Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Biar ada temannya


__ADS_3

Rendy keluar dari mobil setelah sampai di depan lobby perusahaan ABA Corp. Dengan gaya pakaian yang casual tidak seperti biasanya saat sedang bekerja dia melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"Selamat siang Tuan Rendy!" sapa dua satpam yang stand by di depan lobby.


"Hmm..Parkir mobil saya." Rendy melempar kunci mobilnya pada salah satu satpam.


Baru juga melangkah kakinya beberapa langkah, dia menghentikan langkahnya dan menoleh pada satpam yang masih berdiri di dekat pintu lobby.


"Apa Tuan Muda sudah datang?" tanya Rendy karena tidak melihat adanya mobil Bryan ataupun pengawal yang biasanya mengikuti Bryan.


"Tuan Muda belum datang Tuan." jawabnya satpam itu.


"Hai kamu!!" Rendy berteriak pada satpam yang tadi dimintanya untuk memarkirkan mobilnya.


"Bawa sini kuncinya! Nggak usah diparkir." ucap Rendy seakan tidak punya salah itu.


Sang satpam yang baru saja membuka mobil Rendy lantas menutup kembali dan mengembalikan kunci mobil itu pada sang pemilik.


Rendy masuk ke lobby dan mengambil duduk di salah satu sofa untuk menghubungi Bryan yang memintanya untuk datang ke ABA Corp buat menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Alex karena masih dirawat di rumah sakit.


"Hari minggu juga masih tetap disuruh kerja."


"Nggak punya perasaan sama sekali." gerutu Rendy yang terus mencoba menghubungi Bryan namun tidak diangkat juga padahal panggilan terhubung.


Kalau saja dirinya tadi tidak diancam Bryan, Rendy mana mau bekerja di hari minggu. Apalagi ini bukan kerjaannya, melainkan pekerjaannya Alex sang rivalnya yang sudah K.O dan terbaring di rumah sakit.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa, saya harus menjaga Mama saya di rumah sakit." Rendy menolak saat Bryan memintanya menemani menyelesaikan pekerjaan Alex.


"Baiklah kalau kamu tidak bisa."


"Saya tinggal memberi laporan pada polisi kalau yang jadi tersangka sampai membuat Alex masuk ICU adalah Rendy Yudha Pratama."


"Dan saya pastikan juga, Mutia akan tutup mulut tentang apa yang telah Alex lakukan pada dirinya." ancam Bryan karena Rendy tidak mau menurutinya.


"Silahkan anda laporkan, saya tidak takut." ucap Rendy dengan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun, karena menurutnya apa yang dilakukan kepada Alex itu sudah benar dan dirinya juga tidak membunuh Alex, Alex masih bernyawa hanya saja Rendy membuat Alex sampai saat ini belum sadarkan diri.


"Datang ke kantor sekarang atau semua aset yang kamu miliki aku bekukan sekarang juga."


"Dan pastinya kamu tidak akan bisa bersama Mutia karena Mutia juga akan tahu masa lalu kelam kamu dengan Mona." Bryan mengancam Rendy sekali lagi, berharap asistennya itu mau mengikuti keinginannya datang ke kantor di hari minggu.


Rendy begitu geram saat nama Mona kembali diungkit sama Bryan. Dirinya sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Mona si masa lalu. Dirinya juga sudah melupakan semuanya yang buruk di masa lalu, termasuk dirinya yang sering main di club' untuk bersenang-senang. Tapi bukan bersenang-senang untuk memuaskan napsu dan main celup sana dan celup sini. Dirinya hanya bersenang-senang dengan minuman juga beberapa wanita hanya untuk menemaninya tidur. Hanya menemani tidur, tidak lebih.


"Hallo...Saya sudah di kantor."


"Anda dimana Tuan?" tanpa basa-basi lagi Rendy langsung bertanya pada Bryan setelah panggilannya diangkat Bryan.


"Sudah dekat..eggh..nggak sampai lima menit." panggilan langsung diputus sepihak sama Bryan setelah mengatakan itu.


"Ck..tadi minta untuk datang tidak terlambat, tapi Apa? Dirinya sendiri yang datang terlambat." gerutu Rendy yang mulai kesal bercampur geram karena sudah hampir lima belas menit mobil yang membawa Bryan tidak kunjung muncul juga.


Rendy mengerutkan keningnya saat mengingat perkataan Bryan sebelum mengakhiri panggilan.


"Sialan!!!" umpat Rendy saat menyadari sesuatu.


"Jadi sedari tadi aku nunggu dia main ***-*** sama istrinya." Rendy meraup wajahnya kasar. Dirinya begitu kesal pada bosnya itu.


Rendy memicingkan matanya saat melihat mobil Bryan baru tiba di depan lobby. Bibirnya mencibir Bryan yang terlihat begitu senang dan gembira, kedua sudut bibirnya terus tertarik keatas membentuk senyum.


"Sudah puas Tuan." sindir Rendy setelah Bryan sudah didekatnya.


"Sangat puas. Rasanya ingin lagi, lagi dan lagi."


"Ahhh....masih terbayang sampai saat ini." kata Bryan ambigu namun Rendy sudah paham maksud dari perkataan Bryan.


"Ck..macam tak pernah melakukannya saja." cibir Rendy dalam hatinya.


Rendy begitu geram pada dirinya sendiri karena tidak bisa seperti apa yang Bryan lakukan pada Freya. Dirinya tidak leluasa bermain dengan Mutia seperti Bryan dan Freya.


Tapi tenang saja, dirinya yakin sebentar lagi Mutia jatuh kepelukan nya. Mutia akan menjadi istrinya dan partner-nya untuk mengadu membuat adonan. Ahh..membayangkan itu saja Rendy sudah terbawa suasana dan langsung berlari ke toilet.


"Hai..ruangannya disini bukan disitu." teriak Bryan saat melihat Rendy yang tiba-tiba lari menuju toilet, padahal di ruangan tempat Alex bekerja ada toilet pribadinya.


"Dasar beser." cibir Bryan dan masuk ke ruang kerja Alex.


"Kenapa lama sekali?" tanya Bryan setelah hampir sekiranya lebih dari sepuluh menit dirinya menunggu Rendy kembali dari toilet.


"Perut ku sakit." jawab Rendy cepat dan duduk di kursi seberang Bryan yang terhalang meja.


Bryan menatap curiga pada Rendy, karena tadi dirinya tidak melihat gelagat Rendy yang seperti menahan sakit perut, melainkan menahan sesuatu yang harus dituntaskan tapi tidak ada lawannya.

__ADS_1


"Yakin??" Bryan mengangkat sebelah alisnya tinggi mencibir Rendy.


Ekhemmm


Rendy berdehem seolah tak terpancing dan tak peduli dengan cibiran Bryan. Seharusnya dirinya yang mencibir Tuan Muda mesum itu, karena selalu menuntaskan hasratnya dimana pun dan kapanpun tanpa mengenal tempat dan waktu.


"Apa yang harus saya kerjakan?" tanya Rendy yang tak ingin meladeni Bryan. Sebenarnya dia malas kalau harus bekerja pada hari libur, apalagi hari minggu. Ditambah yang dikerjakan itu bukan pekerjaannya melainkan pekerjaan Alex, rivalnya.


"Ini!!" Bryan mendorong tumpukan dokumen yang sudah dia siapkan tadi selagi menunggu asistennya itu kembali dari toilet.


Rendy memicingkan matanya menatap tumpukan dokumen yang begitu banyaknya. Dia mengira kalau dokumen itu sudah sekitar empat sampai lima hari belum dikerjakan.


"Tolong koreksi lagi! Aku kemarin kewalahan mengerjakannya sendiri ditambah sama perusahaan induk." kata Bryan yang memang kenapa kemarin dia tidak begitu maksimal dalam meminta maaf pada keluarga Freya karena dirinya begitu sibuk. Bryan harus wira wiri dari kampus, kantor ABA Corp, dan terakhir kantor BRATA Grup. Belum lagi harus mencari makanan yang diinginkan Freya dan mengantarkan ke apartemen Mama Marisa.


"Hmm..." Bryan hanya berdehem dan pura-pura fokus pada laptop. Padahal semua dokumen itu sudah dia koreksi dan tanda tangani juga sudah dia setujui. Bryan hanya ingin mengerjai Rendy saja.


Kalau Rendy teliti, seharusnya baru satu dua dokumen yang dilihat dan koreksinya Rendy seharusnya sudah tahu kalau dokumen itu sudah dikoreksi dan disetujui. Tapi nyatanya sudah lima dokumen dan mungkin lebih sudah Rendy baca, dia tidak menyadari apapun. Rendy terus membuka dan mengoreksi.


"Kenapa kamu kemarin mencium Mona?" tanya Bryan setelah terjadi keheningan dari keduanya. Rendy yang fokus dengan mengoreksi dokumen dan Bryan yang fokus dengan game di laptopnya.


"Apa kamu melihatnya?" tanya Rendy balik dengan bahasa dan gaya santainya, tapi mata tetap fokus pada dokumen yang ada di tangannya.


"Iya!!! Tapi tidak secara langsung." Rendy menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Bryan yang tidak jelas dan tidak masuk akal itu.


"Aku nggak ingin kamu jadi pebinor."


"Apalagi kalau kamu sampai balikan dengan benalu itu."


"Iya kalau benalu itu saling menguntungkan tidak apa."


"Tapi dia itu jenis benalu yang bisa merusak apa saja yang ditempelinya."


Rendy menghentikan kegiatannya dan menyingkirkan semua dokumen yang sebenarnya sudah selesai di koreksi sama Bryan itu ke sisi meja supaya tidak membuat dirinya terganggu saat berinteraksi dengan Bryan.


"Dan jangan sampai karena benalu itu kamu membuat hati seorang wanita yang belum mengerti dan mengenal cinta terluka." Bryan menatap Rendy yang terlihat diam menetap luruh kedepan, tapi bukan menatap Bryan, melainkan pandangan mata Rendy jatuh pada awan biru yang begitu cerah dibelakang Bryan yang terhalang tebalnya kaca jendela.


"Aku tidak ada niatan untuk melukai hatinya." ucap Rendy yang sudah paham akan maksud perkataan Bryan. Mana mungkin dirinya menyakiti hati wanita yang dicintainya. Wanita bar-bar dan pemberani dan bodoh soal masalah hati. Wanita itu telah berhasil meluluhkan hatinya yang beku. Namun dirinya juga bodoh karena tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk mengungkapkan rasa sayang dan cintanya. Dirinya terlalu kaku semenjak dikhianati Mona, mantan pacarnya.


"Kalau tidak ada niatan untuk melukainya, kenapa kamu mencium benalu itu?"


"Kamu tahu!! Mutia melihat itu semua."


"Dan aku juga tidak menyangka, ternyata kamu yang dijodohkan dengan Mutia itu?"


"Dan jangan bilang kalau kamu juga sudah mengetahui itu semua?" Bryan terlihat geram dan kesal pada asistennya itu. Bisa-bisanya dirinya tidak tahu siapa wanita yang dijodohkan dengan Rendy itu. Kenapa juga tahunya dari Freya bukan dari Rendy sendiri. Pantas saja Rendy sikapnya aneh kalau berdekatan dengan Mutia, batin Bryan.


"Aku baru tahu kalau wanita yang dijodohkan oleh Mama itu adalah Mutia sahabatnya Nona Freya setelah kalian menikah."


"Dan aku merahasiakannya."


"Karena aku ingin menikah dengan wanita yang memang tulus menerima aku apa adanya bukan karena keterpaksaan dalam perjodohan." jawab Rendy menatap Bryan yang terlihat duduk bersandar di sandaran kursi dengan satu tangan di letakkannya di atas meja sambil memainkan bolpoin.


"Soal aku mencium Mona." Rendy berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati kaca jendela untuk melihat awan yang tiba-tiba berubah mendung, padahal beberapa menit yang lalu begitu cerah.


"Aku melakukan itu sengaja." terdengar hembusan nafas panjang dari Rendy.


"Apa??? Sengaja!!" Bryan memutar kursinya menatap Rendy dari samping. Dirinya benar-benar dibuat terkejut dengan pengakuan Rendy yang memang sengaja mencium Mona.


"Gila kamu, Ren!!"


"Bagaimana kalau benalu itu jadi baper sama kamu terus ngotot mengajak kamu menjalin hubungan terlarang?" tanya Bryan yang entah kenapa pikirannya sampai sejauh itu. Mungkin karena dirinya begitu kesal atas kelakuannya Rendy atau justru pengalaman dalam hidupnya sendiri.


"Itu tidak mungkin."


"Karena sebelum aku mencium Mona, aku sudah mengatakan sesuatu padanya saat melihat Mutia yang baru saja keluar dari lift."


"Aku mencium Mona untuk melihat, apa Mutia cinta sama aku apa tidak." Bryan melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang telah Rendy perbuat hanya untuk melihat apa wanita yang dicintainya juga cinta pada dirinya atau tidak. Menurut Bryan bukan seperti itu caranya. Itu sungguh menyakitkan bagi si wanitanya, Mutia.


"Terus apa jawabannya setelah kamu melakukan itu pada Mutia?" Rendy melihat Bryan sejenak dan kembali melihat kaca jendela yang sudah mulai berembun, hujan sudah turun.


"Mutia sudah mencintaiku juga, sama sepertiku yang juga mencintainya."


"Tapi dia juga terluka karena perbuatan ku." Rendy mengambil nafas panjang dan dihembuskannya perlahan. Dirinya begitu sakit kemarin saat melihat wanita yang dicintainya menangis sendirian di rooftop rumah sakit. Dirinya tidak menyangka, tindakannya untuk melihat wanita yang dicintainya itu juga mencintainya atau tidak justru menyakiti hati wanita yang dicintainya. Bodoh, itu yang Rendy sesalkan atas kejadian kemarin. Dirinya tidak berani mendekati Mutia lagi. Dia tahu, mungkin saat ini Mutia hanya ingin sendiri.


"Bodoh!!" cibir Bryan melihat Rendy yang frustasi karena cinta. Tidak biasanya Bryan melihat asistennya yang terlihat tak berdaya karena cinta itu.


"Aku memang bodoh."


"Bahkan aku terlalu takut jika Mutia sampai membatalkan perjodohan ini." Rendy menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening karena memikirkan Mutia yang sudah disakitinya.

__ADS_1


"Memangnya Mutia sudah menerima perjodohan itu?" tanya Bryan pura-pura tidak tahu, padahal dirinya sudah tahu dari cerita istrinya semalam kalau Mutia sudah menerima perjodohan itu sebelum tahu kalau Rendy lah pria yang dijodohkan dengan Mutia.


"Iya, dia mengakuinya saat penerbangan menuju Singapura."


"Dan aku begitu senangnya sampai aku melakukan hal sejauh itu hingga menyakiti hatinya." suara Rendy terdengar lirih. Terlihat dirinya begitu menyesali perbuatannya kemarin yang tanpa pikir panjang.


Bryan berdiri dan melangkah mendekati sahabat yang menjabat sebagai asisten pribadinya itu. Ditepuknya pundak Rendy sedikit keras, namun Rendy tak merespon dan hanya memejamkan matanya.


"Saat ini Freya ke rumah sakit menjenguk Bibi Asti juga Nino."


"Dia datang bersama Mutia."


"Katanya untuk membicarakan pembatalan perjodohan."


Rendy sontak bangun dan berdiri menatap lekat Bryan. Dia tidak salah dengarkan? Mutia tidak membatalkan perjodohan itu kan?


"Mungkin saat ini Mutia tengah membahas itu deng,_" Belum juga Bryan menyelesaikan perkataannya, Rendy sudah melesat keluar dari ruangan itu.


Bryan mengelengkan kepalanya dan menelephone istrinya,Freya. Dia ingin meminta bantuan Freya untuk mengerjai Rendy yang sudah berani melakukan perbuatan yang melukai hati sahabatnya istrinya,Mutia.


"Assalamualaikum, Mas." suara indah dan merdu dari Freya terdengar di telinga Bryan setelah pangggilan itu diangkat sang istri.


"Sayang, kamu masih di rumah sakit?" tanya Bryan dengan tergesa, dirinya harus fokus dulu supaya rencana mengerjai Rendy berhasil sebelum Rendy tiba di rumah sakit.


Terdengar menghembuskan nafas lelah dari istrinya. Dia tidak tahu kenapa istrinya itu.


"Jawab dulu salamnya!" terdengar geraman Freya pada dirinya membuat Bryan terkekeh sendiri. Dirinya benar-benar lupa.


"Ah iya lupa sayang."


"Walaikumsalam istri cantikku, permaisuri hatiku, permata hatiku, kasihku,sayangku, cintaku."


"Pretttt!!" Bryan tersenyum kecil mendengar cibiran keluar dari mulut Freya. Dia tahu kenapa istri cantiknya itu mencibirnya, karena jarang sekali dirinya menyebutkan semua panggilan sayang itu pada istrinya. Dan entah kenapa, dari tadi bibirnya itu ingin terus memanggil Freya dengan panggilan selain sayang.


"Kamu ngentut sayang?" goda Bryan yang saat ini menyakini pasti istrinya itu tengah kesal pada dirinya.


"Ada apa telephone Freya?" tanya Freya yang terdengar malas menanggapi godaan dirinya.


"Kamu masih dirumah sakit?" tanya Bryan lagi.


"Iya." jawan Freya singkat.


"Begini sayang, dengarkan aku baik-baik." Bryan mulai terlihat serius sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Dia ingin menyusul Rendy ke rumah sakit.


"Mutia salahpaham dengan apa yang dilihatnya semalam."


"Rendy melihat Mutia saat itu dan Rendy memanfaatkan moment itu untuk melihat apakah Mutia sudah jatuh cinta apa belum sama Rendy."


"Makanya Rendy mencium mantan pacarnya itu."


"Dan aku ingin kamu kasih tahu semua ini ke Mutia juga Bibi Asti."


"Ajak mereka untuk mengerjai Rendy."


"Entah Mutia membatalkan perjodohannya dengan Rendy atau tidak, yang penting kamu kerjai Rendy dulu."


"Yang aku tahu, Rendy saat ini tengah menyesal dan menuju rumah sakit."


"Cepat kamu beritahu mereka dan kerjai Rendy sampai dia jera."


"Kalau perlu, minta Mutia untuk menghukum Rendy di penangkaran buaya." biar aku ada temannya, batin Bryan. Dia tidak ingin dihukum sendirian di penangkaran buaya. Dirinya butuh teman untuk dijadikan tameng nantinya.


"Serahkan pada Freya."


Bryan menyeringai jahat, istrinya itu paling suka mengerjai orang sampai dirinya juga sering dikerjai.


"Aku percaya padamu sayangku. Muachh."


"Tunggu aku." tut tut tut, Bryan mengakhiri panggilan telephone dan bergegas menyusul Rend ke rumah sakit. Dirinya sudah tidak sabar melihat tampang Rendy yang bingung, kesal, frustasi karena Mutia dan Mamanya memarahinya.


"Kita nanti akan dihukum sama-sama Rendy di penangkaran buaya." hahaha Bryan begitu senangnya membayangkan bukan hanya dirinya saja yang bakal kena hukuman, melainkan Rendy juga.


Dan, semoga apa yang Bryan harapkan terwujud, dihukum berdua bersama Rendy. Pasalnya Rendy tidak takut dengan buaya, tidak seperti dirinya.


🍁🍁🍁


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2