Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Maura ingin ketemu Ayah sekarang!


__ADS_3

Freya menatap mobil yang baru saja keluar dari halaman rumah, mobil yang sering Mama Lea gunakan untuk berpergian. Sudah seminggu ini Mama Lea selalu pergi keluar dari pagi setelah Bryan juga Papa Abri berangkat kerja dan pulang sore hari sebelum anak dan suaminya pulang. Sikap Mama Lea kembali berubah kepada Freya seperti awal bertemu, setelah Freya mengetahui masa lalu Bryan yang baru dia ketahui.


"Jadi ini jawaban dari pekataan Mama waktu itu."


"Aku tidak segan menendang mu keluar dari keluarga Abrisam kalau kamu sampai membuat anakku kembali terpuruk."


"Tapi kenapa Mama masih saja memihak ke wanita itu?"


"Kenapa juga aku sampai lupa untuk menanyakan pada Mas Bryan untuk menceritakan masa lalunya?"


"Padahal dia pernah bilang akan menceritakannya padaku kalau kita sudah menikah."


"Haruskah aku tanyakan sekarang?"


"Tapi_" Freya terlihat ragu dan mengingat kejadian malam itu.


FLASHBACK ON.


"Freya!!!"


Papa Abri juga Mama Lea terlihat terkejut melihat Freya berdiri di depan pintu kamar mereka dengan kondisi syok, tangan bergetar mengakibatkan dua gelas yang dia pegang jatuh. Freya menatap tak percaya atas apa yang baru saja dia dengar.


"Mmm mma-af!!" dengan terbata Freya meminta maaf dan segera membersihkan pecahan gelas yang juga mengenai kakinya.


"Freya!! Kamu nggak apa kan?" Papa Abri menundukkan memegang bahu Freya yang berjongkok. Papa Abri merasakan kalau Freya menahan tangisnya karena dia merasakan bahu Freya yang bergetar.


Freya diam saja masih terus mengambil pecahan gelas.


"Apa kamu tadi mendengar pembicaraan kami?" tanya Papa Abri lagi justru membuat air mata yang sedari tadi Freya tahan langsung luruh membasahi pipinya.


"Sayang!!! Kenapa lama sekali?"


Akkhhh


Pekik Freya yang terkena pecahan kaca saat mendengar suara teriakan Bryan yang memanggilnya.


"Freya kamu nggak apa, Nak?" tanya Papa Abri yang terlihat khawatir melihat kondisi menantunya.


"Sayang!! Kenapa kamu melukai tangan kamu?" Bryan melangkahkan kakinya cepat saat melihat jari tangan Freya berdarah.


Freya menatap Bryan yang mendekat ke arahnya, buliran air mata semakin deras keluar dari kelopak matanya.


"Sudah jangan dilanjutkan. Biar maid nanti yang membersihkan." Bryan membantu Freya berdiri.


Akkhhhh


Freya merasakan sakit dikakinya.


"Kenapa kamu nggak bisa hati-hati sih,sayang?" Bryan yang merasa geram akhirnya membawa Freya ke gendongannya.


"Pa, tolong minta maid untuk membersihkannya." pinta Bryan pada Papanya sebelum membawa Freya kembali ke kamar.


Papa Abri hanya mengangguk saja. "Semoga Freya tidak menanyakan ini dulu pada Bryan." batin Papa yang mulai waspada.


Bryan menurunkan Freya di sofa, dia segera mengambil kotak obat. Tanpa banyak bicara Bryan mengobati jari tangan juga kaki kiri Freya yang terkena pecahan gelas.


"Bunda kenapa?" tanya Maura yang langsung turun dari ranjang menyusul Bundanya yang duduk di sofa.


"Bunda nggak apa, cantik. Maura diam dulu biar Ayah mengobati luka Bunda dulu." ujar Bryan dan diangguki Maura. Dia duduk diam di dekat Bundanya.


Freya menatap Bryan dengan banyak pertanyaan di benaknya.


"Apa Mas Bryan benar memiliki anak dengan wanita itu?"


"Apa benar wanita itu cinta pertama bahkan cinta matinya Mas Bryan?"


"Apa ini alasannya kenapa Mas Bryan tidak pernah bilang cinta sama aku karena masih mencintai wanita itu."


"Apa nantinya Mas Bryan akan kembali dengan wanita itu dan membuang aku juga Maura?"


Bryan menatap Freya setelah selesai mengobati luka istrinya itu.


"Apa sesakit itu?" Freya mengangguk menjawab pertanyaan Bryan.


"Kenapa nangis terus nggak berhenti-henti?" Bryan mengusap air mata yang terus jatuh membasahi pipi Freya.


"Berhenti nangisnya, kasihan Maura juga ikut sedih nantinya melihat Bundanya menangis seperti ini." ucap Bryan dengan lembut membawa Freya ke pelukannya.


"Mas Bryan nggak akan meninggalkan aku dengan Maura kan? hiks hiks hiks." tanya Freya yang masih menangis sesenggukan.


Bryan terkekeh kecil mendengar pertanyaan Freya.


"Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan kamu juga Maura."


"Karena kamu adalahnya nyawa dan hidup aku saat ini."


Freya semakin menangis histeris dipelukan Bryan. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Bryan.


"Jangan pernah tinggalkan aku dengan Maura."


"Jangan pernah tinggalkan kami."

__ADS_1


"Bunda jangan menangis. huwaaa." Maura akhirnya ikut menangis juga.


Bryan kualahan sendiri melihat dua bidadarinya sama-sama menangis. Dia peluknya keduanya untuk menenangkan mereka.


"Ada apa sebenarnya?"


"Kenapa kamu sepertinya takut sekali aku meninggalkanmu juga Maura."


"Jangan takut, aku akan selalu berada di sisi kalian apapun yang terjadi."


"Kamu harus janji sama aku, Mas."


"Iya sayang.!!"


"Sudah donk jangan nangis lagi."


"Lebih baik kita tidur, sudah malam."


FLASHBACK OFF.


"Freya!! Bisa Papa bicara sebentar dengan kamu?"


Freya buru-buru menghapus air matanya yang hampir terjatuh. Dia menoleh dan tersenyum pada Papa mertuanya.


"Iya, Pa."


Freya mengikuti langkah Papa Abri yang membawanya ke ruang kerja.


"Duduklah!"


Freya duduk di sofa sebelah Papa Abri.


"Kamu pasti tahu apa yang ingin Papa bicarakan sama kamu."


Freya diam menunduk, dia hanya mengangguk, dia memang sudah tahu apa yang akan Papa mertuanya bicarakan padanya saat ini. Dia harus siap apapun yang terjadi nantinya. Dia bertekad akan mempertahankan pernikahannya dengan Bryan apapun yang terjadi. Entah Bryan sudah cinta atau hanya sayang sama dia, dia tidak peduli.Dia hanya ingin menikah sekali dan itu dengan Ayah kandung dari anaknya. Tidak peduli suaminya itu kaya ataupun miskin Freya tidak mempedulikan itu. Karena kebahagian itu, kita sendiri yang menciptakan.


"Kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini."


"Apa lagi sikap Mama mertua kamu yang berubah lagi." Papa Abri menghembuskan nafas kasar saat mengingat sikap istrinya itu.


"Dia saat ini hanya terpengaruh saja oleh hasutan setan."


"Dan Papa tidak akan membiarkan setan itu masuk ke keluarga Abrisam terutama ke rumah tangga kalian." sambung Papa Abri menatap Freya.


"Apa kamu sudah menanyakan ini pada Bryan atau Bryan sendiri sudah membicarakan ini sama kamu?" tanya Papa Abri.


Freya menggeleng dan mengangkat kepalanya.


"Freya belum berani menanyakan ini pada Mas Bryan."


"Mas Bryan juga belum membahas masa lalunya dengan wanita itu." Papa Abri mengangguk paham.


Freya menatap Papa Abri, "Apa Mas Bryan sudah tahu kalau wanita itu sudah kembali,Pa?" tanya Freya.


Karena Freya merasakan sesuatu yang berbeda dengan sikap Bryan padanya beberapa hari terakhir ini. Apalagi Freya sempat mendapati Bryan menerima telephon tengah malam secara sembunyi-sembunyi.


"Papa tidak tahu. Rendy sendiri juga masih merahasiakan kembalinya wanita itu pada Bryan."


"Info terakhir yang Papa dapat dari Rendy, Bryan hanya menyibukkan diri dikantor juga kampus dan tidak mau menerima tamu siapapun kecuali urusan bisnis."


"Juga wanita itu tiap hari selalu menemui Mama mertua kamu untuk mencuci otak Mama mertua kamu" kata Papa Abri yang terlihat kesal pada istrinya yang mudah dibujuk dan di cuci otaknya.


"Apa itu berarti Mas Bryan sudah tahu kalau wanita itu sudah kembali, Pa?"


"Makanya Mas Bryan menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya." tanya Freya


"Bisa jadi."


"Tapi kamu jangan khawatir."


"Papa sudah minta Rendy untuk menyelidiki semuanya sampai ke akarnya."


"Dia sudah mengirimkan orang ke Spanyol tempat terakhir wanita itu tinggal dan juga orang untuk mengikuti setiap gerak-geriknya." kata Papa Abri


Freya hanya mengangguk, yang dia khawatirkan bukan Bryan yang sudah ketemu lagi dengan wanita itu, tapi kalau Bryan tiba-tiba mengabaikan dan melupakan dirinya juga Maura. Itu yang dia takut dan khawatirkan saat ini.


Freya akui kalau dia sudah mulai jatuh cinta dengan Ayah dari anaknya. Jatuh cinta bukan karena Bryan kaya dan memiliki segalanya. Freya tidak memiliki alasan kenapa dia bisa jatuh cinta sama Bryan. Dia juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh, semakin dia menepisnya semakin besar perasaan itu Freya miliki untuk Bryan.


Entah Freya jatuh cinta karena perhatian yang dia berikan kepada dirinya juga Maura, atau kasih sayang yang dia berikan, atau kebahagian sederhana yang dia berikan untuk dirinya juga Maura, Freya tidak tahu. Atau Freya jatuh cinta dengan sikap posesif Bryan yang selalu membuat Freya merasa kalau dirinya adalah barang berharga milik Bryan yang tidak boleh seorangpun menyentuh bahkan melihatnya. Freya juga tidak tahu.


"Papa akan meminta wanita itu untuk melakukan test DNA pada anaknya."


"Karena Papa nggak yakin kalau anak itu anak Bryan."


"Seingat Papa dia pergi setelah Bryan pulang dari London."


"Dan mereka menjalani LDR hampir setengah tahun."


"Papa ragu kalau itu anak Bryan."


"Jadi kamu jangan khawatir. Wanita itu hanya tidak ingin melihat Bryan bahagia dengan hidupnya sekarang." Freya mengangguk.

__ADS_1


"Kamu jangan membahas ataupun mengungkit wanita itu di hadapan Bryan kalau bukan Bryan sendiri yang membahasnya." imbuh Papa Abri.


"Iya, Pa. Freya mengerti." Freya mengangguk paham.


"Kalau ada yang ingin kamu tanyakan atau ada yang mengganjal di hati kamu tentang Bryan atau wanita itu."


"Tanyakan ke Papa atau Rendy."


"Baik,Pa."


"Baiklah, Papa harus pergi."


"Masih ada pekerjaan" pamit Papa Abri..


Freya berdiri dan mengikuti Papa Abri keluar dari ruang kerja.


"Oh iya!! Papa hampir lupa." Papa Abri menghentikan langkahnya dan menatap Freya.


"Kalau kamu punya foto Ibu kandung kamu, Papa minta ya?"


Freya mengerutkan keningnya, dia hampir lupa kalau Bryan dan Papa Abri sudah mengetahui siapa orang tua kandung dirinya.


"Papa akan mencoba mencarinya. Karena dia sama-sama berasal dari belanda seperti Mama mertua kamu."


"Papa sudah meminta tolong teman Papa yang ada disana. dan dia meminta foto Ibu kamu." jelas Papa Abri.


"Tapi fotonya tertinggal di rumah Freya yang dulu, Pa." ujar Freya.


"Bukannya teman kamu pulang kesana?" Freya mengangguk.


"Kamu bisa meminta dia untuk mengirimkan fotonya ke kamu."


Freya mengangguk, "Iya Pa."


"Baiklah, Papa pergi dulu."


Freya kembali masuk kedalam setelah melihat Papa Abri masuk ke dalam mobil.


"Bunda!!" teriak Maura sambil berlari ke arah Bundanya.


"Sayang, jalan saja nggak usah lari." tegur Freya menatap Maura khawatir.


"Bunda!! Bunda!! Ini gelang pemberian dari Paman Juri kan?" Maura menunjukkan gelang yang Bryan kasih ke Maura waktu memenangkan olimpiade.


"Maura dapat dari mana?" Freya berjongkok di depan Maura.


"Di laci dekat tempat tidur Bunda."


"Ini benarkan gelang dari Paman Juri?" tanya Maura lagi dengan mata memerah dan berkaca-kaca.


"Iya sayang."


"Jadi benar Ayah Bryan Ayah kandung Maura?"


Freya mengangguk, "Kamu sudah ingat sayang." dipengangnya tangan Maura erat.


Maura mengangguk dengan butiran air mata yang jatuh membasahi pipi.


"Maura ingat, Bun. Maura ingat."


"Maura ingin ketemu Ayah. Ingin ketemu Ayah sekarang. huwaaaa."


"Ayo Bunda!!!" rengek Maura yang menangis histeris ingin ketemu Ayahnya.


"Baiklah. Tapi Maura nggak boleh menangis dan izin dulu pada Miss Sari, kasihan dia sudah datang jauh-jauh untuk mengajar Maura."


Maura mengangguk dan menuju ruang perpustakaan mini milik Bryan yang beberapa minggu terakhir ini Maura gunakan untuk pembelajaran home schooling.


...............


Bryan menghembuskan nafas kasar mendengar permintaan orang di seberang sana.


"Baiklah! Kirim alamatnya sekarang."


Setelah mematikan sambungan telephone Bryan menyambar jas juga kunci mobilnya dan bergegas keluar.


"Tuan anda mau kemana? Setengah jam lagi ada pertemuan de_"


"Batalkan!" tukas Bryan tegas dan segera masuk lift.


"Tuan Bryan kenapa ya? Serem banget auranya. Mana tidak bersama Tuan Rendy pula."


"Aduh!!!! Bisa gawat kalau sampai terjadi sesuatu."


"Mana Tuan Rendy dari tadi tidak kembali-kembali."


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


__ADS_2