
Chapter 47: Selalu cinta
"Lupakanlah kalau kamu tidak bisa memaafkannya..." -Luna-
El mengacak rambutnya frustasi. Luna lolos begitu saja dari hadapannya. Kemana si gila Alex itu membawa istri manisnya! Ia berjanji akan menguliti Alex dengan kejam kalau sampai ada sehelai saja rambut Luna yang berpindah. Dia serius.
El meraih ponselnya, menghubungi Kris seperti biasa. Dia mendengar jawaban di seberang sana. Mengeluarkan semua amarahnya, El membentak kasar pada ponsel yang tidak bersalah itu. Ia sangat khawatir pada Luna.
Detik berlalu bagai seabad. El yang frustasi terduduk di lantai setelah ia puas memukuli dinding di hadapannya. Ia mengabaikan rasa nyeri yang menyengat di buku-buku jarinya.
Tidak ingin membayangkan apapun, El mengosongkan pikirannya. "Mereka kakak adik, tidak akan terjadi apapun...." Ia menarik nafas dalam.
Ah, s*alan!
Bukannya tenang El malah menjadi semakin frustasi. Adik kakak apanya! Lihat saja kejadian Arga kemarin, masih tercetak jelas dalam ingatan El saat ia mendapati pakaian Luna yang amburadul karena "adik".
Kalang kabut, El tidak bisa berpikir jernih. Kakinya melangkah cepat, ia ingin menemui manager on duty, memaki dan mengamuk di sana. Meminta mereka mencari secepatnya keberadaan Luna. Tapi langkahnya terhenti dengan suara dering telepon yang berasal dari sakunya. Ditekannya cepat tombol jawab setelah melihat si penelepon.
Kecemasan memudar dari wajah El, dia mendengarkan penjelasan lawan bicaranya kemudian berlari cepat, menuju arah yang ditunjukkan oleh si pemberi kabar.
Beberapa menit kemudian, El tiba di depan sebuah pintu bersama Kris yang sudah ada di sampingnya. Mereka sebelumnya telah memeriksa rekaman CCTV dan menemukan bahwa kedua orang itu ada di dalam sini. El mengepalkan tangannya erat, dia tidak mau berpikiran jelek. Tapi kalaupun sampai ada hal yang benar terjadi, dia sudah siap.
Dengan kartu akses dari manajemen hotel, El bisa masuk dengan mudah, dibukanya pintu itu tanpa menunggu. Matanya menatap lapar ke seluruh penjuru, menemukan dua insan manusia yang sedang berpelukan. Dengan langkah marah, El menghampiri Luna. Ia menjauhkan miliknya dari lelaki itu. Selalu saja begini, Luna bagaikan magnet kecil berkekuatan dahsyat. Hanya dengan memandang ke dalam matanya, kaum Adam akan tertarik masuk dan terperangkap di sana. Jangan pikirkan jalan keluar, karena kalaupun ada, kau tidak akan berniat keluar dari jeratan rasa manis itu.
"Apa yang kamu lakukan?" desis El.
Alex menatapnya balik dengan kilatan amarah yang sama kuatnya. Mereka beradu dalam tatapan.
__ADS_1
"Tidak ada... Kami tidak melakukan apapun..." Alex berdiri tegap, menjulangkan tubuhnya mencoba menantang lelaki dewasa di hadapannya. Seorang saingan cinta bernama El.
"Aku bisa melihatnya, jadi jelaskan sekarang..." tuntut El.
"Gue cuma minta Luna jadi pacar gue aja..."
Sebuah pukulan mendarat telak di pipi Alex. Luna memekik kaget. Melihat kursi yang terjatuh dan adik tiri barunya itu terjungkal ke belakang. El tersenyum puas, tidak sia-sia dia menahan amarahnya sedari tadi. Sekarang ia bisa melampiaskannya dengan cara yang tepat kepada orang yang tepat pula.
"Kayak gitu elo mau lindungi Luna?" ledek Alex. Ia tidak terluka sama sekali, padahal El yakin kalau ia sudah menggunakan kekuatan penuh barusan.
"Maksud elo apa?" El melihat Alex yang sudah berdiri lagi sekarang.
"Coba rasain pukulan dari gue!"
BUAK!
Tidak terjadi apapun pada El. Kris melindunginya dengan sempurna, membuat Alex mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya.
Kepala El memanas mendengar hujatan itu. Dia melepaskan tangannya dari Luna, kemudian berbisik pelan. "Kris, bawa Luna keluar dari sini. Tunggulah dan jangan masuk..."
Kris mengangguk mengerti. Ditariknya Luna menuju ke pintu keluar. Tanpa kesulitan sama sekali, walaupun cewek itu sudah meronta dan menahan langkahnya. Tidak berpengaruh sedikit pun. El bisa mendengar rengekan Luna sesaat sebelum pintu tertutup. Tidak apa, ia bisa membujuknya nanti, batin El. Ada yang harus ia selesaikan sekarang.
"Wah, gue enggak nyangka elo berani juga..." Alex memberikan tepuk tangan mengejek. Dia cukup kagum dengan anak manja kaya ini yang ternyata punya rasa percaya diri luar biasa. El pasti mengira bahwa kemampuan berkelahi cowok itu bisa menang bersaing dengannya yang sudah bertahun-tahun melakukannya di jalan. Sayang sekali, El tidak tau bahwa dirinya bahkan tidak punya kesempatan.
"Sama sekali tidak. Majulah duluan kalau kau mau. Aku akan menemanimu sampai kau puas." El menunjukkan smirk yang membuat darah Alex mendidih.
Ah, bodohnya dia. Lelaki itu rupanya sudah menduga kalau ia tidak akan menang, batin Alex. Dia sengaja melakukan ini agar Alex terhibur. Sungguh kejam.
__ADS_1
Alex menerjang El hingga badan mereka berdua terjerembab di lantai. Badan dan kepala El terbentur tanpa ampun di atas keramik dingin itu. Dia mengernyit sedikit, menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Belum sempat pandangannya fokus, beberapa pukulan sudah menerpa wajahnya. Keras dan tanpa ampun.
El bukannya membalas malah tertawa, membuat Alex semakin geram. Ia meraih kerah baju El kemudian mengguncangkannya kasar, membuat kepala lelaki itu menerima kerasnya lantai berkali-kali. Ditariknya paksa badan El hingga mereka berdua berdiri.
"Elo selemah ini?" Wajah kedua lelaki itu sudah saling berhadapan, dengan tangan Alex yang masih mencengkram baju El.
"Hahahaha..." El tertawa sinis, membalas tatapan Alex. Kepalanya terasa berputar sekarang. Tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk balas memaki Alex. "Sayang sekali Luna memilihku. Ya, kan?"
Kali ini Alex memberikan pukulannya bukan hanya di wajah, tapi juga di perut, berkali-kali. El tersungkur dengan suara gaduh saat beberapa kursi ikut terjatuh karena tubuhnya. Dia bisa mendengar suara panik Luna yang memanggil-manggil namanya. Luna menggedor pintu itu berkali-kali. Pastilah istri kecilnya khawatir bukan main.
"Dia selalu cinta padaku..." El berucap sombong. Alex berjongkok menghampiri El yang terduduk lemas. "Terima sajalah itu..."
Badan El serasa remuk, ia masih mengumpulkan kekuatan untuk membalas cowok itu. Alex yang melihatnya keadaannya mendecak kesal sambil melayangkan tatapan mengejek.
"Tidak bisakah kau melindunginya saja? Kau bisa lihat kan, aku bukan orang yang bisa melakukan itu?" tanya El dengan nafas terengah.
"Apa maksud elo?" Alex tidak mengerti maksud om berumur ini.
"Sayangi Luna, lindungi dia selayaknya seorang saudara." El menarik nafas sesaat.
"Tolong lakukan seperti itu. Karena itu hal yang tidak bisa aku lakukan." Alex mendorong tubuh El keras sehingga cowok itu terkapar di lantai.
"Mimpi, Lo!" Teriak Alex marah. Si om ini pastilah sudah gila, batinnya. Ia berdiri, hendak keluar dari tempat itu.
"Aku tau kau menyayanginya dengan tulus..." lanjut El. Langkah kaki Alex terhenti. Tangannya sudah mengepal erat.
"Teruslah seperti itu... Jangan meninggalkannya. Dia pasti menangis..." Alex menatap kosong lantai di hadapannya. Ia tidak suka perkataan El barusan. Om itu terlalu pandai membujuknya.
__ADS_1
"Kau pasti tidak ingin melihatnya sedih, kan?"
Bersambung