Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
11. Hukuman


__ADS_3

"Terima kasih kak, udah dibayarin..." Luna mengucapkannya tulus saat mereka sudah ada di dalam mobil. Dipandanginya jalan di depannya, hujan deras. Hujan turun sesaat setelah mereka mulai berkendara. Dia sedikit bersyukur karena tidak menolak tawaran El tadi. Dia bisa duduk nyaman dengan perut kenyang. Kenyang dengan semangkuk mi yang ternyata rasanya tidak begitu mengecewakan, walaupun kalau harus memilih Luna lebih baik makan bakso lima porsi daripada makanan tadi.


"Sama-sama..." jawab El. Dia tersenyum sesaat ke Luna lalu beralih ke jalan lagi. Luna pun ikut memandangi hujan di depannya, tidak memiliki topik yang rasanya pantas ia bicarakan dengan El.


Suasana hening penuh dengan rasa canggung dimulai lagi. El akhirnya menyambung ucapannya. "Memang harus aku yang bayar dong, kan aku yang ngajak. Lagian kan, bukannya memang cowok yang harus bayar?" tanyanya.


Luna tertegun. Dia membatin dalam hati. Emang iya? Kok, kalau sama Tyo, gue enggak pernah dibayarin...


El melirik Luna yang melamun. Dia mulai bicara lagi, memancing suara Luna. "Kamu selama ini bayar sendiri?" tanyanya. El seperti bisa membaca pikiran Luna.


"Iya, kak." sahut Luna. "Kalau aku makan sama temen temanku dan pacarnya, cowoknya itu enggak pernah bayarin aku." Luna penasaran. Si Tyo itu pelit atau gimana.


Tyo dan Luna sudah berteman lama, tapi Luna lebih akrab dengan Jessika. Apa karena itu dia tidak pernah mentraktir sama sekali? Ah, tidak, paling juga karena dia kismin.


El terkekeh. "Kalau gitu sih, iya lah... Maksudnya kalau sama temen cowok, atau sama pacar kamu..." Ucapan El memiliki maksud tersendiri. Ia ingin mengetahui status gadis ini. Luna terlalu menggoda untuk sekedar dijadikan adik, kalau bisa ia ingin lebih dari itu.


Luna menghela nafas panjang. "Aku enggak pernah punya pacar..." Seketika ia depresi.


Apa itu pacar? Nama makanan ringan sepertinya. Luna mencoba bercanda dengan dirinya sendiri, dalam hati.


El langsung menoleh ke arah Luna dalam sekejap. "Kenapa?" tanyanya. El penasaran dan bahagia di saat yang sama. Entah kenapa dia merasa senang, sepertinya bisa lebih daripada yang ia perkirakan.


Karena ada adik durhaka itu. Sudah enggak 'mood' punya pacar lagi. Terima nasib saja.


Luna mendengus kesal. Dia memajukan bibirnya sedikit, berusaha agar tidak terlalu kentara kalau dirinya sedang bete berat. "Enggak apa-apa..." jawabnya. Dia memang kesal tapi dia merasa tidak ingin curhat. Apalagi curhat dengan bos ayahnya. Ini terlalu anti-mainstream. Memangnya ada yang pernah melakukan hal ini?


El tidak bertanya lagi karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Luna pun sama sekali tidak ingin membuka mulutnya. Keheningan total terjadi sampai beberapa saat kemudian, mereka memasuki kawasan perumahan Luna.

__ADS_1


"Kak, kak, aku turun disini aja. Kalau kakak masuk ke dalam nanti susah putar mobilnya..." Luna mengibaskan tangannya meminta perhatian El. El menanggapinya kemudian mengangguk.


El memperhatikan keadaan sekitar, sepi. Ia mencari tempat yang sesuai untuk parkir lalu memilih untuk menepi di gerbang penjagaan komplek. Komplek apaan nih? Jalannya sempit amat.


Jalan menuju perumahan Luna hanya cukup untuk satu mobil saja. El merasa kumpulan rumah berjajar di depannya belum layak disebut perumahan. Terlalu gelap, tidak nampak kehidupan. Bahkan pos penjaga itu kosong. Kemana semua orang?


"Aku turun ya, kak. Makasih udah diantar..." Luna meraih tasnya cepat hendak membuka pintu.


"Eh tunggu!" El menarik tangan Luna, mencegahnya untuk turun. "Di luar masih hujan. Rumah kamu masih jauh?" tanyanya. El memandang ke luar jendela mobil, memang masih gerimis. Tapi lebih daripada kehujanan, ia khawatir dengan keselamatan Luna.


"Enggak kok, kak. Udah dekat, tinggal lurus terus belok kanan..." Luna menunjuk-nunjuk jalan dengan jarinya, berusaha memberikan gambaran singkat tentang letak rumahnya.


"Ohhh..." El terdiam sejenak setelah mengangguk mengerti. Sepertinya memang tidak terlalu jauh.


"Ya sudah, kamu pakai ini saja. Tutupi kepala kamu..." El memberikan jasnya yang tadi sudah dipakai Luna.


Kita enggak bakal ketemu lagi kan? Batin Luna.


"Pakai saja, daripada kamu sakit." El meletakkan jas di atas kepala Luna. Setelahnya, dia mengambil kartu namanya dari dashboard mobil. "Nanti kamu telepon kakak aja kalau mau kembaliin." Diberikannya selembar kertas kecil itu pada Luna.


"Iya, kak." Agar cepat, Luna mengiyakan saja dan menyimpan kartu itu di dalam saku seragamnya. Setelahnya, dia meraih tangan El dan salim pamit. "Makasih kak..."


Pintu tertutup, Luna menghilang di kejauhan, meninggalkan El yang masih terpana melihat tangannya.


***


Di rumah Luna...

__ADS_1


"Kamu darimana saja Luna?" Bunda sudah menunggu di depan pintu.


"Maaf Bun... Luna tadi ke kantor Ayah, tapi Ayah sudah pulang." Luna berusaha menjelaskan.


"Ngapain kamu ke kantor Ayah? Kenapa kamu enggak bareng Arga aja? Arga udah pulang dari sore tadi. Kamu anak perempuan, kok, paling susah diatur. Kelayapan terus. Mana ada anak gadis malem baru pulang? Kamu memang enggak lihat jam? Bukannya kabarin malah ditelepon enggak diangkat. Buat apa kamu punya ponsel?" Bunda langsung mencerca Luna tanpa jeda sambil menatap anak itu tajam, menunjukkan kalau dirinya sedang marah.


Luna menghela nafas dalam. Lebih baik diam karena dia juga tidak akan menang dalam perdebatan ini.


"Udah lah Bun, udah malem. Berisik." Ayah muncul dari kamar. "Udah, Luna istirahat aja, besok sekolah kan?" Seperti hari-hari biasa, Ayah lah yang akan selalu membelanya.


Luna tersenyum lega melihat Ayah. "Iya, yah..." ucapnya. Luna segera beranjak pergi setelah Ayah kembali masuk ke kamar. Tapi Bunda mencegahnya sebelum ia sempat kabur.


"Kasih Bunda ponsel kamu. Kamu ga boleh pakai ponsel kamu seminggu." Perintah mutlak.


Luna tercekat. "Tapi Bun, nanti kalau ada tugas mendadak gimana? Kalau ada info dari sekolah gimana?" Ia berusaha mempertahankan miliknya. Bukan hanya alasan kosong, tapi memang benda ini sangat penting untuknya. Kalau tidak percaya, lihat saja deretan foto papan tulis yang ada di album.


Bunda diam sejenak. "Ya sudah. Uang jajan kamu Minggu depan ibu potong separuh."


Luna menunduk. Hukuman ini juga kejam, tapi setidaknya lebih baik daripada kehilangan ponselnya. Dia pasrah dan memilih masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Luna bersyukur karena ia berpikir dengan cerdas untuk memasukkan jas El ke dalam tasnya sebelum masuk rumah. Kalau tidak, pasti Bunda akan bertanya macam-macam dan semakin marah.


Menghela napas lelah, dia berbaring di tempat tidur tanpa mengganti bajunya lalu terlelap beberapa detik kemudian.


Sementara itu, di dalam mobil senyum El belum juga memudar.


Kok, berasa abis nge-date ya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2