Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 3. Chapter 4


__ADS_3

Chapter 4: Persiapan


Prasangka adalah bukti kalau kamu selalu memikirkanku... -El-


"El, kamu sudah datang?" Mami menyambut El dengan pelukan hangat lalu memberikan jalan kepada El sambil melangkah masuk ke ruang tamu.


"Dimana Luna, Mi?"


"Istirahatlah dulu. Kamu pasti lelah. Mami ambilkan minuman untukmu..." Mami baru akan beranjak saat El menarik tangannya.


"Tidak apa, Mi. Aku tidak lelah. Apa Luna ada di kamarku?"


"Iya, dia di kamarmu. Sudah tidur sepertinya."


"Kalau begitu aku mau kesana dulu..."


"El, mami mau bicara sebentar!" Pekikan mami membuat El terkejut sesaat. Mami menggandeng El menuju sofa, lalu mendudukkannya dengan sedikit paksaan.


"Iya, mi. Maaf, El hanya khawatir pada Luna. Ia menghilang setelah bertengkar dengan El." El menundukkan kepalanya, menunjukkan bahwa ia menyesal atas apa yang terjadi.


"Iya, mami tau. Luna sudah menceritakan semuanya." Mami menatap El dengan pandangan lembut dan menenangkan, membuat El menjadi lebih rileks sedikit sebelum ia akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.


"Kalau begitu mami sudah tau, kan? El cuma ingin yang terbaik untuk Luna. Dia pantas mendapatkan yang terbaik. Tetapi, kenapa dia malah marah??! El tidak mengerti dengan jalan pikiran Luna."


"El..." Mami menepuk bahu El pelan, beberapa kali. Setelah dilihatnya El sudah bisa meredakan emosinya, mulutnya terbuka kembali. "Apa belakangan ini pekerjaan kamu menumpuk?"


"Kenapa mami malah menanyakan hal itu? Kita kan sedang membicarakan Luna?" jawab El bingung.


"Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan mami saja. Sibuk? Atau tidak?" Mami bertanya sekali lagi sambil mengamati perubahan raut wajah El.


"Iya, Mi. El ada banyak sekali pekerjaan. Karena El berniat membawa Luna jalan-jalan sebelum dia berangkat ke Sydney nanti, jadi El harus mempersiapkan semuanya, dan memastikan kalau di sini tidak akan ada masalah apapun selama El pergi," jelasnya.


"Kamu mau honeymoon?" celetuk mami senang.


"Niatnya sih gitu, mi," El terkekeh kecil. Tampak sedikit senyum tercetak di wajahnya yang lelah.


"Baguslah kalau begitu. Pergilah, mami rasa kamu membutuhkan itu," angguknya. "Selain itu, mami rasa, kamu juga perlu untuk sedikit memperhatikan Luna."


El menatap mami terkejut. "Ada apa dengan Luna, mi?"


"El, bagaimanapun, Luna itu masih 18 tahun. Berbeda denganmu, ia masih remaja, masih labil. Mungkin dia bersikap dewasa, tapi, pada dasarnya dia tetap bocah." Mami menghela nafas sesaat.


"Dia tidak punya orang tua lagi, dan dia memiliki lima orang adik. Ini sesungguhnya berat untuk Luna. Di umurnya yang masih muda, dia harus berperan sebagai ayah dan ibu dari adik-adiknya. Padahal, dia sendiri pun membutuhkan kasih sayang juga..."


El tercenung mendengarkan penjelasan mami. "Maksud mami apa?" tanyanya ragu.


"Sayangi dia, lebih. Karena tidak ada lagi selain kamu, yang paling dekat dengannya." Mami mengusap punggung El perlahan.


"Mami dan Papi tentu saja adalah orangtua Luna, tapi kamu adalah orang yang selalu ada di hatinya. Berikanlah dia perhatian sebanyak yang ia butuhkan. Mami tau kamu juga lelah, tapi itu tidak bisa menjadi alasan bagimu untuk tidak memberikan haknya. Dia itu istrimu, dia sudah memberikan semuanya untukmu. Apa kamu tidak bisa membalasnya dengan sedikit ungkapan kasih sayang?"


"Apa kamu sadar, kalau dulu kamu memujanya dan menyayanginya seperti orang gila? Dan sekarang kamu melihatnya seperti sesuatu yang sudah seharusnya ada di sampingmu."


"Maksud mami?"


"Tunjukkan rasa sayangmu." Mami menjawab El gemas. "Mami yakin, kamu tidak ingat kapan terakhir kali kamu tidur sambil memeluknya?" El menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah.

__ADS_1


"Jatuh cintalah padanya setiap hari, El. Sayangi dia, lebih dari kamu menyayangimu dirimu sendiri. Karena pada hakikatnya, perempuan itu lebih rapuh dari lelaki..."


***


"Ngh..." Luna mengucek matanya, menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk ke retina cokelat gelap miliknya. Ia bergerak sedikit sebelum menyadari kalau ada sebuah lengan yang melingkari pinggangnya di bawah selimut tebal yang ia gunakan.


Sedikit tersentak, Luna memutar tubuhnya. Ia mendapati wajah El yang tidak berjarak dengan miliknya, bernafas teratur dengan mata yang masih terpejam.


Luna masih memikirkan apa yang terjadi semalam. Seingatnya, ia menangis di pelukan mami sampai lelah, lalu tertidur begitu saja. Dan pagi ini, saat mentari menyambut, El sudah ada di sampingnya. El pasti datang menjemputnya semalam.


SET.


Luna berusaha memindahkan lengan El dengan gerakan seminimal mungkin agar lelaki itu tidak terbangun. Ia tidak tau kapan El datang, pastinya sudah larut. Jadi lebih baik ia tidak mengganggu tidur El.


"Selamat pagi, sayang..." Luna membelalakkan matanya karena ternyata El sudah bangun. Cup. Sebuah kecupan hinggap di pipi Luna begitu saja, bahkan sebelum ia bisa menyadari apa yang terjadi.


"Ah..." Muka Luna merona merah. Sudah cukup lama sejak terakhir El memberikan morning kiss untuknya. "Pa-pa-pagi..."


El tersenyum simpul melihat Luna yang malu-malu. Perasaan bahagia yang beberapa waktu lalu, sempat ia lupakan. Perasaan tentang bagaimana Luna selalu bisa begitu mudahnya dicintai.


"Apa tidurmu nyenyak?" El tidak membiarkan Luna bangun, dia menarik Luna ke dalam pelukannya. Luna meragu untuk menggerakkan tangannya membalas pelukan El. Dia malah memposisikan tangannya di antara mereka, tepat di depan El, membuat jarak di antara mereka.


"Emh.. I-iya..." Luna sengaja mengalihkan pandangannya dari El. Suaminya itu tetap tampan walaupun baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan.


"Maafkan kesibukanku selama ini," lirih El. "Aku tidak akan melakukannya lagi..." El mengecup kedua kelopak mata Luna bergantian. "Maafkan aku karena sudah membuatmu menangis..."


Luna bisa merasakan kehangatan dari bibir El yang menyusuri lekukan wajahnya, dahinya, hidungnya, pipinya dan berakhir di bibirnya. El menghabiskan waktu lebih lama di sana. Ia membelai bibir Luna lembut dengan bibirnya, lalu El tanpa ragu menggelitik dengan lidahnya. Luna yang baru pertama kali mendapatkan ciuman seperti ini merasakan gelora yang menggebu dengan detak jantung yang bertalu-talu. Nafasnya memburu dan ia mulai kehilangan kendali akan dirinya.


"Bernafas, sayang..." El memindahkan bibirnya ke leher jenjang Luna, menciumi setiap inchi di sana, membuat Luna melayang dan mulai bergumam tak jelas. Tepat di ceruk leher Luna, El berhenti. Bibirnya mengecup pelan sebelum ia memberikan tanda di sana hingga Luna memekik.


"Kak..." Suara parau Luna terdengar seksi di telinga El. "Aku... lagi.... mau..." Luna sudah tidak bisa berpikir, dan El, kehilangan akal mendengar permintaan Luna.


"Dengan senang hati sayang..." Tangan El bergerilya bebas menyapa seluruh bagian tubuh Luna, membuat Luna menggeliat tanpa arah, mengacak seprai yang ada di bawah mereka hingga tak berbentuk lagi.


"Kak..." geram Luna saat El sibuk dengan bagian sensitif di bawah perut Luna, yang kau tau apa.


"Apa kamu sudah siap?" Sedetik setelah Luna menganggukkan kepalanya, terdengar suara derikan berirama dari ranjang mereka.


***


"Kakak hari ini kerja?" Luna sedang mengeringkan rambutnya setelah sebelumnya ia membersihkan dirinya sehabis kegiatan mengacak kasur barusan.


"Iya, maaf, aku harus meninggalkanmu lagi..."


"Tidak, kak. Kakak pasti sibuk, ini hari kerja dan kakak malah masih di sini padahal jam kantor sudah dimulai dari tadi," ucap Luna murung. Ia merasa harusnya tidak bersikap manja, entah apa yang merasukinya semalam.


El menghampiri Luna dan mensejajarkan tatapannya dengan Luna, menatap kedua mata cokelat yang kini balas memandangnya. "Kamu bebas bersikap seperti anak kecil di hadapan kakak, Luna. Because you are, indeed, my little cute wife..." El mencium pipi Luna lama, "Dan mulai hari ini, kamu diwajibkan untuk menyapa ini," El menunjuk bibirnya, "setiap pagi sebelum aku berangkat kerja."


Luna terkekeh pelan lalu mengecup bibir El kemudian memeluknya erat. Dia tidak pernah merasa bahagia lebih dari ini.


"Oh ya, hari ini Kai akan mengantarmu berbelanja. Kakak sudah menghubungi teman-temanmu, kalian bisa hang out bersama. Dan jangan menahan dirimu, belilah semua yang kamu inginkan, bukan cuma yang kamu butuhkan. Okay? Promise me..." El mengacungkan kelingkingnya ke Luna.


"Belanja apa, Kak?" Luna menyambut kelingking El dengan miliknya, membuat pinky promise.


"Kita akan liburan ke Korea beberapa hari lagi. Listnya ada di Kai, dia akan membantumu..."

__ADS_1


"Korea??? Serius, kak??!!"


El mengangguk. Ia puas melihat binar bahagia di wajah Luna. "Iya, Luna. Maafkan kakak yang sibuk belakangan ini karena harus mengurus semuanya..." Tangan El mengelus kepala Luna sayang.


Saat itulah Luna merasa menjadi orang paling egois. "Maafkan aku, kak... Aku sudah berpikir yang tidak-tidak. Aku malah membayangkan sekretaris seksi juga klien yang lebih cantik dariku, aku... aku..."


El terbahak mendengar pernyataan polos dari mulut Luna. "Asal kamu tau, sekretarisku hanya satu, dan dia sama sekali tidak seksi, malah sangat menyebalkan. Namanya Reza..." El mengusap air mata tawanya. "Dan, untuk klien cantik, kamu tidak perlu khawatir karena Kris selalu ada bersamaku. Kamu boleh memintanya mengawasiku dan menendangku kalau aku berani mengedipkan mata pada wanita lain..." Luna terkekeh membayangkan adegan antara El dan Reza kalau hal itu benar terjadi.


"Terima kasih, sayang... Prasangka itu adalah bukti kalau kamu selalu memikirkanku..." Sekali lagi, El mengecup pipi Luna.


Luna menghambur dalam pelukan El, "Aku sayang kakak!"


"Kakak lebih dari itu..."


***


Luna menjerit dan melompat kegirangan saat bertemu dengan teman-temannya lagi setelah sekian lama. Teriakan dan pekikan keempat gadis remaja itu sukses membuat pengunjung mall lain memandang mereka sinis.


"Jess! Gue kangen banget sama elo, demi Tuhan!" Luna memeluk Jessika erat lalu mereka meloncat kecil sambil berputar-putar.


"Gue juga! Dan elo tau? Gue bahkan kangen sekolah! Sesuatu yang tadinya gue pikir mustahil terjadi!" Jessika balas memekik.


"Gue juga kangen ngantri di toilet!" Tiara ikut-ikutan memeluk Luna dan Jessika.


"Kangen banget sama kalian!" Luna menarik Reina ke dalam pelukan mereka, membuat lingkaran pelukan layaknya tokoh dalam film anak Tel*tubbies.


"Udah ah, gue capek!" Jessika keluar dari lingkaran biadab yang membuat tenggorokannya kering karena terus menjerit. "Ayo cari minuman dulu, lapar."


"Haus! Mulut elo typoooooo...." ledek Tiara.


"Enggak... Gue cuma mencoba membuat ucapan gue efisien, gue mau cari minuman karena gue haus, terus gue juga mau bilang kalau gue laper. Jadi gue gabung!" ucap Jessika meyakinkan.


"Elah, ngeles melulu, Lo!" Tuding Tiara sambil memutar bola matanya.


"Ssssstttt....!!!!" Luna menghentikan perdebatan tidak berguna itu. "Udah sekarang kita makan dulu aja, abis itu kita nonton terus belanja.... Gue traktir!" Luna menarik turunkan kedua alisnya.


"Benar ya? Gue gak tanggung-tanggung nih..." Tiara tersenyum licik.


"Apalagi gue, mana pernah gue nanggung..." Jessika tersenyum lebar membalas Tiara. "Mungkin yang harus dikasih saran jangan tanggung-tanggung cuma dia," Jessika menunjuk Reina yang sedari tadi menjadi makhluk paling kalem diantara mereka.


"Wah enggak dong. Buat hari ini, gue enggak akan jaim..." Reina mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan.


"Good!" Luna mengacungkan jempolnya. "Karena kata laki gue, gue enggak boleh pulang kalau duit di sini belum habis..." Luna mengacungkan lempengan kartu bermagnet berwarna hitam.


"Laki Anda terbaik..." Jessika menepuk pundak Luna bangga.


"Woiyajelas..." seru mereka bersamaan. Dan setelah itu mereka berjalan beriringan menikmati Girls' Day Out mereka, dengan Kai yang setia menjadi peran figuran.


Bersambung


Maafkan untuk update yang lama...


Aku sangat menyesal....


Semua terjadi begitu saja, dan tanpa kusadari hari sudah berlalu begitu cepat... 😭🤧

__ADS_1


Aku tidak pernah melupakan kalian, kalian permanen di hatiku.... Saranghae... ❤️❤️❤️


__ADS_2