
Setelah beberapa menit kejadian menyerbu Tyo dengan tissu, mobil kak El tiba dan Luna langsung melambai pergi pada teman-temannya.
"Kak," Luna mencoba memulai pembicaraan.
"Hm?" El masih fokus ke jalan.
"Kakak hari ini ga kerja?"
"Udah selesai. Kenapa?"
"Kakak masih marah sama aku?"
"Kakak ga pernah marah sama Luna." El menoleh sebentar kemudian tersenyum.
"Kak, aku ngeribetin kakak gak?"
"Engga, kan tadi kakak yang bilang mau jemput kamu."
Oke, sip. Kayaknya suasana hati kak El lumayan oke. Gue tinggal cari tempat dan waktu yang tepat.
"Kakak ga mau kemana dulu gitu? Kakak ga laper?"
"Kenapa? kamu laper?"
"Emmm.. Engga juga sih,"
Luna kebingungan mencari tempat yang tepat, yang tidak dilihat banyak orang, yang memungkinkan. Ah, dia pasti sudah gila karena ingin mencoba saran dari Tyo.
"Oh iya, hari Minggu ini kakak sibuk ga?"
"Kenapa?"
"Kakak mau pergi sama aku ga?"
"Boleh..."
Ini si Tyo pasti salah, nih. Orang kak El kalem gini, mananya yang suka banget, hah?? Kalau dia suka banget sama gue, paling engga senyum kek, ketawa kek, loncat-loncat kalau perlu.
"Mau kemana?" El bertanya sambil memegang setirnya erat. Mencoba menahan diri untuk tidak menyambar Luna ke dalam pelukannya. Dia harus menyetir sekarang.
__ADS_1
"Ke mal mentari. Nanti aku t-t-traktir," Luna susah payah mengucap kata traktir di saat dompetnya sudah sama tipis dengan bungkus gorengan.
"Tapi aku yang pilih makanannya." Luna melanjutkan. Dia tidak mau berujung menggadai KTP nya atau disuruh cuci piring.
"Gapapa, nanti kakak yang traktir..."
YESSSSSS...!!!
"Seneng kan kamu..." El mengusap kepala Luna.
Hohohoho... Gue seneng bangettt, apalagi nanti bawa pasukan banyak...
Tiba-tiba El memarkirkan mobilnya di restoran cepat saji yang ada di sisi jalan.
"Yuk, turun. Katanya kamu mau makan?"
Luna terdiam.
Restoran ini terbuka banget, pakai kaca semua. Pasti langsung keliatan kalau ngapa-ngapain.
"....."
"Kak, bisa kita ke tempat yang lebih tertutup? Yang agak privasi gitu?"
Tangan El langsung bergetar hebat kemudian menatap Luna tidak percaya.
Tempat tertutup?? Lebih privasi??
Luna yang menyadari tingkah El langsung menutupi mukanya yang merah padam.
"Aaaaaaaaaaaaaa... Enggak, bukan gitu maksud aku. Ya udah kita makan disini aja yuk!" Luna langsung turun dari mobil dan berlari cepat ke dalam restoran.
"Luna!" El berteriak memanggil Luna yang tiba-tiba pergi.
Aduh! Malu-maluin banget sih! Kak El pasti ngira gue punya pikiran aneh-aneh. Ini gara-gara Tyo yang meracuni otak gue.
"Tunggu!" El menarik tangan Luna. Luna yang kaget seketika menabrak dada El yang baru ia sadari, ternyata, sebidang itu.
"Gapapa?" El meneliti wajah Luna yang tadi bertubrukan dengan badannya.
__ADS_1
"Gapapa." Luna mengusap hidungnya.
"Kamu kenapa lari? Bukannya kaki kamu masih sakit?" El menunjuk kaki Luna yang sudah tidak diperban lagi.
"Oh iya, lupa." Luna cuma nyengir.
"Dasar."
Luna dan El akhirnya masuk dan memesan makanan. Luna sengaja memilih tempat duduk paling pojok. Luna pun duduk di depan El.
Dia sudah mendapatkan tempat yang tepat. Sekarang, dia cuma butuh waktu yang tepat.
Luna menghabiskan makanannya cepat. Dia sedang menoleh kanan kiri memeriksa keadaan sekitar. Dia cuma punya waktu sedikit lagi sampai kak El menghabiskan makanannya.
"Kamu kenapa Lun?" El menghentikan makannya sesaat. "Mau pulang sekarang?"
"Enggak!" Pekikan Luna membuat El kaget. "Ah, enggak, maksud aku, kakak santai aja makannya. Santai kayak di pantai..."
Kenapa coba dia? El
Duh, gue kenapa sih? Luna
El menyelesaikan makanannya. Luna harus segera bertindak.
"Kak!" Luna memanggil El. "Tuh, liat ada apa di sana." Luna menunjuk ke luar jendela. El langsung menoleh dan saat itu juga Luna bangkit dari duduknya dan mencoba mencium pipi El.
DUK!
Luna tak sengaja mendorong meja hingga miring dan minumannya tumpah mengenai El kemudian mengalir di meja dan membasahi lantai.
"Ah! Maaf!" Luna berseru panik.
Gagal semua gagal! Gagal totaaallll!!!!
Bersambung..
EPILOG
Gue ga mau ngikutin saran elo lagi, SESAATTTT!!!
__ADS_1
Luna mengirim pesan ke Tyo.