Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Hanya sebentar


__ADS_3

Maura terlihat tidak mau lepas dari Bundanya. Dia menangis dalam pelukan Bunda Freya, dia ingin Bundanya ikut dengannya pergi ke Singapura padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul delapan tepat dan seharusnya Maura dan yang lainnya yang mengantar Maura sudah harus check in dan berada di waiting room.


"Maura...nggak boleh begitu sayang."


"Sudah berhenti nangisnya."


"Itu aunty Caca, Paman Rendy sama Dosen gantengnya Maura sudah nunggu dari tadi."


"Nanti kalau Maura nangis terus dan ketinggalan pesawat, Maura tidak jadi ikut kompetisi dan hadiah yang sudah Bunda dan Ayah janjikan hangus begitu saja karena Maura tidak mau berangkat sekarang." Freya berusaha membujuk Maura yang menangis terus meminta dirinya ikut.


"Maura nggak mau hadiahnya hangus."


"Tapi Maura mau bunda ikut. Huwaaa..." Freya mendekap Maura dan dielusnya punggung juga kepala Maura yang menangis semakin histeris itu.


"Kan sudah ada aunty Caca juga Paman Ren_," Freya tidak melanjutkan ucapannya saat disela Maura.


"Tapi Mama Mutia tidak ada."


"Mama nggak jadi ikut."


"Maura mau Bunda saja."


"Bunda yang harus ikut sama Maura." jerit Maura dalam tangisnya


"Bunda tidak bisa ikut sayang."


"Maura kan tahu, dokter melarang Bunda berpergian jauh."


"Kasihan nanti sama dedek bayinya." jelas Freya yang masih terus berusaha menenangkan Maura.


"Dedeknya tinggal saja, dititipkan sama Oma saja." Ingin rasanya Freya tertawa mendengar perkataan Maura yang polos itu. Meski Maura pintar dan cerdas, jiwanya tetap anak-anak usia 5th dengan pikiran polosnya.


Caca tidak bisa menahan tawanya mendengar perkataan keponakannya itu. "Bagaimana caranya itu?? Ada-ada saja Maura ini."


Caca sontak menghentikan tawanya saat mendapat tatapan tajam dari sang Kakak, Bryan.


Bryan mengusap wajahnya kasar, dia bingung bagaimana cara membujuk Maura kalau Freya sendiri saja tidak bisa membujuk Maura yang biasanya langsung menurut kalau Bundanya menegur maupun menasehatinya.


Maura tadi langsung menangis mengetahui Mutia tidak ada dalam rombongan dan tidak bisa dihubungi. Dia langsung meminta Bundanya untuk ikut ke Singapura atau dirinya tidak jadi ikut kompetisi.


"Bagaimana? Apa sudah bisa dihubungi nomornya?" tanya Bryan pada Rendy yang dia minta untuk menghubungi Mutia sedari Maura mencari sosok Mama Mutia.


"Belum bisa Tuan."


"Nomornya memang sedari tadi pagi tidak bisa dihubungi." Bryan memicingkan matanya menatap Rendy dengan kening berkerut.


"Bagaimana bisa?"


"Bisa jadi dia saat ini masih di apartemen dan belum berangkat."


"Kamu ini bagaimana sih, Rend." sentak Bryan yang menurutnya Rendy tidak becus mengurus semua pekerjaannya.


"Maaf Tuan."


"Tapi saya tadi sudah kesana dan dia memang sudah tidak ada di apartemen." jelas Rendy yang memang tadi tidak menemukan sosok Mutia di apartemen yang Mutia tinggali.


"Maksud kamu apa, Rend?"


"Mutia tidak ada di apartemen?" tanya Freya yang memang beberapa hari ini tidak bertukar kabar dengan Mutia setelah urusan membantu Bryan di kantor beberapa hari yang lalu sudah selesai.


"Benar Nona."


"Kata satpam di sana sudah dua hari Mutia tidak tinggal di apartemen."


"Dia membawa kopernya pergi dari sana." Freya menutup mulutnya mendengar penjelasan dari Rendy.


"Ada masalah apa dengan Mutia?" batin Freya mengingat Mutia yang sering menceritakan masalahnya pada dirinya, namun semenjak dirinya menikah, Mutia sudah jarang lagi menceritakan masalahnya pada dirinya.


Bryan menatap tajam pada Rendy dan menyeret Rendy sedikit jauh dari Freya dan yang lainnya.


"Apa sebenarnya yang kamu lakukan pada Mutia beberapa hari yang lalu?"


"Kamu memukul Alex sampai masuk ICU."


"Dan anak buah mu bilang kamu membawa Mutia pergi dari Alex."


"Apa yang kamu lakukan pada Mutia, Rendy?" suara Bryan tertahan supaya tidak terdengar yang lainnya. Dia benar-benar geram pada asisten pribadinya itu. Hanya karena satu wanita, asistennya itu harus bertengkar dan bertaruh dengan sahabatnya, Alex.


"Saya tidak melakukan apapun pada Mutia, Tuan."


"Saya hanya menolong Mutia dari kejahatan yang akan Alex lakukan padanya." bantah Rendy yang memang menolong Mutia dari kejahatan yang Alex perbuat. Namun dia berbohong soal tidak melakukan apapun pada Mutia. Dan Rendy yakin kalau Mutia saat ini tengah menghindari dirinya atau mungkin marah pada dirinya.


"Apapun alasan yang kamu buat, kamu tetap salah dalam masalah ini."

__ADS_1


"Perjalanan kamu kali ini tidak ada gaji ataupun bonus." Bryan terlihat begitu marah sama Rendy. Asistennya itu semenjak kenal Mutia sudah jarang fokus dengan pekerjaannya.


"Kevin!! Berapa hari jadwal kompetisinya?" tanya Bryan pada Kevin, Dosen yang Bryan tunjuk untuk mendampingi Maura.


"Kompetisinya selama dua hari dan itu dua hari dari sekarang."


"Sisanya pertemuan dengan beberapa orang penting." Bryan mengangguk paham akan penjelasan dari Kevin.


"Saya minta jadwal seminggu kedepan."


"Apa ada rapat atau janji penting dalam seminggu ini?" tanya Bryan yang menelephone Julian, sekertaris nya.


"Ada Tuan, besok anda ada rapat tahunan dan selebihnya anda tidak ada rapat atau janji penting lainnya."


Bryan lantas mengakhiri panggilan telephone dan mendekati Freya yang duduk sambil memangku Maura yang masih terdengar menangis itu.


"Maura, sudah jangan menangis."


"Ayah yang akan menemani Muara." Bryan duduk disamping Freya dan mengusap kepala Maura yang ada dipangkuan Freya. Dia memutuskan untuk menemani Maura daripada Maura tidak jadi mengikuti kompetisi. Karena Bryan tahu, kompetisi class internasional ini adalah impian dan keinginan Maura sendiri untuk mengikuti kompetisi itu.


"Ayah benar nggak bohong?" tanya Maura dengan sesenggukan menatap sang Ayah dengan mata yang sudah bengkak, hidung memerah, juga wajah yang basah karena air matanya yang sedari tadi mengalir.


Bryan tersenyum dan mengangguk, "Iya benar, Ayah nggak bohong."


Maura yang senang akhirnya ditemani sang Ayah langsung minta digendong sang Ayah. Dia mengeratkan pelukannya pada Ayah Bryan.


Freya bernafas lega setelah melihat Maura kembali tenang setelah sang Ayah yang akan menemaninya. Freya menatap Bryan dengan tersenyum tipis, Bryan tidak hanya sayang pada dirinya, tapi juga pada Maura."Kamu sebenarnya baik dan penyayang, Mas. Tapi kenapa harus kamu yang menabrak Bapak sampai meninggal?" batin Freya dalam benaknya jika mengingat Bryan lah yang menabrak Bapak juga adiknya.


"Sayang kenapa menangis?"


"Kamu mau ikut juga?" Bryan mengusap ujung mata Freya yang berair.


"Tapi sebelum kamu jawab iya, aku akan melarang mu terlebih dahulu."


"Nanti sepulang dari sana, baru aku akan mengajak kamu dan anak-anak pergi berlibur."


"Hanya kita, tidak ada yang lain." Freya justru menjatuhkan air matanya mendengarkan perkataan Bryan. Itu tidak mungkin, pikirnya.


"Kok ganti kamu yang menangis."


"Nggak malu kamu sama Maura." Bryan merangkul Freya dari samping dan diusapnya pelan lengan Freya.


"Bunda jangan menangis."


"Atau nanti setelah selesai pengumuman, Maura sama Ayah akan langsung pulang biar Bunda sama dedek bayinya tidak sendirian lagi di rumah." Freya memeluk Bryan dan Maura sambil menangis.


"Apakah ini akan menjadi pertemuan terakhir kita?" batin Freya saat Maura juga Bryan membalas memeluk dirinya. Freya benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah dengan Bryan juga Maura. Tapi tiap kali melihat wajah Bryan hatinya sungguh sakit. Sakit mengingat cinta pertamanya, Bapaknya meninggal di tangan suaminya sendiri.


"Itu dia Kak Mutia!!!" seru Caca melihat Mutia yang berlari kecil mendekati mereka bersama seseorang.


"Kenapa ada Kak Evan juga." batin Caca melihat Evan yang menarik koper Mutia. Caca mendelik pada Evan yang sudah berada didekatnya.


"Kenapa kamu bisa sama kak Mutia?" bisik Caca pada Evan.


"Tidak sengaja tadi ketemu dijalan."


"Dan aku ingat kalau kamu dan Mutia akan mengantar Maura."


"Ya sudah aku antar sekalian."


"Sekalian lihat pacar aku yang cantik." Caca tersipu malu mendengar ucapan Evan.


"Gombal." cibir Caca yang tidak bisa menyembunyikan rona merah diwajahnya juga senyum di bibirnya.


"Maaf telat." ucap Mutia dengan nafas tersengal-sengal karena habis lari.


"Mama!!!" teriak Maura saat melihat Mutia


"Maura kira Mama sudah tidak sayang lagi sama Maura." Maura cemberut menatap Mutia sambil bersedekap tangan.


"Maaf sayang, Mama tadi terjebak macet." ucap Mutia sambil tersenyum. Untung tidak telat, batinnya.


"Maaf Tuan, setengah jam lagi akan take off."


"Apa anda jadi ikut?" tanya Rendy karena dialah nantinya yang akan mengurus semua keperluan Bryan selama di sana.


"Ayah temani Bunda saja supaya Bunda tidak pergi jauh-jauh dan tetap di rumah untuk menjaga dedek bayi."


"Kan sekarang sudah ada Mama."


"Maura ditemani Mama saja." ucap Maura dengan semangatnya, dia sudah tidak menangis lagi.


"Maura ditemani Mama Mutia juga Paman Robot dan aunty Caca. Dan Bunda sama dedek bayi ditemani Ayah."

__ADS_1


"Paskan jadinya." Maura tersenyum menatap Ayah dan Bundanya.


"Baiklah...Kalian berangkatlah."


"Saya titip Maura."


"Jaga permata saya dengan hati-hati." ujar Bryan yang masih memeluk Maura, seakan dirinya begitu berat membiarkan Maura pergi jauh dari pengawasannya.


"Baik Tuan." ucap Rendy dan Mutia bersamaan.


"Sayang, hati-hati ya."


"Jangan lupa berdoa dan menurut sama Mama, Aunty Caca juga sama Paman Rendy."


"Nggak boleh bandel di sana." Freya menciumi wajah Maura juga tangan kanan Maura.


"Kami pergi dulu Tuan, Nona." pamit Rendy


"Dadah Bunda!! Dadah Ayah!!" teriak Maura yang saat ini tengah Mutia gendong.


Freya juga Bryan tersenyum membalas lambaian tangan Maura hingga Maura dan yang lain tak terlihat lagi.


"Jangan bersedih, Maura aman bersama mereka." Bryan merangkul Freya begitu posesif mengingat di sana juga masih ada Evan yang terlihat dari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Hmm.." Freya hanya berdehem dan menoleh kearah Evan yang berdiri disampingnya dengan jarak yang tidak jauh.


"Kak Evan apa kabar?"


"Lama tidak bertemu." tanya Freya sambil tersenyum menyapa Evan tanpa berjabat tangan. Freya tahu pasti nantinya tangannya akan ditarik oleh Bryan. Lihat saja sekarang, tangan Bryan tidak lepas dari pinggang Freya.


"Alhamdulillah baik."


"Lama tidak bertemu, Maura sudah mau punya adik saja."


"Tuan Bryan memang tokcer." kata Evan sambil terkekeh pelan saat melihat perut Freya yang sudah mulai sedikit membuncit.


"Ya...karena bibit yang saya miliki lebih unggul dari siapapun, bahkan sangat berkualitas."


"Tidak dimiliki sama siapapun." ucap Bryan dengan arogannya.


Evan hanya mengangguk saja sambil tersenyum, "Belum berubah ternyata." batin Evan.


"Emang tidak ada yang bisa menandingi milik anda Tuan."


"Kalau begitu saya pamit dulu."


"Dah Freya." Freya tersenyum melihat Evan yang mengedipkan matanya pada dirinya.


"Dasar lakik tidak tahu diri!!!"


"Sudah tahu ada suaminya masih saja genit pada istri orang." omel Bryan begitu geram pada Evan yang beraninya mengedipkan matanya pada Freya di depan dirinya. Tidak punya rasa takut sama sekali, pikir Bryan.


Freya geleng kepala dan meninggalkan Bryan begitu saja. Dia ingin pergi untuk menenangkan diri dan bertemu dengan Mama Marisa.


"Sayang tunggu!!" Bryan melangkah cepat mengejar Freya yang sudah berjalan sedikit jauh di depannya.


"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." ajak Bryan setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Freya.


"Tapi aku mau ketemu Mama."


"Tadi sudah buat janji sama Mama."


"Mas Bryan juga sudah tahu tadi." kata Freya menolak halus ajakan Bryan, lebih tepatnya ingin menjauh dari Bryan.


"Sebentar saja sayang, nanti aku antar kamu ketemu Mama Marisa."


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Penting." Freya menghentikan langkahnya dan menatap Bryan lekat. "Apa Mas Bryan akan mengakui kesalahannya?" batin Freya.Tidak biasanya Bryan bicara serius seperti saat ini kalau memang tidak penting.


"Kamu maukan?"


"Hanya sebentar, aku janji." Freya mengangguk dan kembali melanjutkan langakahnya bersama Bryan yang merangkul pundaknya.


Apakah Bryan akan mengakui semuanya?


Dan apakah Freya akan menerima semua takdir dalam hidupnya?


🍁🍁🍁


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2