika!"
Jessika langsung menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Disana dia melihat Reina melambai. Jessika mendekat ke arah mereka.
Tunggu, kenapa banyak banget orangnya? Gue pikir cuma Reina sama Tiara!
Jessika menatap Tyo, sementara Tyo cuma menaikkan alisnya tak mengerti.
Jessika akhirnya menatap Reina seolah minta penjelasan. "Oh, sorry, ini kakak gue, terus ini adik gue--
"Rayya?" Arka bertanya, tidak yakin dengan sosok di depannya. Sosok seorang cewek tomboy yang sekelas dengannya, sekaligus partnernya dalam grup saat bermain game di ponsel.
"Arka? Ngapain Lo disini?" yang ditanya, tak kalah kaget.
Rayya melirik Jessika. "Itu kakak elo? Yang elo bilang cantik banget itu?"
Entah kenapa Jessika merasa sebal. Sorry ya, gue emang ga seimut Luna, tapi gue lebih tinggi, tau!
Arka langsung menutup mulut Rayya. "Bukan, ini kak Jessika temannya kakak gue juga." Arka kemudian berbisik ke Rayya, "mulut elo jangan asal jeblak gitu, napa?"
"Iya, sorry." Rayya beralih ke Jessika. "Maaf kak, saya ga bermaksud gitu. Soalnya Arka sering cerita tentang kakaknya yang katanya imut dan menggemaskan, saya pikir dia lebay."
"Ehm!" Jessika berdeham pelan sebelum duduk di kursi. "Maaf ya kalau saya ga imut dan menggemaskan, tapi saya bukan Luna."
__ADS_1
"Sorry Jess, adek gue kadang rese." Reina melotot ke Rayya.
"Maaf kak, tapi kakak juga cantik, kok. Tinggi lagi." Jessika langsung tersenyum simpul.
"Oh iya, Tiara datang sama cowoknya-
Belum selesai Reina bicara, sudah dipotong oleh Tyo. "Eh, elo Sandi kan?" Tyo baru menyadarinya orang di depannya.
"Oh, yang waktu itu tanding futsal bareng?" Sandi menjabat tangan Tyo. "Elo sekelas sama cewek gue?" Sandi melirik Tiara.
Tyo termasuk orang yang mudah bergaul. Saat itu, dia tanding futsal dengan sekolah sebelah, sekolahnya Sandi dan mereka sempat berkenalan.
"Engga," Tyo menggeleng. "Dia sekelasnya ama cewek gue," Tyo menunjuk Jessika dengan ibu jarinya.
Oke, sudah cukup basa-basinya. Sekarang Jessika harus menyusun meja dan kursi agar saat Luna dan si om itu datang, mereka bisa mendapat tempat duduk.
Baru saja dia hendak menggeser kursinya, Tyo sudah memanggil Luna.
"Lun, disini!" Tyo melambai ke arah Luna.
Luna mengeratkan genggamannya ke tangan El, kemudian mengajak El mendekat.
Tapi saat El, mendekat, dia melihat seseorang yang dikenalnya, "Reza?"
"Pak El?"
__ADS_1
Iya, dunia sesempit itu.
Bersambung...