Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Harus Ikhlas Meski itu Berat


__ADS_3

Setelah satu hari penuh menempuh jarak yang bermil-mil dari Swiss ke tanah air, akhirnya Bryan dan rombongan sampai di tanah air tercinta. Bryan bergegas turun dari mobil setelah mobil terparkir sempurna di depan rumah utama yang terlihat masih begitu ramai orang berdatangan yang bertakziah mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga nya.


Dengan langkah cepat, Bryan masuk ke dalam rumah. Dia mematung di tempat saat melihat jenazah Papa Abri sudah dimasukkan ke dalam keranda yang terbungkus kain hijau. Papa nya belum dimakamkan, sesuai keinginan Bryan yang memang meminta menunggu dirinya tiba di rumah.


Mama. Bryan tidak melihat sosok ibu yang telah melahirkan nya. Yang terlihat adik nya, Caca yang tengah menangis dipelukan Andre, sepupunya dan ada beberapa kerabat dekat yang lain juga terlihat disana.


Freya yang melihat suami nya dia berdiri di ambang pintu pun mendekati sang suami. Diusapnya lembut lengan suami nya hingga membuat sang empunya lengan menoleh kepadanya. Freya tersenyum tipis meski air matanya sedari tadi sudah membasahi pipinya. Dia menganggukkan kepalanya meminta Bryan untuk mendekat ke jenazah Papa Abri.


Dengan di temani Freya, Bryan melangkah pelan mendekati jenazah Papa Abri. Dia begitu tidak menyangka Papa yang menjadi panutannya kini telah pergi begitu cepat dalam hidupnya. Tidak ada firasat apapun yang dia rasakan sebelum Papa nya pergi meninggalkan dirinya dan Mama serta adiknya.


Caca yang melihat kakak nya sudah tiba, dia lantas berdiri dengan susah payah hingga di bantu sama Andre.


"Kakak." dengan suara serak dan lirihnya Caca melangkah cepat dan memeluk kakak nya dengan begitu erat. Menumpahkan rasa sedihnya yang begitu dalam saat kehilangan cinta pertama nya, sosok pelindungnya dan kebahagiaannya.


Bryan membalas pelukan Caca tak kalah eratnya. Dia berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan air matanya saat ini meski sebenarnya berat. Dia tidak ingin adik dan istrinya serta Mama nya semakin sedih kalau dirinya ikut larut dalam kesedihan ini. Nanti siapa yang akan menguatkan mereka kalau dia ikut larut dalam kesedihan akan kepergian Papa Abri. Bryan mengusap punggung dan kepala adiknya dengan lembut, memberi sang adik ketenangan.


"Jangan menangis lagi. Ikhlas kan Papa, biar Papa pergi dengan keadaan tenang meninggalkan kita. Kita doakan semoga Papa tenang di sana, di terima disisi-Nya."


Caca hanya menganggukkan kepalanya mendengar bisikan dari Kakak nya. Dia berusaha ikhlas, tapi entah kenapa itu begitu berat untuk dirinya melepas kepergian cinta pertama nya.


Tangan Freya juga ikut terulur mengusap punggung Caca yang masih berada dalam pelukan suami nya. Dia tahu bagaimana perasaan Caca saat ini. Harus kehilangan sosok lelaki yang jadi pelindungnya sejak masih dalam kandungan dan menjadi cinta pertama bagi anak perempuan. Karena sosok Ayah, Bapak, Papa adalah orang pertama yang selalu membela putri bahkan putra nya saat benar maupun salah.


Freya pernah berada di posisi Caca seperti ini, kehilangan Bapak yang sangat dia sayangi dan cintai di waktu yang begitu mendadak. Sedih, sesak, rapuh dan kehilangan arah pernah Freya rasakan saat kepergian Bapak nya beberapa puluh tahun yang lalu.


Caca melepaskan pelukannya pada kakak nya, Bryan dan kini dia beralih memeluk Freya, kakak ipar satu-satunya.


"Tidak baik sedih berlarut seperti ini. Kasihan Papa nantinya. Beliau ingin pergi dengan tenang tapi anak gadisnya nangis terus tidak mengikhlaskan Papa nya untuk pergi. Jangan nangis lagi ya, kita doakan yang terbaik buat Papa."

__ADS_1


Bisik Freya pada adik iparnya untuk mengikhlaskan kepergian Papa Abri meski berat rasanya. Tapi kita sebagai manusia harus mengikhlaskan apapun itu yang diambil oleh Allah. Karena semua yang ada, yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah.


Freya yang masih memeluk Caca membawa Caca duduk kembali dibawah. Dia menatap suaminya yang terlihat melakukan sholat jenazah sendirian untuk Papa Abri sebelum sang Papa di kebumikan. Mengingat memang seharusnya dari kemarin jenazah Papa Abri di kebumikan, tapi ditunda karena permintaan Bryan yang ingin melihat Papa nya untuk terakhir kalinya dan ingin memberikan penghormatan kepada Papa Abri dengan cara dirinya menyolati jenazah Papa Abri.


"Mama dari kemarin pingsan terus kak. Dia sekarang di kamar tamu bersama bibi Arta." ucap Caca setelah sedikit mulai tenang meski air matanya sesekali tetap jatuh dari pelupuk matanya.


Freya mengangguk, "Kakak mau menemui Mama dulu ya."


Freya beranjak pergi ke kamar tamu dimana sang Mama mertua berada. Tapi sebelum itu dia duduk di samping suaminya yang sudah selesai menyolati jenazah Papa Abri. Dia memanjatkan doa untuk Papa mertuanya semoga di tempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. Dia juga memeluk kedua orang tua Papa Abri yang masih hidup sebelum akhirnya menemui Mama mertuanya.


"Bunda!!"


Maura langsung berlari ke arah Bunda nya saat melihat ada seseorang yang masuk ke kamar tamu dimana dirinya dan Mama Lea berada. Gadis kecil itu menangis dipelukannya.


"Opa pergi ninggalin Maura, Bunda. Seperti nenek yang pergi waktu Maura masih kecil."


"Maura doa kan Opa ya supaya Opa masuk surga dan tenang di sisi Allah." Freya melepas pelukan Maura dan mengusap air mata yang membasahi pipi putri kecilnya.


Maura mengangguk, "Iya Bunda, tadi Maura sudah berdoa pada Allah untuk menempatkan Opa nya Maura di surga."


Freya tersenyum tipis mendengat ucapan Maura. Dia mengajak Maura mendekati Mama Lea yang terlihat melamun dengan tatapan kosong di temani ke dua adik kandung Papa Abri, Arta dan Alya.


"Ma." Freya menyentuh tangan Mama mertuanya yang hanya diam saja seperti orang yang separuh jiwanya telah pergi.


Ya, memang Papa Abri adalah separuh jiwa yang dimiliki Mama Lea. Meski mereka berdua sering berbeda pendapat dan beradu mulut. Tapi keduanya saling sayang dan melengkapi. Papa Abri yang tegas dan Mama Lea yang suka buat ulah. Kini lawan Mama Lea telah pergi untuk selamanya, tidak ada lagi nanti yang akan memarahinya kalau dia melakukan kesalahan, berbuat ceroboh dan seenaknya sendiri. Tidak ada lagi yang menemaninya disisinya.


"Mama harus kuat. Mama jangan lemah dan sedih seperti ini. Masih ada Freya, Mas Bryan, Caca dan yang lainnya yang akan menemani Mama, selalu ada buat Mama."

__ADS_1


Freya mengusap air mata Mama Lea yang tiba-tiba jatuh, karena sebelumnya Mama Lea hanya diam saja tanpa banyak bicara dan melamun dengan tatapan kosong.


"Iklhas kan Papa ya,Ma. Biar Papa tenang disisi-Nya. Biar Papa kembali ke sisi Allah dengan mudah. Ikhlas kan Papa, jangan terus tangisi kepergian Papa karena itu tidak akan membuat Papa kembali ke sisi kita. Mama mau kan Papa tenang dan diterima di sisi Allah? Kalau Mama mau, ayo kita keluar. Antar Papa ke rumah barunya."


Mama Lea sudah mulai bereaksi, dia menatap Freya, menantunya lekat. Apa yang dikatakan menantunya benar adanya. Dia harus ikhlas, tidak boleh larut dalam kesedihan. Karena apapun yang terjadi suaminya, Papa Abri tidak akan mungkin kembali lagi disisinya dan anak-anak.


"Antar Mama kedepan."


Freya tersenyum senang, ternyata membujuk Mama mertuanya tidaklah sulit. Begitupun dengan Arta dan Alya yang terlihat bernafas lega karena kakak iparnya mau keluar menemui jenazah Papa Abri. Mengingat sebelumnya hanya berteriak histeris karena kepergian Papa Abri sampai membuat Mama Lea jatuh pingsan beberapa kali.


"Mama minum dulu, baru nanti Freya antar kedepan."


Freya memberikan segelas air kepada Mama Lea dan Mama Lea menurut saja dan meminun air itu sampai habis. Padahal tadi Arta dan Alya sudah beberapa kali mencoba membujuk kakak ipar nya itu, namun tidak dihiraukan sama sekali sama Mama Lea. Tapi sama Freya, Mama Lea langsung menurut saja apa yang dikatakan oleh istri nya Bryan itu.


"Apa sih yang dimiliki Freya?" batin Arta dan Alya yang merasa Freya memiliki suatu energi positif.


"Mama.." ucap Caca lirih.


Bryan yang duduk disamping Caca menoleh, mengikuti arah pandang adiknya itu. Terlihat Mama Lea berjalan menuju ke arah mereka digandeng sama Freya.


Bryan berdiri dan mencium tangan Mama nya kemudian memeluk ibu yang telah melahirkannya itu dengan erat. Lagi, air matanya Bryan tidak keluar. Hanya memerah saja. Begitu kuatnya Bryan bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh membasahi pipi nya.


Caca juga ikut memeluk Mama nya. Kini mereka bertiga saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain.


Freya yang melihat itu tersenyum tipis dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya. Beban suaminya sekarang semakin bertambah semenjak Papa Abri dinyatakan telah meninggal dunia. Tak hanya beban keluarga kecilnya saja yang harus dia pikul, tapi Mama dan adik nya juga.


"Freya akan selalu menemani Mas Bryan melewati semua cobaan ini. Freya janji sama Papa. Freya tidak akan membiarkan Mama, Caca dan Mas Bryan berlarut dalam kesedihan mereka. Freya akan selalu ada buat mereka dan menghibur mereka."

__ADS_1


"Kita akan mengikhlaskan kepergian Papa. Semoga Papa tenang disisi-Nya." Aamiin.


__ADS_2