
Chapter 19: Teman adalah Ribet
"Kalau engga ngerepotin, bukan temen berarti." -Luna-
Luna terbangun karena suara yang ia kenal. Dia meraih sumber suara di atas nakas. Menyipitkan matanya, Luna melihat layar ponsel jam 5 pagi.
Jessika calling...
📞 ANZEYYY!! Berisik banget, masih pagi kamp---
Sebuah tangan menutup mulut Luna sebelum ia menyumpah lebih jauh.
"Tidak boleh bicara kasar, Luna," ucap El.
BRUK!
Luna terjatuh dari ranjang karena kaget. Dia lupa semalam dia menyuruh El tidur di sebelahnya.
"Kamu ga papa?" tanya El.
Luna mengangguk dan mengusap kepalanya yang terbentur lantai.
📞 Lun? Elo dimana? Gue denger suara cowok.
Aish... tajem banget nih bocah pendengarannya.
📞 Halu, elo! Kenapa elo telepon pagi-pagi?? Sekolah kan libur!
📞 Gue mau ngajakin elo ke forestland.
📞 Ngapain?
📞 Main lah! Mama gue batalin grup tour 10 orang, daripada ga kepake dikasih ke gue. Elo mau ikut ga? Anak-anak udah gue kasih tau. Buruan siap-siap.
📞 Buru-buru amat! Ini masih pagi buta.
📞 Kita naik bis umum! Kecuali elo bawa bis sendiri elo boleh jalan siang. Di rumah gue jam 6, dah!
"Kamu mau pergi?" tanya El.
"Iya, kak. Jessika ajak main." Luna sudah berdiri lalu berjalan ke lemari, terdiam sejenak memilih baju.
"Sepagi ini? Mau kemana?" El sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Iya kak, aku pun masih ngantuk." Luna menguap. "Kata Jessika kita mau naik bus umum, jadi harus pagi-pagi." Luna masih mencari baju yang cocok. Ini cukup sulit karena isi lemari itu bukanlah baju lamanya, semua baju baru, jadi dia bingung menemukan baju yang cocok.
El berdiri di belakang Luna dan langsung mengambil celana jeans berwarna hitam, sebuah kaos polos berwarna putih dan jaket kulit berwarna hitam. Persis seperti yang Luna cari.
__ADS_1
"Makasih, kak," ucap Luna. Dia bergegas masuk ke kamar mandi.
***
Jam 07.00 pagi...
📞 Elo dimana, heh?! Telat sejam! Gela, gue tinggal, nih!!!
Teriakan Jessika memekakkan telinga. Luna menjauhkan ponselnya dan El mengambilnya.
📞 Tunggu sebentar.
Ucapan El seperti biasa, langsung membuat hening seketika. Setelahnya, El langsung menutup telepon.
"Apa telinga kamu sakit?" tanya El.
Luna menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya. Sudah biasa.
Setengah jam kemudian, mobil hitam besar milik El sampai. Luna turun dan menyapa teman-temannya yang sudah cemberut.
"Sorry, telat. Hehe..." Luna nyengir. Tentu saja dia telat karena kak El yang menyuruhnya menunggu dengan alasan kalau El juga mau ikut. Saking lamanya Luna menunggu sampai dia ketiduran tapi El sengaja tidak membangunkannya!
El turun dari mobil menyusul Luna. "Maaf, tadi dia nunggu saya. Masuklah," ucap El.
"Ha!" Reza menunjuk El. "Saya tau bapak pasti pergi sama Luna makanya bolos kerja!"
"Saya bawa kerjaan bapak! Ahhahahahaha.." Reza tertawa penuh kemenangan. "Bapak ga bisa kabur!"
"Kakak bolos kerja?" tanya Luna. Dia jadi merasa tidak enak.
"Kris," El memanggil Kris yang hari ini menjadi supir mereka. "Tolong urus Reza."
Reza langsung berlari ke belakang Luna menghindari Kris. "Enggak, bapak engga bolos kerja." Reza menggoyangkan lengan Luna. "Lun, tolong Lun, dia mau bunuh gue," ucap Reza.
Luna menautkan alisnya tak mengerti. "Bilang, 'kakak gak bolos, ayo kita jalan-jalan gitu.' Cepet!" seru Reza tak sabar. "Please, Luna, please..." ujar Reza sambil memohon.
"Kakak gak bolos, ayo kita jalan-jalan!" Luna menuruti Reza walaupun dia tidak mengerti, tapi dia bisa melihat El sudah tersenyum.
"Ya udah, minggir," El mendorong Reza menjauh dari Luna.
"Enggak! Saya mau dekat sama Luna biar saya merasa aman," ucap Reza. Dia menjaga jarak 30 Senti dari Luna, dekat tapi tidak bersentuhan.
El mendengus kasar. Kemudian ia memandang Luna dan teman-temannya, mulai menghitung, sepertinya pas di dalam mobilnya, karena kalau tidak muat dia akan langsung mendepak Reza.
"Ayo, masuklah," ucap El mempersilahkan mereka masuk. El menggandeng Luna masuk ke dalam.
Luna bisa melihat ekspresi teman-temannya yang tidak jauh berbeda darinya saat masuk ke dalam mobil El. Dari luar tampak seperti mobil biasa, tapi saat kau masuk, tempat duduknya lebih mirip sofa berbentuk U dengan meja kecil bermotif kayu di tengahnya. Sisi mobilnya bermotif kayu, kontras dengan sofa yang berwarna putih.
__ADS_1
El duduk di tengah kursi dengan Luna di sebelah kanannya. Tapi tidak ada yang mau duduk di sebelah kiri El, jadi Reza terpaksa duduk di sana.
Suasana super canggung pun tercipta sampai akhirnya El membuka mulutnya. "Apa kalian mau makanan ringan?" tanyanya.
Mereka saling pandang, bingung memberikan jawaban.
"Kris, belikan makanan dan minuman," ucap El. Tak lama, mobil berhenti.
"Kalian tidak perlu sungkan, kalau mau, kalian bisa turun dan memilih makanan dan minuman yang kalian suka. Nanti Kris yang membayar," ucap El. "Luna juga, pilihlah yang kamu mau."
Reza sudah akan beranjak mengikuti Luna saat El mencegahnya. "Kamu disini, Reza."
"Kenapa?" protes Reza. Dia tidak mau ditinggalkan berdua dengan El, apalagi tadi El sudah sensitif padanya.
"Kemarikan tabnya, apa yang harus saya kerjakan?" tanya El. Reza tersenyum senang dan memberikan sederet pekerjaan pada El.
Luna dan teman-temannya masuk ke mobil kembali, mereka membeli berkantung-kantung makanan. Tentu saja sekalian untuk di forestland nanti.
Luna membuka es krimnya. "Udah Napa, Jess. Jangan cemberut melulu, capek mata gue liatnya," protes Luna.
"Elo lama banget anzelllll, elo ga tau gue sampe lumutan. Pelet gue keburu luntur," ujar Jessika.
"Tau, gue udah puter berapa kali video elo di YouTube, masih kagak dateng juga," sambung Tiara. "Hampir aja gue suruh pacar gue joget saking bosennya." Sandi melotot seketika.
"Haha.. Untung gue bukan pacar elo," celetuk Tyo.
"Iya, Lun. Telinga gue juga sampai sakit, kakak gue nanya kapan elo dateng ga berhenti-berhenti. Tau gitu gue kagak ajak dia." Reina mendengus kesal. Reza cuma bisa menghela nafas.
"Sorry, gue ketiduran lagi tadi." Luna mulai mencicipi es krim strawberrynya.
"Eh, tadi pagi pas gue telepon elo sama siapa sih? Gue yakin denger suara cowok." Jessika masih penasaran.
"Sama Arga?" tanya Reina.
El jengah mendengar nama itu. "Sama saya," jawab El tanpa pikir panjang.
"Hah?!" seru mereka hampir berbarengan.
"Kenapa??" tanya Jessika. Tidak mungkin kan ini seperti yang dia pikirkan. Kemarin orang-orang El mengambil barang-barang Luna dari rumahnya tanpa mengatakan apapun. Jessika sudah bertanya dimana Luna akan tinggal, tapi bukannya dijawab ia malah diberikan banyak uang. Jadi ia tidak bertanya lagi.
El mengalihkan pandangannya dari tab lalu menggigit es krim Luna sampai tersisa setengahnya saja. Mereka masih memperhatikan El, menunggu jawaban. Jessika semakin was-was, dia tidak menjual temannya sendiri kan?
"Kita sudah menikah," jawab El.
"APA?!"
Bersambung
__ADS_1