Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
35. Kencan (4)


__ADS_3

APAA?


Luna diam sebentar mencoba mengerti.


Beneran?


"K-k-k-ke rumah kakak?"


Mulai deh, gagapnya dia.


"Iya." El menjawab mantap. "Apa mau pulang ke rumah kamu aja?"


"Enggak!" Luna menjawab cepat. "Ga boleh pulang sekarang. Aku disuruh pulang malam.."


"Ha?" El bingung.


Apa-apaan tuh, kok malah disuruh pulang malem? Aneh banget.


"Kenapa harus pulang malem?" El yang penasaran akhirnya menyerah dan memutuskan untuk bertanya.


"Soalnya lagi ada acara. Aku baru bisa pulang malam. Jam 7 atau jam 8 ga apa-apa..."


"Ha?"


Acara? Apaan sih maksudnya?


Luna mulai menggumam kecil. "Aku kan udah dikasih uang. Aku ga boleh pulang sekarang."


Kalau sudah mulai resah dan gelisah seperti itu, El tau sebaiknya dia tidak bertanya lagi, karena itu membuat Luna semakin terlihat---sulit?


"Ya udah, ke rumah kakak aja..." El masih membujuk lagi. Luna tetap diam, masih sibuk dengan pikirannya.


"Apa mau ke rumah sakit aja?"

__ADS_1


"Enggak..." Memalukan banget ke UGD rumah sakit cuma karena kesandung doang. Pasti masuk UGD, kan ini hari libur.


"Ya udah, ke rumah kakak aja ya. Ini bentar lagi nyampe."


"Di rumah kakak ada siapa?"


"Tenang aja, ada banyak orang. Ada supir, Pak Ahmad, ada pembantu---


Luna menghela nafas lega.


"--ada mami juga."


Luna menoleh seketika.


"Mami? Ibu kakak?" Luna berusaha meyakinkan dirinya kalau dia tidak salah dengar.


"Iya." El membunyikan klakson, tak lama pintu gerbang rumah El terbuka. "Tenang aja, mami baik kok."


"Aku takut..."


El mengusap kepala Luna sesaat. "Udah, turun yuk. Kakak bantuin, bentar..." El membuka pintu kemudi dan memutar membuka pintu mobil di sebelah Luna.


"Bisa jalan ga?" Luna mengangguk.


El mengulurkan tangannya membantu Luna turun dan memapah Luna ke dalam rumah.


Sepanjang jalan, Luna bisa melihat rumah El yang sangat luas dan 5 buah mobil yang berjejer rapi di tempat parkir.


Wow....


Pak Ahmad yang melihat El datang membantu membukakan pintu untuk mereka. Saat pintu dibuka, Luna merasa itu adalah hotel, bukan rumah. Sangat bersih dan megah.


"Duduk disini dulu, Lun." El mendudukkan Luna di ruang tamu, dia atas sofa berbulu empuk.

__ADS_1


"Kak, nanti sofanya basah." Luna duduk tak nyaman.


"Udah, duduk aja yang bener." El mendorong Luna sampai bersandar di kursi. "Tunggu disini." Dia menunjuk-nunjuk kursi, menirukan gaya Luna saat menyuruhnya menunggu.


Luna tersenyum kecil. "Iya, kak." Ia tidak membantah lagi.


Setelah itu, El langsung bergegas menuju kamarnya. Ia mau mengambil handuk, menyuruh Luna membersihkan diri, dan mengobati lukanya.


"Baru pulang El?" Mami menyapa El dari ruang TV. Tapi El mengabaikannya.


Kenapa dia buru-buru?


Di tengah kebingungannya, mami mendengar suara seseorang.


"Hatchi!!" suara bersin perempuan.


Suara siapa itu? Kayaknya belum pernah dengar...


Mami berjalan mendekati ruang tamu yang terletak tepat di sebelah tempatnya menonton TV.


Sesaat kemudian, dia melihat sesosok perempuan muda yang basah kuyup sedang duduk di sofanya sambil menutup hidungnya setelah bersin.


"Kamu siapa?"


Luna sangat kaget karena mami tiba-tiba berada di depannya.


"Kamu siapa?" Mami mengulang pertanyaan nya lagi.


Mami menunggu jawaban, tapi malah suara lain yang terdengar.


"Hatchi! Hatchi! Hatchi!!" Suara bersin beruntun. Luna tak bisa menahannya.


Saat hendak menjawab, El muncul di belakang mami.

__ADS_1


"Kak El,"


Bersambung...


__ADS_2