Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
56. Tak ada cela


__ADS_3

"Pak, saya udah di lobby." El menutup teleponnya. Tak lama, muncul mobil besar berwarna putih. Pak Ahmad turun membukakan pintu untuk El.


"Kok naik ini? Mobil kakak gimana?" Luna bertanya pada El yang sudah menariknya masuk.


"Udah biarin aja. Nanti Pak Ahmad yang ngambil kesini." El dan Luna masuk lalu duduk di kursi paling belakang. Disusul dengan Arka dan Arsya di tengah, dan Arga memilih duduk di depan.


"Sini," El langsung meletakkan kepala Luna di pangkuannya. "Tidur, nanti kakak bangunin kalau udah sampai." El membelai rambut Luna sekilas lalu memijat lembut dahi Luna, di sepanjang garis alis matanya. Tak lama, Luna pun terlelap.


"Arka," El tiba-tiba memanggil Arka yang duduk di depannya. "Masukkan nomor kamu." El memberikan ponselnya ke Arka. "Sama nomor Arga dan Arsya juga."


Setelah memasukkan semua nomor, Arka menekan tombol home. Dia melihat wallpapernya, foto El dan Luna. Foto Luna dan El saat kencan pertama. Luna tampak tersenyum bahagia. Sebenarnya Arka ingin mengecek lebih banyak lagi, tapi dia tidak mau bersikap mencurigakan.


"Udah." Arka mengembalikan ponsel itu.


"Thank you." El mengambil ponselnya. "Oh iya, Pak Ahmad."


"Iya, Pak." Pak Ahmad melirik dari cermin di dekat kemudi.


"Ke toko kue biasa, belikan cheesecake."


"Iya, Pak."


Suasana pun hening kembali. El sudah akan ikut tertidur jika tidak ada telepon masuk.


Mami.


📞 Halo, kenapa mi?


📞 Iya, sama Luna.


📞 Hm.... Ga akan mampir ke rumah, udah di jalan pulang.


📞 Lagi tidur, ga enak badan.


📞 Iya, bye.


El memutuskan telepon. Memang tadi mami memintanya mampir ke rumah lagi, dia sengaja membuatkan kue untuk Luna. Tapi El tidak menyangka, kalau Luna akan membawa segerombolan orang bersamanya, jadi El memutuskan untuk tidak mengatakannya pada Luna. Kalau dia bilang, pasti Luna akan merasa tak enak dan serba salah.

__ADS_1


El mengelus kepala Luna, memainkan rambutnya yang tergerai lembut. Memandangi wajah Luna yang tampak tertidur nyaman. Kalau diingat lagi, Luna memang bisa tidur nyaman dimana saja. El tersenyum sendiri setelahnya. Dia tiba-tiba mengingat begitu saja kejadian saat Luna mengecup pipinya, membuatnya kalang kabut dan tak bisa berpikir lurus. El sampai tidak sadar mencuci mukanya dengan pasta gigi! Sebegitu besarnya pengaruh Luna untuk dirinya, mami bahkan sempat mengajak El konsultasi ke psikolog karena dia terus-terusan bersikap aneh, terus-terusan melamun dan tersenyum sendiri. El tidak habis pikir kenapa Luna melakukan itu, tapi dia juga tidak mau bertanya. El tidak keberatan apapun alasannya. Asalkan Luna yang melakukannya dia sudah sangat senang.


"Kakak ipar," Arsya membangunkan El. El tidak sadar sejak kapan dia tertidur.


"Hm?" El melirik kepala Luna yang masih tidur di pangkuannya dan memastikan badan Luna masih di posisi saat terakhir dia melihatnya. Dia lalu menoleh ke Arsya. "Kenapa?"


"Cheesecake nya habis. Kakak mau beli apa?" Luna ikut terbangun saat El tiba-tiba bergerak. El mengelus kepala Luna lalu membantunya duduk.


El melihat Luna yang mengucek matanya lalu dia membukakan botol minuman dan memberikannya pada Luna.


"Makasih," Luna meminumnya kemudian memejamkan matanya lagi. Pusingnya sudah hilang, tapi dia merasa sangat mengantuk, pasti karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan hari ini.


Dasar. Malah tidur lagi.


"Yang ada aja, yang paling enak." El menyerahkan beberapa lembar uang ke Arsya. "Kalau kamu mau beli sesuatu beli aja sekalian, ya." Arsya pun langsung keluar menyusul Pak Ahmad.


El menatap Luna sesaat, Luna duduk dengan kepala terkulai ke samping, tampaknya dia sudah tidur lagi. Dengan posisi seperti itu, apa lehernya ga sakit?


Kenapa dia ngantuk banget coba? Habis ngapain dia semalam?


El menarik Luna mendekat, membiarkan Luna bersandar padanya sementara tangannya melingkari punggung Luna hingga sampai ke pinggang, dan tangan satu lagi sibuk menyangga kepala Luna sambil membelai rambut sayang. Dagu El sekarang tepat berada di atas kepala Luna, dia tidak bisa menahan diri kemudian menenggelamkan wajahnya di rambut Luna.


Arka menoleh ke belakang sesaat, pandangannya fokus ke jari-jari El yang sibuk mengelus pipi Luna. "Daritadi macet. Di depan gak jalan sama sekali, ga tau ada apaan." Arka berpaling lalu lanjut memainkan ponselnya, mengisi kebosanan.


"Nih, kak." Arsya masuk membawa sekantung makanan dan minuman, dia lalu membagikannya ke Arka dan Arga.


Lalu setelahnya Pak Ahmad masuk dengan sekotak kue. Dia mulai menjalankan mobil kembali.


Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah Luna. "Lun, bangun..." El menepuk pipi Luna pelan.


"Kak, udah sampai. Ayo turun." Arsya ikut membantu membangunkan Luna yang entah sejak kapan merasa begitu nyaman berada di dekat El.


Setelah Luna mengucek matanya, Arsya beralih ke El, "Makasih ya, kak udah anterin kita."


Setelah Arsya, Arga dan Arka pun kemudian menyusul mengucapkan terima kasih.


Luna menjauh dari kehangatan El, dia lalu menyalami tangan El. "Dah, kak. Makasih ya."

__ADS_1


Belum pernah gue tidur senyenyak ini.


***


Di rumah, Arga mengetuk kamar Luna dan langsung masuk karena kamar tidak dikunci. "Kak, makan dulu."


"Kakak udah makan kue," Luna menunjuk kotak kue Red Velvet yang bersisa setengah. "Kalau kamu mau ambil aja. Kakak ngantuk, mau tidur. Tutup pintunya."


Arga kembali ke kamarnya, sambil menekuk wajah.


"Kenapa bos? Kusut begitu?" Arka yang sedang break dari permainannya memperhatikan wajah Arga yang tak enak dilihat.


"Gue udah liatin tuh om-om dari tadi," Arga memulai pembicaraan.


"Kenapa? Ga ada cela ya?" Arka tersenyum mengejek.


"Iya, ga ada jeleknya gitu, padahal pengen banget gue jelek-jelekin." Arga semakin kesal karena ternyata Arka juga menyadarinya.


"Iya, dia baik kayaknya." Arsya beralih sejenak dari PRnya.


"Udahlah, terima aja." Arka memulai permainannya lagi. "Tadi gue sempet liat wallpapernya, foto dia sama kak Luna. Kayaknya dia emang sayang banget sama kak Luna." Arka menambahkan.


"Iya, dia juga tadi tau aja kalau kak Luna mau minum. Padahal kak Luna belum bilang apa-apa. Keren lah," Arsya mengacungkan jempol.


"Pas di telepon juga, kak Luna ditanyain gitu, kayaknya orangtuanya udah kenal, deh." Arsya memang orang yang suka memperhatikan sesuatu secara detil dan teliti. Dan hasilnya bisa lebih dipercaya dibandingkan Arka ataupun Arga.


"Terus mereka serasi lagi!" Arga mendecak kesal. Di pikirannya mulai tergambar bagaimana saat pertama Luna dan El datang dengan baju yang mirip sambil bergandengan tangan. Dia sungguh tidak ingin mengakuinya, tapi baru kali ini Luna tampak begitu serasi berjalan di samping seorang cowok. Dan cowok itu pun, menatap Luna dengan tatapan memuja, ingin menghujaninya dengan cinta. Sebenarnya, apa lagi yang ia ragukan?


"Kenapa emang? Elo cemburu?" Arka bertanya dengan wajah tanpa dosa.


Arsya langsung menoleh dari PRnya. "Kakak suka sama kak Luna?"


"Ngaco! Kerjain PR aja sana!"


Bersambung...


__ADS_1


❤️Arka, si maniak game❤️


Mukanya terlihat lebih tua karena kebanyakan main game... 🤭


__ADS_2