
Bremm
Breemmm
Suara tiga mobil sport yang melaju begitu cepat di jalan raya yang masih sepi di pagi buta dan saling kejar-kejaran. Tiga pengemudi itu seakan tidak ada yang mau mengalah, mereka saling mengejar bahkan tanpa memperdulikan keselamatan.
"Bro....Siap-siap kalah." teriak Alex yang menyalip mobil Bryan dengan mengacungkan jari tengah dan menambah laju kendaraan.
"Dadah Tuan Muda Abrisam." ejek Bara yang menyusul Alex mendahului Bryan dengan laju yang sama kencangnya dengan Alex.
"Ck..Seorang Bryan tidak akan kalah dari pembalap amatir seperti kalian." cibir Bryan yang melihat dua sahabatnya menyalip mobil yang dia kendarai.
"Bersiaplah, karena sebentar lagi kalian yang akan kalah."
"Karena hanya Abrisam Bryan Alvaro yang akan menjadi dan selalu menjadi pemenang." gumam Bryan dan menambah kecepatan laju kendaraannya.
Bryan menyeringai saat berhasil menyalip Bara juga Alex. "Bryan dilawan."
"Shitt!!!" umpat Bryan saat laju kendaraannya tidak stabil.
"Oh No!!!" teriak Bryan saat mobil yang dia kendarai oleng dan menabrak pemotor.
Ciitttttzzzz
Bruugghhh
Freya terbangun dari tidurnya saat mendengar teriakan Bryan. Dilihatnya sang suami yang dahi juga pelipisnya mengeluarkan butiran keringat juga mata yang terpejam begitu erat, kening mengkerut dan nafas yang terlihat sesak.
"Mas..Mas Bryan, bangun Mas." Freya menepuk pelan pipi Bryan untuk membangunkan Bryan yang terlihat mimpi buruk itu. Dipegangnya tangan Bryan dan diciuminya.
"Mas..Hai, bangun."
"Buka matanya Mas Bryan." Freya sedikit menaikkan nada suara sambil mengusap butiran keringat di dahi Bryan.
"Mas..Bangun Mas Bryan, jangan bikin Freya takut." Freya menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Bryan sambil di tepuk nya.
"Mas Bryan!!" pekik Freya saat kedua tangannya tiba-tiba dipegang oleh Bryan begitu erat.
Bryan sudah mulai tenang dan membuka matanya dengan nafas yang terdengar memburu. Dia melihat Freya yang terlihat begitu khawatir tepat berada di depan wajahnya.
"Mas Bryan nggak apa?"
"Mas Bryan tadi mimpi buruk?" Freya menatap lekat mata Bryan yang terlihat kosong itu.
Bryan hanya mengangguk tanpa bicara dan memeluk Freya begitu erat. "Kenapa mimpi itu kembali lagi setelah sekian tahun lamanya." batin Bryan mengingat dirinya sudah lama tidak memimpikan kejadian itu walau dia akan selalu ingat tiap kali menaiki ataupun melihat mobil dengan laju kendaraan yang begitu cepat.
"Apa begitu buruk sampai Mas Bryan terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Freya yang berusaha melepas pelukan Bryan, namun Bryan justru mengeratkan pelukannya.
"Sebentar saja aku mohon." pinta Bryan dengan suara parau.
Freya mengangguk, "Tapi jangan erat-erat. Kasihan dedeknya." kata Freya saat merasa perutnya sedikit tertekan karena Bryan memeluknya begitu erat.
Buru-buru Bryan melepas pelukannya saat Freya mengeluh tentang 'dedeknya' yang berarti calon anaknya.
"Dia tidak apa-apa kan? Tidak sakit kan?" tanya Bryan dengan wajah panik sambil mengusap perut Freya yang tadi sempat dia tekan saat memeluk Freya.
Freya terkekeh dan mengusap pipi Bryan, "Dia tidak apa-apa. Dedeknya baik-baik saja." ucap Freya.
Bryan tersenyum tipis dan mencium perut Freya, "Maafkan Ayah ya Juniornya Ayah." ucap Bryan berbisik di perut Freya.
Freya tersenyum dan memandang suaminya yang baru saja mimpi buruk itu. Ingin rasanya Freya bertanya namun dia urungkan. Biarkan saja mungkin itu hanya bunga tidur dan mungkin juga karena suaminya itu kecapekan mencari tahu siapa yang menerima hasil penggelapan yang di lakukan oleh Manager Keuangan. Karena sampai saat ini Manager Keuangan yang sekarang sudah menjadi mantan Manager Keuangan masih membungkam mulutnya meski diancam Bryan akan dijadikan santapan macan.
"Sebentar, Freya ambilkan minum."
Freya turun dari ranjang dan mengambil botol minum yang ada di atas meja sofa, dituangkannya kedalam gelas.
"Ini minum dulu." Freya duduk di samping Bryan yang tengah meneguk habis air minum itu hingga tandas.
__ADS_1
"Terima kasih sayang."
"Ayo kita tidur lagi." ucap Bryan dan menggeser duduknya dan meminta Freya untuk kembali merebahkan tubuhnya dan tidur mengingat hari masih tengah malam, jam 1 malam.
"Mas Bryan nggak mau ambil air wudhu dulu biar tenang tidurnya?" Bryan menggelengkan kepalanya dan membawa Freya ke pelukannya.
"Mas Bryan tadi mimpi apa kalau boleh Freya tahu." tanya Freya yang akhirnya jiwa penasarannya keluar, padahal tadi dia tidak ingin bertanya.
Sambil menunggu jawaban dari Bryan, jari tangan Freya yang ada di atas dada Bryan, menyentuh dada Bryan yang memang tidak pernah memakai baju kalau tidur dan hanya memakai kolor saja. Dia membuat pola abstrak di dada Bryan.
Bryan memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan lembut Freya yang mengukir pola abstrak di atas dadanya yang membuat pikiran mesumnya tiba-tiba bangkit. Namun entah kenapa dia coba untuk menahan itu karena di otaknya saat ini lebih dominan tentang kejadian 10 tahun yang lalu. Kejadian kecelakaan yang melibatkan dirinya dengan seorang pemotor.
"Mas!!" Freya mendongak menatap Bryan yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, padahal tangan Bryan masih mengelus rambut Freya.
"Hmm..." Bryan hanya berdehem dan memegang tangan Freya yang ada di atas dadanya untuk menghentikan gerakan-gerakan halus dan lembut itu di atas dadanya.
"Jawab dong..Tadi Mas Bryan mimpi apa?" rengek Freya karena jiwa penasarannya yang begitu tinggi.
"Nanti kalau Freya nggak bisa tidur lagi gimana." Freya yang gemas dengan dirinya sendiri karena penasaran akhirnya menggigit bahu Bryan.
"Aduhh...sakit sayang." pekik Bryan saat Freya menggigit bahunya.
"Hehehe..Makanya jawab dulu. Tadi mimpi apa?" Freya menarik dirinya lebih keatas lagi supaya kepalanya lebih sejajar dengan kepala Bryan.
"Aduh!!" pekik Bryan sekali lagi saat kaki Freya yang tadi melingkar di kakinya mengenai aset penyebar benih yang dia beri nama 'si rosi'.
"Mas Bryan kenapa?" tanya Freya dengan tampang tak berdosa menatap Bryan.
"Sayang!! kaki kamu menendang 'si rosi'."
"Bagaimana kalau dia tidak bisa digunakan lagi?"
"Bagaimana kalau dia nanti tidak mau berdiri."
"Dia nanti tidak bisa memuaskan mu, kamu mau?" kata Bryan dengan sedramatis mungkin. Dia ingin membuat Freya takut dan merasa bersalah juga melupakan soal mimpi yang tadi sempat dia impikan.
Freya menyibak selimut dan bangun dari rebahan nya. Dia ingin melihat, dia begitu penasaran apa benar karena dia tidak sengaja menendangnya 'si rosi' tidak mau bangun lagi.
"Sayang, kamu mau apa?" tanya Bryan saat melihat Freya meraba kolornya.
"Mau lihat 'si rosi', apa benar dia tidak bisa bangun lagi." Bryan membulatkan matanya mendengar jawaban Freya. Istrinya itu benar-benar polos atau memang tidak tahu dan mengerti.
Bryan memejamkan matanya saat tangan Freya menarik kolor Bryan ke bawah beserta cel-damnya. Bryan menahan nafasnya juga menggigit bibir bawahnya saat jari lentik Freya mengelus 'si rosi' dan bermain di kepalanya 'si rosi'.
"Lhoo..Kok berkedut." ucap Freya saat merasakan 'si rosi' berkedut.
Freya kembali mengelus kepala 'si rosi' hingga ke pangkal dengan lembut. "Kamu jangan sakit. Kamu harus sehat dan bangun. Oke."
Bryan merutuki apa yang baru saja Freya lakukan terhadap 'si rosi'. Freya mencium 'si rosi' tanpa rasa jijik.
"Lihat, Mas!! Dia bangun." pekik Freya dengan rasa bahagia dan tersenyum lebar saat melihat 'si rosi' bangun dan itu tandanya 'si rosi' baik-baik saja.
"Ahh iya dia bangun." Bryan tersenyum kecut menanggapi Freya.
"Sudah sayang, ayo rebahan lagi."
"Katanya tadi mau mendengar cerita aku tadi mimpiin apa."
"Ayo sini." Bryan menarik piyama dress yang Freya pakai.
"Nggak mau, Mas."
"Freya lebih tertarik ini daripada tadi Mas Bryan mimpi apa." Freya kembali menyentuh 'si rosi', kali ini tidak hanya dielus sama Freya, tapi digenggamnya batang 'si rosi'.
Bryan memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas perlahan. Ditariknya tubuh Freya hingga jatuh di sampingnya. Dengan cepat Bryan mengunci pergerakan tangan Freya.
"Kamu yakin lebih tertarik dengan 'si rosi' yang sudah kamu bangun ini?" Freya mengangguk dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kamu siap melakukan perang beberapa ronde dengan 'si rosi'?" Lagi Freya mengangguk tanpa meninggalkan senyum.
"Tapi aku minta satu hal sama kamu."
"Apa?"
"Jangankan satu hal, dua hal ataupun tiga hal, bahkan lebih akan Freya turuti." kata Freya dengan bangganya sambil mengelus dada Bryan.
"Kamu yakin akan menurutinya." Bryan menatap lekat manik coklat Freya.
"Freya yakin Mas. Freya akan menurutinya."
"Cepat sebutkan apa yang Mas Bryan minta dari Freya." Freya melingkarkan tangannya di leher Bryan yang ada di atasnya dengan Bryan yang menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan supaya tidak menimpa tubuh Freya yang tengah berbadan dua.
Bryan mengecup singkat bibir Freya yang menyunggingkan senyum itu. Dengan keberaniannya akhirnya Bryan mengutarakan keinginan yang diminta pada Freya.
"Aku besok seharian tidak mau memakai kostum superman seperti yang kamu mau."
"Mau ditaruh mana muka aku nanti kalau harus dilihat Maura dan keluarga yang lain."
"Bahkan para karyawan di kantor nanti pasti akan menertawakan aku."
"Aku nggak mau menuruti keinginan aneh kamu itu."
Senyum dibibir Freya leyap sudah. Dia menatap Bryan dengan tatapan kecewa. Padahal kemarin sore Bryan bilang akan memberikan apapun yang dia minta dan Freya menginginkan Bryan memakai kostum pahlawan super, yaitu superman. Bryan harus memakai kostum superman seharian, dari pagi sampai sore dan Freya sudah memesan kostum itu dan sudah sampai, Bryan juga sudah melihat kostum laknat itu.
"Baiklah kalau Mas Bryan nggak mau." ucap Freya dengan wajah datar. Dia mendorong Bryan supaya menyingkir dari atas tubuhnya. Freya mengambil bantal dan di berikannya kepada Bryan secara kasar.
Bryan mengerutkan keningnya saat menerima bantal dari Freya. Dia yakin saat ini pasti Freya sedang marah atau mungkin kecewa padanya.
"Say_"
"Mas Bryan pilih tidur di sofa atau Freya juga dedek yang tidur disofa."
"Katanya tadi mau sama 'si rosi'.
"Ini dia masih tegang. Masih berdiri dia." Bryan menunjuk 'si rosi' yang memang masih berdiri tapi sudah tidak setegak tadi.
"Sudah tidak napsu." Freya memalingkan wajahnya. Dia sudah malas, marah dan kecewa sama Bryan yang katanya akan menepati janjinya namun setiap dirinya meminta sesuatu yang mudah justru suaminya itu tidak mau menurutinya.
Bryan meneguk salivanya kasar mendengar perkataan Freya yang mengatakan "Sudah tidak napsu." Yang berarti Freya benar-benar marah besar pada dirinya.
Tanpa banyak kata lagi, Bryan beranjak dari ranjang dan menuju ke sofa. Dia tidak ingin membuat Freya semakin marah lagi. "Biarlah, Freya marah saat ini. Pasti sebentar lagi dia mencari karena tidak bisa tidur nyenyak." batin Bryan yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa.
"Nasib kamu kasihan banget sih."
"Tadi disayang, dielus bahkan dicium."
"Setelah itu dicampakkan begitu saja hanya gara-gara kostum laknat itu." gerutu Bryan yang kesal karena tidak jadi menuntaskan hasratnya.
"Bukannya kamu sudah disuntik campak?".
"Kenapa juga masih tetap dicampakkan."
"Memang nasib kita kelihatannya harus berkahir seperti ini." omongan Bryan sudah mulai ngelantur.
"Tidur kamu tong."
"Aku masih memikirkan cara bagaimana caranya biar Freya memaafkan aku selain harus menggunakan kostum laknat itu."
Huffft...tinggal menuruti saja apa susahnya sih Ayah Bryan. Katanya janji akan menuruti semua keinginan Bunda Freya. Nyatanya....ahh sudahlah. Ayah Bryan terlalu gengsi plus cemen.
🍁🍁🍁
have a nive day
thanks for like, vote, comment and gift
__ADS_1
big hug 🤗🤗🤗