
Huh ...Huh ....
Penghuni tepat tidur king size itu sedang berlomba menghirup oksigen yang sudah menipis di dada mereka .
Posisi keduanya saling berpelukan,peluh membasahi tubuh polos mereka tanpa sehelai benang pun .
" Kau tidak ingin memberi tahu ku " Tanya dengan napas terputus .
" Laki² " Brad langsung melepaskan pelukannya menjauh kan tubuh nya dari sang istri " bisa ulangi " Iin masih mengatur napas lalu menatap sang suami .
" Laki² seperti keinginan kakak " Brad langsung mencium seluruh wajah Iin membuat wanita itu tersenyum .
Setelah itu dia menurunkan badannya hingga kini sejajar dengan perut Iin.
" Hai Boy , Ah papi bingung harus mengatakan apa ? Tapi Papi bahagia " Ujarnya tanpa dia sadar kini mata nya sudah berkaca-kaca .
" Berjuang lah bersama Mami ,maaf Papi tidak selamanya bersama kalian karena papi harus kerja jauh , Tapi Papi akan mengusahakan untuk selalu mengabari kalian "
Tes
Brad menghapus cairan bening yang sudah membahasi pipinya ,hal itu pun di lihat Iin yang ikut terharu bagaimana senang nya Brad saat tahu jenis kelaminnya calon anak mereka .
" Papi titip Mami sama kakak ya " Ujarnya serak lalu menatap Iin yang tersenyum manis.
" Makasih banyak " Iin hanya mengaguk tersenyum mengelus pipi Brad .
" Apa kakak sebahagia itu " Brad mengaguk " Bagaimana kalau dia perempuan " Tanya Iin lirih.
" Aku akan membuat mu hamil lagi hingga melahirkan seorang pria untuk ku " Jawabnya tenang .
Plak .
Brad tertawa lalu memeluk Iin dan mencium kepalanya beberapa kali .
" Ayo kita istirahat, sebelum Salsa kembali " Iin mengagukkan kepala .
" Mandi dulu , lengket " Ujar Iin .
" Nanti saja aku lelah " Brad menarik Iin dalam pelukannya, Iin hanya bisa pasrah .
🪵
🪵
Bugh
__ADS_1
Bugh
" Papi....Papi " Iin dan Brad saling menatap tersenyum .
Syukur keduanya sudah membersihkan diri dan mengganti sprei tempat tidur .
Brad berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamarnya .
" Papi " Brad berjongkok mengakat Salsa membawanya masuk dalam kamar .
" Sudah mandi " Salsa mengaguk tersenyum .
" Sudah harum " Brad mendudukkan Salsa di atas tempat tidur " Papi bantu Mami dulu ok " Iin mengagukkan kepala nya .
" biar aku " Brad mengambil ahli hairdryer dari tangan Iin lalu mengeringkan rambut sang istri dengan pelan .
" Makasih kak " Brad hanya mengaguk sebagai jawabannya .
Setelah selesai keduanya mendekati Salsa yang sejak tadi memperhatikan keduanya .
" Papi sudah tidak lelah ? " Brad mengakat tubuh Salsa hingga gadis kecil itu duduk di pangkuan nya .
" Iya " Jawab Brad .
" Salsa sudah makan " Tanya Iin lembut sambil mengelus rambut sang putri.
" Makan apa ? " Tanya Iin lembut .
" Makan rumah Oma " Jawabnya lagi .
" Kalau begitu kita ke bawah dulu ,Papi sama Mami belum makan " Salsa langsung menatap kedua orangtuanya bergantian tapi setelah itu dia mengagukkan kepala nya.
Sesampainya di dapur kedua nya di sambut Isna yang sudah menunggu mereka sejak tadi bersama morgan .
" Ayah kira kamu sudah kenyang " Brad hanya tertawa kecil .
" Di bawah sudah rapi di atas belum " Jawabnya membuat Morgan mendengus kesal .
" Sudah jangan bahas yang aneh-aneh, kasian Iin pasti kelaparan ,biarkan dia makan dengan tenang setelah itu dia Istirahat " Isna melerai keduanya hingga membuat Morgan dan Brad terdiam .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 21.11 PM
Saat semua nya akan kembali ke kamar setelah menghabiskan waktu bersama keluarga bercerita kini satu persatu akan kembali ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1
Namun langkah mereka terhenti saat melihat cairan yang mengalir di antara kaki Aurellia, sedangkan wanita itu hanya terdiam sambil memegang tangan Erland dengan erat .
" Angkat istri mu bodoh " Bentak Edward kesal karena Erland hanya diam sesekali menatap Aurellia dan melihat ke bawah .
PLak
Pukulan keras itu menyadarkan Erland ,jika dalam keadaan sadar mungkin dia akan membunuh orang sudah berani memukul kepalanya .
Tapi tidak dengan kali ini ,karena otaknya mendadak bodoh dan linglung.
" Daddy tolong ambilkan pakaian Baby di atas " Ujar Adara cepat .
" Biar Eric saja dad " Eric langsung berlari dengan langkah besarnya bahkan dia melangkahi beberapa anak tangga .
" Hubungi pihak rumah sakit Dad " Pintah Raymond sebelum meninggal kan ruangan itu mengikuti Erland yang sudah membawa Aurellia ke luar .
" Keluar " Titah Reza pada sang sopir lalu masuk dalam mobil .
Edward membantu Erland memasukan Aurellia dalam mobil ,wanita itu tidak berteriak atau semacamnya Seperti layaknya wanita yang akan melahirkan .
Tapi bukan berarti dia tidak merasakan sakit ,bahkan sebelum itu dia sudah merasakan sakit hanya dia tidak ingin membuat keluarga nya panik karenanya .
" Tolong hubungi orang tua Lia " Ucap Erland ,wajah pria itu tidak seperti biasanya bahkan sudah seperti mayat hidup .
Tidak ada lagi darah yang mengalir di tubuhnya ,padahal Aurellia sebisa mungkin menahan sakit nya agar tidak membuat suaminya panik .
" Jangan di tahan, lampiaskan semuanya padaku " Aurellia hanya mengaguk tangan nya terus mencekam pakaian sang suami .
Mobil sudah meninggalkan masion utama, Adara ,Erland , Raymond dan Reza yang mengantar Aurellia .
Di susul Amanda dan suaminya yang akan membantu melahirkan Aurellia .
Di masion utama Ana ,Elsa dan yang lainnya harap² cemas ,Jeje dan Alan menemani Daddy Radit yang ikut khawatir .
Penghuni masion itu masih terjaga hanya beberapa orang saja yang sudah terlelap ,salah satunya Nova ,Vika dan para bocil bahkan Daddy Radit menunggu kabar dari rumah sakit .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung terus Erland menjadi novel favorit kalian 🥰🥰🥰🥰
Like
Koment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa hadiah bunganya dan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟