
"Kalau kebanyakan tertawa, habis itu kamu pasti nangis!"
Entah kenapa Luna malah mengingat kata-kata temannya saat sekolah dasar dulu. Apa dia terlalu banyak tertawa barusan? Apa setelah ini dia akan menangis?
Luna merasakan tubuhnya bergerak, dia bisa mendengar suara tapi yang dia lihat cuma gelap.
***
"Cepat El, ambulans nya sebentar lagi sampai." En memberikan jalan kepada El yang menggendong Luna menaiki lift.
El tidak memikirkan apapun lagi, dia berlari secepat yang ia bisa dengan Luna di tangannya. En sudah mengikat gaun panjangnya sampai paha agar tidak mengganggunya bergerak, dan ikut berlari di samping El. Sementara Reza, membantu memecah kerumunan yang menghalangi. Beberapa karyawan lain juga membantu mereka menyediakan jalan.
Mendengar keributan, para wartawan berkerumun, berusaha mengambil gambar. Keadaan yang ricuh sesaat akhirnya terkendali setelah An dan papi turun tangan.
Saat tiba di loby, En bisa mendengar suara sirine yang semakin mendekat. Dia berlari mendahului El keluar dari pintu kaca besar yang otomatis membuka.
En melambaikan tangannya memberikan kode agar ambulans berhenti tepat di tempatnya berdiri. Terdengar suara decitan keras sampai akhirnya mobil berwarna putih itu berhenti sempurna. Dua orang petugas berpakaian lengkap menurunkan tempat tidur beroda dari dalam mobil tepat saat El keluar dari pintu.
El langsung membaringkan Luna di tempat tidur itu. Keringat sudah membanjiri pelipis dan punggungnya. Para petugas segera membawa Luna ke dalam mobil.
"El, kamu cepat ikut ambulan! Kakak naik mobil! Nanti telepon kakak!" En berbicara cepat dengan nafas yang terengah-engah. El mengangguk dan segera melompat naik ke dalam mobil yang sudah kembali membunyikan sirine itu.
Di dalam mobil ambulans, salah satu petugas menanyakan kondisi Luna. "Apa yang terjadi, Pak?"
"Saya gak tahu, tadi kita semua sedang makan. Lalu tiba-tiba dia bilang sesak dan pingsan."
Petugas lain mengangguk, dia memasangkan alat bantu pernafasan ke wajah Luna lalu mengecek denyut nadinya.
"Apa pasien sakit sebelumnya?"
El menggeleng, "tidak."
"Apa dia memiliki keluhan kesehatan? Apa dia punya penyakit bawaan?"
El menggeleng kuat. "Tidak, saya tidak tahu!"
El menarik rambutnya sendiri sambil menggeram frustasi. Dia menyesali dirinya yang begitu b*doh karena tidak pernah bertanya hal-hal seperti itu kepada Luna.
"Bapak tolong dia..." El berucap lemah sambil memandang Luna. Rasanya seperti mimpi karena beberapa menit lalu dia dan Luna baru saja berbincang bersama. Kalau tau seperti ini dia tidak akan mengajak Luna! Kalau tau seperti ini dia tidak akan memaksa Luna! Kalau tau seperti ini dia tidak akan minta bertemu! Kalau saja waktu bisa diputar kembali.
Beberapa menit di dalam ambulans membuat El hampir gila. Dia hanya bisa diam memandang Luna yang tidak bergerak di hadapannya. Kalau saja dia bisa bertukar keadaan dengan Luna ia akan dengan senang hati melakukannya. Apapun akan ia lakukan asalkan keadaan Luna tidak seperti sekarang.
Akhirnya ambulans berhenti, mereka telah sampai di rumah sakit. El keluar dari mobil, mengikuti petugas menuju ke ruang gawat darurat sebelum akhirnya dia tidak diijinkan masuk.
El berdiri menunggu sambil menatap nanar ruangan di depannya. Keadaannya sangat buruk. Bajunya sudah kusut tak berbentuk dan rambutnya sudah berantakan karena sedari tadi dia terus-terusan mengacaknya.
El mendengar suara panggilan masuk. Kak En.
📞 El kamu dimana?
__ADS_1
📞 Sudah di rumah sakit, kak.
📞 Kakak sama Reza bentar lagi sampai. Kamu duduk tenang dulu sekarang.
📞 Iya.
Akhirnya El terduduk lemas di atas kursi terdekat. Dia menunduk, menopang kepalanya yang terasa berat. Pikirannya sudah melayang entah kemana.
Sepuluh menit kemudian En dan Reza sampai di tempat El. En tidak tega melihat keadaan adiknya yang sudah tidak karuan.
Adiknya sungguh menyayangi anak imut itu.
En duduk di sebelah El.
"Kak..." El menatapnya dengan mata yang sudah memerah dan suara lirih.
"Sabar, El..." En menepuk pundak adiknya, mencoba menenangkan. "Dia pasti ga kenapa-kenapa. Kamu berdoa aja, ya."
Setelah tiga puluh menit menunggu dalam ketidak pastian, akhirnya sang dokter menampakkan dirinya.
El berlari menghampirinya. "Bagaimana dokter?"
Dokter tersenyum sesaat. "Tidak apa-apa. Dia sudah baik-baik saja. Tapi dia belum bangun sekarang.
"Apa saya bisa melihatnya sekarang?" El sudah tidak sabar ingin bersama Luna.
"Kenapa dia harus dirawat, dokter? Sakitnya parah?" En bertanya mewakili kekhawatiran adiknya.
"Barusan sepertinya dia memakan sesuatu yang membuat dia alergi. Apa kalian tau apa itu?"
En dan El menggeleng bersamaan.
"Kalau bisa dicari tau dan dihindari agar tidak terjadi lagi." Dokter terdiam sejenak. "Lalu..."
"Lalu apa dok? Ada penyakit lain?"
"Sebenarnya bukan penyakit, tapi terlihat kalau belakangan ini berat badannya turun drastis. Apa dia sedang stres? Atau mungkin diet?"
El tidak menjawab pertanyaan dokter tersebut, dia mengutuk dirinya yang tidak peka terhadap keadaan Luna.
"Yah... Jadi saya pikir mungkin lebih baik dirawat sampai besok." El mengangguk. "Kalau bisa, setelah keluar rumah sakit, dijaga pola makan bergizi dan kurangi stres."
"Iya terima kasih dokter." En menghela nafas lega. Selanjutnya ia menghubungi mami, papi serta kak An.
Menit berikutnya, El, En dan Reza sudah ada di ruang rawat inap kelas VIP. El sibuk menatap Luna dari kursi yang ada di sebelah tempat tidur Luna. Dia menggenggam tangan Luna yang tidak tertusuk jarum, kemudian mengelusnya pelan.
En mengelus pundak El. "El, apa kamu perlu sesuatu? Mami, papi dan kak An sebentar lagi datang menjenguk."
El menggeleng, dia hanya menempelkan tangan Luna yang digenggamnya ke pipinya. Memejamkan mata dan mencoba merasakan kelembutan dari sana.
__ADS_1
"Ya sudah, kakak pulang dulu ya. Besok kakak kesini lagi. Kamu juga istirahat." En mengelus kepala El. "Reza, titip El sampai yang lain datang. Kamu bisa pulang setelah itu.
Reza mengangguk. "Iya Bu..."
Reza menghampiri El yang masih meratapi Luna di hadapannya. Masih berpikir apakah harus memberitahu El atau tidak. Baru saja ia akan membuka mulut, ponsel El berbunyi. Jessika.
📞 Halo, maaf aku ganggu om.
📞 Iya.
📞 Lunanya ada om? Bisa saya bicara sebentar?
📞 Maaf Jessika. Luna sedang dirawat di rumah sakit.
📞 APA?! DIMANA?! KENAPA?! Om apain teman saya??
📞 Saya kirimkan alamatnya.
El memutuskan sambungan telepon kemudian mengirimkan pesan.
Setelah melihat El agak tenang, akhirnya Reza memberanikan diri membuka suaranya.
"Pak..."
El menoleh ke Reza. "Kenapa?"
Reza tampak ragu sejenak. "Sebenarnya saya ga tau harusnya bilang ini atau ga, tapi adik saya sering cerita tentang Luna..."
"Katakan saja..."
"Jadi...."
Reza menceritakan semua hal yang terjadi pada Luna selama ini di sekolahnya, bagaimana keadaannya di rumah dan seperti apa hari yang dijalani Luna belakangan ini.
Dia mendengarnya dari Reina. Tadinya tidak berniat menguping, tapi dia tertarik saat mendengar kedua adiknya membicarakan Luna, membuat dia akhirnya terperangkap dalam obrolan itu juga.
Saat Reza mengakhiri ceritanya, El menatapnya lekat. "Terima kasih sudah bilang ke saya. Sampaikan juga terima kasih saya buat adik kamu yang sudah menemani Luna."
"Iya, Pak. Sama-sama. Adik saya juga senang kok berteman sama Luna. Dia anaknya baik dan setia kawan."
El tersenyum sekilas. Dia memang seperti itu.
Akhirnya keluarga El datang, dan Reza undur diri. Mami, papi serta kak An bersyukur setelah mengetahui bahwa Luna baik-baik saja. Mami menawarkan untuk menemani El, tapi dia menolaknya dan menyuruh mereka pulang saja.
Tak lama kemudian, El terkejut dengan suara keras dari arah pintu. Jessika datang dengan Tyo di belakangnya.
Jessika menghampiri El, dia menjauhkan El dari Luna. Lalu menatap orang di depannya dengan tatapan tajam penuh amarah. "Om apain teman saya??"
Bersambung
__ADS_1