
Hari ini, selasa bulan Agustus adalah hari pernikahan Mutia dengan Rendy. Hari yang di nantikan pasangan sejoli yang sudah menikah diam-diam terlebih dahulu dan merahasiakan dari orang-orang terdekatnya. Termasuk Freya dan juga Bryan yang baru di beri tahu kemarin, walau kemarin hanya Bryan yang bisa di temui.
Mutia sendiri terlihat gelisah dari tadi pagi karena tidak bisa menghubungi nomor Freya. Kemarin pun dirinya juga belum menemui Freya karena sahabatnya itu terlihat menghindari dirinya.
"Apa Freya marah karena aku tidak memberitahunya dari awal? Apalagi dia tahu dari orang lain." gumam Mutia sambil terus melihat handphonenya dan masih berusaha menghubungi Freya.
Mutia begitu menyesal karena menyembunyikan pernikahan sirinya dari Freya dan mengakibatkan sahabatnya itu marah pada dirinya. Dan lebih parahnya lagi, sahabatnya itu sudah tahu dari Bara karena sifat Bara si kompor meleduk yang suka keceplosan.
"Freya angkat dong!! Seenggaknya balas pesan ku." Mutia semakin sedih mengingat sebentar lagi acara resepsi pernikahannya akan digelar kurang dari satu jam lagi dan dirinya tidak mendapat kabar sama sekali dari sahabatnya, Freya.
"Aku ingin membagi moments bahagia aku dengan kamu, Freya." setetes air mata jatuh dari kelopak mata Mutia mengingat sahabatnya tidak ada disisinya saat moments bahagianya.
"Maafkan aku." sesal Mutia yang terus menyalahkan dirinya sendiri yang sudah merahasiakan pernikahan sirinya dengan Rendy.
"Kenapa? Apa Nona Freya belum bisa dihubungi juga?"
Mutia menoleh ke sumber suara dimana Rendy baru saja masuk ke kamar. Dia menggeleng lemah dengan mimik wajah yang terlihat jelas kalau saat ini dirinya begitu sedih dan menyesal. Bukan sedih dan menyesal karena menikah dengan Rendy, tapi karena tidak memberitahu Freya sejak awal yang membuat sahabatnya marah pada dirinya.
"Sudah nggak usah sedih, mungkin handphone nya Nona Freya tertinggal dan sekarang dia juga Tuan Bryan lagi perjalanan kesini." Rendy mengusap pundak Mutia yang polos tanpa terhalang apapun itu. Sebelah tangannya yang bebas mengepal erat menahan geram dan amarah dengan Mamanya yang seenaknya sendiri mengubah gown pernikahan Mutia.
"Tapi kata kamu kemarin Tuan Bryan tidak menghiraukan kamu saat kamu datang menemuinya dan mengundangnya." Mutia mengingat cerita Rendy kemarin saat suaminya itu menemui Bryan dan Bryan hanya diam dan terlihat acuh saat Rendy mengatakan akan menikah dengan Mutia dan mengundang Bryan juga Freya untuk datang ke acara resepsi pernikahannya.
Rendy menghembuskan nafas berat, tidak seharusnya kemarin dia cerita kepada Mutia saat pertemuannya dengan Bryan yang acuh kepadanya yang membuat istrinya sedih dan kepikiran. Dia tahu kalau Bryan juga marah kepadanya seperti Freya yang saat ini juga marah pada Mutia karena menyembunyikan pernikahan mereka.
"Sudah tidak usah dipikirkan lagi. Aku yakin mereka akan datang ke acara kita."
"Lebih baik sekarang kamu ganti gown yang aku pesan kemarin."
"Aku nggak suka lihat gown yang kamu pakai. Jelek."
"Menurunkan pamor ku saja."
Mutia mengerutkan keningnya bingung, ada apa dengan gown yang dipakainya, pikirnya. Menurutnya gown yang dia pakai bagus dan terlihat cantik di badannya. Apalagi yang memesan gown itu Mama mertuanya, dan dia suka dengan gown nya.
"Menurunkan pamor gimana sih?! Ini loh bagus, Rend."
"Apalagi ini Mama sendiri yang pesan khusus buat aku." Mutia yang tadinya sedih karena Freya yang tak bisa dihubungi berubah geram karena diminta ganti gown sama Rendy dengan alasan tidak suka.
"Tapi aku juga sudah memesankan gown buat kamu dan kamu kemarin juga sudah mencobanya."
"Dan kamu kemarin juga bilang mau memakainya." ucap Rendy dengan nada yang sedikit meninggi.
Mutia memejamkan matanya sejenak, kepalanya terasa pusing tiap kali berdebat dengan Rendy. Kenapa tiada hari tanpa berdebat, pikirnya.
"Apa kami terkena sindrom pernikahan? Memangnya ada?" batin Mutia yang mengingat banyak pasangan yang selalu berantem dan berdebat menjelang acara pernikahan.
"Tapi gown yang kamu pesan kemarin itu berat dan susah buat jalan."
"Aku mau yang simpel dan bisa bergerak bebas."
"Dan kebetulan gown yang Mama pesan sesuai dengan keinginanku."
"Lagian gown nya juga sudah Mama bawa keluar tadi." ucap Mutia lirih di akhir kalimatnya.
"Apa?? Dibawa sama Mama?!" Rendy tidak menyangka kalau Mamanya akan berbuat seperti itu, dengan beraninya membawa gown mahal yang sudah dia pesan khusus buat Mutia.
"Hmm..Dan aku tidak mau ganti." sarkas Mutia dan kembali duduk diatas ranjang. Dirinya sudah terlalu nyaman dengan gown yang dipakainya saat ini meski pundak dan bahunya terbuka.
"Bilang saja tidak terima kalau tubuhku terekspos." gumam Mutia yang tahu maksud dari Rendy kenapa memintanya berganti gown.
__ADS_1
"Baiklah! Kita tidak usah turun kalau tidak mau ganti."
"Lagian aku juga tidak suka keramaian. Apalagi menjadi pusat perhatian." tukas Rendy dan mendudukkan pantatnya di sofa sambil mengotak atik handphonenya. Dia begitu kesal sama Mamanya yang seenaknya sendiri membawa pergi gown nya.
"Menyebalkan!! Ada apa suami seperti itu?" gerutu Mutia yang kesal sendiri pada Rendy mengingat pasti saat ini di ballroom sudah banyak tamu yang datang.
"Ya ampun!!! Kenapa kalian masih disini dan bersantai-santai?!" seru Mama Rendy saat melihat kedua pengantin sedang duduk santai dengan memainkan handphonenya masing-masing.
"Cepat turun dan tunggu di ruang persiapan."
"Sepuluh menit lagi acara dimulai."
"Tamu undangan juga sudah banyak yang datang."
"Ayo sayang!! Sini Mama bantu." Mama Rendy membantu Mutia berdiri.
"Kami sudah sepakat tidak mau turun." ucap Rendy dengan suara lantang tanpa menoleh ke siapapun.
Kening Mama Rendy mengkerut dengan tatapan mata menyalang menatap Rendy. "Apa maksud kamu? Kamu mau mempermalukan Mama? Dibawah sudah banyak wartawan yang akan meliput pernikahan kamu. Keluarga Abrisam juga sudah datang semua. Seenaknya sendiri membatalkan acara secara sepihak." omel Mama Rendy yang begitu marah dan emosi dengan keputusan yang Rendy buat secara sepihak.
"Siapa suruh Mama memakaikan gown kekurangan bahan itu pada Mutia."
"Dan seenaknya sendiri membawa kabur gown yang sudah aku pesan." ucap Rendy tak kalah emosinya dengan sang Mama.
"Karena Mama tidak ingin nantinya cucu Mama kenapa." sahut Mama Rendy cepat.
"Mama belum punya cucu. Lagian cucu nya juga baru di pro,_" Rendy tidak melanjutkan ucapannya saat mengingat sesuatu.
"Cucu?? Mama bilang apa tadi? Cucu?" Mama Rendy mengangguk saja, dirinya tadi hanya asal bicara mengingat Rendy pasti akan marah kalau gown nya tadi sudah disimpan sama Nino.
"Sayang!! Kapan kamu terakhir mens?" tanya Rendy dan mendekati Mutia yang berdiri di samping Mamanya dan terlihat syok itu.
"Terakhir?!!" Mutia terlihat berpikir dan mengingat kapan terakhir dirinya kedatangan tamu bulanan.
Sontak saja Rendy memeluk erat tubuh Mutia yang masih tegang karena kabar hamil yang belum tahu kebenarannya itu. Namun Rendy dan Mamanya sudah terlihat bahagia mendengar kalau Mutia sudah telat haid dua hari.
"Terima kasih sayang. Terima kasih!!" ucap Rendy begitu tulus pada Mutia dan beberapa kali juga menciumi kedua pipi Mutia juga kening Mutia.
"Baiklah. Kita lanjutkan acaranya malam ini."
"Kamu memakai gown dari Mama tidak apa."
"Tapi satu yang harus kamu ingat, tidak boleh jauh dari suami kamu dan tidak boleh lelah."
Mutia hanya tersenyum kecut pada Rendy juga Mama mertuanya. Mutia takut kalau dirinya saat ini di prank sama tubuhnya sendiri mengingat memang dirinya sering telat haid. Mutia takut nantinya membuat Rendy juga Mama mertuanya kecewa dengan kebenaran sesungguhnya.
Mereka akhirnya masuk ke ballroom mewah di salah satu hotel milik keluarga Abrisam. Dimana tempat itu adalah tempat pernikahan Bryan dan Freya digelar beberapa bulan yang lalu. Selama berjalan menuju pelaminan, Rendy memegang erat tangan Mutia dan berjalan pelan takut terjadi apa-apa pada Mutia.
"Aku tadi lihat ada Maura. Aku yakin Tuan Bryan juga Nona Freya juga sudah ada disini." bisik Rendy pada Mutia setelah keduanya sampai dan duduk dipelaminan.
Mutia hanya berdehem, diotaknya sudah tidak ada Freya saat ini dan hanya memikirkan bagaimana kalau dia hanya telat datang bulan saja dan tidak hamil. Dirinya begitu takut kalau suaminya juga mertuanya kecewa pada dirinya dan dikira tidak bisa menjaga kesehatan.
"Kenapa kamu diam saja? Lihat itu dipintu masuk." Rendy menunjuk ke arah pintu masuk dengan gerakan mata juga dagunya.
"Sahabat kamu sudah datang bersama suaminya. Jadi putri butterfly harus tersenyum dan nggak boleh sedih, apalagi nangis." imbuh Rendy dengan tersenyum manis pada Mutia.
"Rend!!" panggil Mutia lirih dengan meremas tangannya yang dipegang sama Rendy.
"Bagaimana kalau aku hanya telat datang bulan saja dan belum hamil?"
__ADS_1
"Aku tidak mau membuat kamu juga Mama kecewa."
"Aku takut kalau tidak bisa,_"
"Ssttthhh!!! Jangan bicara yang tidak-tidak."
"Kalau memang hanya telat saja dan belum hamil, berarti kita nanti bisa honeymoon sesuai rencana awal kita."
"Sudahi pikiran negatif kamu. Aku sama Mama tidak akan marah ataupun kecewa sama kamu."
"Kalau memang belum hamil, kita coba lagi, lagi dan lagi sampai berhasil."
"Kalau perlu nanti kita program bayi kembar, boy and girl."
"Bagaimana?" Rendy menarik turunkan kedua alis dengan seringaiannya.
Mutia tersenyum mendengar perkataan dari Rendy. Dirinya merasa lega karena lelakinya itu tidak mempermasalahkan dirinya hamil atau belum. Dia bersyukur mendapatkan lelaki yang begitu pengertian terhadap dirinya meski sering terjadi perdebatan anfaidah diantara keduanya. Dingin diluar dan lembut didalam.
"Terserah kamu, yang penting kamu tidak akan pernah berubah dan meninggalkan diriku."
"Harus selalu sayang dan cinta sama aku."
"Harus selalu menjaga dan melindungi aku."
"Dan yang paling penting, harus membuat aku selalu tersenyum dan transferan lancar jaya tanpa tersendat." ucap Mutia dengan semangat dan sudah melupakan ketakutannya akan kekecewaan Rendy juga Mama mertuanya.
"Wanitaku memang matre." gemas Rendy pada Mutia dengan menarik pelan hidung Mutia.
"Matre sama suami sendiri tidak masalahkan." balas Mutia dengan tatapan genitnya.
"Lagian suami ku juga tidak kalah kaya-nya sama Tuan Muda yang belagu itu." Mutia menatap sebal pada Freya juga Bryan yang sama sekali tidak mau mendekat ke pelaminan dimana dirinya duduk bersama Rendy. Bahkan menoleh pun tidak sama sekali.
Rendy terkekeh kecil saat Mutia menyebut Bryan belagu. Memang benar adanya kalau Tuan Muda satu itu memang belagu dan lebih parahnya sombongnya tidak ketulungan.
"Selamat malam semua!!"
Semua tamu undangan yang hadir dan mengenali suara itu, sontak saja mengalihkan atensinya yang awalnya pada sepasang pengantin beralih ke sumber suara yang ngebass dan berat.
"Malam ini, saya dan istri saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk kita sendiri, atau lebih tepatnya untuk istri saya tercinta."
Suara tepuk tangan menggelegar di area ballroom mewah itu saat Bryan mengecup punggung tangan Freya. Banyak wanita dan gadis yang berteriak histeris melihat itu. Mereka ingin berada diposisi Freya.
"Untuk yang punya acara." Bryan menatap panggung pelaminan dimana Rendy juga Mutia duduk disana.
"Saya pinjam tempatnya sebentar."
"Ahh salah, bukan pinjam. Lebih tepatnya saya pakai dulu ballroom milik keluarga Abrisam."
"Yang itu berarti milik saya sendiri."
"Mohon untuk bersabar dan terima kasih."
Baik Rendy maupun Mutia sontak saja menatap tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dan mereka lihat. Ini acara resepsi pernikahan mereka dan kenapa ditempat dan waktu yang bersamaan Bryan juga Freya membuat acara sendiri disana. Dan yang lebih menyebalkan lagi, tamu undangan yang mereka undang sudah tidak memperhatikan mereka lagi, tapi lebih memperhatikan Bryan juga Freya.
"Mereka berdua memang keterlaluan." geram Mutia dan Rendy bersamaan.
"Mereka pasti lagi balas dendam karena kita merahasiakan pernikahan kita diawal." tebak Mutia.
"Bos/sahabat terkutuk, gak ada akhlak."
__ADS_1
"Sudah kaya, sombong, suka numpang lagi."
"Meresahkan!!"